Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Empat, lima, enam..."
Suara hitungan Jiang Chen terdengar tenang dan konstan, sangat kontras dengan kepanikan di dalam ruangan itu.
Pengawal berjas hitam itu masih menodongkan moncong pistolnya lurus ke arah dahi Jiang Chen.
"Suntikkan obatnya sekarang, Dokter! Jangan dengarkan omong kosong penipu ini!" bentak pengawal itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Jiang Chen.
Dokter kepala mengangguk cepat sambil menyeka keringat dingin yang membanjiri dahinya.
"Tentu saja, Tuan. Diazepam adalah penanganan paling tepat untuk menghentikan kejang," ucap dokter tua itu membela diri.
Dia merampas jarum suntik dari tangan perawat yang masih gemetar ketakutan.
Jusss.
Jarum tajam itu menembus urat nadi di lengan pucat Shen Muxue.
Cairan penenang bening di dalam tabung langsung didorong masuk sepenuhnya ke aliran darah gadis malang itu.
"Dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga," lanjut Jiang Chen sambil bersandar santai di dinding ruangan.
Dia melipat kedua tangannya di depan dada seolah sedang menonton pertunjukan komedi murahan.
Su Yuhan yang masih duduk di atas ranjang pasien menatap Jiang Chen dengan dahi berkerut tajam.
"Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?" tegur Su Yuhan dengan suara pelan namun menuntut.
"Kau sengaja membiarkan gadis itu mati hanya untuk membuktikan kau benar?"
Jiang Chen menoleh ke arah Su Yuhan dan tersenyum miring.
"Aku sudah mencoba memperingatkan mereka, Nona Su," balas Jiang Chen santai.
"Tapi sepertinya peluru dari pistol baja itu lebih berkuasa daripada mulut seorang gelandangan sepertiku."
Su Yuhan terdiam mendengar jawaban yang terdengar sangat sinis namun tidak bisa dibantah itu.
"Tiga puluh empat, tiga puluh lima, tiga puluh enam."
Hitungan Jiang Chen terus berjalan seperti lonceng kematian yang berdetak perlahan di sudut ruangan.
Di sisi lain, wajah dokter kepala mulai terlihat sedikit lega.
Tubuh Shen Muxue yang tadinya kejang hebat kini perlahan mulai tenang dan kembali bersandar di kursi rodanya.
"Lihat itu! Kejangnya sudah berhenti!" seru dokter kepala dengan nada kemenangan.
"Ini adalah bukti bahwa ilmu medis modern selalu lebih unggul daripada bualan dukun jalanan!"
Pengawal keluarga Shen menghela napas panjang dan menurunkan moncong pistolnya perlahan.
Dia menatap Jiang Chen dengan tatapan merendahkan yang sangat kental.
"Bawa pemuda gila ini ke ruang keamanan sekarang. Tuan Besar Shen tidak suka melihat sampah saat beliau tiba nanti," perintah pengawal itu.
Namun Jiang Chen sama sekali tidak beranjak dari tempatnya bersandar.
"Lima puluh enam, lima puluh tujuh, lima puluh delapan."
Matanya yang memancarkan cahaya hangat tak kasat mata terus menatap lurus ke arah dada Shen Muxue.
"Kalian merayakan kemenangan terlalu cepat, idiot," gumam Jiang Chen pelan.
"Lima puluh sembilan. Enam puluh."
Krak krak krak.
Tepat saat hitungan keenam puluh selesai, suara aneh terdengar menggema di ruangan itu.
Suaranya mirip seperti bongkahan es batu yang retak di dalam gelas kaca.
Mata pengawal bertubuh besar itu langsung membelalak lebar melihat apa yang terjadi pada majikannya.
Lapisan es tipis tiba-tiba merambat keluar dari pori-pori kulit Shen Muxue dengan kecepatan yang mengerikan.
Bibir gadis itu berubah menjadi biru gelap seperti warna mayat yang dibekukan di kamar mayat.
Tit tit tit tiiiit!
Layar monitor jantung yang terhubung ke tubuh gadis itu tiba-tiba menjerit dengan nada panjang yang memekakkan telinga.
Garis gelombang hijau yang tadinya stabil langsung anjlok membentuk garis lurus tanpa kehidupan.
"Nona! Nona Muxue!" teriak pengawal itu dengan kepanikan yang meledak seketika.
Dia melempar pistolnya ke lantai dan berlutut di samping kursi roda majikannya.
"Dokter! Apa yang terjadi padanya?! Kenapa badannya menjadi sedingin balok es?!" raungnya sambil menarik kerah jas dokter kepala.
Dokter tua itu terlihat seperti baru saja disambar petir di siang bolong.
Kakinya lemas seketika, dan tubuhnya nyaris ambruk kalau saja pengawal itu tidak menahan kerah bajunya.
"A-aku tidak tahu! Obat itu seharusnya menenangkan saraf otaknya, bukan membekukan tubuhnya!" jawab dokter itu terbata-bata.
"Lakukan sesuatu, keparat! Kalau dia mati, aku akan menguburmu hidup-hidup bersama mayatnya!" ancam pengawal itu dengan brutal.
Su Yuhan menutup mulutnya dengan kedua tangan, merasa ngeri melihat kondisi gadis di kursi roda itu.
Gadis itu terlihat seperti patung es yang mulai kehilangan seluruh tanda kehidupannya.
Pandangan Su Yuhan tiba-tiba beralih ke arah pemuda berpakaian lusuh yang masih bersandar di dinding.
"Hitungannya, tebakannya benar-benar tepat di detik keenam puluh," batin Su Yuhan dengan tubuh merinding hebat.
Pemuda bernama Jiang Chen ini bukanlah penipu, dia adalah monster sungguhan yang bisa memprediksi kematian.
Pengawal yang sedang kalut itu juga tiba-tiba menyadari hal yang sama dengan Su Yuhan.
Dia langsung melepaskan cengkeramannya dari kerah dokter kepala dan menoleh menatap Jiang Chen.
"Kau! Kau tahu apa yang terjadi padanya kan?!" teriak pengawal itu dengan mata merah menyala.
Dia melangkah maju dan kembali memungut pistolnya dari lantai.
"Selamatkan Nona Muxue sekarang juga atau aku akan menembak kepalamu!" ancamnya sambil menodongkan senjata itu lagi.
Jiang Chen menguap lebar seolah ancaman mematikan itu sama sekali tidak menakutkan baginya.
"Penyakit Nona mudamu ini adalah penyumbatan energi Yin ekstrim di meridian jantungnya," jelas Jiang Chen santai.
"Detak jantungnya yang cepat akibat kejang adalah mekanisme pertahanan alami tubuhnya untuk melawan hawa dingin itu."
Jiang Chen menunjuk wajah dokter kepala yang masih pucat pasi di sudut ruangan.
"Tapi dokter bodoh kesayanganmu ini malah memberinya obat penenang yang memaksa jantungnya berdetak lambat."
"Hasilnya? Energi dingin itu menang dan membekukan jantungnya secara total dalam waktu tepat satu menit."