NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 : Putra Mahkota Tianyi!

"Yuan! Yui! Ayo cepat! Gerbang Kuil Kuno sudah dibuka!"

Suara cempreng Lin Yue mengalahkan dengung sisa kembang api di udara. Gadis itu sudah berdiri di anak tangga batu pertama yang mengarah ke puncak bukit, melambaikan tangannya dengan semangat. Ketujuh bidadari Asrama Selatan juga sudah bersiap, merapikan jubah sutra mereka agar terlihat anggun saat menghadap para Dewa.

Yuan menarik napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang sempat terbuai oleh festival. Ia menoleh ke arah adiknya. "Ayo, Rui. Rapikan jubahmu, bersihkan remahan bakpao di sudut bibirmu. Kita akan memasuki area suci."

"Area suci berarti tidak ada makanan lagi, kan?" keluh Yui, mengusap bibirnya dengan lengan baju. Meski menggerutu, ia tetap melangkah menyusul rombongan gadis-gadis itu.

Perjalanan menuju Kuil Puncak Bintang bukanlah hal yang mudah bagi rakyat biasa. Terdapat tepat sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga batu berlumut yang harus didaki. Di kiri dan kanan tangga, lampion-lampion batu menyala dengan api spiritual abadi, memberikan penerangan temaram yang menenangkan jiwa. Kabut tipis mulai turun, membawa aroma pinus dan dupa cendana yang semakin pekat seiring mereka mendaki.

Begitu sampai di pelataran kuil, suasana magis yang sesungguhnya baru terasa. Bangunan kuil itu terbuat dari kayu gaharu merah dengan atap melengkung berukir naga emas. Di dalamnya, tiga patung raksasa Dewa Langit berlapis emas murni duduk dengan wajah welas asih, diterangi oleh ratusan lilin doa.

Lin Yue, yang entah bagaimana tiba-tiba berubah menjadi sangat religius dan berwawasan, berbalik menghadap Yui dan Yuan. Ia berbisik layaknya seorang pendeta senior.

"Dengarkan baik-baik, tata cara berdoa di sini tidak boleh sembarangan," jelas Lin Yue serius. "Pertama, kalian harus menyalakan tiga batang dupa suci di tungku utama. Dupa pertama untuk menghormati Langit, dupa kedua untuk Bumi, dan dupa ketiga untuk Leluhur. Setelah itu, kalian berlutut di atas bantal sutra, menunduk tiga kali hingga dahi menyentuh lantai, lalu pusatkan Qi kalian di dahi dan ucapkan permohonan tulus di dalam hati. Ingat, di dalam hati, agar esensinya sampai ke telinga Dewa."

Yuan mengangguk paham. Itu adalah tata krama dasar kultivator. Ia mengambil tiga batang dupa, menyalakannya, dan berjalan dengan sangat anggun menuju bantal doa.

Namun di sebelahnya, Shen Rui selalu punya cara untuk menghancurkan kewibawaan keluarganya.

Alih-alih berlutut dengan tegap, Yui justru menjatuhkan dirinya ke atas bantal sutra dan duduk bersila dengan gaya preman pasar satu kaki dilipat, satu kaki lainnya diangkat dengan lutut menekuk ke dada, persis seperti orang tua yang sedang nongkrong di warung arak.

Melihat postur kurang ajar itu, urat kesabaran Yuan kembali putus. Tanpa basa-basi, Yuan mengayunkan tangannya dan menoyor bagian belakang kepala Yui dengan keras.

PLETAK!

"ADUH! Sialan, kenapa kau memukulku di rumah Dewa?!" protes Yui, mengelus kepalanya yang berdenyut.

"Karena postur dudukmu itu menghina Dewa, idiot!" desis Yuan garang. "Lipat kakimu! Berlutut yang benar atau kubekukan tempurung lututmu sekarang juga!"

Sambil bersungut-sungut, Yui akhirnya memperbaiki posisi duduknya. Seorang Pendeta Tua berkepala plontos yang sedang menyapu lantai di sudut ruangan melirik mereka dari sudut matanya, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah dua pemuda itu.

Ketujuh gadis Asrama Selatan sudah memejamkan mata, berdoa dengan khusyuk. Yuan pun mulai memejamkan matanya, memohon agar ia diberi kekuatan untuk melindungi keluarganya, dan tentu saja... kesabaran ekstra untuk menghadapi adiknya.

Namun, di tengah keheningan suci itu, terdengar suara komat-kamit yang sangat keras.

"Ya Dewa Penjaga Dapur dan Dewa Kekayaan..." Yui ternyata tidak berdoa di dalam hati. Ia berdoa dengan suara lantang, kedua tangannya mengatup di depan wajah. "Tolong beri aku suplai bebek peking seumur hidup yang tidak akan pernah basi. Oh ya, tolong buat kakek Tetua Pertama botak permanen dan giginya rontok agar dia tidak bisa lagi berteriak padaku. Dan yang paling penting, biarkan aku kaya raya dan menjadi kultivator terkuat tanpa harus repot-repot berlatih meditasi menyebalkan itu! Terima kasih, Dewa!"

Yuan membuka matanya lebar-lebar, terbelalak ngeri. Pendeta Tua di sudut ruangan menjatuhkan sapunya dengan mulut menganga. Lin Yue dan gadis-gadis lainnya menahan napas, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

Merasa doanya sangat jenius dan pasti akan dikabulkan, Yui tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawa yang melengking, menggema di seluruh aula suci kuil.

"HIHIHI! HAHAHAHA! Sempurna! Aku pasti akan jadi penguasa dunia tanpa harus berkeringat!" tawa Yui puas, suaranya benar-benar mirip nenek lampir dari cerita rakyat yang sedang meracik ramuan beracun.

"Shen Rui, kau benar-benar minta disambar petir surgawi..." erang Yuan putus asa, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia siap menyeret adiknya keluar untuk meminta maaf pada Pendeta.

Namun, sebelum Yuan sempat berdiri, sesuatu yang ganjil terjadi.

Angin malam yang tadinya berhembus sepoi-sepoi dan sejuk, tiba-tiba berhenti total. Nyala ratusan lilin di dalam kuil mati serentak, menyisakan kegelapan yang mencekam.

Satu detik kemudian, suara gemuruh pelan terdengar dari dasar bukit, menggetarkan lantai kayu kuil. Gemuruh itu membesar dengan kecepatan tak masuk akal, berubah menjadi raungan angin badai yang memekakkan telinga.

"A-apa yang terjadi?!" jerit Mei Lin, memeluk Su Yin yang gemetar ketakutan.

Yuan, Yui, dan Lin Yue serentak berlari ke arah balkon kuil yang menghadap langsung ke alun-alun kota di bawah sana. Pemandangan yang tersaji di depan mata mereka membuat darah di tubuh mereka membeku.

Pasar yang tadinya dipenuhi tawa dan perayaan kini berubah menjadi lautan kepanikan. Ribuan orang berlarian histeris saling injak. Meja-meja perjamuan hancur lebur berserakan. Pasukan pengawal lapis baja dari Kekaisaran Shen terlihat membentuk formasi pertahanan berlapis, melemparkan pedang-pedang spiritual mereka yang menyala ke udara, menciptakan jaring energi untuk menahan sesuatu yang mengerikan.

Di tengah alun-alun alun itu, berdiri sesosok makhluk raksasa setinggi tiga lantai bangunan.

Makhluk itu memiliki tubuh manusia yang dipenuhi otot dan bulu sekeras baja hitam, namun kepalanya adalah kepala seekor Serigala Bertanduk Iblis dengan mata semerah darah segar. Nafasnya menyemburkan kabut beracun yang melelehkan batu jalanan. Ia mengayunkan sebuah kapak batu raksasa, menghancurkan perisai para pengawal elit seolah mereka hanya ranting kering.

"SERAHKAN PUTRA MAHKOTA KEKAISARAN SHEN!"

Suara makhluk itu bukanlah auman binatang buas biasa, melainkan bahasa manusia purba yang berat, bergema seperti guntur yang memecah gendang telinga.

"TAKDIR TELAH DITULISKAN! PUTRA MAHKOTA ITU AKAN MENGUBAH DUNIA DAN MEMBAWA KIAMAT BAGI RAS KAMI! KELUARKAN DIA ATAU AKU AKAN MERATAKAN KOTA INI MENJADI LAUTAN DARAH!"

Raungan monster mitologi itu menggetarkan langit. Konon, makhluk semacam itu adalah sisa-sisa Iblis Primordial dari zaman kuno yang tertidur di kedalaman bumi, dan entah bagaimana kini bangkit hanya untuk memburu satu nyawa.

Di atas balkon kuil yang gelap, jantung Shen Yuan dan Shen Rui seakan berhenti berdetak. Keduanya saling memandang. Wajah pucat pasi, keringat dingin mengucur deras di pelipis mereka.

Orang-orang di kota mungkin tidak tahu siapa Putra Mahkota yang dimaksud monster itu, tapi Yuan dan Yui tahu persis. Sang target utama lenyapnya dunia iblis, sang pembawa perubahan besar itu... adalah mereka berdua. Garis keturunan langsung Raja Shen Tianyi.

"Kak Yuan..." bisik Yui, suara tengilnya hilang tak berbekas, tergantikan oleh getaran ketakutan yang nyata. Tangan esnya tanpa sadar mencengkeram lengan baju Yuan.

Yuan menelan ludah yang terasa tajam seperti pisau. Insting kultivatornya berteriak untuk turun dan menolong rakyat yang terluka, tapi akal sehatnya menamparnya dengan keras. Kultivasi mereka bahkan belum mencapai tahap menengah! Mereka berdua belum bisa mengendalikan energi elemen inti dengan sempurna. Jika mereka turun ke sana sekarang, mereka bukan pahlawan, melainkan daging segar yang menyerahkan nyawa pada kapak iblis itu.

"Kita tidak bisa melawannya, Rui," bisik Yuan, giginya terkatup rapat menahan rasa frustrasi yang luar biasa. "Kekuatan kita tidak akan cukup merusak sehelai pun bulu monster itu. Jika kita ketahuan, ayah dan ibu di bawah sana akan semakin dalam bahaya karena harus melindungi kita."

Lin Yue, yang tidak menyadari makna tatapan kedua saudara kembar itu, menarik jubah Yuan dengan panik. "Kak Yuan! Makhluk itu terlalu mengerikan! Pengawal kerajaan pasti akan mengurusnya, tapi tempat ini tidak aman! Kita harus segera kembali ke Perguruan Cang Yue!"

Ketujuh gadis asrama mengangguk histeris, air mata sudah berlinang di wajah mereka.

"Benar," kata Yuan mengambil keputusan cepat. Matanya memancarkan ketegasan seorang calon pemimpin. "Gunakan jalur rahasia di belakang kuil. Kita kembali ke Perguruan Cang Yue malam ini juga."

Yui menatap ke arah alun-alun sejenak, melihat kilatan-kilatan pedang dari pengawal kerajaan yang sedang bertaruh nyawa, sebelum akhirnya ditarik paksa oleh Yuan.

Di tengah pelarian menembus hutan malam yang gelap bersama para gadis yang menangis ketakutan, sebuah ironi tragis terlintas di kepala Yui. Mereka baru saja lari dari monster iblis pembelah dunia, hanya untuk kembali ke sekte dan menghadapi kemarahan absolut dari Tetua Pertama karena ketahuan kabur.

"Jika kita tidak mati dimakan siluman serigala itu malam ini," gumam Yui sambil terus berlari menerobos semak belukar, "aku yakin Tetua Pertama akan memastikan kita mati dikubur di ladang ginsengnya besok pagi."

***

Likeeeeeew

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!