Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Dara, ayo ikut Mama!"
Suara Sherly yang terdengar riang membuat Dara spontan menoleh dari arah dapur. Pagi itu ia sedang membantu Mbok Darmi membereskan piring bekas sarapan.
"Iya, Ma?" sahut Dara.
Sherly sudah berdiri di ambang pintu dengan tas tangan tersampir di bahunya. Kacamata hitam bertengger di atas kepala, membuat penampilannya terlihat anggun sekaligus berwibawa.
"Ayo, siap-siap."
Suara Sherly yang terdengar penuh semangat membuat Dara menghentikan kegiatannya. Pagi itu, ia baru saja selesai membantu Mbok Darmi membereskan meja makan setelah sarapan. Kedua tangannya masih memegang lap dapur ketika ia menoleh dengan wajah bingung.
"Siap-siap ke mana, Ma?" tanyanya polos.
Sherly tersenyum lebar. Sorot matanya berbinar seperti anak kecil yang hendak pergi berlibur.
"Kita jalan-jalan."
Dahi Dara langsung berkerut. "Jalan-jalan?"
"Iya." Sherly mengangguk mantap. "Hari ini kita habiskan uang Gavin!"
Dara spontan melongo. Mulutnya sedikit terbuka karena tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari ibu mertuanya.
Di ruang keluarga, Gavin yang sejak tadi duduk di sofa sambil membaca beberapa pesan di ponselnya ikut mengangkat kepala. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke arah sang ibu.
"Habiskan uangku?" tanya pria itu datar.
"Iya." Sherly menjawab tanpa sedikit pun merasa bersalah. "Mama sudah hampir sebulan sibuk bolak-balik mengurus pekerjaan. Sekarang Mama mau healing."
Wanita itu kemudian menunjuk Dara sambil tersenyum. "Dan Mama mau mengajak menantu Mama."
Dara masih tampak kebingungan. Ia melirik Gavin, lalu kembali menatap Sherly.
"Ta-tapi, aku belum pernah jalan-jalan seperti itu, Ma."
"Makanya sekarang belajar." Sherly mendekat, lalu merangkul bahu Dara dengan hangat. "Kamu sekarang sudah jadi istri Gavin. Sedikit demi sedikit kamu harus membiasakan diri."
"Iya, tapi aku takut malah merepotkan."
"Merepotkan siapa?"
"Mama."
Sherly langsung menggeleng. "Justru Mama senang punya teman jalan."
Sherly lalu menoleh ke arah putranya. "Gavin."
"Iya, Ma?"
"Hari ini Mama pinjam istrimu."
Gavin meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menatap Dara sekilas sebelum kembali menatap ibunya. "Ya, silakan."
"Jangan telepon atau kirim pesan terus. Biarkan dia menikmati hari ini. Jadi, jangan ganggu kita, ya!" ucap Sherly dengan nada tegas dan tatapan tajam.
"Baik, Ma."
Jawaban Gavin yang singkat membuat Sherly mendengus pelan sambil menggelengkan kepala. "Kamu ini memang irit bicara."
Gavin hanya tersenyum tipis. "Terserah Mama saja."
"Nah, begitu, dong!" Sherly tampak puas. Ia kembali menarik tangan Dara dengan penuh semangat. "Ayo!"
"Iya, Ma."
Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan sopir keluarga melaju meninggalkan rumah menuju sebuah tempat perawatan kecantikan yang sudah lama menjadi langganan Sherly.
Sepanjang perjalanan, Dara lebih banyak memandangi pemandangan di balik jendela. Gedung-gedung tinggi, jalan yang ramai, dan deretan pertokoan membuatnya tak henti-hentinya terkagum.
Begitu mobil berhenti, Dara mendongakkan kepala. Sebuah bangunan besar dengan dinding kaca berdiri megah di hadapannya. Di bagian depan, terdapat taman kecil yang ditata rapi dengan bunga-bunga berwarna cerah.
"Ma," panggil Dara pelan.
"Iya?"
"Ini rumah sakit?"
Sherly menoleh, lalu langsung tertawa kecil. "Bukan. Ini spa."
"Oh ...." Dara mengangguk pelan meski sebenarnya belum benar-benar mengerti apa itu spa.
Begitu pintu otomatis terbuka, udara sejuk langsung menyambut mereka. Aroma terapi yang lembut memenuhi ruangan. Musik instrumental mengalun pelan, membuat suasana terasa begitu tenang.
Beberapa pegawai yang mengenal Sherly segera menghampiri dengan senyum ramah. "Selamat pagi, Bu Sherly."
"Pagi." Sherly membalas sapaan mereka dengan hangat. "Hari ini aku membawa menantuku, Dara."
Semua pegawai langsung mengalihkan perhatian kepada Dara. "Selamat datang, Bu Dara."
Sapaan itu membuat Dara gugup. Ia buru-buru menggeleng sambil tersenyum kikuk. "A-aku bukan orang penting."
Sherly menepuk pelan lengan Dara. "Mulai sekarang biasakan."
Dara menoleh.
"Kamu adalah istri Gavin. Tidak perlu merasa rendah diri," lanjut Sherly.
Ucapan itu membuat hati Dara menghangat. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ma."
Awalnya Dara benar-benar canggung. Saat seorang terapis mempersilahkannya masuk ke ruang perawatan, ia terus-menerus melirik Sherly seolah meminta izin.
"Ma."
"Hm?"
"Benar saya harus melakukan semua ini?"
"Iya."
"Rasanya aku malu."
Sherly tersenyum sabar. Ia menggenggam tangan Dara sebelum gadis itu masuk ke ruang perawatan.
"Dengar, ya. Merawat diri bukan berarti kita menjadi perempuan yang berlebihan."
Dara menatap ibu mertuanya.
Sherly mengusap lembut punggung tangan Dara. "Ini salah satu bentuk rasa syukur karena Tuhan sudah memberikan tubuh yang sehat. Selain itu, tubuhmu juga berhak mendapatkan perhatian setelah bertahun-tahun bekerja keras."
Mata Dara perlahan melembut. Ia tidak pernah memikirkan hal seperti itu sebelumnya. Selama ini, baginya tubuh hanyalah alat untuk bekerja. Tidak pernah terpikir bahwa tubuh juga perlu dirawat.
"Iya, Ma."
Sherly tersenyum bangga. "Itu baru menantu Mama."
Beberapa jam berlalu.
Setelah selesai menjalani berbagai perawatan tubuh, wajah Dara tampak jauh lebih segar. Kulitnya terlihat bersih dan sehat.
Mereka kemudian berpindah ke salon yang masih berada di gedung yang sama. Seorang penata rambut profesional mulai mengamati rambut panjang Dara.
"Rambut Ibu bagus sekali, panjang "
Dara tersenyum malu. "Jarang dipotong."
Sherly ikut memperhatikan. "Bagaimana kalau dibuat layer panjang?"
Penata rambut mengangguk. "Cocok sekali. Wajah Ibu akan terlihat lebih lembut."
"Asal jangan terlalu pendek," kata Dara.
"Tentu, Bu."
Dara hanya bisa pasrah saat rambutnya mulai dirapikan. Beberapa helai rambut perlahan jatuh ke lantai. Sesekali ia memejamkan mata karena masih belum terbiasa duduk di salon.
Hampir satu jam kemudian, penata rambut memutar kursinya menghadap cermin. "Nah, sudah selesai!"
Dara perlahan membuka mata. Begitu melihat bayangan dirinya di cermin, ia benar-benar terdiam. Rambutnya memang masih panjang, tetapi kini tersusun jauh lebih rapi. Potongan layer membuat wajahnya terlihat lebih tirus dan anggun. Tanpa sadar, tangannya terangkat menyentuh ujung rambutnya.
"Ma."
Sherly tersenyum puas.."Bagaimana?"
Dara berkedip beberapa kali. "I-ini, benar aku?"
Penata rambut ikut tersenyum. "Kami tidak mengubah banyak, Bu. Hanya merapikan dan menyesuaikan dengan bentuk wajah."
Sherly berdiri di belakang Dara sambil menatap pantulan menantunya di cermin. "Lihat. Dari dulu kamu memang cantik. Hanya saja, selama ini kamu belum pernah diberi kesempatan untuk merawat dirimu."
Dara menatap bayangan dirinya cukup lama. Perlahan, senyum kecil menghiasi bibirnya. "Terima kasih, Ma." Suaranya lirih, tetapi penuh ketulusan.
"Sama-sama." Sherly mengusap lembut bahu Dara. "Ini baru permulaan. Habis ini kita lanjut belanja."
Mata Dara langsung membulat. "Belanja lagi?"
Sherly terkekeh geli. "Tentu saja. Hari ini kita benar-benar akan menghabiskan uang Gavin."
Mendengar itu, Dara hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan bagaimana rasanya dimanjakan oleh seseorang yang benar-benar menganggapnya sebagai keluarga.