NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22

Cahaya lampu gantung di kafe remang-remang itu memantulkan kilau jam tangan baru di pergelangan tangan Bagas.

Namun, pikiran pria itu tidak berada di sana. Bayangan percakapannya dengan Rania tadi siang terus berputar di kepalanya seperti pita kaset yang mengulang melodrama yang sama.

“Cowok sehebat kamu itu harus ada di depan dan didampingi orang yang sepadan. Yang bisa bikin kamu makin bersinar, bukan malah menarik kamu ke bawah.”

Kata-kata Rania bagaikan racun manis yang meresap perlahan, merusak sisa-sisa rasa iba dan tanggung jawab Bagas terhadap Maya.

Malam itu, Bagas memutuskan untuk berkunjung ke rumah Maya.

Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa apa yang ia rasakan hanyalah kekesalan sesaat.

Namun, begitu melangkahkan kaki memasuki gang sempit menuju rumah kontrakan sederhana milik keluarga Maya, rasa enggan langsung menyergapnya.

Udara lembap sisa hujan sore tadi berbau tanah basah dan genangan air.

Bagas mengetikkan kakinya di teras rumah Maya yang sempit.

Sepatu kulit oxford mewahnya yang seharga tujuh juta rupiah terasa sangat tidak pas berada di atas ubin semen yang retak-retak.

Tok! Tok! Tok!

"May?" panggil Bagas seraya membetulkan posisi kerah kemejanya.

Tak lama kemudian, pintu kayu yang agak lapuk itu terbuka.

Maya berdiri di ambang pintu. Rambutnya diikat asal-asalan dengan daster kain bermotif bunga yang sudah pudar warnanya.

Wajahnya tampak makin kusam dan pucat, dengan lingkaran hitam membayang di bawah matanya. Bau minyak goreng dan bumbu dapur langsung tercium menyengat dari pakaian Maya.

"Bagas?" Maya agak terkejut melihat kedatangan kekasihnya. Ia mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan.

"Kamu... kok nggak mengabari dulu kalau mau datang?"

Bagas menatap Maya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan tidak bersahabat.

Ia menghela napas panjang, sengaja memperlihatkan rasa kecewanya.

"Harus kirim surat dulu memangnya kalau aku mau datang?"

balas Bagas dingin tanpa senyum. "Kenapa rumah kamu berantakan begini, May? Ember-ember di lorong itu buat apa?"

Maya menunduk, merapikan helai rambutnya yang melambaikan ketidakberdayaan.

"Tadi sore hujan deras, Gas. Dapur sama lorong tengah bocor parah. Aku sama Ibu baru selesai menadah air dan mengelap lantai."

"Lantai basah, bau tengik, rumah berantakan..." gumam Bagas ketus seraya melangkah masuk tanpa diundang.

Ia melirik sofa kain di ruang tamu yang warnanya sudah memudar dan dipenuhi tumpukan pakaian bersih yang belum sempat dilipat.

"Maaf ya, tempatnya agak berantakan. Aku belum sempat merapikan pakaian Rian," ucap Maya seraya bergegas memindahkan tumpukan baju itu ke dalam.

"Kamu mau minum apa? Ada teh hangat mau?"

"Nggak usah, aku nggak haus," potong Bagas cepat. Ia memilih berdiri di tengah ruangan, enggan duduk di sofa yang menurutnya berdebu itu.

Tangan kirinya sengaja ia angkat, berpura-pura memeriksa jam di pergelangan tangannya.

Maya menyadari gerakan itu. Ia menatap jam tangan Swiss seharga puluhan juta di tangan Bagas, lalu beralih menatap wajah pria yang telah bersamanya selama tiga tahun itu.

"Kamu kenapa, Gas? Dari tadi datang muka kamu sudah ditekuk begitu,

" tanya Maya pelan. Ia menarik kursi kayu di sudut ruangan dan duduk dengan lesu. "Ada masalah di kantor?"

"Nggak ada masalah di kantor. Kantorku baik-baik saja," jawab Bagas dengan nada meninggi. "Yang bermasalah itu kamu, May."

Maya terpaku. "Aku? Masalah apa lagi?"

"Coba kamu ngaca, May!" tegas Bagas, menunjuk cermin kecil yang menggantung di tembok. "Lihat diri kamu sendiri.

Pakaian kamu lusuh, muka kamu kusam, rambut kamu berantakan. Kamu nggak ada usaha sama sekali buat kelihatan rapi di depan aku!"

Rasa panas membakar dada Maya, namun suaranya tetap tertahan dalam nada yang sangat bergetar.

"Bagas... aku baru selesai menguras air bocoran dari dapur.

Aku capek kerja seharian, terus pulang harus urus rumah dan adikku. Menurut kamu aku sempat mikirin dandan malam-malam begini?"

"Alasan!" tembak Bagas tanpa perasaan. "Wanita lain juga sibuk, May! Rania—manajer di kantorku—dia sibuknya luar biasa.

Pegang proyek puluhan miliar! Tapi dia selalu harum, modis, dan dandanannya selalu sempurna setiap hari.

Dia tahu cara menghargai dirinya sendiri dan bikin orang di sekitarnya bangga!"

Nama itu terasa bagaikan sembilu yang menyayat hati Maya. Maya menatap Bagas dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Rania?" bisik Maya dengan senyum pahit. "Jadi sekarang kamu membandingkan aku sama teman kantormu yang kaya raya itu?"

"Aku nggak membandingkan, aku cuma kasih contoh!" kilih Bagas, menyilangkan kedua tangannya di dada.

"Rania itu pintar bawa diri. Dia selalu puji aku, kasih perhatian, dan hargai pencapaianku. Sedangkan kamu? Setiap kali aku cerita kesuksesanku, kamu cuma minta uang buat perbaiki rumah, buat sekolah adikmu.

Kamu bikin aku merasa beban kamu itu tanggung jawabku!"

"Karena kamu pacarku, Bagas!" seru Maya, akhirnya suaranya pecah memecah kesunyian malam.

"Aku cuma minta tolong sedikit pinjaman waktu kamu dapat bonus lima puluh juta! Tapi kamu lebih memilih menghabiskan semua uang itu buat jam tangan mahal dan sepatu kulit cuma demi gengsi kamu!"

"Itu uang hasil kerja keras aku!" bentak Bagas tak mau kalah. "Aku berhak pamer! Aku cape-cape cari uang supaya diakui orang kantor! Tapi waktu aku bawa kamu, kamu malah bikin aku malu!"

Kalimat terakhir Bagas menggema di ruang tamu yang sempit itu.

Hening seketika merayap. Maya menggigit bibir bawahnya erat-erat, menahan tangis yang mendesak keluar.

Ia menatap pria di hadapannya—pria yang dulu begitu hangat dan bersahaja, kini telah menjelma menjadi sosok asing yang sangat dangkal dan penuh kesombongan.

Maya mengusap setitik air mata yang lolos di pipinya. Ia berdiri dari kursi kayu, menegakkan bahunya meski hatinya telah hancur berkeping-keping.

"Kamu benar, Bagas," ucap Maya dengan suara yang mendadak sangat tenang.

enang yang menakutkan. "Rania memang jauh lebih cocok buat kamu. Dia punya uang untuk dandan mahal, dia punya baju-baju bagus yang bisa mengangkat gengsi kamu, dan dia nggak punya beban keluarga seperti aku."

Bagas sedikit terkejut mendengar ketenangan Maya, namun gengsinya menahan pria itu untuk mengalah. "May, aku cuma mau kamu berubah—"

"Aku nggak akan berubah jadi orang lain cuma supaya kamu nggak malu, Bagas," sela Maya cepat, menatap lurus ke dalam mata Bagas.

"Rumahku memang bocor, bajuku memang daster pudar, dan mukaku memang kusam karena aku harus berjuang menopang keluargaku.

Kalau semua itu membuat kamu malu... kenapa kamu masih berdiri di sini?"

Bagas bungkam. Bibirnya terkunci rapat. Ia tidak menyangka Maya akan merespons setegas ini.

"Pulanglah, Bagas," bisik Maya lirih, menunjuk ke arah pintu keluar. "Cari wanita yang sepadan dengan jam tangan mahalmu itu.

Jangan datang ke rumah berantakan ini lagi."

Bagas mengepalkan tangannya. Rasa gengsi yang terlukai membuat kemarahannya kian memuncak.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dan melangkah lebar keluar dari rumah Maya, membanting pintu kayu itu hingga terdengar dentuman keras yang meretakkan sisa-sisa kisah mereka.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!