NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

PEMBALASAN DARAH NONA MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vvhiiiiivhy

Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Retakan di Dinding Istana

Malam di ibu kota kekaisaran selalu menyimpan dua wajah. Di satu sisi, lampu-lampu kristal berdenting di aula dansa para bangsawan yang mabuk oleh kekuasaan. Di sisi lain, bayangan kegelapan merayap di lorong-lorong sempit tempat konspirasi dan pembunuhan direncanakan. Bagi Elena, malam bukan lagi waktu untuk beristirahat, melainkan medan perang tanpa darah yang harus ia menangkan.

Berdiri di balkon kamarnya di kediaman Duke Killian, Elena menatap lurus ke arah Istana Helios yang bersinar keemasan di kejauhan. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan api dendam yang berkobar di dalam dadanya. Di istana itulah Gavin berada. Pria yang di kehidupan lalunya ia agungkan sebagai suami, namun berakhir menjadi algojo yang membantai putra kecilnya dan membakarnya hidup-hidup.

"Kau bisa sakit jika terus berdiri di sana tanpa jubah, Nona Elena."

Sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan. Elena tidak perlu berbalik untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Langkah kaki yang teratur dan aura menekan yang pekat hanya dimiliki oleh satu orang di seluruh kekaisaran ini: Duke Killian, sang tirani berdarah dingin.

Killian berjalan mendekat, sehelai jubah berbulu tebal berwarna hitam tersemak di tangannya. Dengan gerakan yang mengejutkan lembut untuk ukuran seorang pria yang dikenal kejam, ia menyampirkan jubah itu ke pundak Elena.

"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Elena formal, sambil merapatkan jubah tersebut.

Killian menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon, pandangannya turut tertuju pada Istana Helios. "Mata-mataku melaporkan bahwa Gavin mengadakan pertemuan rahasia lagi malam ini. Tampaknya, dia mulai menyadari bahwa beberapa faksi bangsawan yang sebelumnya mendukungnya kini mulai goyah."

Elena tersenyum sinis. "Tentu saja mereka goyah. Gavin hanya memiliki ambisi, tetapi tidak memiliki fondasi finansial yang kuat. Di kehidupan... maksudku, selama ini dia selalu mengandalkan pasokan dana dari wilayah selatan yang dikuasai keluarga marquis-ku. Sekarang, setelah aku memotong semua jalur dana itu melalui aliansi dagang kita, dia mulai kelaparan."

Killian melirik Elena dari sudut matanya. Ada kilatan kekaguman yang tersembunyi di balik tatapan matanya yang setajam elang. Ketika Elena pertama kali datang kepadanya dan menawarkan aliansi dengan janji informasi internal mengenai pergerakan Gavin, Killian sempat ragu. Ia mengira Elena hanyalah seorang wanita bangsawan naif yang sedang patah hati. Namun, bulan-bulan yang berlalu membuktikan sebaliknya. Elena bergerak seperti bidak catur yang mematikan—tahu kapan harus menyerang dan kapan harus memotong urat nadi musuhnya tanpa suara.

"Strategimu memindahkan kepemilikan pelabuhan komersial di perbatasan barat ke bawah nama sekutu kita berjalan mulus," kata Killian. "Gavin mencoba menuntut hak atas pajak pelabuhan itu pagi ini di dewan kekaisaran, tetapi dia dipermalukan karena dokumen hukumnya mutlak milik kita."

"Ini baru permulaan, Yang Mulia," sahut Elena, jemarinya mencengkeram pagar balkon hingga memutih. "Aku ingin dia merasakan apa artinya kehilangan segalanya sedikit demi sedikit. Aku ingin dia merasakan kecemasan yang membakar jiwanya setiap malam, sebelum akhirnya aku menjatuhkannya ke neraka terdalam."

Killian terdiam sejenak, mengamati intensitas emosi yang meluap dari wanita di sampingnya. "Dendammu begitu mendalam, Elena. Terkadang aku penasaran, apa yang sebenarnya dilakukan pria bodoh itu hingga membuat wanita selembut dirimu berubah menjadi inkarnasi dewi kematian?"

Elena menegang. Ia tidak bisa menceritakan tentang kehidupan pertamanya. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia telah melihat masa depan di mana dia dikhianati, di mana adik tirinya merebut posisinya, dan di mana darah putranya menodai lantai penjara bawah tanah. Manusia biasa akan menganggapnya gila.

"Dia mengkhianati kepercayaanku, Yang Mulia. Bagi seorang wanita dari keluarga Marquis, kehormatan dan pengkhianatan dibayar dengan darah," jawab Elena mantap, menatap langsung ke dalam manik mata gelap Killian.

Killian tidak mengejar jawaban lebih lanjut. Bagi pria seperti dia, alasan di balik dendam tidaklah penting. Yang penting adalah hasil akhir. "Bagus. Karena besok malam, ujian sesungguhnya akan dimulai. Perjamuan Musim Gugur di istana. Gavin dan adik tirimu, Misha, pasti akan hadir."

Mendengar nama Misha, rahang Elena mengeras. Misha, gadis bermuka dua yang selalu bertingkah polos namun menyimpan racun di balik senyumnya. "Aku merindukan momen ini, Yang Mulia. Aku sudah menyiapkan 'hadiah' spesial untuk adik tiriku yang tercinta."

Keesokan harinya, Aula Utama Istana Helios dipenuhi oleh kemegahan yang memukau. Ratusan lilin aromatik menerangi ruangan, memantulkan cahaya pada perhiasan emas dan permata yang dikenakan para undangan. Musik klasik mengalun lembut, mengiringi obrolan basa-basi para bangsawan yang saling melempar senyum palsu.

Di salah satu sudut aula, Gavin berdiri dengan segelas anggur di tangannya. Wajahnya yang tampan tampak sedikit kuyu, meskipun dia berusaha keras menyembunyikannya di balik senyum karismatiknya. Di sampingnya, Misha bergelayut manja di lengannya, mengenakan gaun sutra merah muda yang mencolok.

"Gavin, mengapa kau tampak begitu tegang?" bisik Misha dengan nada manja. "Bukankah malam ini adalah kesempatan kita untuk mendekati para Count dari wilayah barat?"

Gavin mendesah pelan, matanya menyapu ruangan dengan gelisah. "Count dari wilayah barat tiba-tiba membatalkan pertemuan kita tadi siang. Seseorang telah membeli hak monopoli gandum mereka dengan harga dua kali lipat. Aku curiga ada pihak ketiga yang sengaja menyabotase pergerakanku."

"Siapa yang berani melakukan itu padamu? Kau adalah calon terkuat untuk takhta Kaisar!" ujar Misha, matanya berkilat penuh ambisi.

Sebelum Gavin sempat menjawab, suara gemuruh obrolan di aula tiba-tiba senyap. Suasana menjadi begitu hening hingga suara denting harpa terdengar sangat jelas. Semua mata di aula itu serentak beralih ke pintu masuk utama.

"Kedatangan Duke Killian dari Wilayah Utara, dan Nona Elena dari Kediaman Marquis!" seru penjaga pintu dengan suara lantang.

Gavin hampir saja menjatuhkan gelas anggurnya saat melihat sosok yang melangkah masuk.

Elena berjalan dengan keanggunan seorang ratu. Ia mengenakan gaun beludru berwarna biru malam yang dihiasi sulaman benang perak, memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang panjang ditata ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang dihiasi kalung berlian pinjaman dari perbendaharaan keluarga Duke. Di sampingnya, Killian berjalan dengan seragam militer hitam kebesarannya, auranya begitu dominan dan menakutkan hingga para bangsawan di sekitar mereka secara tidak sadar mundur beberapa langkah untuk memberi jalan.

"Elena...?" bisik Gavin tidak percaya.

Selama ini, Elena yang dia kenal adalah gadis penurut yang selalu mengenakan pakaian pastel sederhana dan selalu menunduk tersipu setiap kali dia menatapnya. Namun wanita yang berjalan di samping tirani kekaisaran saat ini adalah sosok yang sama sekali berbeda. Tatapan matanya dingin, tajam, dan penuh dengan otoritas.

Misha, di sisi lain, meremas lengan Gavin begitu kuat hingga kukunya hampir menembus kain jas pria itu. Wajahnya memucat karena cemburu dan amarah. "Mengapa jalang itu bisa bersama Duke Killian? Bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dewan internal Duke?!"

Elena sengaja mengarahkan pandangannya ke arah Gavin dan Misha. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sarat akan penghinaan. Ia berjalan melewati mereka tanpa menyapa, seolah-olah kedua orang itu hanyalah dekorasi dinding yang tidak penting.

"Yang Mulia Duke, terima kasih telah bersedia menemaniku malam ini," ucap Elena cukup keras agar didengar oleh orang-orang di sekitarnya saat mereka berhenti di dekat meja perjamuan utama.

"Sebuah kehormatan bagiku, Elena. Menemani wanita paling cerdas di kekaisaran adalah tugas yang menyenangkan," jawab Killian dengan suara baritonnya yang menggema, sengaja memamerkan kedekatan mereka di depan publik.

Para bangsawan di sekitar mereka mulai berbisik-bisik. Rumor tentang aliansi antara kedudukan Duke utara yang perkasa dengan aset finansial milik Elena langsung menyebar seperti api liar. Ini adalah kombinasi yang mematikan, ancaman langsung bagi posisi Gavin sebagai calon Kaisar.

Gavin yang tidak bisa menahan diri lagi, menyerahkan gelasnya pada pelayan dan berjalan mendekati mereka, diikuti oleh Misha yang memasang wajah cemas.

"Elena," panggil Gavin, suaranya bergetar antara amarah dan kebingungan. "Apa maksud dari semua ini? Mengapa kau berada di sini bersama Duke Killian? Dan apa yang kau lakukan pada jalur perdagangan di selatan?"

Elena berbalik perlahan. Tatapan matanya saat menatap Gavin begitu dingin, seolah-olah dia sedang melihat tumpukan sampah. "Ah, Tuan Gavin. Lama tidak berjumpa. Saya berada di sini tentu saja karena undangan resmi dari Yang Mulia Kaisar. Dan mengenai urusan dagang selatan... bukankah wajar jika seorang pemilik sah mengelola hartanya sendiri?"

"Kau... kau tahu bahwa dana itu sangat penting untuk pergerakan dewan!" potong Gavin dengan nada mendesis, berusaha menjaga suaranya agar tidak memicu keributan besar.

"Penting untuk pergerakanmu, Gavin, bukan untukku," balas Elena tenang, namun setiap katanya terasa menohok. "Aku bukan lagi domba penurut yang bisa kau manfaatkan demi ambisimu. Aliansiku malam ini membuktikan bahwa posisimu saat ini... sangat rapuh."

Misha mencoba menyela, memajukan tubuhnya dengan air mata buaya yang mulai menggenang. "Kakak, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu pada Gavin? Gavin selalu memikirkan masa depan kita bersama—"

"Diam, Misha," potong Elena, auranya tiba-tiba menekan begitu kuat hingga Misha tersedak kata-katanya sendiri. "Kau tidak punya hak untuk berbicara di sini. Simpan air mata palsumu itu untuk pelayan di rumahmu. Di aula ini, kau tidak lebih dari sekadar bayangan yang menempel pada pria yang sebentar lagi akan kehilangan segalanya."

Killian melangkah maju satu babak, tubuhnya yang tegap menghalangi Gavin dari Elena. "Tuan Gavin, aku sarankan kau menjaga sikapmu. Menantang sekutu utamaku di depanku sama saja dengan menyatakan perang terhadap wilayah Utara."

Ancaman terang-terangan dari sang tirani berdarah dingin membuat Gavin membeku. Dia tahu betul kekuatan militer Killian. Jika dia membuat masalah di sini, posisinya di dewan kekaisaran akan tamat malam ini juga. Dengan rahang terkatup rapat dan tangan mengepal, Gavin terpaksa mundur, menarik Misha yang gemetar bersamanya keluar dari aula.

Elena menyaksikan punggung musuhnya yang menjauh dengan perasaan puas yang membuncah. Retakan di dinding istana Gavin sudah mulai terbuka.

"Kerja bagus, Elena," bisik Killian di dekat telinganya. "Wajahnya saat ketakutan tadi sungguh pemandangan yang indah."

Elena menatap Killian dengan binar mata yang kini dipenuhi tekad yang membara. "Ini baru retakan pertama, Yang Mulia. Kita akan memastikan seluruh dinding istananya runtuh dan menguburnya hidup-hidup."

1
Pelangi Jingga
ceritanya di ulang trus
jenny
pelayan setianya ganti kak? bukannya namanya Yana?
jenny
Misha atau Dara
Nycthophile
banyak bener nih adik tiri punya nama😌
jenny: ha ha hs
total 1 replies
Nycthophile
Thor mohon maaf nih sebelum nya minta tolong kalo ada pergantian nama karakter kasih tau Thor soal nya nama adik tiri nya Elena ganti ganti terus 🙏😔
jenny: saya pikir bukan cuma saya yang bingung cz banyak nama di setiap chapter... 🤭 atau mungkin adik tirinya lebih dari satu dan semuanya tergila-gila dengan Gavin 😄
total 1 replies
Nycthophile
nama adik tiri nya yang benar Mya atau Misha Thor😔
Nycthophile
lagi perasaan tiga bab udah di ulang terus😔
Nycthophile
nama adiknya ganti ya terus Thor awalnya Dara abis itu Misha sekarang Mya😔
Siskasuryaningsih
namanya semua di ganti2, eh bambang lu ye, buat kepala ane pening tau, 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!