Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Jerry sedang terdesak. Ketakutan sang bos pada audit konsorsium Puri Naga bukan hanya histeria kosong. Ada ancaman penggusuran dari sindikat saingan yang siap memangsa wilayahnya. Itulah alasan mengapa Jerry tega memotong jarinya dan merampas uang tabungan Mila—Jerry menumbalkan dirinya karena sang bos membutuhkan setiap lembar rupiah tunai yang bisa dirampas demi mempertahankan takhta ruko busuknya.
“Satu pertanyaan lagi,” kata Sora, menambah sedikit tekanan pada tulang dada sang preman hingga pria itu meringis kesakitan. “Jadwal pengiriman uang setoran dari brankas ruko ke konsorsium. Kapan?”
“Malam audit tahunan… empat hari lagi,” bisik preman itu tersengal-sengal. “Uangnya ditumpuk di brankas lantai bawah tanah sebelum diangkut mobil van lapis baja ke Hotel Puri Naga.”
Sora menarik kakinya dari dada pria itu. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun, melangkah meninggalkan lorong buntu yang berbau kayu lapuk dan keringat ketakutan.
Ia tidak berniat membunuh dua preman jalanan ini. Mereka hanyalah kutu-kutu kecil yang mengais sisa makanan di lantai kasino. Membunuh mereka dengan pisau murahan hanya akan mendatangkan penyelidikan polisi patroli dan membakar waktu misinya yang berharga.
Tujuan Sora jauh melampaui kematian seorang bos kecil. Ia tidak ingin Jerry sekadar mati di selokan dengan luka tusuk di leher. Kematian seperti itu terlalu cepat, terlalu murah.
Jerry harus melihat sendiri bagaimana seluruh kerajaan uang yang ia bangun dari keringat dan darah orang lain runtuh berkeping-keping. Jerry harus merasakan kepanikan yang sama saat melihat brankasnya kosong melompong di depan para cukong utara yang tidak mengenal belas kasihan.
...****************...
Satu jam kemudian, aroma antiseptik tajam kembali menyambut Sora saat ia mendorong pintu kontainer Dok Han di Pesisir Tiram.
Di atas meja bedah berkarat, Sora meletakkan dua kantong kresek hitam. Satu kantong berisi tiga botol antibiotik cair steril bertutup karet merah dan sekotak jarum suntik sekali pakai yang ia tebus dari apotek gelap di perbatasan distrik. Kantong kedua berisi empat bungkus nasi ramas berlauk tongkol balado dan dua botol air mineral besar.
Dok Han yang sedang menambal ban sepeda motor tuanya di sudut ruangan mendongak. Matanya melirik ke arah kantong obat, lalu ke arah Sora dengan sebelah alis terangkat tinggi.
“Kamu rampok apotek mana?” tanya dokter tua itu sinis sembari mengelap tangannya yang berlumuran oli bekas ke lap kain kotor.
“Beli resmi di apotek belakang pasar loak,” sahut Sora datar sambil duduk di atas bangku kayu panjang. Ia merogoh saku jaketnya, menarik keluar selembar sobekan kardus rokok kretek yang sudah ia ratakan dengan telapak tangan kanannya.
Di atas permukaan kardus cokelat itu, terdapat goresan arang tebal yang membentuk sketsa denah tiga dimensi, tiga lantai ruko, posisi tangga darurat di samping dapur, saluran ventilasi atap, dan posisi ruang bawah tanah tempat brankas Jerry tertanam di dinding beton.
Dok Han berjalan mendekat, mengambil salah satu bungkus nasi ramas dan membukanya tanpa sungkan. Sambil mengunyah suapan pertama, matanya menatap sketsa di atas kardus rokok dengan kerutan dahi yang makin dalam.
“Ruko Tiga Naga,” gumam Dok Han, nada bicaranya berubah lebih rendah dan serius. “Kamu mau bunuh Jerry?”
“Membunuhnya terlalu gampang, Dok,” kata Sora, tatapannya terpaku pada garis ruang bawah tanah di sketsa itu. “Aku mau kuras habis likuiditasnya di depan para pemain meja rolet nomor tiga. Kalau uang kasino habis di meja, para cukong konsorsium sendiri yang bakal lempar Jerry ke laut.”
Dok Han menghentikan kunyahannya sejenak. Ia menatap tangan kiri Sora yang terbalut perban hitam, lalu menggelengkan kepala pelan.
“Meja nomor tiga itu dikontrol kabel pemancar dari ruang lantai dua,” kata Dok Han dingin. “Jerry punya kamera CCTV di setiap sudut pilar, dan Rusli punya lima anak buah bersenjata parang yang siap tebas leher siapa pun yang pegang sakelar meja. Kamu cuma punya satu tangan utuh, nak.”
Sora mengangkat kepalanya, menatap lurus ke dalam lensa kacamata tebal dokter tua itu. Di sudut mata kirinya, penghitung mundur misi sistem kasino berkedip tenang, enam hari sembilan belas jam tersisa.
“Makanya aku butuh orang yang tahu kabel, Dok,” kata Sora tenang. “Siapa di pesisir ini yang bisa jebol sinyal kamera pengawas tanpa bikin alarm ruko bunyi?”
Dok Han menatap Sora selama beberapa detik tanpa bersuara, hanya suara desau angin malam yang mengguncang dinding seng kontainer di antara mereka. Akhirnya, dokter tua itu mendesah panjang, menelan suapan nasinya, lalu menunjuk ke arah utara dermaga dengan ujung sendok plastiknya.
“Warnet Meteor,” kata Dok Han pelan. “Cari bilik nomor sembilan. Ada anak perempuan yang punya dendam sama Jerry lebih besar daripada dendammu.”