Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: Menjadi EO Dadakan dan Malam Panjang
Pagi itu badan rasanya remuk. Mata perih, kepala berat, dan suasana mobil terasa seperti ruang tunggu tanpa antrian, sunyi tanpa suara. Tidak ada yang bicara.
Hendra merapatkan jaketnya sambil fokus menyetir, Shinta memeluk tas kecil di perut, sementara Jefry cuma menatap kosong ke luar jendela.
Tak ingin terus seperti ini, akhirnya aku membuka suara.
"Tadi malam, kalian juga denger kan?" tanyaku pelan.
Shinta langsung menoleh. Ada rasa lega di matanya karena ternyata bukan cuma dia yang merasa aneh.
"Langkah kaki itu ya? Sama suara aneh?" dengan nada pelan, Shinta melepaskan tangan dari tas yang tadi dipeluknya. "Gua sempat mikir itu cuma halusinasi karena kecapean. Tapi kok kayak nyata banget."
"Bukan cuma itu," Hendra menimpali. "Liftnya juga aneh. Sama suasana di apartemen itu, sumpah, gua bener-bener nggak nyaman."
Shinta lalu berkata ragu, "Apa kita perlu ngomong ke Pak Damar sama Bu Sully? Maksudnya ya supaya kita bisa dipindahin? Mumpung masih baru. Tempat itu kayaknya, nggak bener."
Belum sempat aku merespons, Jefry langsung menggeleng.
"Nggak usah. Kita sabar aja dulu. Toh, cuma sementara. Lagian, jangan bikin masalah kecil jadi gede," katanya santai, seperti kejadian tadi malam bukan apa-apa.
Aku menghela nafas. Rasanya ada yang ganjil, tapi aku tahan.
Tapi kemudian, setelah kami tiba di restoran.
Begitu kami bertemu Damar dan Sully, suasananya jauh beda. Di depan mereka, Jefry mendadak berubah.
"Gua mau lapor nih, soal apartemen yang kemarin itu," kata Jefry, suaranya dibuat serius. "Jujur ya, kondisinya parah banget. Gelap, kotor, dan ya, gua bisa bilang ada mistis-mistisnya." ia tertawa kecil.
Sully langsung kaget.
"Serius? Waduh, maaf banget ya. Itu sekretaris kami yang urus. Nanti kami tegur. Kalau gitu hari ini juga kalian pindah aja ya. Kalian jangan tinggal di tempat kayak gitu."
Tapi tiba-tiba Jefry menolak.
"Eh, jangan, Bu!" katanya cepat. "Maksudnya, gua malah seneng tinggal di sana. Inspirasinya dapet banget buat film horor kita." Ia tersenyum bangga, seperti baru menemukan harta karun.
Aku spontan meliriknya tajam.
Di mobil tadi, ia yang paling keras bilang sabar dan jangan diperpanjang. Sekarang? Dia yang paling ribut, tapi cuma untuk kemudian bilang, ia suka tempat itu?
Rasanya darahku naik perlahan, tapi masih bisa kukendalikan.
Ada sisi Jefry yang baru mulai terlihat, manis di depan orang, tapi beda di belakang. Aku diam, tapi dalam hati mulai geram.
Pembahasan lalu beralih ke strategi grand opening restoran. Damar mengusulkan sesuatu yang lebih besar.
"Gimana kalau kita bikin konser? Undang penyanyi atau band. Biar rame, sekalian naikin exposure," katanya.
Sully mengangguk. "Kita targetkan viral. Jadi orang datang bukan cuma karena makanannya, tapi juga eventnya."
Kami kembali terjebak dalam dunia restoran itu.
Kalender makin penuh. Di sela-sela diskusi, aku kepikiran dengan janjiku sama Bang Adit, kalau terus kayak gini, pasti batal.
Aku melirik Jefry. Ia sibuk tertawa bersama Damar dan Sully, seakan semua ini cuma permainan.
Sementara, aku semakin yakin kalau ada yang tidak sesuai. Dengan apartemen yang kami tinggali, project restoran, dan terutama Jefry.
Aku mulai menyerah pada takdir aneh yang menyeretku ke dunia EO. Rasanya absurd, datang untuk pitching film, tapi malah atur daftar belanjaan dan layout panggung. Hanya saja, entah sejak kapan, aku berhenti melawan.
Di dalam mobil, Jefry menyolek pahaku dari bangku depan. "Gas, sementara ikutin dulu alurnya, ya. Ini peluang gede."
Aku menoleh, tersenyum hambar. "Iya bang, tapi ini berarti gua harus batalin shooting sama Bang Adit ya jadinya?"
Shinta melirik ke samping, "Dia pasti marah ya?"
Aku menarik nafas, "Jelas, siapa yang nggak? Jadwal tiga minggu, kejar tayang. Tapi ya, gua pilih tetap di sini, semoga ini pilihan yang tepat."
Hendra ikut menyahut, setengah bercanda. "Berarti lo sekarang officially EO nih, Gas. Selamat ya!"
Aku tertawa kecil, tapi rasanya getir. "Seneng lo, Bang."
***
Sore harinya, Damar dan Sully memanggil kami ke ruang meeting kecil di belakang restoran. Wajah mereka sumringah.
"Kami sudah diskusi," kata Damar, menyilangkan tangan. "Kami mau bikin PT khusus buat kalian. Nggak cuma restoran. EO, tender, proyek, pengadaan, bahkan film juga kita garap bareng."
Sully menambahkan, suaranya lembut, "Kalian bakal jadi partner resmi kami. Bukan sekadar tim freelance lagi."
Aku menatap Jefry. Matanya berbinar. "Serius? Ini besar banget bagi kita," katanya antusias.
Meskipun wajahku tersenyum, tapi di dalam hati aku merasakan ada sesuatu yang bergerak pelan, antara harapan besar sekaligus rasa was was yang tak mau pergi.
***
Malam hari, masih di restoran, aku video call Delia sambil duduk di pojokan.
"Jadi mereka mau bikin PT khusus buat kita," kataku pelan. "Ini bisa jadi titik balik, Ma. Masa depan kita."
Delia terdiam agak lama. "Titik balik atau yang lain nih," suaranya terdengar lelah, pesimis. "Penghasilan kamu di situ aja masih setengah UMR."
Aku coba meyakinkan. "Tapi ini proses. Kalau PT udah jalan, kita punya legalitas, project bakal masuk lebih besar. Aku yakin, Ma."
Delia menghela nafas, cenderung mendengus, "Aku cuma takut kamu terlalu percaya."
"Percaya sama kesempatan, Ma," sahutku cepat. "Sekali ini aja, izinin aku coba ya."
Ia akhirnya mengangguk kecil, pasrah. "Ya udah. Aku ikut kamu. Tapi jangan lupa, kita masih butuh makan tiap hari."
Aku tersenyum tipis, "Iya. Makasih ya udah percaya sama aku."
Setelah panggilan selesai, aku menatap langit-langit halaman restoran Waroeng Kayoe, dekat mobil pengunjung. Di jalanan terpantau ramai lancar, kendaraan berlalu-lalang.
Pada momen ini aku bertanya pada diriku sendiri, apakah ini benar-benar jalan terang atau hanya cahaya semu yang sebenarnya wujud nyata dari bayangan hitam.
Aku tidak tahu sejak kapan jam tiga dini hari menjadi penanda waktunya bangun. Tapi di apartemen Spring Town, angka itu seolah-olah bukan lagi digit biasa, melainkan pintu yang dibuka sosok tak kasat mata dari dimensi lain.
Malam itu kami pulang lebih cepat. Rasa lelah menempel di badan seperti debu lengket yang enggan lepas. Perasaan was was ikut pulang, terus membebani pundak, menumpang bersama kami.
Lorong apartemen masih sama, lampu temaram karena sebagian mati, hawa dingin yang tidak tahu dari mana asalnya menusuk kulit. Kami tidak banyak bicara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Udah, kita cepet masuk aja,” gumam Hendra, suaranya serak.
Begitu sampai di depan pintu 26B, tiba-tiba saja terdengar suara kunci pintu dari kamar sebelah. Kami terdiam sejenak, penasaran apakah kamar sebelah ada penghuninya, karena selama ini kami mengira kamar itu kosong.
Shinta merasa takut, “Udah nggak usah ditungguin.”
Setelah kami masuk ke dalam, lelah yang dirasakan berubah menjadi kelegaan sesaat. Jefry langsung mencari remote televisi.
“Ada pertandingan Liga Inggris jam setengah dua. Gua nonton di sini aja, ya,” katanya santai. Mungkin memancing agar aku atau Hendra menawarkan diri untuk menemani.
“Gua mandi duluan ya,” ujar Shinta, berusaha terdengar riang, tapi matanya letih.
Usai meletakkan tas ke dalam kamar, aku ikut duduk di sofa bersama Jefry, memaksa diriku percaya bahwa saat ini hanya akan jadi malam biasa.
Tapi dinding-dinding putih itu rasanya sedang mendengarkan kami. Seperti ada yang menempel di tengkukku, memperhatikan setiap tarikan nafasku.
Waktu berlalu, kami sudah mandi semuanya. Duduk di sofa berempat, berniat untuk menemani Jefry nonton bola. Tapi ketika jam melewati tengah malam, satu per satu dari kami menyerah.
“Bang, gua masuk duluan, ya,” kata Shinta.
Tak lama setelahnya, Hendra menyusul. Hanya tersisa aku yang tentu saja menjadi yang paling tidak enak kalau meninggalkan Jefry sendirian.
Jam di handphone menunjukkan pukul 01.07 ketika aku akhirnya bangkit memutuskan untuk menuju kamar.
“Bang, gua juga tidur deh ya, ngantuk banget ternyata,” ucapku.
“Oke, oke, aman, santai aja, Gas,” balasnya tanpa menoleh karena fokus ke presenter bola yang dari tadi berbicara serius.
Tapi saat aku ingin menutup pintu kamar, aku melihat Jefry mematikan televisi, “Gua nonton di handphone aja deh, takut berisik.”
Aku tertidur entah jam berapa, tapi kemudian aku bangun, membuka mata, sudah mempunyai firasat. Jam digital di layar handphone menunjukkan 03:00 tepat.
“Kan bener,” pikirku.
Di sini aku langsung menarik nafas panjang, pelan. Pikiranku terasa sempit, selalu memikirkan hal buruk. Ada sesuatu yang membuat aku tidak bisa melanjutkan tidur. Di tengah kesunyian, suara-suara mulai muncul.
“Tok, tok, tok”
Ketukan pelan. Seperti buku jari menyentuh kayu, mengetuk pintu kamarku.
Sekujur tubuhku merinding, meyakini kalau itu bukanlah salah satu dari Shinta, Jefry ataupun Hendra.
“Tok, tok”
Dan sekali lagi, “Tok”
Lalu berhenti. Digantikan bisikan yang sangat pelan. Bukan dari satu arah. Kadang di kiri, lalu berpindah ke langit-langit. Bahkan hingga seperti berasal dari dalam bantalku sendiri.
Mulai dari suara tawa kecil, hingga tangisan terisak.
“Mas Bagas,” suara bisikan itu semakin terdengar jelas. Aku mengenalnya, “Shinta?”
Awalnya aku sempat berpikir kalau Shinta yang mengetuk pintu, tapi logikaku masih tidak percaya.
Aku bangkit duduk. Suara kran di dapur ikut bergabung. Bukan menetes seperti kemarin, tapi air yang mengalir deras.
“Serrr..”
Rasanya air itu sedang sengaja memanggilku.
Dengan keberanian yang tersisa, aku membuka pintu kamar, berniat untuk mencari tahu ada apa di luar. Aku berharap kejadiannya seperti kemarin, Jefry dan lain juga ikut membuka pintu.
Tapi tidak, begitu aku membuka pintu, di luar tidak ada orang sama sekali.
Berusaha tetap tenang, mencoba santai, aku berjalan menuju dapur untuk merapatkan kran air.
Setelahnya, dengan cepat aku menoleh untuk berbalik menuju kamar. Di tengah puncak keberanianku yang terkikis rasa takut, aku hampir berteriak ketika melihat Hendra berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka sedikit.
“Gas?” bisiknya.
Aku menghela nafas panjang. “Astaghfirullah, Bang! Kaget banget gua.”
“Gua juga kaget anjir, gua kira siapa?”
Tak lama, Jefry keluar. Ternyata ia masih menonton bola. Aku pun reflek mengajaknya nonton di televisi saja.
“Nonton di sini aja bang, gua temenin,” kataku.
Sedangkan Hendra keluar kamar, menuju kamar mandi.
Aku menyalakan televisi, duduk berdua dengan Jefry. Begitu Hendra keluar, ia juga duduk di sofa bersama. Kami bertiga pun nonton bola bersama di ruang tengah apartemen.
Sesekali kami saling menatap. Tidak ada yang tertawa, terlalu serius, tapi juga tanpa ada yang membahas tentang kebetulan ini.
Anehnya ketika kami bertiga ada di luar, tidak ada kejadian aneh sedikit pun. Bahkan, aku sampai mengantuk dan tidur setengah duduk di sofa.