Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.
Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.
Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Freestyle
“Jalan-jalan ke mana?” tanya Kania.
“Ke mana aja. Mau ke tempat wisata boleh, ke mal boleh. Atau mau nonton?”
“Ehm … boleh, deh. Tapi aku ganti baju dulu, ya. Gerah banget soalnya.”
Gilang bersorak senang dalam hati. Tidak sia-sia dirinya meminta cuti. Akhirnya dia bisa mengajak Kania berjalan-jalan. Semoga saja gadis itu sudah mulai membuka hati untuknya.
Dia akan mencoba menjalankan trik tarik ulur yang diajarkan oleh Beto, salah satu pegawai Arkana Technology.
Hanya Beto, tempatnya berkonsultasi urusan asmara. Dia tidak bisa mengandalkan Nino, Asep, apalagi Pradipta. Ketiganya sama sekali tidak punya pengalaman tentang perempuan.
Untung saja ada perempuan yang mau menikahi duo kancing cetet. Jika tidak, bisa jadi, mereka masih menjomblo sampai sekarang.
Sementara itu, Beto adalah playboy cap ikan teri. Dia sudah punya banyak pengalaman dengan wanita, meski usianya baru dua puluh tujuh tahun.
Sejak masih sekolah, pria itu sudah sering berganti pacar. Salah satu nasihat yang diberikan Beto adalah memainkan trik seperti layangan. Tahu kapan harus menarik, dan kapan harus mengulur.
Lamunan Gilang buyar saat Kania muncul dan mengajaknya pergi.
Gilang memakaikan helm pink yang sengaja dibelinya khusus jika membonceng Kania. Tak berapa lama kemudian, motor milik Gilang sudah melaju di jalan.
“Kamu mau ke mana?” tanya Gilang sedikit berteriak karena suaranya bersaing dengan deru angin.
“Terserah Abang aja!” jawab Kania.
“Kalau aku ajak ke Bantar Gebang, mau?”
Sebuah tepukan mendarat di pundak Gilang. Pria itu hanya terkekeh saja. Dia terus melajukan motornya, lalu berbelok memasuki area parkir basement sebuah pusat perbelanjaan.
Gilang ingin merasakan sensasi jalan-jalan di mal sambil bergandengan tangan seperti pasangan lain.
Setelah memarkir motornya, Gilang mengajak Kania memasuki pusat perbelanjaan tersebut. Udara dingin yang berasal dari air conditioner langsung menerpa kulit keduanya.
“Kita ngapain ke sini, Bang?” tanya Kania.
“Habisnya kamu aku tanyain nggak kasih jawaban pasti. Jadi kita ke sini aja. Kita main di arena bermain, gimana?”
“Katanya di sini ada trampoline, ya?” tanya Kania bersemangat.
“Iya, di lantai paling atas. Dekat dengan bioskop. Kamu mau ke sana?”
“Boleh, Bang. Aku udah lama pengen main di sana, tapi belum kesampaian aja,” jawab Kania bersemangat.
Tanpa membuang waktu, Gilang langsung mengajak Kania ke tempat trampolin berada.
Setelah membeli tiket, keduanya segera masuk. Area bermain yang baru dibuka enam bulan lalu itu berukuran cukup luas dengan banyak trampolin. Ada area untuk anak-anak dan orang dewasa.
Seperti anak kecil, Kania langsung menuju area dewasa. Gadis itu melompat-lompat kesenangan. Tidak jauh darinya, ada seorang pria yang melompat lalu melakukan gerakan freestyle saat berada di udara.
“Bang, bisa kayak gitu, nggak?” tanya Kania.
“Kecil,” jawab Gilang cepat.
Demi gengsi, Gilang mengambil tempat yang agak sepi, kemudian dia mulai melompat. Butuh beberapa kali lompatan agar lompatannya tinggi dan dia bisa melakukan gerakan freestyle.
Gilang menjejak kuat pada trampolin, kemudian tubuhnya terpental ke udara. Gilang lalu bergaya di udara sebelum jatuh.
Terdengar tepuk tangan Kania, memuji aksi yang dilakukan Gilang.
Melihat kekaguman Kania, Gilang semakin bersemangat untuk melakukan gerakan freestyle yang lebih ekstrim. Saat berada di udara, Gilang melakukan salto.
Nahas, saat mendarat, gerakan saltonya belum sempurna. Wajahnya menghantam trampolin lebih dulu.
Tubuhnya masih terlempar untuk beberapa saat sampai gaya pegas trampolin berakhir. Gilang mengusap wajah, terutama bagian hidung yang sedikit nyeri akibat pendaratan tidak sempurna tadi.
“Abang nggak apa-apa?” tanya Kania khawatir.
“Nggak apa-apa, santai aja. Kamu main, gih. Abang mau istirahat dulu.”
Kania segera bergabung dengan pengunjung lain dan melompat dengan wajah gembira. Di pinggir arena, Gilang masih beristirahat sambil mengusap-usap hidungnya.
“Hidung gue patah nggak, ya?” gumam Gilang.
Pemuda itu segera mengambil ponselnya, lalu membuka kameranya dengan mode selfie.
Pria itu bisa bernapas lega melihat hidungnya baik-baik saja. Posisi lubang hidungnya juga masih menghadap ke bawah, tidak berubah menghadap ke atas.
Gilang kemudian merekam Kania yang masih asyik bermain trampolin. Dia terkejut saat melihat kuntilanak dan pocong ikut bermain trampolin di layar ponsel. Posisi Kania tepat berada di tengah-tengah mereka.
Gilang segera menurunkan kameranya. Kini dia bisa melihat dua makhluk astral itu secara langsung. Terdengar suara cekikikan kuntilanak saat tubuhnya terlontar ke atas.
Sementara si pocong hanya melompat-lompat sambil sesekali menaikan kedua kakinya.
“Buset, kunti sama pocong demen main trampolin juga,” gumam Gilang sambil terus menatap Kania.
Setelah puas bermain trampolin, Gilang mengajak Kania makan di sebuah kafe yang ada di mal tersebut.
“Besok beneran kamu mau liburan?” tanya Gilang sambil menyantap makanannya.
“Iya. Aku, kan, belum pernah ke Pulau Macan. Katanya tempatnya bagus. Jadi penasaran juga.”
“Pulau Macan di sebelah mananya Pulau Harimau?” tanya Gilang asal.
“Ish … Bang Gilang tuh bercanda terus. Kapan seriusnya, sih?”
“Seriusnya pas ngelamar kamu doang,” jawab Gilang sambil terkekeh.
“Aku mau beresin kuliah dulu, Bang. Terus mau ngerasain kerja, setahun atau dua tahun. Baru deh, nikah.”
“Abang jabanin. Abang tunggu kamu sampai beres kuliah terus kerja. Tenang aja, Abang ini lelaki setia.”
Kania hanya mencibir mendengar jawaban Gilang. Saat ini, dia memang belum tahu bagaimana perasaannya terhadap Gilang. Di matanya sekarang, Gilang tidak lebih seorang sahabat sekaligus kakak yang menyenangkan.
Selesai makan, Gilang mengajak Kania ke supermarket. Dia ingin membelikan beberapa camilan untuk bekal liburan gadis itu.
“Kamu mau beli apa, ambil aja. Abang yang bayar. Abang baru dapat bayaran dari klien kemarin.”
“Beneran?” tanya Kania bersemangat.
“Iya. Sekalian beliin buat Mama dan Nenek.”
Kania segera mendorong troli. Dia mengambil makanan kesukaannya. Tidak lupa, dia juga membeli camilan untuk Salma dan neneknya.
“Bang, aku boleh beli sunscreen sama lipbalm, nggak? Udah habis soalnya.”
“Ambil aja,” jawab Gilang.
“Asyik. Makasih, Bang.”
Melihat Kania yang senang karena dibelanjakan olehnya membuat Gilang ikut senang. Dulu, dia kesulitan mendekati perempuan karena masalah keuangan.
Pria itu tahu bahwa membutuhkan modal untuk bisa mendekati wanita. Namun, saat uang bukan masalah untuknya, Gilang hanya ingin membelikan apa yang disukai Kania.
“Besok kamu berangkat jam berapa? Sama siapa?” tanya Gilang. Gayanya sudah seperti seorang ayah yang bertanya kepada putrinya yang hendak bepergian.
“Aku dijemput Salsa jam enam pagi. Kita ke Jakarta naik mobil. Nanti dari Ancol naik speedboat sampai ke Pulau Macan.”
“Kamu harus hati-hati di sana. Jangan jalan-jalan sendiri, nanti kalau nyasar berabe.”
“Iya, Bang. Bawel amat, sih.”
“Jangan main ke pulau lain sendirian. Di sekitar sana, kan, banyak pulau kosong. Pokoknya jangan sembarangan.”
“Iya, iya. Heran deh, bawelnya udah kayak kakek-kakek.”
“Dengarin kalau calsu ngomong!” seru Gilang.
“Apaan tuh calsu?” tanya Kania dengan kening berkerut.
“Calon suami,” jawab Gilang sambil menaik-turunkan alisnya.
Kania hanya mendesis. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju pintu yang terhubung ke basement.
Karena tidak melihat jalan, gadis itu menabrak seseorang hingga tas pria itu jatuh dan isinya berserakan di lantai.
“Eh, maaf,” ujar Kania. Dia terkejut saat menyadari bahwa orang yang ditabraknya adalah Aden.
Tanpa menghiraukan permintaan maaf Kania, Aden memasukkan barang-barangnya yang terjatuh.
Kania terkejut melihat alat kejut listrik, semprotan merica, kubotan, dan pisau lipat yang berserakan di lantai.
Setelah memasukkan barang-barang itu ke dalam tasnya, Aden bergegas pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
***
Aku masih crazy up hari ini ya, jadi jangan lupa komen🤗
BTW, Saka udah up tadi pagi ya
gian bs x y trus pantau mereka🤭
biarpun dia itu istrinya ....sapa tau dia ingin menguasai harta suaminya....dan juga polis asuransi jiwa yang sangat besar.....kan selama ini dia selalu berselisih paham dgn adik iparnya Khalisa .... hubungannya gk baik....bisa aja setelah semua di miliki di kuasai dia akan usir Khalisa 😔
secara logika haruse duduk wong adoh seh pelakune