Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Semua tamu VIP dan bahkan Tuan Wijaya langsung mengalihkan perhatian mereka.
"Mobil siapa itu? Plat nomornya khusus dan sangat mahal," bisik salah satu pengusaha di sana.
Pintu mobil depan terbuka dan seorang wanita berkacamata turun lebih dulu.
Nadia sang asisten pribadi berjalan memutari mobil dan membukakan pintu belakang dengan sangat hormat.
Tap.
Sepatu kulit hitam mengkilap menginjak karpet merah lobi hotel.
Sosok tinggi tegap dengan setelan jas hitam pekat keluar dari dalam mobil tersebut.
Aura dingin dan mengintimidasi langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
Itu adalah Rio Dirgantara sang Direktur Utama Grup Sentosa yang baru.
Tuan Wijaya langsung mengenali wajah asisten Nadia dari berita bisnis di televisi.
"Astaga! Itu asisten dari Grup Sentosa! Berarti pria itu adalah direktur utama yang baru!" pekik Tuan Wijaya kegirangan.
"Keluarga kita kedatangan tamu paling terhormat di negara ini sayang, ayo kita sambut," ajak Tuan Wijaya pada Cynthia.
Mereka semua bersiap menyambut kedatangan Rio dengan senyum paling manis yang bisa mereka buat.
Rizky juga merapikan jasnya dan ikut tersenyum bangga berharap bisa berkenalan dengan orang hebat itu.
Rio melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis lobi hotel dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Matanya setajam elang menyapu seluruh ruangan mencari sosok yang menjadi targetnya hari ini.
Namun pandangan Rio tiba-tiba terpaku pada sebuah keributan kecil di sudut lobi.
Dia melihat tiga orang satpam sedang menarik paksa seorang wanita tua berpakaian kumal.
Wanita tua itu menangis di lantai tanpa bisa berdiri karena kakinya cacat dan tongkatnya terlempar jauh.
Deg.
Langkah Rio langsung terhenti seketika.
Nafasnya seolah tercekat di tenggorokan melihat wajah wanita tua yang sedang menangis itu.
Meski sudah banyak keriput dan terlihat sangat kurus, Rio tidak akan pernah melupakan wajah ibunya.
Wajah wanita yang dulu selalu mengusap kepalanya saat penyakit jantungnya kumat.
"Ibu?" batin Rio menjerit dengan dada yang tiba-tiba terasa sesak oleh rasa rindu dan amarah.
Mata Rio kemudian beralih menatap pemuda berjas putih yang berdiri tak jauh dari ibunya dengan wajah sombong.
Insting persaudaraannya langsung mengenali fitur wajah pemuda itu.
"Itu pasti Rizky," batin Rio menyimpulkan dengan cepat.
Rio melihat bagaimana Rizky hanya diam saja sambil tersenyum sinis melihat ibunya diseret oleh satpam.
Bahkan ada bekas noda kotoran di dada jas putih Rizky yang tampak seperti bekas dorongan.
Melihat posisi ibunya yang terjatuh dan sikap acuh tak acuh adiknya membuat darah Rio mendidih sampai ke ubun-ubun.
Rasa marah yang tidak pernah dia rasakan selama lima belas tahun terakhir kini meledak di dalam dadanya.
"Lepaskan tangan kotor kalian dari wanita itu."
Suara bariton yang sangat dingin dan berat menggema di seluruh lobi hotel.
Suara itu tidak berteriak namun ketegasannya membuat semua orang merinding ketakutan.
Para satpam dan Mandor katering langsung menghentikan gerakan mereka karena terkejut.
Mereka menoleh ke arah sosok berjas hitam yang berjalan mendekat dengan tatapan membunuh.
Tap tap tap.
Langkah kaki Rio terdengar menggema layaknya malaikat maut yang datang menjemput nyawa.
Tuan Wijaya buru-buru menyela dan mencoba tersenyum ramah menyambut Rio.
"Selamat datang Tuan Direktur Sentosa, suatu kehormatan Anda hadir di pernikahan putri saya," sapa Tuan Wijaya membungkuk hormat.
"Mohon maaf atas pemandangan tidak enak ini, ada pengemis gila yang menyusup masuk ke hotel kami."
"Satpam kami sedang membereskannya agar tidak mengganggu Anda," jelas Tuan Wijaya menjilat.
Rio tidak menanggapi sapaan Tuan Wijaya sama sekali dan terus berjalan melewatinya begitu saja.
Tuan Wijaya mematung dengan wajah memerah karena diabaikan di depan banyak orang.
Rio berhenti tepat di depan para satpam yang masih memegangi lengan ibunya.
"Aku bilang lepaskan tangan kalian, apa telinga kalian semua sudah tuli?" desis Rio menatap tajam para satpam itu.
Merasakan aura membunuh yang sangat pekat, ketiga satpam itu buru-buru melepaskan lengan Santi dan mundur ketakutan.
Rio menunduk dan perlahan berjongkok di depan Santi yang masih menangis terisak di lantai.
Tangan besar Rio yang dibalut kemeja mahal terulur mengusap sisa air mata di pipi keriput ibunya dengan sangat lembut.
Sentuhan itu begitu hangat dan familiar membuat Santi perlahan mendongakkan wajahnya.
Santi menatap wajah tampan pria asing di depannya dengan tatapan kebingungan namun merasa sangat nyaman.
"Anda siapa Tuan? Kenapa Anda menolong orang miskin seperti saya?" tanya Santi dengan suara bergetar.
Rio tersenyum sangat tipis, senyuman pertama yang sangat tulus sejak dia keluar dari rumah sakit lima belas tahun lalu.
"Tidak ada satupun orang di dunia ini yang boleh menyakitimu, karena aku tidak akan pernah mengizinkannya," ucap Rio pelan tapi pasti.
Rio tidak langsung membongkar identitasnya di depan ibunya karena dia tidak ingin ibunya syok dan pingsan.
Dia mengambil tongkat kayu di dekatnya lalu membantu Santi berdiri dengan perlahan dan hati-hati.
Rio membersihkan debu di celemek ibunya tanpa merasa jijik sedikitpun.
Pemandangan itu membuat semua tamu undangan tercengang dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Seorang direktur utama paling berkuasa di ibu kota rela berjongkok dan membersihkan baju kotor seorang tukang cuci piring.
"Tuan Direktur, Anda tidak perlu mengotori tangan Anda untuk pengemis ini," sela Rizky melangkah maju mencari perhatian.
"Dia itu cuma orang gila yang mau merusak acara pernikahan saya," tambah Rizky tersenyum menjilat.
Rio memutar tubuhnya perlahan dan menatap adik kandungnya itu dengan sorot mata yang bisa membekukan lautan.
"Kamu bilang dia pengemis gila?" tanya Rio mengulang perkataan Rizky dengan nada merendahkan.
"Benar Tuan, dia tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ibu saya, padahal ibu saya sedang di Jerman," angguk Rizky percaya diri.
Brak!
Rio melangkah maju dengan cepat dan langsung mencengkeram kerah jas putih Rizky dengan satu tangan.
Tenaga Rio yang dilatih bertahun-tahun membuat tubuh Rizky sedikit terangkat dari lantai.
"Eh! Tuan apa yang Anda lakukan?!" teriak Rizky panik dan ketakutan karena tiba-tiba dicekik.
Cynthia menjerit kaget melihat calon suaminya diserang.
"Orang yang kamu sebut pengemis ini jauh lebih berharga dari nyawa busukmu dan seluruh isi hotel ini," desis Rio tepat di depan wajah Rizky.
"Beraninya kamu berbohong dan membuang keluargamu sendiri demi sebuah pesta murahan."
Rizky menelan ludah dengan susah payah karena napasnya mulai sesak akibat cengkeraman Rio.
Dia tidak mengerti dari mana pria asing ini tahu tentang kebohongannya.
"Tuan tolong lepaskan menantu saya! Anda tidak bisa berbuat kasar di acara keluarga kami!" protes Tuan Wijaya mencoba melerai.
Rio menghempaskan tubuh Rizky dengan kasar hingga pemuda itu terjerembab ke lantai di dekat kaki ibunya.
"Keluargamu? Keluarga penipu maksudmu?" ejek Rio melirik Tuan Wijaya dengan tatapan meremehkan.
"Asisten Nadia, bacakan latar belakang calon menantu kesayangan Grup Makmur ini di depan semua tamu undangan sekarang," perintah Rio lantang.
Nadia yang sudah bersiaga langsung melangkah maju membawa tabletnya.
Tamu undangan mulai berbisik-bisik penasaran menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Wajah Rizky dan Tuan Wijaya memucat menyadari bahwa rahasia terbesar mereka akan segera terbongkar hari ini juga.