"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Setelah Eliana merapikan penampilan, mereka berempat meninggalkan ruangan praktek polisi gigi. Lorong klinik sepi, semua poli sudah tutup. Lobi sepi, hanya tampak dua orang yang sedang mengurus administrasi.
Eliana menunduk, sadar tadi telah membuat keributan. Ia pasrah, jika besok di panggil atasan, dan akan dikenai sanksi. Ia sama sekali tak menyesal telah menghajar Arya, menyesalan terbesarnya adalah pernah mengenalkan Ilona pada Arya. Ia merasa bersalah, merasa ikut andil membuat Kakaknya patah hati.
Langkah kaki Eliana terhenti saat tak sengaja berpapasan dengan Arya. Karena kedua orang di depannya berhenti, otomatis Elang dan Ilham yang berjalan di belakang, ikut berhenti.
Kedua telapak tangan Elang terkepal kuat melihat Arya. Dadanya bergemuruh, nafasnya naik turun. Ia teringat bagaimana hari minggu lalu, Ilona menunggunya di taman hingga tengah hari, menunggu bajingan itu. Gadis itu tulus, tapi laki-laki di hadapannya itu sungguh tak tahu diri.
"Aku tunggu nanti malam di rumah Ibu," ujar Eliana sinis. "Jelaskan semuanya pada Kakakku!"
Kenan kaget saat bahunya tersenggol kuat, Elang yang ada di belakangnya, tiba-tiba meringsek maju.
Bugh.
"Aaa!" Eliana teriak, menutup mulut dengan telapak tangan. Kaget Elang tiba-tiba memukuli Arya hingga tumbang, kaca matanya terlempar. Pukulan tadi terdengar sangat keras, belum lagi ditambah tubuh Arya yang membentur lantai, sontak langsung menarik perhatian.
Dua orang di depan meja administrasi menoleh, salah satu nakes yang lewat, ikut teriak, lalu memanggil satpam, untuk minta bantuan. Rasanya belum reda keonaran beberapa saat tadi, sekarang terjadi kembali.
"Bajingan lo, bangsat!" Elang membungkuk, mencengkeram kerah baju Arya, kembali memukulnya.
Bugh, bugh
Arya yang diposisi tidak siap, tak bisa membalas atau sekedar menangkis serangan Elang.
"Lang, Lang, udah!" Kenan panik, berusaha menarik tubuh Elang. "Woi Ham, bantuin, jangan bengong aja." Ia kesulitan karena Elang terus berontak.
Ilham yang nge freezer beberapa detik, langsung tersadar. Ia maju, membantu Kenan menarik Elang menjauhi Arya.
Arya bangun, menyeka darah di sudut bibir dan hidungnya. Kepalanya pening, pandangannya kabur karena pukulan tadi juga kaca mata yang entah ada dimana sekarang. Tapi meski begitu, ia masih bisa mengenali orang-orang di depannya.
"Lepasin gue, biar gue hajar bangsat itu!" Elang berusaha menarik kedua lengannya yang dipegangi Kenan dan Ilham, kakinya berusaha menendang Arya.
"Udah Lang, lo bisa kena masalah, bini gue juga!" Kenan mendelik kesal.
Dua orang satpam yang datang, langsung mengamankan Arya.
"Tolong jaga sikap anda, ini tempat umum, ini klinik!" tekan salah satu satpam. "Ada CCTV disini, dan apa yang barusan anda lakukan, bisa dikenai pasal hukum."
"Tuntut aja, gue gak takut!" Elang malah menantang, matanya menyala-nyala, menatap Arya nyalang.
"Sudah Lang, sudah! Maafin teman saya ya, Pak." Kenan menarik Elang keluar klinik, diikuti Eliana dan Ilham.
Eliana tak habis fikir, kenapa Elang sampai segitunya, bukankah laki-laki itu tidak kenal dengan kakaknya?
Di luar, di samping mobil Kenan yang diparkir, Ilham menatap Elang sambil geleng-geleng. "Lo itu kenapa sih, tiba-tiba aja hajar orang?"
Kenan hanya diam, tak tahu harus berkata apa lagi. Ia malah kepikiran Eliana, takut besok istrinya dipanggil, kena masalah.
"Gue geram sama bajingan itu." Sahut Elang dengan nafas naik turun, matanya menatap ke arah pintu klinik.
"Ya tapikan ini bukan masalah lo. Dan lagian, tadi di klinik bego. Bisa-bisanya lo buat keributan di klinik." Ilham masih tak habis fikir.
Elang mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, tersenyum getir. Ia menghajar Arya yang menyakiti Ilona, sementara penyebab Ilona berkali-kali disakiti laki-laki, adalah dia. Dia penyebab utamanya. Kalau saja Ilona tidak cacat, mungkin kisah percintaannya tidak akan se tragis ini. "Gue yang salah," gumamnya pelan, kedua telapak tangannya terkepal kuat.
"Betul, elo yang salah!" sahut Ilham. "Lo gak harusnya mukul orang sembarangan kayak tadi."
"Yang lebih pantas dipukuli, adalah gue." Elang tertawa pahit. "Gue yang harusnya dipukul. Pukul gue, Ham, gue!" menunjuk dirinya sendiri. "Pukul gue! Hajar gue!"
Bugh
Kepala Elang langsung nyut-nyutan dan rahangnya panas setelah dipukul Ilham. Tubuhnya oleng, berpegangan pada body mobil.
"Bangsat lo, kenapa pukul gue!" teriaknya pada Ilham.
"Lah! Kan elo yang minta dipukul." Ilham nyengir tanpa rasa bersalah. Kapan lagi coba. Ia menahan tawa puas.
Eliana makin bingung dengan tingkah Elang, garuk-garuk kepala, demikian pun dengan Kenan.
"Mas!" Eliana berbisik di telinga Kenan. "Temen kamu kenapa sih, kok jadi aneh gini. Habis tunangan, kok malah jadi rada-rada."
Kenan cuma mengedikkan bahu. Setahu dia, Elang bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Ada apa dengannya?
Elang mendesis, mengusap rahangnya yang ngilu.
"Mas, kita pulang ke rumah ibu ya, aku mau support Kak Ilona," ujar Eliana.
Kenan mengangguk, lalu meminta kunci mobil pada Ilham. Ia membuka pintu mobil bagian depan untuk istrinya. "Gue pulang sama bini gue, kalian naik taksi aja."
"Gue ikut!" Elang menarik handle pintu bagian belakang.
"Ngapain?" seru Kenan.
Elang yang sudah terlanjur membuka pintu, menatap Kenan dan Eliana.
"Gue mau ke rumah mertua, lo gak usah ikut," tolak Kenan.
"Anterin kami dulu ke kafe lo. Mobil kami disana," ujar Ilham.
"Naik taksi kan bisa, gak usah manja." Kenan menutup kembali pintu bagian belakang yang tadi dibuka Elang.
Elang ingin ikut, mulutnya terbuka tertutup, bingung untuk mengungkapkan. Ia bingung harus beralasan apa yang membuat mereka tidak curiga.
"Ya udah lah Lang, kita naik ojek aja, ngirit." Ilham menarik lengan Elang, mengajaknya jalan keluar perkiraan klinik. "Gak tahu diri emang si Ken, udah kita temenin kesini, kita malah ditelantarin," gerutunya.
Di mobil, Eliana masih kepikiran Elang. Menurutnya, yang dilakukan Elang tadi seperti gak masuk logikanya. Untuk apa coba, Elang tiba-tiba mukul Arya, bukan urusan dia juga.
"Mas, kamu tadi ngerasa gak, kalau tatapan Elang ke Arya, kayak yang marah banget. Kayak yang...ah bingung jelasinnya. Dia gak kenal Kak Lona, tapi kenapa bisa semarah itu coba?"
"Aku juga bingung. Kayak berlebihan untuk ukuran orang yang gak kenal dan cuma pernah ketemu sekali."