Apa jadinya kalau dua orang yang bahkan tidak saling menyukai tiba-tiba terbangun dalam tubuh masing-masing?
Itulah yang dialami Daffa dan Dinda setelah sebuah kejadian aneh membuat roh mereka tertukar. Kekacauan pun dimulai. Daffa harus menjalani kehidupan sebagai perempuan, sementara Dinda terpaksa menghadapi dunia sebagai laki-laki.
Awalnya mereka berusaha menjalani situasi yang rumit itu. Namun semakin lama, mereka justru menemukan sisi lain satu sama lain yang selama ini tidak pernah terlihat.
Masalahnya, pertukaran roh itu ternyata memiliki satu syarat aneh untuk bisa berakhir. Mereka harus menikah!
Antara kekacauan, pertengkaran, dan perasaan yang perlahan tumbuh, mungkinkah pernikahan yang awalnya hanya sebuah solusi berubah menjadi kisah cinta sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Bersama
BAB 13
Belajar Bersama
Rumah Daffa menjadi tempat mereka belajar bersama. Hal itu bukan tanpa alasan.
Kedua orang tua Daffa sama-sama sibuk bekerja. Mereka biasanya hanya berkumpul bersama saat sarapan di pagi hari, setelah pulang kerja pada malam hari, dan ketika sedang libur.
Karena itu, Daffa dan Dinda lebih leluasa belajar di rumah tersebut tanpa khawatir terlalu banyak pada situasi mereka yang bertukar raga.
Namun, hari itu mereka memutuskan untuk belajar di rumah Dinda. Daffa ingin memeriksa kembali beberapa buku dan catatan pelajaran yang masih tersimpan di kamar Dinda. Menurutnya, materi yang mereka butuhkan untuk persiapan ujian lebih lengkap di sana.
Keberadaan Sarah sebenarnya membuat Dinda sedikit khawatir. Namun, ibunya sedang sibuk dengan pekerjaannya sendiri di bagian rumah yang lain, sehingga mereka masih bisa belajar tanpa terlalu banyak mendapat perhatian.
Sejak sore, ruang santai rumah Dinda sudah dipenuhi buku-buku pelajaran miliknya.
Daffa duduk berhadapan dengan Dinda. Beberapa lembar catatan, buku pelajaran, dan kumpulan soal latihan terbuka di atas meja.
"Udah siap?"
Dinda mengangguk sambil menarik salah satu bukunya mendekat.
"Siap, Bang."
Daffa mengambil buku catatan di hadapannya, lalu membuka buku pelajaran Dinda pada halaman yang sudah ditandainya.
"Kalau gitu, mulai dari yang ini. Baca dan pahami dulu materinya."
Dinda pun mulai membaca. Sesekali dahinya berkerut ketika menemukan bagian yang sulit dipahami. Beberapa menit kemudian, Daffa menutup bukunya sendiri dan menatap Dinda.
"Udah?"
Dinda mengangguk mantap.
"Jelasin."
Dinda langsung terdiam. "Apaan?" tanyanya.
"Materinya."
"Yang mana?"
Daffa menatapnya datar.
"Baru lima menit gue suruh baca."
"Ya kan gue bacanya pelan-pelan."
"Coba jelasin sebisanya."
Dinda menghela napas, lalu mulai menjelaskan materi yang baru saja dibacanya. Awalnya lancar, tetapi baru beberapa kalimat, penjelasannya mulai berantakan.
Daffa mengangkat tangan.
"Stop."
Dinda langsung berhenti.
"Salah?"
"Bukan salah. Lu cuma nggak ngerti."
"Ck! Terus buat apa gue belajar?"
"Makanya di pahami."
Daffa kemudian mengambil buku tersebut dan mulai menjelaskan ulang dengan bahasa yang lebih sederhana. Ia sesekali memberikan contoh agar Dinda lebih mudah memahami.
Dinda yang awalnya terlihat malas-malasan perlahan mulai serius memperhatikan.
"Oh... jadi maksudnya begitu?"
"Iya."
"Kenapa nggak dari tadi Abang jelasin kayak gitu?"
Daffa mengernyit.
"Karena dari tadi lu nggak fokus."
"Gue fokus, kok."
"Terus?"
"Cuma ilmunya nggak keserap."
Daffa hanya menggelengkan kepala.
Setelah beberapa materi selesai dibahas, Daffa mulai memberikan beberapa pertanyaan kepada Dinda.
"Kalau yang ini jawabannya apa?"
Dinda berpikir.
"Delapan puluh?"
"Salah."
"Enam puluh?"
"Salah."
"Seratus?"
Daffa menatapnya.
"Lu ngasal, ya?"
Dinda nyengir.
"Hehe."
Daffa menghela napas panjang.
"Ulang dari awal."
"Haah?!"
Belajar yang seharusnya sederhana itu akhirnya berlangsung cukup lama. Daffa harus beberapa kali menjelaskan materi yang sama, sementara Dinda terus mengajukan pertanyaan setiap kali menemukan bagian yang tidak ia pahami.
Meski begitu, perlahan-lahan Dinda mulai menguasai materi tersebut.
Sampai akhirnya, Daffa menutup buku di hadapannya.
"Udah. Istirahat dulu."
Dinda langsung menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Alhamdulillah..."
Daffa hanya terkekeh kecil melihat tingkahnya.
Beberapa saat kemudian, barulah Dinda kembali teringat sesuatu.
"Bang, lu nggak belajar? Ini juga bakal keluar di ujian gue nanti."
"Nggak."
"Kalau nilai gue anjlok gimana Bang?!"
"Nggak bakal."
"Ck! Abang percaya diri banget!"
"Lu ngeremehin gue Cil?!"
"Ya jelas lah. Kania ngeluh mulu di WA kalau aku tidur mulu selama di sekolah." Gerutu Dinda
"Ck! Tunggu bentar."
Daffa yang berada dalam tubuh Dinda beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamar Dinda. Ia mengambil beberapa buku pekerjaan sekolah Dinda.
"Coba cek, apa ada nilai lu yang jelek?"
Dinda menatap Dafa sambil meraih buku yang disodorkan padanya. Ia pun melihat buku-buku itu serta nilai yang diperoleh Daffa sejak menggantikan dirinya. Ada rasa kagum yang tidak bisa Dinda ucapkan melihat nilai-nilainya yang sempurna. Ia tidak mau Daffa besar kepala jika di puji olehnya.
Namun senyum kepuasan Dinda yang ia sembunyikan masih bisa terlihat oleh Daffa. Daffa pun tersenyum nyengir melihat tingkah si Bocil.
"Bagus kan nilainya. Yang jelek malah elu Cil."
Raut berseri Dinda seketika berubah menjadi masam dengan tatapan menghunus kepada Daffa. Bukannya takut Daffa malah terkekeh karenanya.
"Pulang ah!"
"Dih, ngambek. Udah paham belum Cil sama materinya?"
Tanya Daffa ketika Dinda mulai beranjak bangun dan hendak pulang ke rumahnya.
"Au ah! Besok lagi aja."
"Jangan nggak loh ya."
"Tante, Daffa permisi dulu ya." Ujar Dinda pamit kepada orang tuanya sendiri.
"Ya Daffa, Terima kasih ya sudah mau ngajarin Dinda."
"Sama-sama Tante."
Dih, yang ada gue yang ngajarin tuh Bocil. Batin Daffa.
Dinda akhirnya melangkah pergi dari rumahnya sendiri menuju rumah Daffa. Sepulangnya Dinda, Daffa pun membereskan buku-buku yang berserakan di ruang santai keluarga rumah itu.
"Din, kok kamu manggil si Daffa, Cil sih?" Tanya Sarah yang sempat sekilas mendengar anaknya memanggil Daffa dengan sebutan, Cil.
"Oh, cuma panggilan akrab aja kok Bu." Jawab Daffa kikuk.
"Kamu nggak kualat apa manggil Daffa nggak sopan gitu. Besok-besok panggil dia kakak, atau Abang atau Mas..."
Ehh..., batin Daffa
"Ibu nggak mau dikira nanti kamu nggak dapat pendidikan dari orang tua!" Lanjut Sarah.
"Iya."
Sarah menghela napas mendengar jawaban anaknya.
Daffa kemudian kembali ke kamarnya dengan membawa setumpuk buku-buku serta laptop di tangannya.
Sesampai di kamar, Daffa segera menutup pintu dan menguncinya. Lalu meletakkan buku dan laptop di atas meja di dalam kamarnya. Kemudian ia mendekati jendela dan membuka jendela itu sambil mengamati jendela di seberang sana.
"Weeek...."
Di seberang sana, Dinda mengolok dirinya dengan menjulurkan lidah. Kemudian ia menutup jendela mengabaikan Daffa yang tertegun dan setengah kesal melihat gambaran dirinya dibuat bertingkah lunak oleh Dinda.
Waktu terus berputar dan hari-hari berlalu. Daffa pun mulai terbiasa dengan tubuh kecil yang kini ia tempati. Meski begitu, ia masih sering merasa panas dingin setiap kali tanpa sengaja melihat bentuk tubuh yang tersembunyi di balik kaos dan celana yang menutupi tubuhnya.
Tanpa disadari, pertukaran tubuh yang awalnya membuat mereka saling kesal perlahan mengubah kebiasaan keduanya. Mereka mulai memahami kehidupan masing-masing, bahkan mengetahui hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah mereka perhatikan.
Namun, satu pertanyaan masih belum memiliki jawaban. Sampai kapan mereka harus hidup seperti ini?
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa like dan komen ya, terima kasih 🙏😊
salahin nggak pake kacamata itu