Sebuah pernikahan yang begitu megah, suatu hal yang selama ini diimpikan oleh Devina, tiba-tiba dihancur begitu saja oleh seseorang yang selama ini sangat dia benci.
Bukan hanya pernikahannya, tapi perusahaan keluarganya pun mengalami kehancuran.
"Aku sanggup membuat perusahaan ayahmu kembali berjalan, tapi dengan satu syarat, kamu harus menikah denganku!"
Itulah yang diucapkan oleh Abian Pratama, seorang CEO dingin dan kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Devina telah kalah taruhan. Dia mengigit bibir bawahnya. Akhirnya, dia terperangkap dalam permainan yang dia buat sendiri. Jantungnya berdebar kencang.
Itu artinya... malam ini dia harus dengan sesuka hati menyerahkan dirinya pada pria menyebalkan itu.
Abian pun berjalan perlahan mendekat, lalu memeluk pinggang gadis itu dari belakang, mendekapnya erat ke tubuhnya. "Kamu kalah, Devina. Karena itu kamu harus menepati janjimu untuk melakukannya dengan sesuka hati," bisiknya tepat di samping telinga gadis itu.
Setelah berkata begitu, Abian mengecup lembut kulit leher Devina yang putih dan halus, membuat sekujur tubuh gadis itu seketika meremang dan dipenuhi rasa geli.
Devina masih mencoba mencari cara agar malam pertamanya gagal.
"Emm... tapi aku belum memiliki lingerie. Sekarang sudah larut malam. Jadi kita harus menundanya untuk sementara waktu, Abian," ucapnya dengan cepat.
Lalu, dia segera melangkahkan kakinya berniat pergi dari ruangan itu, berharap bisa lolos dari Abian. Bagaimana pun caranya.
Tapi Abian malah menangkap tubuh Devina. Lalu dengan mudah mengangkat tubuh mungil itu dan meletakkannya di atas meja billiard, memaksa gadis itu duduk di sana.
"Abian!" seru Devina karena terkejut, matanya membelalak menatap pria itu.
"Tidak perlu. Karena pada akhirnya, apa pun yang kamu pakai, aku akan tetap melucutinya," ucap Abian dengan nafas berat.
Devina masih tidak menyerah. "Tapi..."
Abian tak ingin mendengarkan protes dari Devina, dia langsung menekan bibirnya ke bibir Devina, menyatukan keduanya dalam sebuah ciuman. Begitu dalam dan penuh gairah.
Bibir Devina sangat terasa candu, membuat ciuman Abian semakin liar dan menuntut. Dia tak puas hanya di sana, perlahan ciuman itu turun, menyusuri lekuk leher jenjangnya Devina.
Abian menghujani banyak kecupan pada leher gadis itu. Sesekali dia menyapu kulit halus itu dengan ujung lidahnya, lalu memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat napas Devina tercekat.
Rasa geli yang Devina rasakan, membuatnya kelimpungan. Tanpa dia sadari, dia mendongakkan lehernya, seakan memberikan akses, membuat kepala Abian semakin tenggelam pada ceruk lehernya.
Devina masih berusaha mempertahankan harga dirinya. Dia tidak boleh bereaksi dengan semua sentuhan yang Abian lakukan pada tubuhnya.
Tangan Abian bergerak membuka kancing kemeja Devina satu persatu, ciuman Abian turun ke belahan dada Devina, kemudian dia melepaskan bra berwarna hitam itu, hingga menyembul bagian payudaranya yang ranum itu.
Abian nampak tertegun saat melihat bulatan indah pada dada Devina. Begitu mulus, putih, dan padat.
Wajah Devina memerah karena malu, Dia buru-buru menyilangkan kedua tangannya, berusaha menutupi payu-daranya.Dia sudah kalah, karena itu dia harus menepati janjinya. Meskipun karena terpaksa.
Abian segera menyingkirkan tangan Devina. Dia langsung melahap payu-dara gadis itu.
"Mmhhh..."
Devina terjingkat, saat Abian memainkan lidahnya, meliuk-liuk menyapu put-ingnya, hingga put-ingnya itu mengeras. Kemudian Abian menghisapnya dengan kuat.
Sesapan itu membuat Devina semakin tak karuan. Tubuhnya begerak gelisah. Abian seperti bayi yang sedang kehausan.
Abian merasakan celananya sesak, seakan meronta-ronta ingin segera dipuaskan. Dia segera menggendong tubuh Devina, membuat Devina terkesiap, refleks melingkarkan kedua tangannya ke leher Abian.
Abian membawanya ke kamar, yang akan menjadi tempat pertempuran panas diantara mereka berdua.
Devina sangat deg-degan. Apakah itu artinya malam ini dia akan kehilangan kesuciannya oleh musuh bebuyutannya sendiri?
pasti elian cuma ngaku2 doang....😡