Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Kemunculan Azzura dan Azzam secara tiba-tiba dari ujung lorong membuat pertengkaran sengit antara Zaky dan Nyonya Maya seketika terhenti. Kedua orang dewasa itu mematung, menatap sepasang anak kembar tersebut dengan raut terkejut. Di jam selarut ini, pikir mereka, seharusnya Azzam dan Azzura sudah tertidur pulas di dalam kamar masing-masing.
Namun, bukan hanya kehadiran mereka yang menghentikan ketegangan. Ada satu pemandangan ganjil yang membuat Zaky mengerutkan keningnya, yakni sebuah buku bersampul tebal tampak usang dipeluk dengan sangat erat oleh Azzura di depan dadanya.
"Sudah, Pah, Nek... Kalian jangan ribut lagi, ya," lirih Azzura dengan suara bergetar menahan tangis. Ia melangkah maju perlahan, diiringi Azzam yang menggenggam tangan adiknya dengan protektif. "Semua kebenaran ada di dalam buku ini. Ini... ini adalah buku diary milik Mamah Citra."
Nyonya Maya terkesiap, sementara dada Zaky bergemuruh hebat mendengar nama wanita itu disebut.
"Aku dan Kak Azzam sudah membaca semuanya," lanjut Azzura, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi polosnya. Ia menatap neneknya dengan sorot mata penuh permohonan. "Dan untuk Nenek... sebaiknya Nenek membaca semua ini sendiri. Ada kebenaran besar yang harus Nenek tahu soal Bu Arumi. Bu Arumi dan Papah... mereka hanyalah korban dari sikap dan rencana jahat Mamah Citra!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Zaky bergegas merendahkan tubuhnya dan mengambil buku harian itu dari tangan bergetar putrinya.
Di bawah pendar lampu gantung yang megah, Zaky membuka halaman demi halaman buku harian tersebut. Nyonya Maya yang sedari tadi diliputi rasa angkuh dan amarah, perlahan mendekat. Rasa penasarannya mengalahkan egonya. Ia berdiri di samping putranya, ikut menelusuri barisan tinta yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan mendiang menantunya, Citra.
Suasana mansion mendadak hening, hanya menyisakan suara gemerisik kertas yang dibalik oleh Zaky. Beberapa menit berlalu dalam kebisuan yang mencekam, hingga mata Nyonya Maya terpaku pada satu halaman yang tintanya tampak ditekan lebih tebal.
"Aku berhasil membuat Nyonya Maya membenci Arumi. Nyonya kaya yang sombong itu ternyata sangat bodoh dan mudah dimanipulasi dengan cerita-cerita palsuku. Aku harus terus memfitnah Arumi, membuatnya terlihat seperti wanita murah4n yang suka mabuk-mabukan. Dengan begitu, Arumi akan dibenci oleh seluruh keluarga Tanuwijaya. Rencanaku menyingkirkannya dan menjebak Zaky malam ini harus berhasil, agar jalanku menjadi menantu keluarga ini mulus tanpa hambatan."
Membaca barisan pengakuan dosa tersebut, mata Nyonya Maya membelalak lebar. Jantungnya serasa dipukul oleh sebuah palu godam. Ia langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya yang gemetar hebat.
Syok berat menghantam kesadarannya. Wanita yang selama ini ia agung-agungkan, ia bela mati-matian, dan ia anggap sebagai menantu paling sempurna, ternyata adalah seekor serigala berbulu domba yang sangat licik. Citra sendirilah yang telah merangkai semua fitnah keji itu demi menyingkirkan Arumi dengan cara yang paling kotor.
"Tidak... Ini tidak mungkin..." gumam Nyonya Maya dengan napas tercekat.
Pertahanannya runtuh seketika. Kedua kakinya Nyonya Maya tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Ia merosot dan jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Air matanya yang selama belasan tahun tak pernah jatuh untuk wanita miskin bernama Arumi, kini tumpah menderas membasahi wajah rentannya.
"Ya Tuhan... apa yang sudah kulakukan?" isak Nyonya Maya pilu, meremas dadanya yang terasa sesak oleh rasa bersalah yang tak terkira. "Aku... aku telah dibutakan oleh fitnah keji itu. Aku menginjak-injak gadis yang tak bersalah... dan aku sendiri yang sudah menghancurkan kebahagiaan putraku..."
Tangisan penyesalan Nyonya Maya menggema di ruang utama, menyadari bahwa keangkuhannya selama ini telah melukai hati dua insan yang tulus saling mencintai.
*
*
Di sebuah desa di Jawa Tengah, suasana rumah sederhana milik keluarga Arumi masih riuh rendah oleh tawa dan percakapan sanak saudara. Gelak tawa kerabat yang berkumpul untuk menyambut acara lamaran esok hari terdengar hingga ke dalam kamar Arumi. Namun, di balik riuhnya kehangatan keluarga, Arumi justru duduk termenung sendirian di tepi ranjangnya.
Wanita itu meremas jemarinya, lalu menghembuskan napas panjang yang terasa teramat berat. Ia menatap langit-langit kamar kayunya yang bersahaja dengan tatapan kosong.
"Ayo Arumi... sudah saatnya kamu melupakan Zaky dan membuka hatimu untuk Mas Wisnu," gumamnya lirih pada diri sendiri. "Mas Wisnu begitu tulus mencintaimu... Sudah tiga tahun lamanya pria itu sabar menunggu momen ini."
Baru saja ia selesai berbisik pada dirinya sendiri, pintu kamar terdorong pelan. Aminah, ibundanya, melangkah masuk membawa aura kehangatan khas seorang ibu.
"Kamu belum tidur, Nduk?" tanya Bu Aminah lembut.
"Belum, Bu... belum ngantuk," jawab Arumi sembari menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan.
Bu Aminah berjalan mendekat lalu mendaratkan tubuhnya di samping Arumi. Tangan keriput namun hangat itu mengelus lembut jemari putrinya. Bu Aminah menatap dalam-dalam ke dalam bola matanya Arumi, seolah bisa membaca gejolak rasa yang tersembunyi di sana.
"Kamu kenapa, Nduk? Apakah... kamu masih memikirkan Nak Zaky?" tanya Bu Aminah pelan namun tepat sasaran.
Deg!
Arumi seketika bungkam. Lidahnya mendadak kelu. Mendengar nama Zaky diucapkan oleh ibunya, dada Arumi serasa dihantam gelombang rindu yang teramat dahsyat. Pria itu... pria yang sampai detik ini masih bertahta penuh di lubuk hatinya yang paling dalam.
"Bu..." Arumi memberanikan diri menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Apakah keputusan Arumi ini sudah tepat? Arumi... Arumi sedikit takut, Bu."
Bu Aminah tersenyum tulus, merengkuh bahu Arumi dan mengusap punggungnya penuh kasih sayang.
"Nduk... sudah saatnya kamu itu hidup bahagia," tutur Bu Aminah dengan nada suaranya yang menenangkan. "Ibu dan Bapakmu tidak mau melihat kamu bersedih lagi karena luka masa lalu. Nak Wisnu itu pria yang sangat baik. Dia dengan setianya menunggumu selama tiga tahun tanpa pernah mengeluh. Lebih baik kita dicintai ketimbang mencintai, Rum... Karena mencintai itu sangat melelahkan, tapi kalau kita dicintai, kita akan selalu di ratukan dan dibahagiakan olehnya."
Mendengar nasihat bijak sang ibu, Arumi hanya bisa mengangguk pelan. Perkataan ibunya memang ada benarnya. Namun, mengikis nama Zaky dari relung hatinya ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Rasa sesak itu masih bertahan di sana.
Malam semakin larut, Bu Aminah akhirnya pamit keluar untuk menyuruh kerabat istirahat. Arumi kembali merebahkan tubuhnya, memandangi bayangan lampu kamar yang samar.
'Semoga besok semuanya berjalan sebagaimana mestinya,'batin Arumi seraya memejamkan matanya. 'Aku ikhlas jika pernikahan ini nantinya bisa membahagiakan Ibu dan Bapak... menganggapnya sebagai bentuk baktiku untuk menebus kekecewaan masa lalu yang pernah ku goreskan pada mereka.'
Bersambung...
mungkin dulu yudi miskin makanya citra ninggalin yudi?
achh penasaran bgt
mana si citra udah meninggal lg jd ga bisa nanya
berarti dulu si citra jebak zaky untuk tanggung jawab sm anak yg di kandung, kasian zaky 🥹
Wisnu Ama indah?
apakabar tu berdua
cieeeee
pak Arya
Ama pelakor jaman sekarang
udah pada rada lain yaa
🤣
bisa jadi perang dunia ke 2 ini
kalau nemuin lipstik di jas nya 😱