NovelToon NovelToon
CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

CINTA KETIGA GUZ AZAM Ning Sopiah Yang Ku Kagumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Ning sopiah

Aku adalah santri Alumni Pesantren Darunajjah yang sudah lulus S1 Ilmu Tafsir Hadis.
Dulu aku adalah santai yang aktif dan cerdas di pesantren, Kiayi Kholil Pendiri dan Pemilik Pesantren sering menyebut ku ini calon mantu... tapi aku selalu tidak menghiraukan beliau, aku anggap itu candaan.

Empat tahun sudah berlalu setelah aku selesai S1, tiba-tiba aku diminta untuk kembali ke Pesantren.
Aku kaget Kiayi Kholil telah meninggal 3 tahun yang lalu dan di teruskan oleh Anak nya Gus Azam yang aku pun tak pernah bertemu, karena sewaktu aku mondok gus azam kuliah di Kairo Mesir....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Madu

Pagi yang cerah di Pesantren Darunnajah.

Kicauan burung bersahutan dengan suara hafalan Juz Amma dari asrama putra. Angin Jombang pagi ini terasa hangat, membawa wangi masakan dari dapur pondok dan wangi melati dari ndalem.

Aku melangkah pelan. Jantungku berdebar.

Hari ini, aku harus menemui mereka. Dua perempuan yang sudah lebih dulu menjadi bagian dari hidup Gus Azam.

Tujuan pertamaku adalah kediaman Ning Ummah.

Rumahnya sederhana. Tidak semewah yang kubayangkan untuk istri pertama seorang Gus. Dindingnya putih bersih, hanya dihiasi beberapa ornamen kaligrafi dengan nuansa Timur Tengah yang lembut. Di terasnya ada pot-pot bunga mawar yang tertata rapi. Adem.

Aku menarik nafas panjang.

"Assalamualaikum..." sapaku pelan.

Dari dalam, terdengar suara lembut yang sangat bersahaja.

"Waalaikumsalam, ndo... Masuk, Nduk."

Pintu kayu itu terbuka. Ning Ummah berdiri di sana dengan gamis putih dan kerudung abu-abu. Wajahnya cantik, teduh, tanpa make up sedikitpun. Matanya teduh seperti telaga.

"Alhamdulillah... akhirnya kamu mampir ke rumah Mbak, ndo," ucapnya sambil tersenyum tulus dan menarik tanganku masuk.

Aneh. Di dekat Ning Ummah, hatiku langsung merasa nyaman. Seperti sedang bicara dengan kakakku sendiri. Tidak ada rasa takut atau canggung sama sekali.

Kami duduk di ruang tamu yang beralaskan karpet Persia.

"Iya, Ning... mboten, saya ijin mau ada yang disampaikan," ucapku gugup, memainkan ujung kerudungku. "Apa Ning ada waktu sebentar?"

"Tentu ada, ndok. Banyak sekali waktuku. Katakan saja..."

Wajahnya terlihat begitu antusias.

Aku menunduk, memberanikan diri.

"Maaf sebelumnya, Ning... Apa Ning Ummah sudah tau tentang wasiat Abah Yai Kholil?"

Ning Ummah menghela nafas panjang, senyumnya masih terjaga.

"Ya, ndo... Mbak sudah tau," jawabnya pelan. "Dari awal Mbak datang ke pesantren ini, Mbah Yai sering sekali menceritakan tentang kamu. Tentang Sopiah yang hafalannya paling kuat, tentang Sopiah yang tafsirnya paling bagus."

Aku terkejut.

"Mbah Yai sangat menitipkan kamu pada Mbak, ndo. Beliau pesan, 'Ummah, kelak kamu harus menyayangi Sopiah seperti adikmu sendiri. Karena Mbah Yai sudah lama ingin Ning Sopiah jadi mantu Mbah Yai.'"

Dadaku sesak.

"Masya Allah... Mbah Yai..." Air mataku yang sejak tadi kutahan, hampir tumpah lagi.

Ning Ummah mengusap punggung tanganku dengan lembut.

"Lalu bagaimana dengan Ning Ummah sendiri?" tanyaku lirih, ini pertanyaan yang paling aku takutkan. "Apa... apa tidak keberatan... membagi cinta Gus Azam dengan saya? Saya mboten mau menyakiti Ning..."

Ning Ummah tertawa kecil. Tawa yang tulus.

"Tentu saja tidak keberatan, ndo. Malah Mbak senang. Akhirnya... akhirnya Gus Azam mendapatkan cinta sejati."

Aku mengerutkan dahi. "Apa maksud Ning? Saya kurang paham?"

"Astaghfirullah... ini bukan ranah Mbak untuk bercerita terlalu jauh, ndo," Ning Ummah menatapku dalam. "Yang pasti, Mbak setuju. Mbak sangat setuju kalau Ning Sopiah menikah dengan Gus Azam. Mbak ridho, Mbak ikhlas, Nduk."

"Apakah Ning Ummah tidak mencintai Gus Azam?" tanyaku tanpa sadar, terlalu jujur.

Ning Ummah terdiam. Matanya yang tadinya teduh, kini berkaca-kaca. Ada luka lama yang ia simpan rapat.

"Ya... Mbak mencintai Gus Azam," jawabnya pelan, suaranya bergetar. "Tapi cinta ini berbeda, ndo. Cinta yang tumbuh dari sebuah bakti. Cinta karena kami sama-sama ingin menjaga pesantren ini. Bukan cinta yang tumbuh dari hati."

Ia mengusap air matanya cepat.

"Cinta yang tumbuh dari hati... sudah lama terkubur, ndo. Semua cinta itu... habis untuk calon suami Mbak... cinta pertama Mbak... Gus Faiz."

Deg. Dadaku seperti disambar petir.

"Gus Faiz?"

Ning Ummah mengangguk sambil tersenyum perih.

Tiba-tiba aku mengerti. Mengapa pernikahan Ning Ummah dan Gus Azam terasa begitu datar. Mengapa tidak ada cinta di mata mereka.

Mereka sama-sama korban tanggung jawab.

Tanpa sadar, aku memeluk Ning Ummah. Dan ia membalas pelukanku dengan erat. Kami berdua menangis dalam pelukan itu. Dua perempuan yang tidak saling membenci, tapi saling menguatkan.

Setelah agak tenang, aku berpamitan.

"Ning, saya pamit dulu ya... mau ke tempat Ning Latifah."

"Nggeh, Nduk. Hati-hati ya. Semoga Allah mudahkan."

Aku melangkah keluar dari rumah yang adem itu, menuju rumah yang berbeda 180 derajat.

Kediaman Ning Latifah.

Rumahnya mewah. Paling mewah di antara semua ndalem di pesantren ini. Pilar-pilar besar, mobil Alphard hitam terparkir di garasi, dan taman yang ditata seperti hotel bintang lima.

Di teras, aku melihat Ning Latifah sedang duduk santai. Cantik, modis dengan gamis branded dan kerudung sutra. Di tangannya ada kitab, tapi ia lebih sibuk dengan iPad di pangkuannya.

"Assalamualaikum, Ning Latifah... mboten saya ijin bertemu," sapaku sopan.

Ia menoleh, menatapku dari atas ke bawah.

"Waalaikumsalam. Masuk, Ning Sopiah."

"Terimakasih," jawabku pelan.

Aku duduk di kursi rotan mahal di depannya.

"Ning Sopiah apa kabar? Gimana kuliah di Bandung? Sudah mengajar di mana?" tanyanya basa-basi, nadanya datar.

"Alhamdulillah sudah mengajar di Madrasah Aliyah, Ning. Namun saat ini saya ijin dulu."

"Oh iya? Syukurlah."

Hening. Suasananya sangat berbeda dengan di rumah Ning Ummah tadi.

Aku memberanikan diri langsung ke intinya.

"Ning Latifah... sebetulnya saya bertemu mau ada yang dibicarakan. Tentang wasiat Abah Yai Kholil..."

Ning Latifah menutup iPad-nya. Ia menatapku tajam.

"Oh, itu. Saya sudah tau," jawabnya santai, bahkan agak sinis. "Ya, silahkan saja. Kalau Abah Yai sudah wasiat begitu, mau bagaimana lagi."

Aku terdiam.

"Tapi saya rasa kamu tidak akan bertahan lama, Ning," lanjutnya dengan senyum tipis yang dingin. "Gus Azam itu laki-laki yang adil, saya akui. Semua jatahnya sama rata. Tapi sikapnya... sikapnya sangat dingin, Ning. Sedingin es di kutub."

Ia mencondongkan tubuhnya ke arahku.

"Kamu kira enakkah jadi istri Gus Azam? Beliau pulang hanya untuk giliran. Selebihnya, beliau di masjid, di kantor pesantren, atau di ndalem Abah. Tidak ada kata-kata manis, tidak ada bunga, tidak ada kejutan."

Nafasku tercekat.

"Coba saja," Ning Latifah kembali bersandar. "Semoga kamu bisa bertahan. Saya doakan."

Kata-katanya seperti sembilu.

Aku hanya bisa mengangguk pelan.

"Insya Allah saya serahkan semua pada Allah, Ning. Baiklah, saya ijin pamit."

"Ya, silakan."

Aku berjalan keluar dari rumah mewah itu dengan langkah gontai. Pagi yang tadinya cerah, kini terasa mendung di hatiku.

Satu madu menyambutku dengan pelukan hangat dan air mata.

Satu madu menyambutku dengan senyuman dingin dan peringatan.

Lalu, aku harus bagaimana?

Hanya pertolongan dan petunjuk Alloh yang aku harapkan saat ini. Aku menunduk

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!