Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sementara Dikta sedang bertaruh nyawa menahan siksaan di balik jeruji besi rutan, suasana di rumah mewah Bagas begitu mencekam. Aku duduk di tepi ranjang kecil dengan tatapan mata yang kosong. Gamis yang ku kenakan tadi saat Bagas menjemputku, kini terdapat noda darah akibat kekerasan fisik yang ia lakukan.
Tok... Tok...
Suara ketukan halus tiba-tiba terdengar dari arah jendela kaca yang menghadap langsung ke arahku. Jantungku berhenti berdetak. Rasa penasaran bercampur takut menyusuri batin kecilku. Aku tak ingin Bagas menyiksaku lagi. Aku melangkah dengan pelan, menyingkap jendela dengan gemetar menuju jendela besar tersebut. Terlihat dari kejauhan sosok pria berpakaian hitam sedang menuju ke arah jendela kamar yang digunakan untuk menyekapku.
"Marco? Bagaimana bisa kau ada di sini? Tempat ini dijaga ketat oleh orang-orang Mas Bagas di depan sana!" bisikku dengan panik. Mataku melirik cemas ke arah pintu kamar yang terkunci.
Marco bergerak dengan sangat taktis dan cepat, melompat masuk ke dalam kamar tanpa menimbulkan suara gesekan sedikit pun di atas lantai. Wajah pria bertubuh kekar itu tampak tegang, namun matanya memancarkan ketegasan yang sangat menenangkan bagiku. "Hendra sudah berhasil mengalihkan perhatian para penjaga keamanan dengan membuat keributan kecil, Bu Arini. Saya tidak punya banyak waktu di sini. Saya menyusup ke sini hanya untuk menyampaikan pesan penting dari Pak Dikta."
Mendengar nama Dikta disebut, air mataku seketika jatuh. "Bagaimana keadaan Pak Dikta? Berita di televisi mengatakan dia ditahan atas kasus penyekapan, dan seluruh saham perusahaannya hancur. Mas Bagas bilang Pak Dikta sudah jatuh miskin dan sedang disiksa sampai mati di dalam sel isolasi! Katakan padaku semua itu bohong, kan!"
Marco mengepalkan tinjunya. Ia teringat kondisi mengenaskan bosnya yang dilihatnya di dalam sel tahanan semalam. "Pak Dikta... memang sedang mengalami penderitaan yang berat di dalam penjara, Bu Arini. Orang-orang Arman Wijaya dan Bagas membayar kepala sipir di sana untuk menyiksa beliau setiap malam. Tubuh beliau dipenuhi luka lebam, tulang rusuknya cedera, dan beliau saat ini sedang demam tinggi."
"Ini semua salahku, Marco...seandainya aku tidak melayani Mas Bagas malam itu, semua ini tidak akan terjadi..." Aku menutup mulut dengan kedua tangan, tangisku pecah. Tubuhku langsung merosot ke lantai.
"Ini bukan salah Anda, Bu Arini. Ini adalah konspirasi busuk skala besar yang sudah dirancang oleh Arman Wijaya untuk menjatuhkan posisi Pak Dikta sejak lama," potong Marco. Ia ikut berjongkok di depanku. "Pak Dikta meminta Anda untuk tetap kuat selama beliau masih di sana. Beliau menitipkan satu pesan khusus yang harus Anda lakukan."
"Apa itu? Katakan! "
"Tetaplah bertahan di Rumah ini, dan berpura-puralah tunduk pada semua kemauan Bagas."
"Berpura-pura tunduk pada Mas Bagas? Tapi dia memaksaku setiap jam hanya untuk menandatangani berkas yang tidak aku ketahui. Dia terus mengancamku menggunakan keselamatan Den Arkan!"
"Itu adalah kunci utamanya, Bu Arini," ucap Marco seraya mencondongkan tubuhnya lebih dekat, "Billy sudah berhasil melacak lokasi panti asuhan tempat Den Arkan dibuang. Hendra sudah menempatkan seluruh tim keamanan elit kita secara menyamar di sekitar area panti untuk melindungi Den Arkan dua puluh empat jam penuh. Putra kandung Pak Dikta aman dalam pengawasan dan perlindungan kami. Bagas tidak akan bisa menyentuhnya."
Mendengar kabar itu, aku merasa tenang. Beban berat yang menghimpit jantungku sejak pagi seolah terangkat sebagian.
"Den Arkan aman... Syukurlah, "lirihku, menyeka sisa air mataku dengan cepat, lalu menatap pintu yang tertutup rapat. Takut ketahuan oleh anak buah Bagas yang berjaga.
"Pak Dikta meminta Anda untuk memainkan peran Anda di depan Bagas selama tiga hari. Biarkan Bagas dan Arman Wijaya merasa di atas angin dan memasukan seluruh modal finansial Wijaya Corporindo ke dalam proyek itu minggu ini," lanjut Marco. Ia menarik panas pendek, lalu menatapku lagi, "Buat Bagas frustrasi namun tetap percaya bahwa Anda mengetahui tentang surat itu. Begitu seluruh proyek mereka berjalan setengah jalan dan semua uang mereka tertanam di sana... Pak Dikta sendiri yang akan melangkah keluar dari penjara itu dengan pakaian jas barunya untuk mengeksekusi dan meratakan mereka semua."
Suara kegaduhan dan teriakan dari arah luar mulai terdengar, menandakan bahwa waktu penyusupan Marco telah habis dan para penjaga di bawah mulai menyadari ada yang tidak beres.
"Saya harus pergi sekarang, Bu Arini. Ingat pesan ini, berpura-puralah takut, hancur, dan patuh di depan Bagas mulai detik ini. Pak Dikta tidak pernah kalah dalam perang bisnis apa pun, dan kali ini pun beliau tidak akan membiarkan para pengkhianat itu menari di atas penderitaanya," ujar Marco seraya melangkah kembali ke arah jendela dan menghilang dengan cepat menembus kegelapan malam.
Aku dengan sigap mengunci kembali jendela kamar dan merapikan seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan degup jantung yang tak beraturan ini.