NovelToon NovelToon
Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Berniat Menceraikan Suami, Malah Hamil Anak Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: isd

Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian

"Gerah banget..." gumam Keira pelan.

Keringat mulai muncul di pelipisnya. Tenggorokannya pun terasa semakin kering.

"Aku haus..."

Dengan perlahan, Keira bangkit dari atas kasur. Kepalanya masih terasa sedikit berkunang-kunang, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk berdiri.

Ia berjalan menuju pintu, lalu membukanya perlahan. Begitu keluar, udara luar langsung terasa jauh lebih lega. Memang tidak bisa dibilang sejuk, tetapi setidaknya tidak sepanas udara yang terperangkap di dalam kamar.

Dari kejauhan, terdengar suara ramai. Keira mengernyit kecil. Suara para mahasiswa.

Beberapa mahasiswa sedang menjalankan kegiatan KKN. Ada yang mengajar anak-anak desa, sebagian membantu warga, sementara yang lainnya berkumpul untuk berdiskusi mengenai kegiatan mereka.

Keira berjalan perlahan mengikuti arah suara tersebut. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika melihat seseorang di antara kerumunan.

Arsen.

Pria itu berdiri di tengah beberapa mahasiswa sambil menjelaskan sesuatu dengan serius. Sesekali tangannya menunjuk papan tulis sederhana yang digunakan anak-anak desa untuk belajar.

Wajahnya terlihat fokus. Tegas. Berwibawa. Sosok yang dilihat Keira sekarang terasa begitu berbeda dengan Arsen yang semalam memeluknya erat di tengah hutan.

Keira hanya berdiri dari kejauhan, memperhatikannya dalam diam.

Seorang anak kecil tiba-tiba tertawa setelah berhasil menjawab pertanyaan.

Arsen yang melihatnya hanya memberikan senyum tipis sebelum membenarkan jawaban anak tersebut.

Pemandangan itu terasa asing bagi Keira. Namun entah mengapa, ia justru tidak bisa mengalihkan pandangannya.

"Dia ternyata bisa seperti itu juga..." gumam Keira lirih.

Tiba-tiba salah seorang mahasiswa menyadari keberadaannya.

"Eh, Keira! Kamu sudah bangun?"

Beberapa mahasiswa lainnya langsung menoleh.

Termasuk Arsen. Tatapan keduanya bertemu.

Dalam sekejap, ekspresi Arsen berubah. Senyum tipis yang sebelumnya terlihat di wajahnya menghilang, digantikan kembali oleh raut serius.

Ia langsung berjalan menghampiri Keira. "Kamu ngapain keluar?" tanyanya. Nada suaranya rendah, tetapi jelas terdengar kekhawatiran di baliknya.

"Gerah... Aku nggak bisa tidur," jawab Keira pelan.

Arsen menghela napas panjang. Tatapannya kemudian menyapu wajah Keira yang masih terlihat pucat. Keringat juga tampak membasahi pelipisnya.

Ekspresi Arsen semakin serius. "Kamu masih demam, malah keluar kamar. Kamu seharusnya tetap istirahat."

"Aku haus..."

Arsen tidak banyak bicara. Ia segera mengambil sebotol air yang berada di atas meja terdekat, kemudian menyerahkannya kepada Keira.

"Minum."

Keira menerima botol tersebut. "Makasih..."

Ia kemudian meneguk air itu perlahan. Beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka mulai saling bertukar pandang.

Mereka menyadari ada sesuatu yang berbeda dari cara Arsen memperlakukan Keira. Namun, tidak seorang pun berani berkomentar.

Arsen sendiri masih memperhatikan Keira selama beberapa detik.

"Setelah ini, kamu kembali ke kamar."

Keira langsung mengerutkan kening. "Tapi di kamar panas..."

Arsen terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu. Kemudian ia menoleh kepada salah seorang mahasiswa.

"Tolong ambilkan kipas manual dari rumah sebelah."

"Iya, Pak!" Mahasiswa itu langsung bergegas menjalankan perintah.

Arsen kembali menatap Keira. "Tunggu sebentar."

Keira hanya mengangguk pelan. Di tengah suasana ramai dan banyaknya mahasiswa yang berada di sekitar mereka, perhatian kecil Arsen terasa begitu jelas.

Bahkan terlalu jelas.

"Aku bosan..." keluh Keira tiba-tiba.

Nada suaranya terdengar manja, hampir seperti anak kecil yang sedang mengadu karena tidak memiliki kegiatan.

Beberapa mahasiswa yang mendengarnya langsung menoleh. Ada yang buru-buru menahan senyum. Ada pula yang tampak terkejut melihat Keira bisa mengeluh seperti itu kepada Arsen tanpa rasa takut.

Arsen sendiri hanya menatap Keira selama beberapa detik. Biasanya, pria itu pasti akan langsung menegurnya.

Namun kali ini tidak. Arsen justru mengalihkan pandangan kepada mahasiswa lain.

"Tolong carikan sesuatu supaya Keira nggak bosan di kamar."

Suasana mendadak hening. Para mahasiswa saling berpandangan, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja mereka dengar.

"Pak... maksudnya apa?" tanya salah seorang dari mereka dengan ragu.

"Buku, atau apa saja. Yang penting dia bisa menghabiskan waktu di kamar tanpa terlalu banyak bergerak," jawab Arsen tegas.

"I-iya, Pak!"

Beberapa mahasiswa langsung berpencar mencari sesuatu yang bisa diberikan kepada Keira.

Sementara itu, Keira hanya berdiri terpaku. Matanya menatap Arsen dengan ekspresi tidak percaya.

Baru saja ia mengeluh. Dan bukannya mendapat teguran... Arsen malah menuruti keluhannya.

Keira benar-benar tidak menyangka.

Arsen kembali mengarahkan pandangannya kepadanya. "Kamu kembali ke kamar. Jangan terlalu lama di luar."

Suaranya tetap terdengar tegas, tetapi kali ini tidak setajam biasanya. Keira masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan suara sangat pelan.

"Kamu... nggak marah?"

Arsen menghela napas pendek. "Untuk apa aku marah?"

Tatapannya melunak sedikit. "Kamu sedang sakit."

"Iya..." jawab Keira lirih.

Rina yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka langsung menghampiri salah seorang temannya. Ia mencondongkan tubuh dan berbisik pelan.

"Ini benar-benar Pak Arsen?"

Temannya melirik ke arah Arsen, lalu mengangguk.

"Iya. Tapi... kok beda banget, ya?"

Sementara itu, Arsen sudah kembali ke tempatnya semula, seolah tidak terjadi apa-apa.

Wajahnya kembali serius. Sikapnya pun kembali seperti biasanya. Namun sesekali, pandangannya diam-diam mengarah kepada Keira. Memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.

---

Keira akhirnya kembali ke kamar dengan langkah perlahan. Begitu pintu dibuka, ia langsung berhenti. Matanya membulat.

Beberapa mahasiswa ternyata sudah berada di dalam kamar.

Di atas kasur terdapat berbagai macam buah, beberapa makanan ringan, dan botol air. Tidak hanya itu, beberapa buku bacaan juga sudah tersusun rapi di dekat bantal.

Di sudut ruangan bahkan sudah ada sebuah kipas angin kecil yang menyala, mengarahkan hembusan udaranya langsung ke kasur.

Selimut dan bantal yang sebelumnya digunakan Keira juga sudah diganti dengan yang baru.

Keira berkedip beberapa kali, masih berusaha memahami apa yang sedang dilihatnya.

"Eh... siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?" tanyanya pelan.

Salah seorang mahasiswa menjawab santai.

"Pak Arsen yang menyuruh."

Keira kembali terdiam. Ia melangkah masuk perlahan. Tatapannya menyapu seluruh sudut kamar.

Semuanya terasa terlalu lengkap. Padahal mereka sedang berada di sebuah desa.

"Kami cuma membantu saja, kok, Kei. Kamu istirahat yang banyak, ya," ujar salah seorang mahasiswi.

Keira mengangguk kecil. "Iya... makasih."

Tidak lama kemudian, para mahasiswa itu meninggalkan kamar satu per satu. Pintu kembali tertutup. Keira kini sendirian. Ruangan terasa hening.

Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah dengungan lembut kipas angin yang terus berputar.

Keira duduk di tepi kasur. Tangannya perlahan menyentuh bantal baru di sampingnya. Setelah itu, pandangannya beralih kepada buah-buahan dan makanan yang tersusun rapi.

Ia terdiam cukup lama.

"Ada yang aneh..." gumamnya. Keira menghela napas pelan. Namun semakin dipikirkan, semakin banyak kemungkinan yang muncul di kepalanya.

"Atau jangan-jangan..." Pikirannya mulai mengembara.

"Jangan-jangan ini cuma bentuk kebaikannya selama kami masih menikah..."

Ia terdiam sejenak.

"...karena sebentar lagi kami akan bercerai." Pikiran itu membuat ekspresinya sedikit berubah. Keira kemudian merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur.

Hembusan kipas yang mengenai tubuhnya membuat rasa gerah yang sejak tadi mengganggunya perlahan berkurang.

Tangannya tanpa sadar kembali menyentuh keningnya.

"Ada yang nggak beres sama dia..." bisiknya. Matanya perlahan terpejam. Namun sebelum benar-benar tertidur, hanya satu nama yang terus memenuhi pikirannya.

Arsen.

---

"Oke, cukup untuk hari ini. Kalian semua kembali dan istirahat." Suara Arsen terdengar tegas di tengah suasana yang mulai sepi.

"Baik, Pak Arsen!"

Satu per satu mahasiswa mulai meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke posko masing-masing. Perlahan, keramaian di desa pun menghilang.

Arsen masih berdiri di tempatnya selama beberapa saat, memastikan seluruh mahasiswa sudah kembali ke posko.

Setelah keadaan benar-benar tenang, ia akhirnya berbalik. Langkahnya mengarah menuju rumah Pak Salim. Rumah itu sudah cukup sepi. Tidak banyak suara yang terdengar dari dalam.

Arsen masuk tanpa banyak bicara, lalu langsung berjalan menuju kamar tempat Keira beristirahat.

Tangannya meraih gagang pintu. Pintu dibuka perlahan.

Arsen masuk ke dalam, kemudian menutupnya kembali dengan hati-hati. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi kunci diputar dari dalam.

1
Annisa
lanjut Thor!
isd: love you buanyak² buat yang udah dukung author ❤❤
total 1 replies
Chenyu Wang
critanya menggemaskan Thor jadi bapper hihi lanjut sampe tamat ya anda luar biasa
Chenyu Wang: 🙏😍 semangat author luar biasa
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!