NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:529
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUJAN TIBA-TIBA DAN PAYUNG BERBAGI

Langit di atas mansion keluarga besar berubah dari cerah terik menjadi abu-abu pekat hanya dalam waktu kurang dari tiga menit. Tidak ada awan yang berkumpul perlahan, tidak ada angin yang berhembus pelan sebagai tanda alam. Hujan langsung turun. Deras. Menggelegar. Seolah-olah ada raksasa di atas sana yang baru saja menumpahkan satu ember raksasa berisi air es ke seluruh Jakarta.

Vania berdiri di beranda belakang, memegang cangkir tehnya yang masih hangat, dan menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan mati rasa.

Hukum termodinamika sinetron 90-an, batinnya. Jika ada karakter yang baru saja mendengar kabar buruk atau akan mengalami kesedihan mendalam, awan hitam akan berkumpul dan hujan akan turun dalam waktu kurang dari lima menit. Tidak peduli kalau BMKG bilang hari ini cerah berawan. Naskah adalah tuhan, dan cuaca adalah budaknya.

Di tengah taman yang kini mulai tergenang air, Larasati dan Raka berdiri berdampingan. Larasati menangis. Bahunya bergetar hebat di bawah gaun pastelnya yang kini mulai basah kuyup. Kabar miring yang disebarkan Tante Ratna dan dibantu oleh bisik-bisik beracun Bibi Marni tentang utang ayahnya pada rentenir akhirnya sampai ke telinga mereka. Raka, dengan tatapan penuh kasih sayang dan sedikit frustrasi, sedang mencoba menenangkan wanita itu. Dia mengusap punggung Larasati, membisikkan kata-kata manis yang sayup-sayup terdengar di telinga Vania, meski tertutup suara hujan yang menderu.

Vania menghela napas. Dia meletakkan cangkir tehnya di meja taman, lalu membuka tas Hermes-nya. Dia merogoh ke dalam tas itu, melewati botol parfum berisi cabai rawit, plester rol, dan dokumen palsu, hingga jarinya menyentuh gagang kayu yang dingin.

Dia menarik keluar dua buah payung golf berukuran raksasa. Payung ini berwarna hitam pekat, cukup besar untuk menampung empat orang dewasa, dan sangat tidak praktis untuk dibawa jalan-jalan santai. Tapi Vania tidak peduli. Dia adalah wanita yang selalu siap untuk segala kemungkinan, termasuk kemungkinan terjebak dalam adegan sedih di bawah hujan deras.

Dengan langkah tenang, Vania berjalan menembus hujan. Dia tidak berlari, tidak berteriak, dan sama sekali tidak terlihat dramatis. Dia hanya berjalan lurus menuju pasangan yang sedang menangis itu.

"Nih," ucap Vania datar, menyodorkan salah satu payung raksasa itu ke arah Raka. "Buka. Jangan sampai mascara Larasati luntur, nanti kalian berdua kelihatan seperti panda yang baru saja dipecat dari sirkus."

Raka terkejut, menatap Vania dengan tatapan yang campur aduk antara bingung dan berterima kasih. Dia mengambil payung itu, membukanya dengan satu gerakan cepat, dan menaikkannya di atas kepala Larasati. Hujan yang tadi membasahi bahu sang heroine kini tertahan oleh kain hitam tebal itu.

"Terima kasih, Vania," ucap Raka pelan, suaranya serak karena emosi. Dia menatap Larasati yang masih terisak pelan di dadanya. "Ayo, Las. Kita masuk. Aku akan urus masalah ayahmu. Aku janji."

Larasati mengangguk pelan, membenamkan wajahnya di dada Raka. Mereka berdua berjalan perlahan menuju pintu belakang mansion, meninggalkan Vania yang berdiri sendirian di tengah taman dengan satu payung raksasa di tangannya.

Vania menatap punggung mereka yang menjauh, lalu menoleh ke arah semak-semak di sebelahnya.

Dari balik dedaunan yang basah, sepasang sepatu bot kulit hitam melangkah keluar. Kevin.

Pria itu berdiri di sana, jas hitamnya basah kuyup, rambutnya yang disisir rapi kini berantakan dan menempel di dahi. Tapi tatapannya? Tatapannya tetap tajam, dingin, dan mengintimidasi, seolah hujan deras ini hanyalah efek khusus yang dia bayar mahal.

Vania menatapnya. Lalu dia menatap "kamera" imajinernya.

Kalian sadar nggak sih? batin Vania, alisnya berkerut dalam. Dia ini udah diusir. Pak Darmawan udah ngelarang dia masuk mansion ini tiga tahun lalu. Dia punya penthouse di Sudirman, punya kantor di SCBD, punya rumah di Puncak. Tapi kok dia nongkrong di taman mansion ini lebih sering dari pada Om Reza yang numpang hidup? Maunya apa sih? Dia nganggur? Dia hobi basah-basahan? Atau dia cuma nungguin Pak Darmawan mati buat warisan?

Vania menghela napas, lalu menyodorkan payung kedua yang masih terlipat ke arah Kevin.

"Nih. Payung. Jangan sampai Anda masuk angin, nanti saya yang disalahin karena tidak merawat aset keluarga," ucap Vania datar.

Kevin menatap payung itu. Lalu dia menatap Vania.

Dia tidak mengambil payung itu.

Sebaliknya, Kevin melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Jarak di antara mereka menyusut dengan cepat hingga Vania bisa mencium aroma cologne mahalnya yang bercampur dengan bau hujan dan tanah basah.

"Kevin, ambil payungnya," desis Vania, mencoba mengulurkan tangannya lebih jauh. "Anda basah. Jas Anda harganya lebih mahal dari mobil Kijang."

"Aku tidak butuh payung," ucap Kevin pelan, suaranya rendah dan bergema di tengah suara hujan.

Sebelum Vania sempat memprotes, tangan kanan Kevin terulur. Dia tidak mengambil payung dari tangan Vania. Sebaliknya, tangannya yang besar dan kuat mencengkeram pinggang Vania dengan erat, menarik tubuh wanita itu mendekat ke arahnya.

Vania terkejut. Kakinya terseret satu langkah ke depan, dan tiba-tiba, wajahnya menabrak dada bidang Kevin.

Brak.

Vania membeku. Matanya terbelalak menatap kain jas hitam yang basah kuyup di depannya. Hidungnya penuh dengan aroma maskulin yang memabukkan. Dan yang paling mengerikan, dia bisa merasakan kehangatan tubuh Kevin yang menembus kain basah itu, serta detak jantung pria itu yang berdegup kencang dan teratur di telinganya.

Astaga, batin Vania panik. Ini dada. Ini dada Kevin. Dada yang di novel-novel dark romance selalu dideskripsikan sebagai 'bidang seperti tembok benteng'. Sejujurnya... menempel di dada selebar dan sehangat ini rasanya nggak rugi-rugi amat. Empuk. Anget. Nyaman.

INGAT ATURAN KETIGA, VANIA! teriak suara logikanya di dalam kepala. JAUHI KEVIN! INI BUKAN BANTAL GULING! INI BOM BERJALAN!

Vania mencoba menarik tubuhnya mundur, tapi cengkeraman Kevin di pinggangnya seperti besi yang dipanaskan. Pria itu menunduk, menatap Vania dari atas. Air hujan menetes dari rambutnya, jatuh di pipi Vania. Tatapan Kevin gelap, intens, dan penuh dengan posesivitas yang membuat lutut Vania sedikit lemas.

"Kau basah," bisik Kevin, suaranya serak dan bergetar tepat di atas kepala Vania. Napasnya yang hangat menerpa kulit dahi Vania. "Dan aku tidak suka melihat properti milikku rusak."

Vania menelan ludah. Properti? batinnya ngeri. Aku bukan vas bunga antik, Kevin! Aku manusia! Dan kita bahkan belum menikah!

"Kevin," ucap Vania, suaranya sedikit bergetar, bukan karena takut, tapi karena dia sedang berusaha keras untuk tidak menikmati kehangatan ini. "Lepaskan. Orang-orang melihat."

Dia menoleh sedikit ke arah pintu belakang mansion. Di sana, di balik kaca jendela yang berembun, Raka dan Larasati sedang menatap ke arah mereka. Raka terlihat tegang, siap untuk keluar dan menghajar Kevin jika perlu. Larasati menatap dengan tatapan penuh harap, seolah sedang menyaksikan adegan klimaks dari film romantis favoritnya.

Kevin mengikuti tatapan Vania. Dia melihat Raka dan Larasati di jendela.

Alih-alih melepaskan Vania, Kevin justru mempererat pelukannya. Tangannya yang tadi hanya mencengkeram pinggang, kini merosot sedikit ke bawah, menopang punggung Vania dengan erat, memaksa tubuh wanita itu menempel lebih rapat ke dadanya.

"Biarkan mereka melihat," desis Kevin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman yang arogan, menantang, dan sangat berbahaya. Dia menatap lurus ke arah jendela, menatap Raka dengan tatapan yang jelas berkata: Dia milikku. Lihat dan iri.

Hujan masih turun deras. Angin outdoor yang misterius kembali berhembus, mengibarkan ujung jas Kevin dan gaun Vania. Di kejauhan, musik biola yang syahdu dan menyakitkan telinga mulai berputar dari langit-langit taman.

Vania memejamkan matanya, menghela napas panjang di dada Kevin.

Tuhan, tolong hentikan hujan ini. Atau tolong hentikan jantungku. Salah satu dari keduanya.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!