Kirana, mantan putri sultan yang kini harus bekerja demi bertahan hidup, selalu bentrok dengan Rangga, CEO dingin dan galak yang tak pernah menemukan karyawan seberani dirinya.
Tanpa Kirana sadari, Rangga justru jatuh cinta lebih dulu. Di balik sikap kerasnya, ia diam-diam selalu melindungi dan memperhatikan Kirana. Sementara Kirana perlahan melihat sisi lembut pria yang selama ini dianggapnya sebagai bos toxic.
Namun cinta mereka diuji oleh kesalahpahaman, mantan kekasih, konflik keluarga, serta perjuangan Kirana membangun kembali hidupnya tanpa kemewahan. Dari pertengkaran dan cinta yang awalnya bertepuk sebelah tangan, keduanya akhirnya menyadari bahwa mereka adalah tempat pulang satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 — Konfrontasi
Keesokan harinya, Kirana memutuskan untuk mencari kepastian sendiri. Ia menghubungi Alex, meminta bertemu di sebuah kafe dekat kantor saat jam istirahat siang, tekadnya sudah bulat untuk mendapatkan jawaban langsung meski tangannya sedikit gemetar saat mengetik pesan itu.
Alex datang tepat waktu, wajahnya menunjukkan sedikit keterkejutan melihat ekspresi serius Kirana yang jauh berbeda dari pertemuan mereka sebelumnya di depan gedung kantor.
"Kirana, kamu yang ngajak ketemu, ada apa?" tanya Alex, duduk di seberang meja dengan senyum yang mencoba terlihat santai, meski matanya menunjukkan sedikit kegugupan.
"Alex, jujur sama aku," Kirana berkata langsung, tidak berniat membuang waktu dengan basa-basi. "Kamu yang bocorin informasi soal aku ke media, kan? Atau kamu yang kasih informasi itu ke Ibunya Rangga?"
Wajah Alex memucat sejenak, mencoba mempertahankan ekspresi tenangnya meski jelas terkejut dengan pertanyaan langsung itu.
"Aku nggak tahu apa yang kamu maksud, Kirana."
"Jangan bohong," Kirana menatap tajam, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah lama terpendam. "Cuma kamu yang tahu detail soal masa lalu aku sedetail yang ditulis di artikel itu. Detail soal keluarga aku, soal hubungan kita dulu, semuanya."
Alex terdiam cukup lama, menyadari kebohongannya sudah tidak bisa lagi ia pertahankan di hadapan tatapan Kirana yang begitu tajam dan penuh kekecewaan.
"Oke, iya," Alex akhirnya mengaku, suaranya melemah. "Aku yang ketemu sama Ibunya Rangga. Tapi aku nggak nyangka bakal jadi seheboh ini, Kirana. Aku cuma... aku cuma pengen kamu balik lagi sama aku."
"Jadi kamu rela ngehancurin reputasi aku, cuma demi kepentingan kamu sendiri?" Kirana bertanya, suaranya bergetar antara marah dan terluka. "Kamu tega banget, Alex."
"Aku minta maaf," Alex berkata, tampak menyesal meski terlambat. "Aku cuma... aku cemburu, Kirana. Aku lihat kamu bahagia sama orang lain, sementara aku yang dulu ninggalin kamu pas kamu lagi susah. Aku merasa bersalah, tapi juga cemburu di saat bersamaan. Jadi waktu Ibunya Rangga nawarin kerja sama, aku... aku kelepasan."
"Kerja sama apa maksudnya?" Kirana bertanya tajam, semakin penasaran dengan detail konspirasi yang sudah menghancurkan ketenangan hidupnya.
Alex menghela napas panjang, akhirnya menceritakan semua detail pertemuannya dengan Bu Ratna—bagaimana mereka berdua sepakat untuk saling membantu, bagaimana Bu Ratna yang sebenarnya mengatur agar informasi itu sampai ke media dengan narasi yang sudah diputarbalikkan sedemikian rupa untuk menjatuhkan reputasi Kirana secara maksimal.
Kirana mendengarkan semuanya dengan hati yang semakin hancur, bukan hanya karena pengkhianatan Alex, tapi juga karena kenyataan bahwa calon ibu mertuanya sendiri tega merencanakan sesuatu sekeji itu hanya demi memisahkan dirinya dari Rangga.
"Aku nggak nyangka kamu bisa seegois ini, Alex,"
Kirana berkata pelan, air mata mulai menggenang di matanya, meski kali ini bukan air mata karena masih mencintai pria di hadapannya, melainkan air mata kekecewaan mendalam pada seseorang yang dulu pernah begitu berarti dalam hidupnya. "Aku kira kamu cuma pengecut yang ninggalin aku waktu susah. Ternyata kamu juga tega ngehancurin hidup aku demi ego kamu sendiri."
"Kirana, aku beneran minta maaf," Alex mencoba meraih tangan Kirana, namun gadis itu buru-buru menariknya menjauh.
"Jangan sentuh aku," Kirana berkata tegas, berdiri dari kursinya. "Aku nggak mau lagi ada hubungan apa pun sama kamu, Alex. Dan kalau kamu masih punya sedikit hati nurani, kamu harus bantu aku buktikan semua ini ke publik, buat klarifikasi resmi soal siapa dalang sebenarnya di balik berita fitnah itu."
Alex terdiam, menatap Kirana yang berdiri dengan penuh ketegasan di hadapannya—sosok yang jauh berbeda dari gadis manja yang dulu ia kenal, kini berubah menjadi wanita yang kuat dan berani menghadapi kenyataan sepahit apa pun.
"Baik," Alex akhirnya mengangguk, suaranya penuh penyesalan. "Aku akan bantu kamu, Kirana. Ini yang bisa aku lakuin buat nebus kesalahan aku."
Malam itu, Kirana menceritakan semua yang terjadi ke Rangga, yang mendengarkan dengan rahang mengeras menahan amarah mendengar keterlibatan ibunya sendiri dalam skema sekeji itu.
"Saya nggak nyangka Ibu bakal sejauh ini,"
Rangga berkata pelan, suaranya penuh kekecewaan yang mendalam. "Saya akan bicara langsung sama beliau, Kirana. Ini udah keterlaluan."
"Rangga," Kirana menggenggam tangan pria itu, mencoba menenangkan. "Aku tahu ini berat buat kamu, harus berhadapan sama ibu kamu sendiri. Tapi aku percaya, kalau kita hadapi ini bareng-bareng, kita pasti bisa lewatin."
Rangga menatap Kirana, rasa syukur dan cinta yang begitu dalam terpancar dari matanya melihat ketegaran gadis itu meski baru saja mengalami pengkhianatan yang begitu menyakitkan. "Makasih, Kirana. Makasih udah tetap kuat, meski dunia seolah terus-terusan nguji kita berdua."
"Kita udah lewatin banyak hal bareng-bareng," Kirana tersenyum tipis, meski matanya masih menyisakan kelelahan dari drama hari itu. "Aku yakin, kita juga bisa lewatin ini."
Mereka berpelukan erat malam itu, saling menguatkan satu sama lain untuk menghadapi pertarungan besar yang masih menanti di depan—konfrontasi yang tidak terelakkan antara Rangga dan ibunya sendiri, sebuah pertarungan yang akan menentukan masa depan hubungan mereka berdua untuk selamanya.
ini novel saya pertama🥰🥰