Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Orang dari Masa Lalu
#14
“Kamu?!”
“Iya, ini aku, Anti, Hexanti.”
“Ya, Allah, Anti, lama nggak ketemu.” Dina langsung memeluk teman sebangkunya semasa SMA dulu. “Apa kabar?” lanjutnya setelah melerai pelukan.
“Aku baik, kamu? Wajahmu pucat, kamu lagi sakit?”
Ardina menggeleng, “Nggak, kok. Hanya habis kontrol luka pasca operasi caesar,” ungkap Dina apa adanya.
“Owalah, sudah punya anak, toh? Berarti lama banget kita nggak ketemu. Terus mana anakmu sekarang?”
Senyum Dina memudar, berganti dengan tawa getir yang ia paksakan. “Bayiku meninggal dua hari setelah dilahirkan.”
“Innalillahi wa innalillahi rooji'uun,” ucap Anti ikut berempati atas musibah yang menimpa Dina.
“Ah, sudahlah, jangan dibahas lagi,” elak Dina, karena tak mau pembicaraan mereka merembet ke masalah Farhan dan rumah tangganya yang telah berakhir. “Kamu ada perlu apa kemari?”
“Oh, itu— aku mau nengok putranya Azam, masih ingat?” Anti menaik turunkan alisnya, tanda ada maksud terselubung.
“Azam—”
“Iya, Azam. Kurang lebih seminggu yang lalu istrinya meninggal karena pendarahan setelah melahirkan. Dan sekarang bayinya dirawat disini.”
“Innalillahi wa innalillahi rooji'uun.” Gantian Dina yang melafadzkan kalimat tersebut, setelah mendapatkan kabar tentang Azam dan keluarganya.
“Mau ikut nengok?”
“Tapi, aku sedang mencari keberadaan orang tuaku.”
“Ntar aku bantu cari, kalau masih nggak ketemu, kita cari melalui loket informasi.”
Akhirnya, Dina pun menyetujuinya. Mereka berjalan bersama menuju ruang rawat bayi.
Rumah sakit ini adalah rumah sakit Ibu dan Anak yang cukup besar, yang diperuntukkan secara khusus untuk ibu hamil, melahirkan, serta rawat inap anak-anak. Selain itu, rumah sakit tersebut juga terkenal dengan fasilitas perawatannya yang memuaskan para pasien-pasiennya.
Banyak pasien rujukan dari luar kota yang datang ke rumah sakit ini, selain karena fasilitas rumah sakit yang modern dan memadai, dokter dan perawatnya pun ramah serta profesional.
Tiba di lantai tempat bayi Azam di rawat, Dina melihat keberadaan orang tuanya di sana. “Mama? Papa? Kok, pada di sini, sih? Aku cari kemana-mana, loh,” kata Dina sedikit cemberut.
“Kamu sendiri, kok bisa sampai disini?”
“Tadi aku ketemu Anti di lantai bawah, terus diajakin kesini melihat bayinya Azam, Mama masih ingat Anti, kan?”
Bu Rara mencoba mengingat-ingat, “Anti— Anti—”
“Teman sebangku aku, Ma.”
“Ah, iya, yang dulu suka belajar di rumah.” Dina mengangguk membenarkan.
“Kalian kenal Azam?” tanya seorang wanita berpenampilan kalem dan teduh. Yang tak lain tak bukan adalah Bunda Hilda.
“Kebetulan, kami teman sekolahnya Azam dulu, Tante.” Anti angkat bicara. “Dan saya juga kebetulan mengenal almarhumah Nayla.”
“Mama sendiri? Dari mana kenal orang tua Azam?”
Bu Rara tersenyum, ternyata sangat kebetulan sekali jalan hidup manusia. “Bukan Mama yang mengenal beliau, tapi papamu yang mengenal suami beliau, Pak Irfan.”
Saat menunggu Dina diperiksa dokter, Bu Rara dan Pak Hermanto bertemu Ayah Irfan dan Bunda Hilda di lantai bawah. Sekalian saja mereka menengok bayi malang yang kini dirawat di rumah sakit ini.
Mereka berbincang akrab tanpa bermaksud mengganggu bayi yang sedang terlelap di ruangan tersebut. Hati Dina sangat terenyuh melihat bayi tersebut, air matanya menetes tanpa sadar, karena suka atau tidak ia jadi teringat bayinya yang belum lama tutup usia.
“Oh, iya, Nak Dina. Tante ikut berduka cita, ya?” kata Bunda Hilda membuyarkan lamunan Dina.
Dina buru-buru mengusap air matanya, lalu tersenyum canggung. “Terima kasih, Tante. Kalau boleh tahu, adek bayi nya dirawat karena apa?”
“Karena Mamanya meninggal, jadi kami mencoba memberikan susu formula padanya, tapi ternyata pencernaannya intoleran dengan susu formula. Sementara kami tak bisa mendapatkan donor ASI sewaktu-waktu.”
Dina tercekat sejenak, “Tante, kalau butuh ASI untuk adek bayi, ASI saya alhamdulillah melimpah.”
“Alhamdulillah, ya Allah, terima kasih,” ucap Bunda Hilda penuh rasa syukur. “Boleh, Nak. Kalau kamu berkenan menolong cucu kami.”
“Alhamdulillah.”
Bu Rara dan Anti pun ikut mengucap syukur, tepat pada saat itu Ghazi terbangun, dan mulai menangis. Suaranya lemah karena bayi itu memang sangat membutuhkan asupan nutrisi.
“Tante, kalau boleh, saya akan coba menyusuinya.”
Bunda Hilda mengangguk senang, “Tentu saja,” katanya penuh antusias. Segala upaya demi kebaikan Ghazi akan ia lakukan, asalkan bayi mungil itu bisa tumbuh sehat, bertambah besar, serta kuat.
Dina berdiri, ia berjalan menghampiri tempat pembaringan bayi. Menatap kulit bayi yang pucat kekuningan, karena kurang asupan ASI di hari-hari pertamanya.
Dina menurunkan pagar pembatas tempat tidur, lalu dengan gerakan lembut ia mengangkat tubuh lemah Ghazi. Bayi itu masih menangis pelan, terlihat gelisah karena ada tangan asing yang coba menimangnya. Tapi, tak butuh waktu lama, insting keibuan Dina berperan, dibelai dan ditimangnya Ghazi, hingga bayi itu merasa nyaman, lalu diam.
Tepat saat Dina hendak mulai menyusui bayi tersebut, pintu kamar terbuka. Pak Hermanto, Ayah Irfan, dan Azam kembali dari luar ruangan. Entah apa yang barusan mereka bicarakan, hingga harus menyingkir dari kamar.
Tapi, Dina yang terkejut dengan kehadiran mereka pun ikut menoleh.
“D-Di-Dina?”
“A-a-azam?”
Dua orang itu sama-sama terkejut, hanya Anti yang mendadak senyum-senyum sendiri. Namun, wanita itu tak mengatakan apa-apa.
“Kalian saling kenal?” Kali ini Ayah Irfan yang bertanya.
Azam mengangguk dan tersenyum samar, “Iya, Yah. Kami satu sekolah.”
“Kebetulan sekali kalau begitu,” cetus Ayah Irfan.
“Kebetulan apa, Mas?”
“Nanti saja kita bicara, ini urusan pekerjaan.”
Ghazi kembali merengek, Dina kembali bergoyang pelan, menepuk punggung Ghazi hingga bayi itu bisa kembali tenang. “Aduh, maaf sekali, tapi bisakah para ayah keluar?” pinta Bunda Hilda.
“Lho, kenapa, Bund? Aku mau gendong Ghazi,” protes Azam.
“Serahkan pada kami, jika Dina berhasil menenangkan anakmu, dia akan mendapatkan ibu ASI baru.”
“Apa!?”
Pertanyaan Azam menggantung, karena Bunda Hilda buru-buru menutup pintu, serta tirai di dalam kamar, agar lebih privat.
Azam hanya bisa pasrah, berdiri menempelkan wajah di depan pintu ruangan. Ia senang Ghazi mendapatkan calon ibu ASI baru, tapi kenapa harus Dina? Kenapa?!
Setelah Nayla tiada, Azam belum tahu sepe apa masa depannya kelak. Dan tiba-tiba saja Ardina yang baru saja bercerai dari suaminya didekatkan padanya. Apakah tak cukup hanya sebatas rekan bisnis saja? Haruskan urusan pribadinya juga?
Ada hubungan rumit di antara mereka pada masa lalu, dan apakah harus saat ini? Disaat keduanya baru saja kehilangan orang-orang yang paling dicintainya.
Keduanya pernah saling suka, namun, Azam tak mau pacaran, dan Dina hanya menunggu dalam diam. Sampai mereka tamat sekolah, perasaan tersebut tak pernah tersampaikan.
Keduanya sama-sama ambil langkah mundur, hingga bertemu jodoh masing-masing di kemudian hari. Dan sekarang mereka kembali berhadapan, akankah benang kusut perasaan mereka akan terurai perlahan-lahan?