Malam kelam empat tahun lalu selalu datang menyapa benak Adrian setiap kali hening mulai menguasai sudut-sudut markas mewahnya. Sebagai seorang pemimpin jaringan bawah tanah yang disegani sekaligus ditakuti di kota ini, tak ada satu pun hal yang luput dari genggamannya—kecuali ingatan tentang malam itu. Sebuah penyesalan samar yang tak pernah terus terang ia akui, tetapi secara perlahan mengikis ketenangannya. Sampai detik ini, deretan anak buah terbaiknya yang tersebar di berbagai penjuru wilayah belum juga berhasil menemukan keberadaan wanita yang pernah hadir sejenak di hidupnya. Pria itu bahkan hanya mengingat sepenggal nama yang dibisikkan dalam kepasrahan malam: Alea.
Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota yang dipenuhi kemewahan dan intrik kekuasaan, Alea menjalani hidup sederhana di sebuah pemukiman pinggiran. Di sana, ia bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam tanpa pernah mengeluh. Semua keringat dan rasa lelahnya menguap setiap kali melihat senyum manis putra kecilnya,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadapan Sinyal Bahaya
Akhirnya Azka masuk ke mobil. Pintu tertutup rapat, mengisolasi bocah kecil itu dari lingkungan sekolahnya yang aman. Mama Adrian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar tidak memancing kecurigaan dari warga sekitar.
Azka duduk di kursi penumpang depan, menoleh ke sana-kemari dengan polos. "Nek, toko mainannya masih jauh ya? Kata Ibu, Azka tidak boleh bolos sekolah..."
Mama Adrian mengulas senyum tipis yang terasa dingin. Dari tempat penyimpanan di dekat kemudi, ia mengambil sebotol jus buah kemasan yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Nih, minum dulu. Toko mainannya sebentar lagi sampai kok," kata Mama Adrian penuh kepura-puraan.
Dalam perjalanan, Mama Adrian memberi minuman kepada Azka—minuman yang sudah dia campur dengan obat tidur. Tanpa rasa curiga, Azka menerima botol itu dan meminumnya hingga tersisa separuh karena rasa haus akibat berjalan di pelataran sekolah tadi.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, efek obat reaksi cepat itu mulai bekerja. Kelopak mata bulat Azka terasa sangat berat. Kepala kecilnya bersandar lemas pada jok mobil, lalu perlahan matanya terpejam sepenuhnya. Napas bocah itu terdengar teratur, tertidur sangat lelap di bawah pengaruh obat.
Mama Adrian melirik ke samping, memastikan cucunya benar-benar tak sadarkan diri. Rasa iba sama sekali tak terbesit di matanya; yang ada hanya ambisi untuk menyingkirkan Alea dari kehidupan putra tunggalnya.
Mobil terus melaju meninggalkan kawasan perumahan dan pusat kota. Rute yang diambil kian sepi dan memanjangkan jarak dari jangkauan keramaian.
Tujuan mobil ini adalah gedung tua di pinggir laut. Sebuah bangunan terbengkalai dengan dinding beton berlumut dan deburan ombak keras yang menghantam tebing di sekitarnya.
Begitu mobil berhenti di halaman gedung tua yang tertutup ilalang tinggi, beberapa orang suruhan Mama Adrian sudah menunggu di sana. Pria-pria berwajah kasar dengan pakaian lusuh itu melangkah mendekat saat pintu mobil dibuka.
"Bawa anak ini ke dalam," perintah Mama Adrian dingin sembari menunjuk Azka yang masih tertidur di kursi depan. "Pastikan dia tidak terluka sebelum aku menghubungi wanita itu. Aku ingin wanita toko bunga itu datang sendirian tanpa memberitahu Adrian!"
Di dalam gedung tua yang berbau garam dan kayu lapuk itu, ponsel di genggaman Mama Adrian terhubung. Suara isak tangis Alea yang pecah dan penuh kepanikan terdengar membumbung dari seberang saluran setelah wanita itu mendapati sekolah Azka kosong.
Dengan nada dingin menusuk, Mama Adrian menyampaikan ancamannya—menuntut Alea datang sendirian ke area pelabuhan tua jika ingin melihat putranya selamat, seraya melarang keras Alea menghubungi Adrian.
Namun, Mama Adrian dan para eksekutornya melupakan satu hal penting.
Tanpa mereka sadari, nomor ponsel Alea sudah disadap oleh Rian untuk berjaga-jaga atas perintah Adrian sejak awal mereka menemukan kembali keberadaan wanita itu. Jalur komunikasi Alea selalu terpantau dalam sistem pengawasan khusus 24 jam demi mengantisipasi segala kemungkinan buruk.
Benar saja, Rian yang saat itu sedang berjalan melewati lorong private lounge bandara di Singapura mendadak menghentikan langkahnya. Peringatan frekuensi tinggi berbunyi dari tablet yang dipegangnya, menampilkan rekaman suara panggilan masuk ke ponsel Alea secara real-time.
Dari earpiece bluetooth yang terpasang di telinganya, Rian mendengar ucapan ancaman dari seberang telepon Alea dengan sangat jelas.
Rian langsung menghubungi sang bos.
Langkah kaki Adrian yang tegap di depan pintu pesawat jet pribadinya seketika terhenti begitu panggilan internal dari sang asisten masuk.
"Tuan! Nyonya Besar baru saja menghubungi Ibu Alea!" lapor Rian dengan suara rendah namun dipenuhi urgensi tinggi. "Nomor penyadap merekam ancaman lokasi penculikan Tuan Muda Azka di gedung tua wilayah pesisir selatan. Nyonya Besar menyuruh Ibu Alea datang sendirian!"
Aura di sekitar Adrian seketika membeku. Sepasang mata elangnya menyipit tajam, memancarkan kilatan kejam yang sanggup melumpuhkan siapa pun. Rahang tegasnya mengeras rapat hingga buku-buku jarinya memutih saat mengepalkan tangan.
"Lacak koordinat tepatnya sekarang juga," perintahkan Adrian dengan suara berat yang teramat dingin dan membahayakan. "Putar balik jet. Kita kembali ke Indonesia detik ini juga."
"Baik, Tuan! Tim reaksi cepat kita di pusat kota sudah saya perintahkan bergerak mengepung perimeter luar pantai sebelum Ibu Alea sampai!" balas Rian mantap.
Adrian mematikan saluran teleponnya, menatap lurus ke arah cakrawala. Badai yang dicetuskan oleh sang mama telah melewati batas toleransinya—dan kali ini, Adrian tidak akan memberikan ampunan sedikit pun demi keselamatan darah dagingnya.