Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Aman di Sisi Gabriel
"Sudah, jangan menangis terus. Sekarang kamu ikut aku ke kantor," ucap Gabriel dengan nada lembut namun penuh ketegasan yang tak bertele-tele.
Jemari kokohnya meraih saputangan dari saku jasnya, menyapu sisa-sisa air mata di pipi Amara dengan sangat perlahan.
Amara mengerjap kaget, matanya yang masih agak sembab mendongak menatap Gabriel.
"K-kantor?" bisiknya ragu, pita suaranya bergetar pelan.
"Iya, ke kantor," sahut Gabriel mantap. Ia mengisyaratkan kepada pengemudi di depan untuk mulai menjalankan mobil. "Aku tidak akan meninggalkanku sendirian di rumah dengan pikiran yang aneh-aneh setelah kejadian tadi."
Amara meremas buku catatannya yang berada di pangkuan, lalu menulis dengan terburu-buru.
‘Tapi aku tidak bersiap-siap... Baju yang kukenakan sangat sederhana, Gabriel. Bagaimana kalau karyawanmu melihatku?’
Gabriel membaca tulisan itu, lalu melipat buku catatan Amara dan menyimpannya di saku dalam jasnya sendiri.
"Baju sederhanamu ini seratus kali lebih anggun daripada gaun mahal siapa pun di luar sana," potong Gabriel tegas sambil menyisipkan jemarinya ke sela-sela jemari Amara. "Lagipula, mereka itu bekerja untukku. Siapa yang berani menatap atau berbisik tentang istri bos mereka, hari itu juga akan kulempar surat pemecatannya."
Amara tertegun. Pipi yang tadinya pucat karena cemas kini kembali merona tipis.
"G-Gabriel... kamu ini..." rintihnya pelan, tak sanggup melanjutkan kalimat karena terharu sekaligus malu.
Gabriel terkekeh renyah, membawa punggung tangan Amara ke bibirnya lalu mengecupnya hangat.
"Aku ini suamimu, Sayang. Tugas utamaku adalah memanjakan dan melindungimu," bisik Gabriel penuh penekanan. "Di kantor nanti, kamu cukup duduk manis di ruang kerjaku. Apapun yang kamu butuhkan, tinggal bilang padaku. Mengerti?"
Amara menatap manik mata suaminya yang sarat akan dominasi penuh kasih sayang. Perlahan, anggukan pelan diberikan oleh gadis itu.
"M-mengerti, Gabriel..." sahut Amara dengan suara seraknya, menyandarkan kepalanya di bahu tegap sang suami dengan perasaan tenang yang berangsur pulih.
"Sebelum kita ke kantor, kita beli sesuatu dulu. Agar nanti kamu tidak bosan menungguku saat di ruang kerjaku," ujar Gabriel seraya mengusap lembut rambut panjang Amara yang terurai.
Amara mengerjap pelan, menatap Gabriel dengan binar mata penuh tanya.
"B-beli... apa?" tanyanya ragu, pita suaranya bergetar tipis namun terdengar jauh lebih jelas dari sebelumnya.
Gabriel tersenyum manis, menikmati setiap usaha Amara yang makin terbiasa melatih suaranya.
"Apa saja yang kamu suka, Sayang. Buku menggambar baru, alat lukis, cemilan manis, atau novel? Kamu bebas memilih apa saja."
Amara tertegun sejenak. Ia merapatkan tubuhnya pada Gabriel, rasa cemas akibat kejadian dengan Vella tadi seolah makin menguap digantikan oleh kehangatan perlakuan suaminya.
"A-aku..." Amara menggigit bibir bawahnya pelan, lalu menatap langsung ke manik mata Gabriel tanpa lagi mengambil buku catatannya. "A-aku mau... buku gambar dan pensil warna saja. B-boleh?"
Gabriel terkekeh hangat, gemas melihat kepolosan istrinya yang selalu meminta hal-hal sederhana. Pria itu menunduk, mengecup sekilas pipi Amara yang mulus.
"Tentu saja boleh, Ratu kecilku. Jangankan buku gambar, satu tokonya pun akan kubelikan kalau kamu mau," goda Gabriel dengan nada baritonnya yang menggoda.
Pipi Amara seketika memerah pasrah.
"G-Gabriel... jangan mulai lagi," cicitnya malu-malu seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, disambut tawa renyah Gabriel yang menggema halus di dalam mobil.
**
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka tiba di perusahaan milik Gabriel. Saat langkah kaki mereka masuk ke dalam lobby, suasana gedung pencakar langit yang tadinya bising mendadak senyap.
Semua mata staf dan karyawan tertuju kepada Amara yang membuat gadis itu menunduk dalam-dalam. Di tangannya, ada beberapa bingkisan berisi buku gambar dan alat lukis yang dibelikan suaminya tadi sebelum tiba di kantor. Cengkeramannya pada kantong belanjaan itu memadat karena cemas.
Gabriel yang merasakan tubuh istrinya menegang langsung menghentikan langkah. Pria itu menyusupkan tangan kokohnya ke pinggang Amara, menarik tubuh mungil itu makin merapat ke sisinya.
"Tegakkan kepalamu, Sayang," bisik Gabriel sangat lembut tepat di samping telinga Amara, namun cukup tegas untuk memberi keberanian. "Kamu tidak sedang melakukan kesalahan."
Amara mendongak sedikit, matanya berkaca-kaca menatap Gabriel.
"G-Gabriel... m-mereka... menatapku..." cicitnya sangat pelan, pita suaranya bergetar hebat.
Gabriel tidak menjawab Amara dengan kata-kata lagi, melainkan melemparkan tatapan dingin nan tajam bagai sembilu ke sekeliling lobby.
Seluruh karyawan yang tadinya berbisik-bisik seketika tunduk ketakutan dan berpaling cepat, pura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Selamat pagi, Tuan Gabriel! Selamat datang, Nyonya!" sapa beberapa manajer senior yang berbaris di dekat lift khusus eksekutif, membungkuk sangat hormat.
Gabriel mengangguk dingin tanpa menghentikan langkahnya. Pria itu menunduk menatap Amara, sorot matanya seketika melunak penuh kehangatan.
"Lihat? Mereka tidak sedang meremehkanmu, Amara. Mereka menyambut Nyonya mereka," ujar Gabriel dengan nada baritonnya yang mantap. "Pegang bingkisanmu baik-baik, kita naik ke ruanganku sekarang."
Amara meremas kantong belanjanya, lalu perlahan menganggukkan kepala.
"I-iya... Gabriel," balasnya pelan, melangkah mantap di samping suaminya menuju lift pribadi.
"Itu istri Tuan Gabriel? Masih juga cantikkan aku. Udah gitu pake alat bantu pendengar ditambah bicara gagap," ucap seorang wanita staf pemasaran dengan nada sinis dan nada meremehkan saat melihat pintu lift khusus eksekutif tertutup rapat, membawa Gabriel dan Amara naik.
"Hush! Jangan asal bicara kamu, Maya!" bisik rekannya panik seraya menarik lengan pakaian wanita itu, matanya melirik liar ke sekeliling lobby yang masih tegang. "Jangan pernah mencari masalah dengan Tuan Gabriel kalau masih sayang pekerjaanmu!"
Maya justru mendecih pelan, melipat kedua tangannya di dada dengan raut tidak puas.
"Tapi kenyataannya begitu, kan? Pak Gabriel yang sempurna, kaya, dan tampan itu harusnya berpasangan dengan wanita dari kalangan atas yang berkelas! Bukan cewek udik dan cacat seperti—"
"Tutup mulutmu!" potong pria di sebelah mereka yang merupakan salah satu manajer senior, suaranya terdengar penuh penekanan dan kemarahan tersembunyi. "Kamu tidak dengar kabar pagi ini? Saham keluarga Nona Vella dicabut total hanya dalam hitungan menit gara-gara dia menghina Nyonya Amara di rumah sakit!"
Maya seketika membeku. Senyum meremehkan di wajahnya luntur total, digantikan warna pucat pasi.
"M-maksud Bapak... Pak Gabriel sendiri yang melakukan itu?"
"Tentu saja!" tegas sang manajer dingin. "Bagi Tuan Gabriel, Nyonya Amara adalah garis merah. Satu kata saja kamu menghina beliau dan sampai ke telinga Tuan Gabriel, bukan cuma kamu yang dipecat, tapi karirmu di kota ini dipastikan tamat."
Maya menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya gemetar membayangkan kemurkaan bos besar mereka yang terkenal dingin dan tak berbelas kasih itu.
Sementara itu, di dalam lift pribadi yang melaju tenang menuju lantai teratas, Gabriel menggenggam erat jemari Amara yang masih terasa dingin.
"Masih gugup, Sayang?" tanya Gabriel lembut, menatap lekat wajah polos istrinya yang memegang erat bingkisan buku gambar di pangkuan.
Amara mendongak, menyandarkan kepalanya pelan di lengan kokoh Gabriel.
"S-sedikit..." cicitnya jujur, lalu menatap suaminya dengan mata berbinar tulus. "...tapi, selagi ada G-Gabriel, aku t-tidak takut."
Gabriel tersenyum amat hangat, rasa bangga dan bahagia membuncah di dadanya mendengarkan suaranya yang semakin jelas melafalkan setiap kata. Pria itu menunduk, mengecup lembut pucuk kepala istrinya saat pintu lift akhirnya denting terbuka.