Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan, Bos!
Di markas utama yang terletak di pinggiran kota, aura mencekam menyelimuti setiap sudut ruangan. Para anak buah Teratai Hitam berdiri tegak dengan wajah tegang, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.
Gavin, yang baru saja selesai mengecek laporan logistik di lantai dua, hampir melompat kaget ketika melihat sesosok pria berjas hitam elegan memasuki ruangan utama.
"B-Bos?!" Gavin membelalakkan mata, refleks melirik jam di pergelangan tangannya. "Bukannya Bos jam segini harusnya lagi senyum-senyum di pelaminan? Kok malah ada di sini?!"
Rakanza tidak menjawab. Pria itu berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke arah asistennya. Ia melepas jas pengantinnya yang tebal kemudian melemparnya sembarangan ke atas sofa kulit. Wajah tampannya begitu datar. Ia lalu menuju meja kerja utamanya dan membuka laptop.
"Bos... ini beneran Bos, kan? Bukan kembaran atau hantu?" Gavin mendekat dengan raut wajah tidak percaya, mengamati bosnya dari atas sampai bawah.
"Nona Ella diapain di rumah, Bos? Kasihan, lho, pengantin baru ditinggal kabur..."
"Diam, Gavin. Mau aku potong lidahmu?" ancam Rakanza dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor. Suaranya yang rendah membuat Gavin langsung merinding dan membungkam mulutnya rapat-rapat.
Rakanza memfokuskan pikirannya untuk melacak jejak pengkhianat di dalam organisasinya. Perasaan gusar di dadanya hanya bisa ia redam dengan bekerja.
Tak terasa, malam makin larut. Jam dinding besar di ruang kontrol menunjukkan pukul sebelas malam.
Gavin yang baru kembali dari ruang interogasi membuka pintu ruang kontrol. Ia mendadak berhenti begitu melihat Rakanza masih duduk tegak di depan deretan layar pemantau yang menyorot dokumen-dokumen internal dengan tatapan tajam.
"Aduh, Bos... Bos beneran belum pulang?" tanya Gavin dengan nada prihatin bercampur heran.
Ia masuk sambil membawa segelas kopi panas. "Ini malam pertama, Bos! First night! Pasangan di luar sana jangankan sibuk melacak pengkhianat, pegang laptop saja kagak sempat!"
Rakanza mendesis kecil, jemarinya berhenti mengetik di atas kibor. "Gavin, kamu mau aku pindahkan tugas ke gudang amunisi di gurun?"
"Ya jangan dong, Bos! Saya kan cuma mengingatkan kewajiban suami," cengengesan Gavin sambil menaruh kopi di ujung meja. Agak jauh dari Rakanza agar ia tak kena omel soal kebersihan. "Kasihan Nyonya Muda di rumah sendirian. Nanti kalau Nyonya Sienna tahu Bos malah ngetik laporan di markas malam-malam begini, bisa-bisa saya yang disemprot lagi."
"Dia bukan Nyonya Muda," potong Rakanza dengan nada ketus dan merendahkan. "Dia cuma gadis jelek yang kebetulan menolong Nenek."
Gavin mengelus dadanya. "Sadis amat bahasanya, Bos. Tapi bagaimanapun juga, secara hukum dan agama, Nona Ella itu sudah resmi jadi istri Bos."
Rakanza memutar kursi rodanya, menatap Gavin dengan tatapan membunuh. "Kamu lupa aku ini siapa, Gavin? Aku mengidap mysophobia! Membayangkan kulitnya yang rusak dan kotor itu berada di dekatku saja sudah bikin aku mual. Apalagi harus melewati malam pertama dengannya? Mimpi!"
Gavin terkekeh geli, mencoba mencairkan suasana yang mendadak tegang.
"Yee... kan tadi saya sudah bilang dari awal, Bos! Bos tidur beda kamar! Beda kasur, beda lantai, kalau perlu beda kecamatan! Tapi setidaknya Bos pulang dong, tunjukkan muka di depan Nenek. Kalau Bos di markas terus sampai subuh, sama saja Bos ngasih tahu satu dunia kalau ini pernikahan abal-abal."
Rakanza mengepalkan tangan kirinya di atas meja. Ucapan Gavin yang lancang itu ada benarnya juga. Neneknya pasti akan sangat kecewa jika tahu ia sama sekali tidak pulang di malam pertama.
"Lagipula, Bos..." Gavin menambahkan dengan senyum jahil, "Nona Ella itu penurut kok. Palingan sekarang dia sudah tidur nyenyak, nggak bakalan ganggu Bos yang alergi kuman ini."
Rakanza mengembuskan napas kasar. Rasa muak dan jengkel pada asistennya yang cerewet itu akhirnya mencapai puncak. Ia mematikan layar laptopnya dengan gerakan kasar, lalu berdiri dari kursinya.
"Menyingkir dari hadapanku sebelum kepalamu aku jadikan sasaran tembak," gertak Rakanza seraya menyambar kunci mobilnya di atas meja.
Gavin dengan sigap mundur tiga langkah sambil memberi hormat bak prajurit. "Siap, Bos! Hati-hati di jalan, semoga malam pertamanya berkesan!"
Rakanza melempar tatapan maut pada Gavin sebelum keluar dari markas. Meninggalkan sang asisten yang tertawa puas karena berhasil mengusir bosnya pulang ke rumah.
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻