NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Tuduhan di Bawah Atap Emas & Bayang Dalang

Kereta kuda melaju kencang menuju gerbang istana. Langit di atas kepala kelabu, angin bertiup kencang menggoyangkan dedaunan di sepanjang jalan. Di dalam kereta, keheningan terasa berat. Wei Chen duduk tegak, kedua tangannya mengepal di atas lutut. Meiying memperhatikannya — rahangnya mengeras sesekali, tanda ia sedang menahan amarah sekaligus kekhawatiran.

"Kau tidak perlu ikut jika takut," ucapnya tiba-tiba, tanpa menatap.

Meiying menggenggam tangannya erat. "Kita sudah berjanji, ingat? Ke mana pun kau pergi, aku di sana."

Wei Chen menoleh perlahan, menatap matanya. "Kali ini beda, Meiying. Tuduhan ini menyangkut identitasmu. Jika terungkap... aku takut tidak bisa melindungimu sepenuhnya."

"Kau tidak perlu melindungiku sendirian," jawabnya mantap. "Aku akan berdiri di sampingmu, bukan di belakangmu."

Kereta melambat, berhenti tepat di depan gerbang utama istana yang menjulang tinggi. Pintu terbuka. Udara di sini terasa lebih dingin, lebih kaku. Pengawal-pengawal berdiri berderet, mata mereka mengikuti setiap langkah yang melintas.

 

Aula utama istana terasa sunyi saat mereka melangkah masuk. Di atas takhta, Kaisar duduk diam, wajahnya tertutup bayangan tirai tipis. Di sebelah kiri berdiri seorang bangsawan yang belum pernah dilihat Meiying sebelumnya — pria paruh baya, berpakaian mewah berwarna ungu tua, matanya menyipit tajam menatap mereka seakan sedang menilai musuh.

"Wei Chen," suara Kaisar terdengar berat, bergema di ruangan luas itu. "Dan istrinya... Rouran."

Meiying menunduk rendah, menyembunyikan getaran di hatinya. "Salam hormat, Baginda."

Pria berpakaian ungu melangkah maju. "Saya Pangeran Duan, paman dari pihak ibu Kaisar," suaranya lantang, penuh wibawa yang dipaksakan. "Saya yang melaporkan hal ini. Karena kebenaran tidak boleh ditutupi lebih lama lagi."

Wei Chen menatapnya tenang. "Kebenaran apa yang kau maksud, Pangeran?"

Pangeran Duan menyeringai tipis. "Bahwa wanita yang berdiri di sampingmu bukanlah Putri Rouran dari klan Lin. Dia adalah penipu yang menggantikan tempatnya — dan kalian berdua menyembunyikan fakta ini secara sengaja, menipu seluruh istana, menipu Kaisar sendiri!"

Hening. Suara napas para pejabat yang berdiri di sisi aula terdengar tertahan. Meiying merasakan ratusan mata menatapnya — curiga, kaget, menghakimi.

"Kau punya bukti?" tanya Wei Chen, suaranya tenang namun tajam seperti bilah pedang yang terhunus.

Pangeran Duan melambaikan tangan. Seorang wanita tua berjalan masuk, menunduk gemetar. "Ini ibu susuan Rouran. Dia membesarkan gadis itu sejak kecil. Dia bisa memastikan — wanita di hadapan kita ini bukanlah anak yang diasuhnya."

Wanita tua itu mengangkat wajah perlahan, menatap Meiying lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca, ragu-ragu. "Wajahnya... memang mirip," suaranya gemetar. "Tapi Rouran punya tanda lahir di leher sebelah kanan, berbentuk seperti bintang. Dan bekas luka di pergelangan tangan kiri, dari jatuh saat masih kecil..."

Semua mata beralih ke arah Meiying. Ia menegang. Tanda-tanda itu tidak dimilikinya.

"Tunjukkanlah!" seru Pangeran Duan. "Jika kau benar-benar Rouran, tunjukkanlah buktinya sekarang!"

Meiying merasakan jantungnya seakan berhenti berdetak. Jika ia menolak, ia terlihat bersalah. Jika ia menunjukkan leher dan pergelangan tangannya... kebohongannya terbongkar seketika.

Wei Chen melangkah ke depan, menutupi Meiying dengan tubuhnya. "Kau tidak berhak menuntut istriku menampakkan dirinya di hadapan banyak orang seperti ini. Itu tidak sopan dan tidak adil."

"Adil?" Pangeran Duan tertawa sinis. "Menipu Kaisar itu tidak adil! Menempatkan orang asing di kedudukan istri Jenderal itu tidak adil! Jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa engkau menolak?"

Kaisar mengangkat tangan perlahan. Suasana seketika hening. "Cukup. Biarkan wanita itu menjawab sendiri."

Semua pandangan tertuju pada Meiying. Ia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju melewati Wei Chen, berdiri tegak di tengah aula. Ia tahu detik ini akan datang — sejak pertama kali mengenakan pakaian pengantin itu, ia tahu. Tapi ia tidak akan lari.

"Baginda," suaranya jernih, tenang, meski jantungnya berpacu kencang. "Saya tidak menyembunyikan apa-apa. Memang benar... saya bukan Rouran."

Gumaman gemuruh langsung memenuhi aula. Para pejabat berbisik heboh, menunjuk-nunjuk. Pangeran Duan tersenyum kemenangan.

Wei Chen hendak menyela, namun Meiying menoleh sekilas, memberinya isyarat untuk tenang. Ia kembali menatap Kaisar.

"Saya Meiying, putri kedua dari klan Lin. Rouran adalah kakak sepupu saya. Ia pergi mendadak sebelum pernikahan dilaksanakan. Keluarga kami terancam kehancuran jika pernikahan batal. Maka saya datang menggantikannya — bukan untuk mencuri kedudukan, melainkan untuk menyelamatkan orang-orang yang saya cintai."

"Dan setelah menikah?" potong Pangeran Duan. "Mengapa tidak mengaku segera?"

"Karena saya takut," jawab Meiying jujur. "Saya takut pernikahan dibatalkan, keluarga dihukum. Tapi kemudian... saya dan Wei Chen mulai memahami satu sama lain. Kami mulai membangun kepercayaan. Dan kebenaran ini semakin berat untuk diucapkan."

Ia menatap Kaisar lurus. "Kesalahan ini ada di pundak saya sepenuhnya. Hukumlah saya jika Baginda berkehendak. Tapi jangan libatkan keluarga saya. Jangan libatkan Wei Chen — ia baru mengetahui kebenaran ini belakangan, dan ia tetap mempertahankan saya bukan karena kebohongan, melainkan karena siapa saya sebenarnya."

Kaisar terdiam lama, menatap Meiying dengan tatapan yang tak bisa dibaca. Ia lalu beralih ke Wei Chen. "Apakah kata-katamu benar? Kau tahu siapa dia, dan tetap mempertahankannya?"

"Benar, Baginda," jawab Wei Chen tegas. "Saya tahu siapa dia. Dan saya memilihnya dengan sepenuh hati. Bukan sebagai pengganti, bukan sebagai Rouran — melainkan sebagai Meiying. Dia wanita yang tulus, berani, dan setia. Dia membuktikannya berkali-kali, baik di istana maupun di kediaman kami."

Pangeran Duan menghentakkan kakinya. "Kesetiaan tidak mengubah fakta bahwa ini penipuan! Baginda, mereka harus dihukum! Keluarga Lin harus dicabut kedudukannya!"

Kaisar mengangkat tangan, membungkamnya. Ia menatap Meiying sekali lagi. "Di mana Rouran yang sebenarnya?"

Pertanyaan itu menusuk tepat ke sasaran. Meiying menunduk sedikit. "Itulah yang ingin kami ketahui, Baginda. Surat yang kami terima darinya kemungkinan ditulis di bawah paksaan. Kami khawatir dia ditahan, diculik, atau dalam bahaya."

Kaisar mengernyit. "Siapa yang mengirim surat itu?"

"Kami belum tahu," jawab Wei Chen. "Tapi cap posnya berasal dari kota perbatasan utara — tempat yang jauh, terpencil, dan sering menjadi jalur penyusupan orang asing. Kami berniat pergi ke sana untuk mencarinya."

Pangeran Duan tersenyum licik. "Melarikan diri, bukan?"

"Kami akan kembali," jawab Meiying mantap. "Kami pergi untuk mencari kebenaran, bukan lari darinya."

Kaisar berdiri perlahan. Ruangan seketika hening kembali. "Aku tidak akan menghukum kalian hari ini. Bukan karena tidak ada kesalahan, tapi karena ada hal yang lebih mendesak. Jika Rouran diculik, dan seseorang menggunakan hal ini untuk mengancam keluarga Lin maupun Wei Chen... maka musuh itu bukan hanya bermaksud menjatuhkan kalian, melainkan mengacaukan ketertiban di ibu kota."

Ia menatap Pangeran Duan tajam. "Dan kau, Pangeran... bagaimana kau tahu wanita itu bukan Rouran? Siapa yang memberitahumu? Bukankah aneh kau memiliki informasi ini sebelum keluarga sendiri menyadarinya?"

Wajah Pangeran Duan memucat seketika. "Saya... ada orang yang melaporkan kepada saya..."

"Siapa orang itu?" tanya Kaisar tajam.

"Dia... datang diam-diam. Tidak menyebutkan namanya."

Kaisar mengangguk pelan, seakan sudah menduga jawabannya. "Baiklah. Wei Chen, Meiying — pergilah ke perbatasan utara. Cari Rouran. Cari siapa dalang di balik semua ini. Tapi ingat — kalian harus kembali dalam tiga bulan. Buktikan ketidakbersalahan kalian, dan selesaikan urusan ini. Jika tidak... maka hukum akan dijalankan tanpa ampun."

"Terima kasih, Baginda," keduanya menjawab serempak.

Saat mereka melangkah keluar aula, Meiying menoleh sekilas ke belakang. Pangeran Duan berdiri kaku, menatap mereka pergi dengan tatapan gelap dan penuh kebencian. Di tangan kanannya, tersembunyi di balik jubah, ia meremas selembar kertas kecil — pesan yang baru saja datang, bertuliskan: Mereka akan pergi. Siapkan rencana di perbatasan.

 

Di kereta pulang, suasana berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka.

"Kau tadi berani sekali," kata Wei Chen pelan, menggenggam tangan Meiying erat. "Mengaku begitu saja di depan semua orang..."

"Kau juga membela aku," jawabnya tersenyum tipis. "Di hadapan Kaisar, di hadapan semua pejabat..."

Wei Chen menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya jika aku kehilanganmu. Sekarang kita punya tugas — menyelamatkan Rouran, mengungkap siapa yang mengincar kita, dan membuktikan bahwa kita pantas berdiri di sini."

"Kita akan menemukannya," ucap Meiying teguh. "Dan siapa pun yang ada di balik ini... kita akan menghadapinya bersama."

Matahari mulai terbenam, menyinari jalan pulang dengan cahaya keemasan yang hangat. Perjalanan panjang mereka baru saja dimulai — ratusan li menuju perbatasan, tempat yang asing dan berbahaya, di mana musuh sudah menanti. Namun kali ini, mereka tidak berjalan sendirian.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!