NovelToon NovelToon
STORY/ The Wandering Witch Serena

STORY/ The Wandering Witch Serena

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: Rizz the writter

Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.

——Di dunia bernama Cardinal.

Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.

Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.

Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 13—

Bendera putih dengan pola silang yang dipadukan dengan tanda plus berwarna merah dikibarkan di setiap rumah.

Gracia mulai mendominasi perang.

Lima kota di bagian timur Asteria telah sepenuhnya dikuasai oleh Blok Gracia. Kabar kematian Allwin bahkan telah menyebar ke kota-kota yang masih bertahan, menghantam moral para prajurit yang tersisa.

Sebagian pasukan Asteria telah ditangkap dan ditahan bersama warga sipil.

Kini, mereka hanya memiliki satu kartu AS.

Kael.

Sementara itu—

—WHOOSHH!

Hembusan angin menyapu jalanan yang kosong.

Sosok Shindou bergerak di antara bangunan dengan kecepatan yang nyaris mustahil ditangkap mata.

Tidak ada suara langkah.

Tidak ada jejak yang jelas.

Bahkan aliran angin di sekitarnya seolah menyembunyikan keberadaannya.

Kael berdiri sendirian di tengah jalan.

Matanya bergerak perlahan.

Kanan.

Kiri.

Atas.

Tidak ada.

Namun Kael tidak bergerak.

Ia hanya menunggu.

𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨.

WHOOOSH!

Shindou muncul dari belakang.

Rule Breaker langsung mengarah ke leher Kael.

CLANG!

Kael menundukkan kepalanya.

Pedang itu melewati beberapa sentimeter dari wajahnya.

Shindou tidak berhenti.

Tubuhnya berputar.

Tebasan kedua menyusul dari arah berlawanan.

Kael mundur.

SRET!

Ujung pedang hanya mengenai kerah seragamnya.

Shindou kembali menghilang.

“Cepat.”

Kael akhirnya berbicara.

“Jadi ini kecepatan yang selama ini dibicarakan orang-orang.”

Tidak ada jawaban.

WHOOSH!

Shindou kembali muncul.

Kali ini dari atas.

Kael mengangkat tangan.

BRAK!

Udara di atasnya tiba-tiba memadat.

Tubuh Shindou terpental.

Ia berputar di udara dan mendarat di atas sebuah bangunan.

Kakinya menggeser beberapa meter sebelum berhenti.

Shindou menatap Kael.

“Manipulasi atom.”

Kael memasukkan tangan kanannya ke saku.

“Benar.”

“Jadi kau memang sudah mempelajari Rule Breaker.”

“Aku mempelajari penggunanya.”

Shindou menyeringai tipis.

“Bedanya?”

“Banyak.”

Kael mengangkat pandangannya.

“Rule Breaker mengandalkan keputusan cepat. Kau harus menentukan apa yang ingin kau putus sebelum menggunakannya.”

Shindou diam.

Kael melanjutkan.

“Kalau aku bisa membuatmu salah menentukan target, kemampuanmu tidak akan banyak berguna.”

“Sayangnya…”

Shindou menurunkan tubuhnya.

“…aku tidak datang untuk memberimu kesempatan memilih.”

WHOOSH!

Ia kembali menghilang.

Kael mengangkat tangannya.

Tidak ada apa-apa.

Kemudian—

SRET!

Sebuah luka tipis muncul di lengan Kael.

Shindou sudah berada jauh di belakangnya.

Kael melihat darah di lengannya.

“Jadi kau menggunakan angin untuk menyembunyikan perpindahanmu.”

“Bukan cuma itu.”

Shindou mengangkat Rule Breaker.

“Angin membantuku membaca gerakanmu juga.”

Kael menatapnya.

“Berarti…”

Gravitasi di sekitar Kael berubah.

“…aku hanya perlu menghilangkan angin.”

BOOM!

Tekanan besar menghantam seluruh jalan.

Tanah langsung retak.

Debu beterbangan.

Bangunan-bangunan di sekitar mereka bergetar.

Shindou yang sedang bergerak mendadak kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya jatuh ke tanah.

BRAK!

Tekanan gravitasi semakin berat.

Shindou mencoba mengangkat kepalanya.

“Ehhk…”

Tangannya menekan tanah.

Tidak bergerak.

“Gila…”

Kael berjalan mendekat.

“Lima menit yang lalu kau yakin bisa membunuhku.”

Shindou menyeringai.

“Masih yakin.”

“Dalam posisi seperti itu?”

“Justru sekarang.”

Kael berhenti.

“Apa maksudmu?”

Shindou menatap sesuatu di belakang Kael.

“Lihat sendiri.”

Kael mengernyit.

“Apa?”

Ia berbalik.

Kemudian—

Matanya terbelalak.

Seorang wanita berambut putih pendek berdiri beberapa meter di belakangnya.

Rambutnya sedikit berantakan.

Ia mengenakan pakaian putih panjang yang menjuntai hingga mata kaki.

Perawakannya menyerupai gadis berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun.

Wajahnya kosong.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kegembiraan.

Hanya senyum tipis yang membuat suasana di sekitarnya terasa semakin buruk.

Mata birunya tertuju pada Kael.

Kael membeku.

Tekanan gravitasi di sekitar Shindou menghilang.

Wanita itu melangkah maju.

Satu langkah.

Dua langkah.

Kael tidak bergerak.

“Kau…”

Wanita itu memiringkan kepala.

“Masih mengingatku?”

Kael mengepalkan tangannya.

“Bagaimana kau bisa keluar?”

“Pertanyaan yang lebih tepat…”

Senyumnya sedikit melebar.

“…adalah siapa yang membebaskanku.”

Kael menatapnya tajam.

“Siapa?”

“Morphegor.”

Hening.

Ekspresi Kael berubah.

“Morphegor…”

“Dia bilang dunia sedang membosankan.”

Wanita itu berhenti di depan Kael.

“Jadi aku pikir, mungkin aku bisa membuatnya sedikit lebih menarik.”

Kael menarik napas.

“Delapan tahun.”

Ia menatap wanita itu.

“Selama delapan tahun segel itu tidak pernah melemah.”

“Aku tahu.”

“Tidak mungkin kau menghancurkannya sendiri.”

“Aku juga tahu.”

Kael mengangkat tangannya.

“Berarti Morphegor menggunakan sesuatu untuk—”

WHOOOOSH!

Sebuah peluru energi merah melesat dari ujung jarinya.

Wanita itu tidak bergerak.

Peluru tersebut semakin mendekat.

Lalu—

Klik.

Serangan itu menghilang.

Tidak meledak.

Tidak terpental.

Jalurnya seperti tidak pernah ada.

Kael terdiam.

Wanita itu tersenyum.

“Kau masih suka menyerang lebih dulu.”

Kael menatap tangannya.

𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘱𝘰𝘳𝘵𝘢𝘴𝘪.

𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯.

𝘈𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘰𝘮.

Shindou berdiri di belakangnya.

“Sekarang kau mengerti.”

Kael meliriknya.

“Kalian bekerja sama?”

“Aku hanya memanfaatkan kesempatan.”

Wanita itu menatap Shindou.

“Dan aku memiliki urusan sendiri dengannya.”

Kael kembali menatap mereka.

“Jadi kalian berdua tidak saling percaya.”

“Tidak.”

Jawaban wanita itu langsung.

Shindou juga tidak membantah.

Kael tersenyum tipis.

“Itu bagus.”

Shindou mengerutkan kening.

“Bagus?”

“Berarti kalian punya batas.”

Kael merendahkan tubuhnya.

“Dan aku hanya perlu menemukan batas itu.”

WHOOSH!

Shindou langsung menyerang.

Rule Breaker mengarah ke bahu.

Kael menghindar.

SRET!

Serangan kedua.

Kael menangkis.

CLANG!

Serangan ketiga datang dari belakang.

Kael memutar tubuh.

Namun arah tebasan berubah di tengah jalan.

SRET!

Seragam Kael robek.

Ia mundur.

Shindou mengejar.

“Jangan beri dia waktu.”

“Aku tahu.”

Wanita itu mengangkat satu tangan.

Kael langsung menyadari sesuatu.

𝘚𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘰𝘬.

Kael melompat.

Tebasan Shindou lewat di bawah kakinya.

Kael kemudian menendang udara.

BOOM!

Tekanan udara menghantam Shindou.

Tetapi tubuhnya justru terdorong ke arah yang berbeda dari perkiraan Kael.

Kael mendarat.

“Jadi kau tidak mengubah gerakanku.”

Wanita itu diam.

“Kau mengubah hasil akhirnya.”

Senyum tipis kembali muncul.

“Lebih dekat.”

Kael mengangkat tangan.

Gravitasi di sekitar Shindou meningkat.

Shindou kembali tertekan.

Namun wanita itu hanya menggeser jarinya sedikit.

Tekanan gravitasi berpindah.

Bukan hilang.

Hanya titik terkuatnya bergeser beberapa meter.

Shindou berhasil keluar.

Kael melihatnya.

𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘨𝘳𝘢𝘷𝘪𝘵𝘢𝘴𝘪𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩𝘪.

Shindou kembali menerjang.

“Kael!”

Kael menangkis.

“Bicara.”

“Kau terlalu fokus padanya.”

“Tidak.”

Kael memblokir serangan.

“Aku fokus padamu.”

Shindou memutar pedang.

“Lalu kenapa aku masih hidup?”

“Karena aku belum menemukan alasan untuk membunuhmu.”

Shindou tertawa pendek.

“Kalau begitu, cari cepat.”

SRET!

Kael menghindar.

Shindou terus menekan.

Satu serangan.

Dua.

Tiga.

Tidak ada pola yang sama.

Kael terus mundur.

Wanita itu tidak menyerang.

Ia hanya mengamati.

Dan justru itulah yang membuat Kael semakin waspada.

“Kenapa kau tidak membantu?”

Wanita itu menjawab tanpa ekspresi.

“Aku membantu.”

“Tidak terlihat.”

“Aku membuatnya tidak mati.”

Shindou melirik sebentar.

“Jangan terlalu banyak bicara.”

“Aku sedang berbicara dengannya.”

“Dia musuhmu.”

“Dia juga musuhmu.”

Shindou mendecakkan lidah.

Kael menangkap percakapan itu.

𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶 𝘚𝘩𝘪𝘯𝘥𝘰𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢.

Kael tiba-tiba berhenti mundur.

Shindou langsung menyerang.

Kael tidak menghindar.

Ia membiarkan Rule Breaker mendekat.

Lalu—

BOOM!

Gravitasi meledak dari tubuhnya.

Shindou terpental.

Kael mengangkat kedua tangan.

Ratusan pecahan batu di sekitar medan perang terangkat.

Wanita itu memperhatikan.

Kael tidak memberikan target.

Pecahan tersebut berputar di udara.

Kemudian jatuh.

Bukan menuju mereka.

Ke segala arah.

Bangunan runtuh.

Debu menutupi pandangan.

Suara benturan memenuhi jalan.

Shindou kehilangan pandangan terhadap Kael.

“Ke mana dia?”

Wanita itu menjawab.

“Tidak tahu.”

Shindou menatapnya.

“Kau tidak tahu?”

“Aku tidak melihat semua kemungkinan.”

“Kalau begitu bantu aku.”

“Aku tidak suka diperintah.”

Shindou menghela napas.

“Bukan waktunya.”

Dari balik debu—

“Justru sekarang.”

Kael muncul.

Tangannya sudah berada di depan Shindou.

BOOM!

Tekanan gravitasi menghantam.

Shindou terlempar menembus dinding bangunan.

Kael tidak mengejar.

Ia langsung berbalik kepada wanita itu.

“Sekarang aku tahu.”

Wanita itu diam.

“Kau tidak bisa mengubah masa lalu.”

Tidak ada respons.

“Kau juga tidak bisa menciptakan kemungkinan yang tidak pernah ada.”

Kael mengangkat tangannya.

“Yang kau lakukan hanyalah memilih salah satu kemungkinan.”

Wanita itu tersenyum.

“Lalu?”

“Berarti aku hanya perlu membuat semua pilihanmu buruk.”

Kael menghentakkan kaki.

BOOM!

Gravitasi kembali aktif.

Kali ini seluruh area terkena.

Bangunan.

Tanah.

Udara.

Bahkan tubuh Kael sendiri.

Ia sengaja mempertahankan medan tersebut.

Wanita itu akhirnya bergerak.

“Ini akan menyakitimu juga.”

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

Kael menatapnya.

“Karena kau bukan satu-satunya yang bisa mempertaruhkan sesuatu.”

Shindou muncul dari reruntuhan.

Wajahnya serius.

“Dia mencoba mengikat seluruh area.”

Wanita itu mengangguk.

“Benar.”

“Berarti dia tidak bisa bergerak bebas.”

“Benar.”

Shindou mengangkat Rule Breaker.

“Kalau begitu kita selesaikan sekarang.”

Ia melesat.

WHOOSH!

Kael langsung menyambutnya.

CLANG!

Keduanya bertarung dalam jarak dekat.

Shindou menyerang tanpa jeda.

Kael memblokir dengan udara padat.

Satu serangan berhasil lolos.

SRET!

Luka tipis muncul di bahu Kael.

Kael membalas dengan gravitasi.

Shindou terpaksa melompat.

Wanita itu mengangkat tangannya.

Arah tubuh Shindou berubah.

Ia mendarat tepat di belakang Kael.

Rule Breaker terangkat.

“Kael!”

Kael berbalik.

Terlambat.

SRET!

Tebasan mengenai dada Kael.

Darah mengalir.

Kael mundur beberapa langkah.

Shindou mengejar.

Namun—

“Berhenti.”

Suara wanita itu membuat Shindou berhenti.

Kael masih berdiri.

Ia menekan luka di dadanya.

Napasnya berat.

Tetapi ia tersenyum.

“Sekarang aku mengerti.”

Shindou mengangkat pedangnya.

“Apa?”

Kael menatap wanita itu.

“Dia harus memilih.”

Wanita itu diam.

“Setiap kali aku membuat situasi menjadi terlalu kompleks, dia tidak bisa mengendalikan semuanya sekaligus.”

Kael menatap Shindou.

“Dan kau adalah satu-satunya yang benar-benar dia lindungi.”

Shindou mengerutkan kening.

“Jangan salah paham.”

“Aku tidak salah.”

Kael mengangkat tangan.

Gravitasi tiba-tiba terkonsentrasi pada Shindou.

Wanita itu langsung bereaksi.

“Aku tahu.”

Kael tersenyum.

“Terima kasih.”

BOOM!

Tekanan gravitasi menghantam Shindou.

Wanita itu memanipulasi kemungkinan.

Shindou selamat.

Tetapi pada saat yang sama, Kael sudah bergerak.

Ia melesat menuju wanita itu.

Tidak ada serangan.

Tidak ada proyektil.

Hanya tubuhnya.

Wanita itu mencoba mengubah jalurnya.

Kael tetap maju.

Satu langkah.

Dua.

Tiga.

Jarak mereka semakin dekat.

“Apa yang kau lakukan?”

Kael menjawab.

“Memaksamu memilih.”

Wanita itu mengangkat tangannya.

Kael tiba-tiba tersandung.

Jalur geraknya berubah.

Namun Kael sudah memperkirakan itu.

Ia jatuh dengan sengaja.

Tangannya menghantam tanah.

BOOM!

Gravitasi seluruh bangunan di sekitar mereka runtuh ke satu titik.

Wanita itu menatap ke atas.

Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.

“Kael…”

“Shindou!”

Shindou langsung mengerti.

Ia bergerak.

WHOOSH!

Rule Breaker melesat.

Wanita itu mengubah kemungkinan.

Shindou seharusnya meleset.

Namun Kael justru menarik tubuh Shindou menggunakan gravitasi.

Arah serangan berubah.

Wanita itu mencoba mengubahnya lagi.

Terlalu banyak kemungkinan.

Terlalu cepat.

Terlalu banyak variabel.

Shindou muncul di depan Kael.

Pedangnya sudah berada di posisi yang tepat.

Kael menatapnya.

“Sekarang.”

Shindou mengayunkan Rule Breaker.

SRET!

Tebasan mengenai dada Kael.

Kael terdiam.

Shindou membeku.

“Kael…”

Kael masih berdiri.

Matanya menatap Shindou.

Kemudian ia melihat wanita berambut putih itu.

“Kalian…”

Napasnya berat.

“…memang pasangan yang merepotkan.”

Shindou menurunkan pedangnya.

“Aku tidak akan menghiburmu.”

Kael tertawa kecil.

“Aku tidak meminta.”

Tubuh Kael mulai kehilangan tenaga.

Ia berlutut.

THUD.

Gravitasi yang mengelilingi medan perang perlahan menghilang.

Reruntuhan jatuh ke tanah.

Debu memenuhi udara.

Kael mencoba berdiri.

Tidak berhasil.

Ia menatap langit untuk terakhir kalinya.

“Allwin…”

Tidak ada jawaban.

Kael menutup matanya.

Tubuhnya akhirnya roboh.

THUD.

Tidak bergerak lagi.

Shindou berdiri beberapa meter darinya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Kemudian wanita berambut putih berjalan mendekati tubuh Kael.

Ia menatapnya.

“Dia tahu dia akan kalah.”

Shindou menjawab.

“Ya.”

“Kenapa masih bertarung?”

Shindou terdiam.

Kemudian ia melihat bendera Asteria yang masih berkibar jauh di antara reruntuhan.

“Karena kalau dia mundur…”

Shindou menggenggam Rule Breaker.

“…orang-orang di belakangnya yang akan mati.”

Wanita itu tidak menjawab.

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

“Menarik.”

Shindou berjalan melewati tubuh Kael.

“Perang belum selesai.”

Wanita itu mengikuti dari belakang.

Di kejauhan, bendera putih dengan tanda silang merah masih memenuhi kota.

Namun hari itu, Asteria kehilangan satu-satunya orang yang masih mampu berdiri di antara mereka dan kekalahan.

Kael telah mati.

Dan perang baru saja memasuki babak yang jauh lebih buruk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!