Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghapus Ingatan
Malam itu, tidur Ayara terasa begitu gelisah dan jauh dari kata nyaman. Di dalam alam bawah sadarnya, sebuah mimpi buruk kembali menghantam keras batinnya. Ayara melihat jelas wujud dirinya sendiri di masa depan yang tengah mengandung besar dengan perut buncit tanda hamil tua. Namun, tragedi mengerikan mendadak terjadi, ia mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah.
Dalam mimpi itu, Ayara melihat Guzelar datang dengan air mata berlinang, histeris menangisi kondisinya di rumah sakit. Yang lebih membuat darahnya mendidih, terungkap bahwa pelaku utama di balik kecelakaan maut itu adalah Duanda dan sang ibu tiri, Vina. Akibat insiden keji tersebut, keduanya langsung dijebloskan ke penjara atas kasus percobaan pembunuhan berencana, sementara Ayara harus menanggung takdir pahit kehilangan salah satu dari bayi kembar yang dikandungnya.
Ayara terbangun secara mendadak dari tidurnya. Ia duduk dengan napas terengah-engah dan dada naik turun menahan sisa rasa horor. Peluh dingin membasahi pelipisnya. Sembari mencoba menormalkan detak jantungnya, matanya melirik ke arah samping menemukan Guzelar yang tengah tertidur pulas dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Sebenarnya... mimpi mengerikan apa lagi yang baru saja kulihat ini?" gumam Ayara frustasi di dalam gelapnya kamar, mencengkeram kuat seprai tempat tidur.
"Atau jangan-jangan... ini bukan sekadar mimpi? Tapi ini adalah potongan ingatan asli dari diriku di masa depan?" tanyanya ragu-ragu, diliputi rasa ngeri yang teramat sangat.
"Jika memang benar begitu... apa artinya di masa depan aku sempat hamil anak kembar? Jadi... seharusnya aku memiliki dua orang anak, bukan cuma Gabriel?!" ucapnya syok ketakutan.
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar liar di kepalanya. Mengapa di ingatannya saat ini tidak ada satu pun memori tentang masa kehamilannya yang membawa takdir seberat itu? Ayara merasa frustasi luar biasa dengan jalan hidupnya yang terasa begitu aneh dan tidak masuk akal, seolah semesta tengah sengaja mempermainkan kewarasannya.
"Umm... Kenapa kamu sudah bangun, Sayang? Ada apa? Apa ada yang sakit?" tanya suara bariton yang serak karena baru bangun tidur. Guzelar perlahan bangkit dari posisinya, duduk bersandar di kepala ranjang dengan sorot mata penuh kekhawatiran yang kentara.
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Ayara langsung menoleh. Ia menatap Guzelar lekat-lekat dengan tatapan setajam silet.
Guzelar mengerjap bingung mendapati tatapan mengintimidasi dari istrinya. "Ada apa, Sayang? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Guzelar hati-hati.
"Katakan padaku dengan jujur sekarang! Apa aku... apa aku seharusnya melahirkan bayi kembar?!" tembak Ayara langsung pada intinya dengan nada suara dingin dan menuntut.
Pertanyaan telak itu sukses membuat Guzelar terkejut bukan main. Bola matanya melebar sepersekian detik, sebelum ia berusaha menguasai ekspresinya kembali.
"Tidak, Sayang... Mengapa kamu tiba-tiba bertanya hal aneh seperti itu?" sangkal Guzelar, mencoba memasang wajah setenang mungkin.
"Jangan coba-coba berbohong padaku, Guzelar! Kalau sampai aku tahu kamu menutup-nutupi sesuatu, awas saja!" ancam Ayara tajam, menunjuk tepat di depan wajah suaminya.
Guzelar menghela napas panjang, sorot matanya menyiratkan beban berat. "Aku tidak sedang berbohong padamu, Sayang. Lagipula, kenapa kamu jadi bersikap aneh dan penuh kecurigaan seperti ini semenjak aku pulang dari luar kota? Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Guzelar lembut, mencoba meraih tangan istrinya untuk ditenangkan.
Ayara dengan cepat menepis uluran tangan itu. "Jangan sentuh aku! Aku sudah tahu kalau kamu pasti menutupi banyak hal besar dariku!" tolak Ayara ketus.
Mendapat penolakan itu, Guzelar menundukkan kepalanya dalam-dalam. Raut wajahnya terlihat sangat terluka dan sedih.
"Apa... apa kamu sudah mulai mengingat semuanya?" tanya Guzelar pelan hampir seperti berbisik.
"Kalau iya, kenapa memangnya?!" desak Ayara tajam, meskipun di dalam lubuk hatinya ia sendiri masih meraba-raba apa sebenarnya maksud dari ucapan suaminya itu. Yang ia tahu, ia harus mendesak Guzelar sampai kejujuran itu terbongkar.
Guzelar mendongak, menatap Ayara dengan mata berkaca-kaca. "Tidak bisakah kamu melupakan semua itu, Sayang? Ingatan-ingatan itu hanya akan menyiksamu habis-habisan... Aku nyaris kehilangan nyawamu waktu itu!" ucap Guzelar tanpa sadar kelepasan bicara, air matanya menetes jatuh di pipinya.
Ayara tertegun. "Kehilangan nyawaku? Jadi mimpi itu... kecelakaan itu... semuanya benar terjadi?!" kejar Ayara tidak sabar.
"Aku melakukan semua itu murni demi kebaikanmu, Sayang..." ucap Guzelar lirih, menatap istrinya dengan tatapan penuh kepedihan.
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Malam sudah semakin larut, mari kita tidur lagi, ya?" pinta Guzelar, merentangkan tangan hendak mendekap istrinya.
"Tidur? Kamu menyuruhku tidur setelah mendengar semua ini?!" ledak Ayara marah.
"Katakan dengan jujur padaku! Apa sebenarnya yang sudah kamu lakukan padaku selama ini?!" tuntut Ayara, suaminya terus saja mengelak.
Guzelar terlihat dilanda keraguan hebat. Pria itu menghela napas panjang berulang-ulang kali, bahunya merosot turun seolah ia mati-matian menolak untuk membuka kotak Pandora yang selama ini terkunci rapat.
"Guzelar! Jawab aku!" panggil Ayara dengan nada penuh penegasan.
Guzelar menatap istrinya lama, sebelum akhirnya berucap dengan suara serak. "Maafkan aku, Sayang... Kita tidur saja sekarang, ya," putus Guzelar sepihak.
Tanpa mendengarkan protes lanjutan dari istrinya, Guzelar dengan gerakan cepat namun tetap berhati-hati membawa tubuh Ayara ke dalam dekapannya, menarik wanita itu kepelukannya dengan paksa namun penuh kelembutan.
Ayara sempat berniat meronta dan melayangkan protes keras. Namun, anehnya, tubuhnya seolah memiliki memori otot tersendiri. Begitu ia merasakan kehangatan dan deru napas suaminya yang menenangkan, perlawanan Ayara perlahan-lahan melemah. Tanpa sadar, ketegangan di urat sarafnya menguap, dan dalam hitungan menit, napas Ayara kembali teratur, membawanya kembali terlelap pulas dalam dekapan erat sang suami.
Mendapati istrinya yang kini sudah benar-benar tertidur pulas di pelukannya, Guzelar menunduk. Ia menatap wajah damai Ayara dengan sorot mata yang dipenuhi rasa sendu yang teramat sangat.
"Maafkan aku, Sayang..." bisik Guzelar lirih di kegelapan malam, mengecup lembut kening istrinya penuh rasa bersalah.
"Aku terpaksa... Aku terpaksa melakukan tindakan ekstrem itu untuk menghapus seluruh ingatan buruk mu yang menyiksa, supaya kamu bisa hidup tenang tanpa rasa sakit..." gumamnya menutup malam dengan dekapannya yang semakin erat.
Bersambung...
What? Hapus ingatan? Bingung banget kan kalian, sama author juga bingung.
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama