Di ulang tahun pernikahan nya yang ke sepuluh, Sarah di minta oleh ibu mertua nya menyusul Gibran yang tinggal di tanah perantauan.
Tapi alangkah terkejut nya Sarah, dia menemukan suami nya sudah menjadi suami dari wanita lain. Bahkan mereka sudah memiliki anak berusia 7 tahun. Hal yang lebih mengejutkan, setiap tahun mertua nya datang ke sana mengunjungi mereka serta memberikan banyak hadiah.
Merasa di khianati, Sarah memutuskan kembali ke kota dan memilih untuk berpisah. Tapi setiba nya di rumah, sebuah fakta baru terungkap. Selama ini suami nya membohongi ibu nya sendiri dan menjual nama Sarah demi wanita itu.
Gibran, suami nya Sarah di dukung oleh ayah nya dan juga wanita yang menjadi selingkuhan dari Ayah nya. Ibu mertua nya mendukung Sarah dan membalas perbuatan anak dan suami nya, 2 orang yang berusaha merampas semua harta nya. Tepat di hari Gibran melakukan resepsi mewah, Ibu nya dan Sarah datang memberikan kejutan yang tak terduga untuk Gibran dan juga ayah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
Dari dalam kamar tempat nya beristirahat, Sarah mendengar suara orang tertawa di luar. Dengan perlahan Sarah membuka pintu kamar sedikit, dan dia melihat Santi sudah pulang. Seorang anak laki - laki yang usia nya kira - kira 7 tahun tampak sedang bermain bersama nya.
"Apakah itu anak nya Santi dan mas Gibran?" Sarah bertanya pada diri nya sendiri.
Sarah memutuskan untuk keluar, dia sudah berada di sini jadi dia harus tahu semua hal yang selama ini di sembunyikan oleh suami nya.
"Hai,,,!" Sapa Sarah pada anak laki - laki itu.
"Kevin, ini tante Sarah. Dia dari kota, dari kantor tempat Papa mu bekerja!" Santi memperkenalkan Sarah pada anak nya.
"Saya Kevin, tante!" Bocah kecil itu mendekati Sarah.
"Anak yang pintar!" Ujar Sarah sambil mengelus kepala Kevin.
Kevin memainkan mainan robot- robotan milik nya, dia tampak sangat senang.
"Mainan bagus banget!" Puji Sarah.
"Iya, ini adalah mainan yang di belikan oleh mertua ku, nenek nya Kevin!" Jawab Santi dengan bangga.
"Mertua?" Tanya Sarah dengab heran.
"Iya, setiap tahun kedua mertua ku selalu datang kemari menjenguk kami. Tidak lupa dia selalu membelikan oleh - oleh untuk Kevin dan juga keluarga ku yang lain nya!" Jelas Santi lagi.
Seketika darah Sarah mendidih, selama ini Bi Meri sering mengeluh sakit - sakitan dan Sarah lah yang merawat nya. Tapi kenyataan nya, diam - diam mertua nya juga ikut mengkhianati nya.
'Ibu, selama ini aku merawat mu dengan tulus. Tapi kau diam - diam mendukung putra mu untuk mengkhianati ku. Kalian sangat keterlaluan!' Batin Sarah di dalam hati sambil mengepalkan tangan nya.
"Nyonya Santi, ini ada makanan kiriman dari Tuan Gibran!" Tiba - tiba Sri datang membawa kotak makanan dan memberikan nya pada Santi.
"Mas Gibran begitu baik pada ku, walaupun saat ini dia sedang membawa ibu ku ke rumah sakit kota, tapi dia tetap mengingat makanan kesukaan ku!" Santi berkata dengan senyum merekah.
"Tuan memang luar biasa, Nyonya. Di mana pun dia berada, dia tidak pernah melupakan Nyonya. Dia bahkan tidak pernah berani membantah perintah Nyonya!" Sri memuji keberuntungan majikan nya.
"Iya Sri, kamu benar sekali. Aku beruntung sekali bisa memiliki suami sebaik mas Gibran!" Jawab Santi dengan bangga.
"Semua orang di kampung ini merasa iri dengan Nyonya Santi, karena memiliki suami sebaik tuan Gibran. Tuan Gibran bahkan selalu menuruti perintah dari Nyonya, tidak pernah sekalipun dia berkata kasar apalagi sampai menyakiti Nyonya!" Kembali Sri memuji kebaikan Gibran.
Ingatan Sarah melayang pada beberapa tahun yang lalu saat Sarah sedang sakit, dia bahkan sengaja memberikan Sarah udang. Padahal jelas - jelas dia tahu bahwa Sarah alergi makan udang.
'Mas, kau bahkan tidak pernah mau tahu apa itu makanan kesukaan ku. Tapi di sini, kau malah menjadi laki - laki baik untuk wanita lain!' Batin Sarah di dalam hati.
"Ma, telepon Papa. Belikan aku coklat kesukaan ku!" Kevin berkata dengan manja.
"Iya sayang, Mama akan telepon Papa!" Jawab Santi.
Sangi segera mengambil ponsel nya, dia kembali menghubungi sang suami.
"Hallo sayang, jam berapa kau pulang nanti?" Tanya Santi pada Gibran saat Gibran menjawab panggilan telepon dari nya.
"Sayang, sora nanti aku baru bisa pulang. Saat ini aku sedang mengantri obat ibu, nanti malam aku akan tiba di rumah!" Jawab Gibran dari seberang sana.
"Mas, Kevin minta di belikan coklat kesukaan nya!" Santi berkata pada Gibran.
"Iya sayang, nanti aku pasti beliin!" Jawab Gibran.
"Papa, kapan Papa pulang? Jangan lupa belikan aku coklat yang banyak, cepetan pulang. Dia rumah ada tante cantik!" Kevin berkata pada Papa nya.
"Berikan telepon nya pada Mama sayang!" Gibran berkata pada anak nya.
"Ini Ma, Papa mau bicara sama Mama!" Kevin memberikan ponsel itu pada Santi.
"Ada apa sayang?" Tanya Santi.
"Sayang, siapa tamu yang di maksud oleh Kevin?" Tanya Gibran dengan penasaran.
"Orang dari kantor pusat kamu, mas!" Jawab Santi.
"Ya udah, minta dia menunggu! Nanti malam mas akan tiba di rumah!" Jawab Gibran lagi.
Klik.
Panggilan telepon pun terputus, Santi meletakkan kembali telepon nya di atas meja.
"Santi, boleh aku bertanya pada mu?" Tanya Sarah.
"Tanya saja mbak!" Jawab Santi masih sambil memamerkan senyuman nya.
"Sejak kapan kalian menikah?" Tanya Sarah.
"Sejak 8 tahun yang lalu mbak, sekarang anak kami usia nya sudah 7 tahun!" Jawab Santi.
"Apakah kalian menikah resmi?" Tanya Sarah penuh selidik.
"Tidak mbak, kami hanya menikah secara siri. Karena mas Gibran bilang, kantor tidak bisa memberikan izin pada kami untuk menikah secara resmi!" Santi menjelaskan alasan nya.
"Kenapa bisa seperti itu?" Kembali Sarah bertanya.
"Entah lah mbak, aku juga tidak tahu. Karena aku hanya lah gadis kampung yang tidak mengerti apa - apa!" Jawab Santi lagi.
'Jangan - jangan Santi juga di bohongi oleh mas Gibran, dia mengaku bujangan dan tidak memiliki istri. Kalau begitu kasihan Santi, dia hanya lah wanita kampung yang lugu dan polos!' Guman Sarah di dalam hati.
"Apakah saat menikah dengan Gibran, kau tidak tahu dia sudah memiliki istri sebelum nya atau tidak?" Tanya Sarah lagi.
"Mbak, aku tidak perduli mas Gibran memiliki istri sebelum aku atau tidak. Yang aku tahu, mas Gibran itu begitu baik dan mengusahakan aku segala nya. Bahkan mas Gibran hanya pulang satu kali dalam setahun hanya untuk menjenguk orang tua nya!" Jelas Santi lagi.
Sarah terkejut mendengar jawaban Santi, itu arti nya dia sudah salah menilai Santi. Santi hukan lah wanita kampung yang polos, dia adalah wanita licik yang haus akan harta dan uang. Bukti nya dia tidak perduli walaupun Gibran memiliki istri sah, demi uang dan harta dia rela menjadi istri siri pria beristri.
"Bagai mana jika istri sah nya menuntut mu?" Tanya Sarah dengan geram.
"Aku yakin sekali, mas Gibran pasti akan melindungi ku dan anak nya. Dia tidak mungkin membiarkan istri sah nya menindas kami, bukti nya dia membangun rumah ini untuk ku dan keluarga ku. Untuk membangun rumah ini, membutuhkan biaya hingga milyaran rupiah!" Jawab Santi dengan rasa percaya diri yang tinggi.
Sarah teringat akan uang nya, tahun lalu Gibran pernah mengambil uang dari tabungan pribadi Sarah sebesar 150 juta. Dan Gibran beralasan uang itu untuk membantu biaya pernikahan adik sepupu nya, kini Sarah tahu kemana uang itu di gunakan.
'Mas Gibran, kau harus membayar semua nya. Apa yang kau ambil dari ku, hak - hak ku yang tidak pernah kau berikan selama beberap tahun terakhir ini. Aku akan mengambil semua nya kembali!' Batin Sarah di dalam hati.
Sudah 4 tahun Gibran tidak pernah mengirimkan uang lagi pada Sarah, dan kini Sarah tahu alasan nya. Sarah sudah bertekad, dia tidak akan diam begitu saja. Dia akan membalas perbuatan Gibran dengan balasan yang setimpal.
gugat cerai saja Pak Burhan. Depan tanpa sepeserpun di kasih harta. Hidup numpang kok ya banyak tingkah