Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Setibanya di mansion, Zela langsung berjalan cepat menuju kamarnya tanpa menyapa satu pun pelayan yang membungkuk padanya. Ia menutup pintu rapat-rapt, melepas mantel tebalnya, dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur berukuran king-size yang dingin.
Keheningan kamar yang luas itu seolah makin menghimpit dadanya. Zela menerawang menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran klasik.
Seharusnya... gak ada nama Clarissa di plot novel ini, batin Zela bingung, memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Gue ingat betul jalan cerita awal yang gue baca. Peran antagonistis Zelara yang lama emang bikin kekacauan, tapi gak pernah ada figur wanita lain yang dekat sama Bashkar sampai bikin staf kantor berbisik-bisik kayak tadi. Apa alur dunia ini berubah gara-gara tindakan gue? Apa hadirnya gue yang berusaha mengubah nasib justru ngebuka pintu buat karakter lain masuk?
Zela memiringkan tubuhnya, memeluk bantal erat-erat seraya menghembuskan napas panjang.
Atau... apa gue yang salah ambil jalan ya? bisiknya dalam hati dengan senyum samar yang agak pahit. Kenapa gue harus bersusah payah mencairkan es batu sekeras Bashkar kalau pada akhirnya hati pria itu emang udah diisi orang lain? Apa Harusnya dari awal gue fokus cari cara buat kabur aja ketimbang pura-pura jadi istri manis yang peduli?
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa henti di kepalanya, memicu rasa lelah yang amat sangat. Namun, saat mata Zela bergulir ke sudut meja rias, pandangannya tak sengaja tertambat pada sebuah kalender meja kecil bernuansa emas.
Zela mengerutkan kening, bangkit duduk lalu mendekati kalender itu. Jemari lentiknya menyusuri deretan angka hingga berhenti tepat pada tanggal esok hari 26 September.
Mata bulatnya seketika membelalak pelan.
Tunggu... tanggal 26 September?! Ini kan hari ulang tahun Bashkar!
Rasa gundah dan sesak akibat nama Clarissa yang menggelayuti pikirannya mendadak teralih secara konstan. Zela menatap angka itu lekat-lekat. Dalam cerita novel, Bashkar Deluca tidak pernah merayakan hari kelahirannya. Masa lalunya yang kelam dan keras di dunia underworld membuat pria itu menganggap hari lahir tak lebih dari sekadar pengingat bertambahnya musuh dan tanggung jawab berdarah.
Zela menghembuskan napas pelan, mengusap dadanya. Udah lah... terlepas dari siapa itu Clarissa atau apa status gue di mata dia nanti, setidaknya besok gue mau ngasih sedikit kehangatan yang belum pernah dia dapat. Sekali ini aja.
Sebuah tekad baru mendadak meletup di dadanya. Zela tersenyum tipis, bertekad untuk menyiapkan sebuah kejutan ulang tahun yang berkesan.
Keesokan paginya, ketika fajar bahkan belum sepenuhnya memancarkan sinar hangat dan salju masih turun tipis di luar, Zela sudah berada di dapur utama mansion.
Dengan rambut yang diikat asal namun cantik dan celemek putih melilit di pinggangnya, Zela mulai menyibukkan diri. Ia menolak bantuan dari koki pribadi mansion yang sempat panik melihat Nyonya muda mereka menguasai area dapur subuh-subuh.
"Nyonya, biarlah kami yang membuatkan kue untuk Tuan Bashkar..." ujar kepala koki dengan nada sangat segan dan khawatir.
"Enggak mau, Pak! Ini harus buatan tanganku sendiri," tolak Zela tegas namun ramah, mengulas senyum manis. "Nanti rasanya beda kalau dibikin orang lain. Bapak dan tim cukup bantu siapkan bahan-bahannya saja ya!"
Zela mulai menakar tepung terigu, mengocok telur, mentega, dan gula dengan penuh ketelitian. Ia memilih membuat Dark Chocolate Lava Cake—kue cokelat pekat berkualitas tinggi dengan lelehan cokelat hangat di dalamnya, racikan yang tidak terlalu manis namun sangat kaya rasa, sengaja disesuaikan dengan lidah Bashkar yang tidak menyukai makanan terlalu manis.
Hampir tiga jam Zela berkutat di dapur. Tangannya sempat terciprat adonan, pipinya ternoda tipis oleh sisa tepung putih, dan lengannya pegal akibat mengocok adonan secara manual demi mendapatkan tekstur yang sempurna. Namun, melihat kue cokelat yang mengembang cantik dan beraroma harum manis saat dikeluarkan dari oven, seluruh rasa lelahnya menguap begitu saja.
Zela mengoleskan ganache cokelat hitam mengkilap dipermukaannya dengan sangat hati-hati, memolesnya hingga tampak elegan dan mewah.
Setelah kue selesai dan ditata di atas piring porselen putih yang anggun, Zela tidak berhenti di situ. Ia bergegas naik ke lantai dua menuju kamar pribadi Bashkar pria itu kebetulan sudah berangkat sangat pagi ke markas bawah tanah untuk urusan bisnis darurat sebelum Zela sempat bangun.
Menggunakan kunci cadangan yang ia dapat dari pelayan senior, Zela melangkah masuk ke dalam kamar Bashkar yang bernuansa gelap dan maskulin.
"Nyonya... apakah tidak apa-apa menghias kamar Tuan tanpa izin beliau?" bisik seorang pelayan wanita yang mengekor di belakangnya membawa kotak dekorasi dengan wajah pucat ketakutan. "Tuan Bashkar sangat menjaga privasi ruangannya. Beliau bisa sangat murka jika ada barang yang berubah posisi..."
"Tenang aja, aku yang bakal bertanggung jawab penuh kalau nanti kena omel," sahut Zela santai seraya mengedipkan sebelah matanya, walau di dalam hati ia juga sedikit berdebar membayangkan amukan Bashkar. "Lagian ini kan hari ulang tahunnya, masa kamarnya kaku dan suram terus kayak gua hantu?"
Dilihat dan disaksikan oleh beberapa pelayan yang berdiri cemas di ambang pintu, Zela mulai menata hiasan secara mandiri dan penuh kehati-hatian:
Ia tidak menggunakan dekorasi meriah berlebihan, melainkan menyusun lilin-lilin aromaterapi beraroma kayu cendana dan vanilla bourbon di atas meja sisi kamar, menciptakan pendar cahaya remang yang sangat hangat dan menenangkan.
Ia meletakkan vas kristal berisi beberapa tangkai bunga mawar putih segar di samping tempat tidur untuk memotong kesan kaku ruangan.
Di meja tengah ruangan, Zela meletakkan kue cokelat buatannya, lengkap dengan sebuah lilin kecil angka dan korek api yang siap disulut.
* Tak lupa, sebuah kartu ucapan kecil buatan tangannya sendiri diselipkan tepat di samping piring kue.
Setelah hampir satu jam merapikan setiap sudut hingga kamar tegap bernuansa dingin itu kini berubah menjadi sangat hangat, remang, dan romantis, Zela berdiri mengusap peluh di dahinya. Ia menyunggingkan senyum puas menatap hasil karyanya.
"Nah, begini kan baru kelihatan hangat!" gumam Zela penuh harap. Kini, yang perlu ia lakukan hanyalah menunggu sang pemilik kamar pulang untuk menyambut kejutan kecil ini.