NovelToon NovelToon
Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Menolak Sistem, Kunikahi Villain

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: AraLum

Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.

Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.

Rania menolak.

Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.

Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.

Sistem ingin Rania mengikuti takdir.

Rania justru memilih menolaknya.

Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22— Gema yang Terputus

Bab 22 — Gema yang Terputus

Rania berdiri kaku di tepi pantai, menunggu sistem melanjutkan kalimatnya yang terputus. Namun yang datang hanya keheningan panjang, seolah suara itu menguap begitu saja ditelan angin laut.

"Sistem?" panggilnya lagi, lebih keras kali ini. "Sistem, jawab aku!"

Tidak ada jawaban.

Aryasatya menggenggam bahunya, wajahnya penuh kekhawatiran. "Wening, kau bicara sama siapa?"

Rania menatapnya, sadar ia baru saja terlihat seperti orang yang bicara sendiri di tengah pantai sepi. Namun ia terlalu panik untuk peduli soal itu sekarang.

"Ada... suara di kepalaku," katanya jujur, untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini mengakui sebagian kebenaran pada seseorang selain Sari. "Dia bilang ada ketidakstabilan, terus mendadak ilang."

Aryasatya tidak langsung menjawab, hanya menatapnya lama—bukan dengan kecurigaan seperti dulu, melainkan dengan kekhawatiran yang tulus.

"Suara apa?" tanyanya pelan.

Rania menggigit bibir, menimbang apakah ini saat yang tepat untuk jujur sepenuhnya. Namun sebelum ia sempat memutuskan, kepalanya tiba-tiba berdenyut hebat, pandangannya berkunang-kunang sesaat.

"Wening!" Aryasatya menangkapnya cepat saat tubuhnya oleng.

Dalam sepersekian detik yang kacau itu, bayangan-bayangan asing berkelebat di kepala Rania—lampu neon, suara klakson mobil, aroma antiseptik rumah sakit. Semuanya muncul dan menghilang secepat kilat, meninggalkan kepalanya berdenyut dan napasnya terengah.

"Wening, kau kenapa?" Aryasatya memapahnya duduk di pasir, wajahnya pucat khawatir.

Rania mengerjap beberapa kali, mencoba menstabilkan pandangannya. Bayangan-bayangan asing itu perlahan memudar, digantikan pemandangan pantai Cilangkap yang familiar.

"Aku... nggak tahu," bisiknya, suaranya gemetar. "Kayak ada dunia lain yang nyoba masuk ke kepalaku."

Aryasatya terdiam, menatapnya lama dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Dunia lain?"

Rania menyadari ia sudah bicara terlalu banyak. Namun entah kenapa, duduk di sini, di tepi pantai dengan pria ini di sampingnya, rasanya seperti saat yang tepat untuk berhenti menyembunyikan semuanya.

"Raden," katanya pelan, menatap laut yang tenang di depan mereka, "ada sesuatu yang harus aku ceritain. Tentang siapa aku sebenernya."

Aryasatya tidak menyela, hanya menunggu dengan sabar, tangannya masih menggenggam lengan Rania seolah menjaganya agar tidak oleng lagi.

Dan di bawah cahaya bulan purnama Cilangkap, untuk pertama kalinya sejak kecelakaan motor yang membawanya ke dunia ini, Rania mulai bercerita—tentang HP yang hilang, tentang latte, tentang sistem yang tiba-tiba muncul di kepalanya, dan tentang dunia asalnya yang terasa semakin jauh namun tiba-tiba kembali memanggil.

***

Ketika cerita itu selesai, Aryasatya duduk diam cukup lama, menatap ombak yang bergulung pelan di depan mereka. Rania menunggu dengan jantung berdebar, tidak yakin reaksi macam apa yang akan ia dapatkan—ketidakpercayaan, ketakutan, atau bahkan penolakan.

"Jadi," Aryasatya akhirnya bicara, suaranya tenang namun penuh pertimbangan, "Wening yang asli... masih ada di suatu tempat? Tubuhnya, maksudku?"

"Aku nggak tahu," jawab Rania jujur. "Sistem nggak pernah jelasin detail soal itu."

"Dan kau bisa... ditarik pulang kapan saja?"

Rania mengangguk pelan, tenggorokannya tiba-tiba terasa tercekat.

Aryasatya menghela napas panjang, matanya menerawang ke arah laut. "Itu menjelaskan banyak hal. Caramu bicara. Caramu bersikap. Kenapa kau begitu berbeda dari Wening yang kukenal."

"Kau percaya aku?" tanya Rania pelan, tidak yakin apa yang lebih ia takuti—ditolak, atau dipercaya namun kemudian kehilangan semua ini.

Aryasatya menoleh menatapnya, dan untuk pertama kalinya Rania melihat sesuatu yang benar-benar terbuka di balik mata yang biasanya begitu terjaga itu.

"Aku percaya," katanya pelan. "Karena cerita seaneh ini terlalu jujur untuk jadi kebohongan."

Rania tertawa kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Itu... pujian paling aneh yang pernah aku denger."

"Terserah kau mau artikan yang mana," Aryasatya mengulang kalimatnya sendiri dari beberapa hari lalu, kali ini dengan senyum tipis yang lebih hangat.

Mereka duduk dalam diam sejenak, hanya suara ombak yang mengisi kesunyian.

"Kalau memang kau bisa ditarik pulang kapan saja," Aryasatya akhirnya bicara lagi, suaranya lebih serius, "apa ada cara untuk mencegahnya? Atau setidaknya menunda?"

Rania menggeleng pelan. "Aku nggak tahu. Sistem yang biasanya jelasin semua ini, dan sekarang dia ilang."

Sebelum Aryasatya sempat menjawab, suara derap kuda terdengar mendekat dari arah desa. Salah satu pengawal Arkapura berhenti tidak jauh dari mereka, terengah seperti habis berlari jauh.

"Paduka, Putri," katanya cepat, "ada kabar penting. Penjaga perbatasan selatan melaporkan penampakan seseorang yang cocok dengan deskripsi Nyonya Ratih, tidak jauh dari sini."

Rania dan Aryasatya saling pandang, keduanya langsung berdiri waspada.

"Di mana persisnya?" tanya Aryasatya cepat.

"Reruntuhan kuil tua, sekitar satu jam perjalanan dari sini. Katanya dia terlihat sendirian, tampak... menunggu sesuatu."

Rania merasakan jantungnya berdegup kencang, campuran antara semangat mengejar jawaban yang belum terselesaikan dan ketakutan akan apa yang mungkin menunggu di sana.

"Kita harus ke sana," katanya mantap, menepis sementara semua kekhawatiran soal sistem dan dunia nyata yang baru saja ia ceritakan.

Aryasatya mengangguk, menggenggam tangannya sejenak sebelum mereka bergegas menuju kuda masing-masing. "Kali ini, kita hadapi bersama."

Rania menatapnya sejenak, merasakan kehangatan aneh di tengah semua kekacauan yang mengelilinginya—dunia yang mungkin akan segera ia tinggalkan, namun untuk saat ini, masih sepenuhnya miliknya untuk diperjuangkan.

Mereka menunggangi kuda bersama rombongan kecil, derap kaki kuda bergema di kesunyian malam Cilangkap, menuju reruntuhan kuil tua tempat sepotong kebenaran terakhir mungkin sedang menunggu untuk diungkap.

Dan jauh di reruntuhan itu, dalam cahaya obor yang remang, Nyonya Ratih duduk sendirian di antara batu-batu kuno, menatap sepucuk surat lain di tangannya—surat yang kali ini ditujukan untuk seseorang yang sudah lama tidak pernah ia hubungi.

"Waktunya hampir habis," gumamnya pelan pada dirinya sendiri. "Semoga mereka sampai sebelum dia datang duluan."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!