NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Tubuh Di Dalam Bongkahan Es

"Sebenarnya ke mana perginya benda sialan itu? Ya Tuhan... aku harus mencari ke mana lagi?" gumam White lirih.

Sepasang matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis. Gadis itu tahu betul betapa mahalnya harga sepotong wig berkualitas bagi keuangan keluarga mereka yang saat ini sedang sekarat demi membeli obat-obatan ibunya.

Pluk... Pluk... Pluk...

Tiba-tiba, beberapa biji pohon ek jatuh dari atas, tepat mengenai puncak kepalanya yang berambut putih salju. White tersentak kaget. Rasa heran membuat amarahnya sedikit tertahan. Ia perlahan mendongakkan kepala, menatap ke arah dahan pohon ek raksasa yang menaungi tempatnya berdiri sejak tadi.

Seketika itu juga, sepasang matanya membelalak sempurna. Di salah satu dahan pohon yang cukup tinggi dan rimbun, seekor kera hutan berbulu abu-abu sedang duduk dengan santai. Di tangan primata nakal itu, tergantung wig hitam miliknya yang kini sedang dibolak-balik dengan rasa ingin tahu yang besar.

Wajah White seketika memerah padam karena geram. Ia mengepalkan kedua tangan kuat-kuat, menatap tajam sang pencuri berbulu yang berada jauh di luar jangkauan fisiknya.

"Dasar monyet nakal! Awas kau! Turunkan tidak, Monyet pencuri!" serunya dengan nada penuh amarah yang tertahan.

Rasa panik yang tadi sempat menghantuinya kini sepenuhnya menguap, digantikan oleh emosi yang meluap-luap. Dengan gerakan cepat, White membungkuk. Ia menyambar beberapa batu kerikil di tepi sungai, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah dahan pohon ek tersebut.

Namun, keberuntungan tampaknya sedang enggan berpihak padanya hari ini. Batu kerikil itu melesat jauh dari sasaran utama, hanya mengenai dedaunan hijau yang rimbun di sekitarnya. Melihat serangan itu, si kera justru mengeluarkan suara pekikan melengking yang terdengar sangat menjengkelkan—persis seperti sebuah ejekan yang merendahkan White.

Dengan gerakan lincah, kera itu berayun dari dahan pohon ek ke dahan lainnya. Ia melesat masuk semakin jauh ke dalam vegetasi hutan yang lebih rimbun dan gelap, sambil tetap mencengkeram erat wig hitam milik White.

"Ah, sialan!"

White menolak menyerah. Tanpa memedulikan rasa dingin yang masih menusuk kulit tubuhnya pasca mandi di sungai tadi, ia melompat ke balik semak-semak lebat. Gadis itu mulai berlari cepat, mengejar bayangan kera yang bergerak di atas dahan pohon.

Medan di dalam hutan tepian sungai itu sangat tidak bersahabat. Area tersebut dipenuhi oleh bebatuan besar yang licin karena tertutup lumut, serta jalinan akar pohon purba yang menonjol keluar dari permukaan tanah. Kondisi itu memaksa White untuk melompat dan memanjat dengan susah payah di tengah remang senja yang kian pekat.

Brukk!

"Awss!"

Kesialan seolah-olah telah mengunci White sebagai target utamanya hari ini. Karena pandangan dan fokusnya terus tertuju ke arah dahan pohon demi melacak pergerakan si kera, White sama sekali tidak menyadari keberadaan sebuah gundukan keras bertekstur kaku di depannya. Kakinya tersandung dengan sangat hebat, mengirim tubuh rampingnya melayang di udara sebelum akhirnya jatuh tersungkur di atas tanah yang dingin.

Dadanya menghantam permukaan tanah yang keras dengan telak. Hantaman itu membuat pasokan oksigen di paru-parunya sempat terhenti selama beberapa detik, menimbulkan rasa sesak yang menyiksa. Sementara itu, debu-debu kering beterbangan masuk ke dalam indra penciumannya, memicu batuk kecil yang menyakitkan di tenggorokan.

"Siapa sebenarnya yang menaruh benda ini di sini?! Dasar batu sialan! Arghh!"

White menggerutu kesal. Ia memukul tanah di bawahnya dengan kepalan tangan, melampiaskan seluruh kekesalannya.

Dengan napas terengah-engah, White perlahan-lahan bangkit dari posisi tengkurap. Ia mengambil posisi duduk, mencoba menstabilkan napasnya yang memburu. Wajah cantiknya meringis kesakitan saat memegangi pergelangan kaki kanannya yang mendadak terasa sangat panas dan berdenyut hebat.

"Sepertinya kakiku terkilir," gumamnya pelan dengan nada frustrasi yang mendalam.

Ia menyeka tetesan keringat dan debu yang menempel di dahinya dengan kasar. White kemudian memutuskan untuk menoleh ke belakang, ingin melihat seberapa besar ukuran batu yang telah membuatnya celaka.

Namun, begitu pandangan matanya jatuh pada objek di belakangnya, suara White seolah langsung terkunci di tenggorokan. Seluruh persendiannya mendadak kaku sebelum akhirnya ketakutan itu meledak menjadi sebuah jeritan yang mengerikan.

"AAAAAAA!"

White berteriak histeris, memecah kesunyian hutan senja yang gelap dan mengusir kawanan burung malam dari peraduan mereka. Tubuhnya terlonjak kaget akibat dorongan adrenalin instan. Ketakutan itu memaksanya untuk merangkak mundur dengan liar menggunakan kedua tangan dan satu kaki yang sehat, sepenuhnya mengabaikan rasa sakit yang menusuk di pergelangan kaki kanannya.

Benda yang tadinya ia asumsikan sebagai gundukan batu ternyata adalah sesuatu yang jauh lebih abnormal. Di depannya, berdiri kokoh di antara semak-semak berduri yang gelap, sebuah bongkahan es raksasa yang teramat jernih. Bongkahan itu memancarkan aura magis yang sangat kuat sekaligus mengintimidasi.

Cahaya matahari senja yang tersisa sedikit di ufuk barat menembus dinding es tebal tersebut. Sinar itu membiaskan cahaya jingga keperakan, memperlihatkan sebuah pemandangan luar biasa yang sanggup membuat seluruh aliran darah di tubuh White membeku instan.

Di dalam bongkahan es setinggi dua meter itu, terdapat sesosok tubuh pria yang membeku dalam posisi berdiri sempurna. Pria itu memiliki postur tubuh yang luar biasa tegap dan atletis, dengan struktur wajah yang sangat tegas dan tampan layaknya dewa-dewa dalam mitologi barat kuno yang dipahat dari pualam terbaik. Rambut cokelat gelapnya tampak melayang statis di dalam lapisan es. Waktu bagi pria misterius itu seolah-olah telah dihentikan secara paksa oleh sebuah kekuatan magis tingkat tinggi.

Napas White memburu kacau. Ia terus menyeret tubuhnya mundur, berusaha menjauh dari presensi bongkahan es misterius yang mendadak memancarkan gelombang energi tak kasat mata yang aneh. Sebuah gelombang energi yang seolah memanggil dan mengetuk sesuatu yang selama ini tertidur di dalam jiwa White sendiri.

Pikiran-pikiran buruk mulai menghantui benak remajanya. Ia sangat ketakutan jika sosok di dalam es itu adalah jasad seorang pria yang tewas membeku akibat fenomena alam yang tidak ia ketahui.

"Aku... aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga. Aku harus mencari wig-ku dulu," bisik White dengan suara bergetar hebat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap menjaga kewarasan.

"Setelah aku keluar dari hutan ini, aku akan langsung memberitahu Ayah tentang keberadaan mayat di dalam bongkahan es ini."

Dengan lutut yang gemetar hebat dan rasa sakit yang menusuk layaknya jarum setiap kali pergelangan kaki kanannya digerakkan, White memaksakan seluruh sendi tubuhnya untuk berdiri tegak. Penampilannya saat ini benar-benar kacau.

Rambut putih panjang aslinya kusut masai berlumur tanah kering, pakaian bersihnya kembali kotor, dan ia terpaksa harus berjalan terpincang-pincang menjauhi tempat itu dengan sisa tenaga yang ada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!