Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sinar matahari pagi perlahan menembus jendela kaca Rumah Sakit Medika Utama.
Suasana yang semalam terasa seperti neraka kini kembali tenang.
Beberapa pria berjas hitam dari keluarga Pratama sedang sibuk membersihkan sisa-sisa kekacauan di koridor lantai tiga.
Mereka mengangkut tubuh para penyusup yang pingsan ke dalam kantong-kantong besar untuk diselundupkan keluar.
Direktur Wira duduk lemas di kursi ruang tunggu dengan segelas teh hangat di tangannya.
"Aku masih tidak percaya kita semua selamat dari penyerbuan itu, Bima."
Direktur Wira menatap Bima yang baru saja keluar dari ruang ICU dengan pakaian bersih.
"Berkat bantuan Tuan Besar Darma, polisi tidak akan mencampuri urusan ini kan?" tanya Bima santai.
"Ya, orang-orang Pratama sudah mengurus semua rekaman CCTV dan menutupi kerusakan di lobi bawah."
"Mereka menggunakan alasan renovasi mendadak akibat pipa gas yang meledak semalam."
Bima mengangguk pelan dan mengambil duduk di sebelah direktur tersebut.
"Pasien-pasien kritis di dalam ICU semuanya stabil dan tidak ada yang terganggu."
Tepat saat Bima menyelesaikan kalimatnya, suara mekanis berbunyi di dalam kepalanya.
[Misi Bertahan Hidup berhasil diselesaikan dengan sempurna.]
[Melindungi dua belas pasien kritis dari ancaman kematian langsung.]
[Mendapatkan 1500 Poin Reputasi Ekstra.]
[Level Reputasi Inang melonjak.]
[Selamat. Status Anda kini resmi menjadi Dokter Spesialis Senior.]
[Membuka akses ke Prosedur Penyembuhan Genetik Tingkat Lanjut.]
Bima nyaris melompat dari kursinya karena rasa senang yang meluap-luap.
Dia akhirnya mencapai level yang dia butuhkan untuk menyembuhkan Kiara secara total.
Namun dia segera menyembunyikan kegembiraannya agar tidak terlihat aneh di depan Direktur Wira.
"Bima, kamu mau ke mana?" tanya Direktur Wira saat Bima tiba-tiba berdiri.
"Saya harus memeriksa luka Leo di ruang perawatan sebelah, Direktur."
Bima berjalan cepat meninggalkan Direktur Wira yang masih kebingungan.
Di dalam ruang perawatan, Leo sedang duduk bertelanjang dada sementara perawat membersihkan darah di bahunya.
"Biar saya yang melanjutkannya, Suster," ucap Bima saat masuk ke ruangan.
Perawat itu mengangguk hormat dan segera keluar dari ruangan.
Bima mengambil jarum jahit bedah dan mulai menutup luka tembus di bahu Leo dengan sangat rapi.
Sret, sret.
"Jahitan Anda cepat sekali, Dokter," puji Leo tanpa meringis sedikit pun.
"Luka ini akan sembuh dalam seminggu, tapi kamu jangan terlalu banyak mengangkat beban berat dulu."
Bima memotong sisa benang jahit dan menempelkan perban medis yang bersih.
"Lalu bagaimana dengan para penyusup yang berhasil ditangkap semalam?" tanya Bima.
Leo mengambil kemejanya dan memakainya secara perlahan.
"Anak buah saya mengamankan lima orang yang pingsan karena gas Anda."
"Sisanya berhasil kabur bersama Kevin saat situasi memburuk."
"Di mana kelima orang itu sekarang?"
"Mereka disekap di ruang bawah tanah rumah sakit ini, menunggu perintah interogasi dari Anda."
Bima tersenyum tipis mendengar laporan yang sangat efisien dari Leo.
"Bawa aku ke sana sekarang, Leo."
"Aku butuh sedikit sampel dari mereka untuk dianalisis."
Mereka berdua berjalan menuju lift khusus karyawan dan turun ke lantai dasar paling bawah.
Ruang bawah tanah itu biasanya digunakan sebagai gudang penyimpanan alat medis yang sudah rusak.
Krieettt.
Pintu besi berkarat terbuka, menampilkan lima orang pria yang diikat kuat di kursi besi.
Wajah mereka terlihat pucat dan masih setengah sadar akibat efek gas pelumpuh semalam.
Salah satu dari mereka menatap Bima dengan pandangan penuh kebencian.
"Kau tidak akan mendapat informasi apa pun dari kami, Dokter Sialan!" ludah pria itu ke lantai.
"Bos Naga akan menguliti tubuhmu hidup-hidup!"
Bima tidak mempedulikan ancaman kosong itu dan berjalan mendekati pria tersebut.
Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik kosong dari dalam sakunya.
"Aku tidak butuh mulutmu untuk berbicara."
"Darahmu yang akan menceritakan semuanya kepadaku."
Jleb.
Bima menusukkan jarum suntik itu ke lengan pria tersebut dan mengambil sedikit sampel darahnya.
Pria itu meronta-ronta namun ikatan tali di tubuhnya terlalu kuat.
Bima mengangkat tabung suntikan berisi darah itu sejajar dengan matanya.
"Sistem, lakukan analisis toksikologi penuh pada sampel darah ini."
"Cari tahu residu lingkungan apa saja yang menempel di tubuh mereka selama dua puluh empat jam terakhir."
[Memulai analisis molekuler tingkat lanjut.]
[Terdeteksi residu belerang konsentrasi tinggi, partikel asbes tua, dan sisa bahan kimia amonium nitrat.]
[Jejak bahan kimia ini identik dengan limbah pabrik pupuk yang sudah tidak beroperasi.]
Bima mengerutkan dahinya membaca hasil analisis di udara kosong itu.
Dia menoleh ke arah Leo yang berdiri diam di dekat pintu.
"Leo, apakah ada pabrik pupuk tua yang terbengkalai di sekitar kota ini?"
Leo terdiam sejenak dan memutar bola matanya mengingat-ingat peta kota.
"Ada satu, Dokter Bima."
"Pabrik Pupuk Agro di kawasan industri timur yang sudah bangkrut sepuluh tahun lalu."
"Tempat itu sangat sepi dan jauh dari pemukiman warga."
Bima tersenyum puas mendengar kecocokan informasi tersebut.
"Itu dia."
"Itu adalah markas utama Sindikat Ular Hitam tempat mereka memproduksi parasit dan racun."
Mata Leo membelalak tidak percaya.
"Anda tahu lokasinya hanya dari setetes darah penyusup ini?"
"Darah tidak pernah berbohong, Leo."
Bima membuang jarum suntik itu ke tempat sampah medis di sudut ruangan.
Tiba-tiba, ponsel di saku Bima berdering nyaring.
Kringgg.
Bima melihat nama Kiara berkedip di layar ponselnya dan langsung mengangkatnya.
"Halo, Nona Kiara."
"Dokter Bima, kakek baru saja memberitahuku tentang penyerangan di rumah sakit semalam."
Suara Kiara terdengar sangat cemas dan bergetar di ujung telepon.
"Apakah Anda terluka, Dokter?"
"Tolong jujurlah padaku."
Bima tersenyum lembut meskipun Kiara tidak bisa melihatnya.
"Saya sama sekali tidak terluka, Nona Kiara."
"Leo dan saya berhasil membereskan para penyusup itu dengan sedikit trik."
Terdengar helaan napas lega yang panjang dari seberang sana.
"Syukurlah... aku sangat takut kehilanganmu, Dokter."
"Sindikat itu benar-benar sudah bertindak di luar batas kewajaran."
Bima menatap tajam ke arah dinding gudang yang kotor.
"Mereka memang sudah melewati batas."
"Dan karena itu, kita tidak bisa terus bertahan dan menunggu serangan mereka selanjutnya."
"Apa maksud Anda, Dokter Bima?" tanya Kiara bingung.
"Saya sudah menemukan lokasi markas laboratorium utama mereka."
"Kita harus menyerang tempat itu malam ini juga."
Hening sejenak di ujung telepon, sebelum akhirnya Kiara menjawab dengan nada tegas.
"Kakek Darma dan saya akan mendukung rencana Anda sepenuhnya."
"Berapa banyak pasukan yang Anda butuhkan malam ini?"
Bima menoleh pada Leo yang sedang mendengarkan pembicaraannya.
"Tanya pada Leo berapa banyak pasukan elit yang bisa dia kumpulkan dalam dua belas jam."
Bima menyerahkan ponselnya pada Leo.
Leo menerima ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar karena bersemangat.
"Nona Kiara, ini Leo."
"Jika kita menyerang markas utama mereka, saya butuh setidaknya tiga puluh orang bersenjata lengkap."
"Siapkan semuanya, Leo," perintah Kiara dari telepon.
"Keluarga Pratama akan membiayai seluruh operasi malam ini."
"Pastikan Dokter Bima kembali dengan selamat tanpa goresan sedikit pun."
Leo mengangguk tegas.
"Baik, Nona Kiara."
"Kami tidak akan mengecewakan Anda."
Leo menutup telepon dan mengembalikan ponsel itu pada Bima.
"Kita akan pergi berperang malam ini, Dokter Bima."
"Apakah Anda yakin ingin ikut turun langsung ke lapangan?"
"Anda adalah seorang dokter, bukan tentara bayaran."
Bima berjalan melewati Leo menuju pintu keluar gudang bawah tanah.
"Aku memang seorang dokter, Leo."
"Dan tugasku adalah mencabut penyakit mematikan dari kota ini sampai ke akar-akarnya."
"Lagipula, aku butuh data penelitian genetik dari laboratorium mereka untuk merampungkan obat Nona Kiara."
Leo menundukkan kepalanya dengan rasa hormat yang sangat dalam.
"Saya mengerti, Dokter."
"Saya akan menyiapkan perlengkapan taktis untuk Anda juga."
Bima kembali ke laboratorium farmasi di lantai dua untuk melakukan persiapannya sendiri.
Dia tidak butuh senjata api atau peluru pelindung dada.
Senjatanya adalah reaksi kimia dan pengetahuan anatomi manusia.
Trak, trak.
Bima menyusun puluhan jarum suntik dan ampul kaca ke dalam sabuk medisnya.
Dia meracik lebih banyak gas pelumpuh saraf dalam bentuk bom asap portabel.
Dia juga menyiapkan cairan penawar racun dosis tinggi untuk berjaga-jaga jika sindikat itu menggunakan senjata biologis.
"Sistem, apakah prosedur penyembuhan genetik Kiara membutuhkan peralatan bedah berat?" batin Bima.
[Prosedur penyembuhan genetik tidak membutuhkan pembedahan terbuka.]
[Namun membutuhkan sampel DNA asli dari parasit mutan yang masih hidup untuk membuat serum anti-penebalan otot.]
Bima mengangguk paham membaca instruksi tersebut.
Itu artinya dia harus masuk ke area terdalam dari laboratorium sindikat malam ini.
Dia harus menangkap parasit mutan itu hidup-hidup sebelum anak buah Leo menghancurkan tempat itu.
Sisa waktu untuk menyelamatkan Kiara sekarang tinggal tiga belas hari lagi.
Tapi Bima yakin semuanya akan selesai malam ini juga.
Waktu terus berjalan dan matahari perlahan mulai terbenam di ufuk barat.
Tiga buah mobil SUV lapis baja berwarna hitam legam terparkir di belakang rumah sakit.
Puluhan pria berpakaian taktis dan membawa senapan serbu sudah bersiap di sekitar mobil tersebut.
Leo yang bahunya sudah diperban dengan rapi berdiri memimpin mereka.
Bima melangkah keluar dari pintu belakang rumah sakit mengenakan jaket kulit hitam yang menutupi sabuk medisnya.
Angin malam berhembus cukup kencang, membawa aura ketegangan yang sangat pekat.
"Apakah semua orang sudah siap, Leo?" tanya Bima dengan suara datar.
"Tiga puluh anggota elit Pratama siap menerima perintah Anda, Dokter."
Bima menatap barisan pasukan itu satu per satu dengan tatapan tajam.
"Tugas kalian malam ini bukan membunuh tanpa arah."
"Tugas kalian adalah melumpuhkan semua penjaga dan mengamankan rute masuk untukku."
"Jangan ada yang berani menghancurkan peralatan laboratorium di dalam pabrik itu."
"Jika data medisnya hancur, misi kita gagal total."
Pasukan elit itu mengangguk serempak dan berteriak pelan.
"Siap, laksanakan!"
Bima masuk ke kursi penumpang di mobil SUV pertama bersama Leo yang mengemudi.
Brummm.
Mesin mobil lapis baja itu mengaum keras memecah keheningan malam.
Ketiga mobil tersebut melaju beriringan meninggalkan area rumah sakit dengan kecepatan tinggi.
Tujuan mereka adalah kawasan industri timur yang sudah lama dilupakan oleh kota ini.
Malam ini, Bima Aditya akan menunjukkan kepada Sindikat Ular Hitam bahwa berurusan dengan seorang dokter legendaris adalah kesalahan paling fatal yang pernah mereka lakukan.