Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALING MENGUATKAN
"Asalamualaikum, Nek Gendhis... cucu kesayangan sudah datang nih!" teriak Supri.
Sambil berteriak, tangan Supri sudah bergerak menurunkan koper dan membantu Vallery untuk turun dari pick up.
"Nek, nenek Gendhis!", Supri kembali berteriak karena nenek Gendhis tak kunjung keluar.
Vallery sendiri kedua matanya sudah berkaca-kaca menatap rumah joglo yang terlihat sangat asri ini.
Membayangkan jika rumah tradisional Jawa ini sebentar lagi akan menjadi rumahnya, hatinya tiba-tiba merasa melow.
Cetaak...Cetaak...
Terdengar suara kunci yang diputar dari dalam rumah. Tak lama, pintu yang terbuat dari kayu jati itupun terbuka dan muncullah seorang wanita tua yang berjalan dengan mata sedikit menyipit karena tak memakai kacamata masih mengenakan mukenah di tubuhnya.
Nenek Gendhis yang baru saja selesai melaksanakan sholat isya belum sempat berganti pakaian ketika suara pintu diketuk dan suara tetangganya yang familiar ditelinga memanggil dari arah luar sehingga iapun bergegas bangkit dan langsung membuka pintu untuk melihat ada keperluan apa Supri datang kerumahnya malam-malam seperti ini.
"Nek, lihat siapa yang datang," Supri memberitahu. Tangannya kini menunjuk kearah dimana Vallery berdiri.
"Sopo toh le?" tanya nek Gendhis, menatap Vallery dengan mata sedikit di buat merem, maklumlah nenek Gendhis matanya sudah rabun apalagi lampu di teras depan tak terlalu terang dan ia juga tak memakai kacamatnya sehingga harus menyipitkan kedua matanya sambil berjalan keluar untuk melihat dengan jelas siapa tamu yang datang kerumahnya.
Begitu sudah jelas nenek Gendhis terkejut saat melihat Vallery ada di hadapannya.
"Ya Allah Valley, kamu kok datang ke rumah nenek nggak bilang-bilang. Hari ini paklekmu lagi ngirim cengkeh ke Jakarta. Tahu gitu kan kamu bisa diampiri paklekmu jadi nggak perlu naik travel kemari", omel nenek Gendhis
"Nenek!", Vallery langsung melangkah lebar agar bisa segera memeluk tubuh nenek Gendhis.
Tangis Vallery langsung pecah begitu sudah berada di dalam pelukan hangat neneknya.
Mendengar suara tangis yang menyayat hati, nenek Gendhis yang tahu jika masih ada orang luar bersama mereka hanya bisa membujuk cucunya untuk masuk terlebih dahulu kedalam rumah.
"Sudah, ayo masuk dulu, kamu pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh", ucap nenek Gendhis sambil mengelus rambut Vallery yang sedikit berantakan.
Vallery mengangguk patuh dan sebelum masuk kedalam rumah, ia tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Supri dan Dirga yang telah memberinya tumpangan sampai kerumah nenek.
Melihat gadis cantik yang tanpa permisi masuk kedalam hatinya saat ini tengah menangis pilu, hati Dirga terasa sangat sakit sehingga ia segera memalingkan wajah setelah Vallery mengucapkan terimakasih untuk menenangkan hatinya.
“Ada apa sebenarnya denganku? kenapa hatiku sakit melihatnya menangis pilu seperti itu?”, batin Dirga bingung.
Dirga bukanlah pria yang mudah untuk jatuh cinta. Setelah gagal dengan cinta monyetnya ketika masa SMA yang hanya bertahan tiga bulan pacaran, semenjak itu Dirga tak pernah lagi menjalin hubungan lawan jenis hingga membuat keluarga besarnya frustasi dan menjodohkan dirinya dengan seorang perempuan yang berasal dari desa sebelah yang sayangnya pernikahan paksa ini hanya bertahan sehari dimana sang mempelai perempuan selingkuh dimalam pertamanya hingga membuat Dirga melayangkan talak cerai pada malam itu juga.
Untung saja keluarga besarnya belum menggelar resepsi dan hanya akad nikah saja yang untungnya juga belum didaftarkan ke KUA sehingga keduanya bisa segera berpisah dengan mudah tanpa perlu dipersulit oleh administrasi yang rumit.
Akibat kejadian itu, nenek Dirga yang menjodohkannya dengan perempuan tersebut meninggal dunia akibat terlalu syok karena wanita tua itu jugalah yang memergoki perselingkuhan cucu menantu pilihannya di malam pernikahan.
Karena kejadian tragis itu mulai saat itu juga, tak ada satupun keluarga besar Dirga yang berupaya untuk menjodohkan pria itu dengan perempuan manapun karena takut akhir yang buruk terjadi lagi.
Padahal, keluarga besar Dirga cukup mengenal dekat keluarga Yasmin,mantan istri Dirga yang ternyata kelakuannya tak seharum namanya, Yasmin, bunga melati yang baunya sangat wangi tapi sayangnya nama itu melekat kepada perempuan yang memiliki hati dan perilaku busuk karena bukan hanya selingkuh di malam pernikahan saja, perempuan itu waktu menikah dengan Dirga ternyata sudah hamil tiga bulan.
Karena tak tahu siapa ayah jabang bayinya akibat banyaknya lelaki yang ia tiduri dan tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya dengan menikahi pria sembarangan, maka Yasmin mulai mentargetkan Dirga yang sayangnya rencana busuknya itu diketahui sebelum terlaksana dengan baik.
Balik lagi ke rumah nenek Gendhis, setelah masuk kedalam rumah, nenek Gendhis mengajak Vallery duduk di kursi ruang tengah.
"Sudah, kamu nggak usah nangis, keluarga mamamu itu memang gendeng, tapi nenek bisa bilang apa, papa dan mamamu saling mencintai. Untung saja mamamu itu tak seperti mereka yang berhati busuk dan sangat serakah", ngomel nenek Gendhis begitu Vallery selesai bercerita kenapa dirinya bisa sampai di kampung halaman si nenek malam-malam begini tanpa pemberitahuan.
Sebuah keputusan mendadak yang ia buat setalah satu paman tirinya mencari tahu mengenai dirinya dan datang kekantor,membuat Vallery merasa tak aman dan takut mereka akan melakukan hal buruk jika mengetahui Vallery masih memiliki sebuah apartemen dan saham di perusahaan tempat ia bekerja saat ini maka iapun meminta rekan-rekannya untuk mengatakan jika ia telah resain dan pulang ke kampung halaman papanya.
"Nenek juga ya senang kalau kamu mau tỉnggal disini, nenek jadi nggak sendirian lagi soalnya paklikmu itu tak bisa sering-sering menemani nenek disini karena ibu mertuanya tengah sakit jadi ia dan istrinya harus tinggal di desa Sumber Asih dimana bulikmu berasal. Tapi kamu nya yang nggak apa-apa to tinggal di desa? soalnya di desa ini beda sama diibukota. Disini itu sepi, jauh dari mana- mana.Ada satu mall disini, itupun adanya di kabupaten dan bangunannya tak sebesar yang ada di ibukota. Disini juga nggak ada salon dan cafe yang biasanya sering kamu datangi kalau lagi suntuk", lanjut ndek Gendhis.
Vallery yang sudah mengetahui semuanya itu hanya tersenyum, "Valley memutuskan untuk tinggal bersama nenek untuk sementara waktu jadi tentu ya Vallery juga tahu konsekuensinya tinggal didaerah pedesaan seperti ini".
"Terus kerjaan kamu gimana?", tanya nenek Gendhis penasaran.
Nenek Gendhis tahu jika Vallery sudah memiliki pekerjaan karena anaknya,Anton sudah memberitahu jika Vallery mendirikan sebuah perusahaan konsultan bersama teman-temannya.
"Pekerjaan, bisa Valley handle dari sini kok nek. Mungkin sesekali Valley akan turun ke proyek jika memang ada hal yang salah atau harus ke ibukota jika memang ada pertemuan penting dengan klien yang membutuhkan kehadiran Valley", ucap Vallery sambil bergelayut manja dilengan neneknya.
Rasa sedih, kesal dan marah yang sedari tadi menghimpit dadanya seakan meluap begitu ia mencurahkan semua isi hatinya kepada wanita tua yang sangat menyayanginya itu.
Untungnya, sebelum meninggal papa Vallery sudah membukukan jalan bagi anak perempuannya itu.
Di perusahaan konsultan tersebut, Vallery adalah pemegang saham paling besar sehingga tanpa bekerja pun ia setiap bulan sudah mendapatkan deviden dari keuntungan perusahaan.
Posisi Valley sebagai arsitektur kedua diperusahaan itu juga tak mewajibkannya untuk setiap hari datang kekantor.
Sebenarnya, Valley memiliki sebuah apartemen di ibukota atas namanya yang bisa ia tempati, hanya saja Valley memilih untuk tinggal didesa neneknya karena ia tahu betapa serakahnya keluarga sang mama.
Jika mereka tahu Vallery memiliki apartemen pribadi dan juga tabungan yang lumayan besar, kemungkinan mereka akan akan mengambilnya sangat besar sehingga Vallery yang tak lagi ingin memiliki hubungan apapun lagi dengan keluarga mamanya memilih untuk menenangkan diri didalam desa demi menjaga kewarasan mentalnya akibat keluarga tak tahu diri itu.
Melihat jika cucu perempuannya itu tampak sudah mempertimbangkan segalanya, nenek Gendhis yang lebih senang Vallery tinggal bersamanya daripada keluarga ular itupun hanya bisa mengusap punggung Vallery dengan lembut.
"Ya sudah. Jika kamu memang sudah mempertimbangkan segalanya, nenek setuju aja”, ucap nenek Gendhis sambil tersenyum hangat.
Keduanya pun saling berpelukan. Tanpa kata mereka berdua saling menguatkan satu sama lain agar bisa menjadi lebih kuat dalam menghadapi kehidupan yang keras ini.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA