Karin terbangun dalam novel medioker sebagai istri idiot CEO dingin, Arlan. Mengetahui nasib tragis tokoh aslinya, Karin memutuskan berpura-pura tetap idiot agar tidak diceraikan dan dibuang.
Namun, tingkah konyolnya justru membuat Arlan yang biasanya kaku mulai merasa bingung sekaligus tertarik.
Di tengah intrik keluarga besar dan ancaman pelakor, Karin harus menyeimbangkan aktingnya yang absurd dengan rasa cinta yang mulai tumbuh nyata.
Apakah rahasia transmigrasinya akan terungkap, ataukah ia akan selamanya menjadi istri kesayangan sang CEO dalam topeng kebodohan yang lucu dan menggemaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Clara terdiam. Logika itu sama sekali tidak masuk akal di dunia bisnis, tapi secara teknis dan praktis... itu berhasil sempurna. Lebih cepat dari yang bisa dilakukan oleh komputer.
Arlan akhirnya menutup laptopnya. Ia menatap tumpukan dokumen yang tersortir rapi, lalu menatap Clara. "Apakah ada yang salah dengan penyortiran Nyonya Karin, Clara?"
Clara menelan ludah, merapikan jasnya yang tiba-tiba terasa terlalu ketat. Rasa skeptis dan meremehkannya pada Karin runtuh dalam sekejap, digantikan oleh rasa hormat yang terpaksa. "T-tidak, Pak Arlan. Penyortirannya... sangat efisien. Saya akan segera memprosesnya."
"Bagus," ucap Arlan. Ia berdiri, berjalan menghampiri Karin, dan berdiri di belakang kursi istrinya. Ia menunduk, membisikkan sesuatu di telinga Karin yang membuat wanita itu langsung kaku.
"Kau mencium bau parfum manajer hukum di tumpukan kanan, kan? Kau tahu dia sedang terburu-buru karena ada rapat dengan klien sore ini. Kau sengaja memisahkannya agar aku bisa menandatanganinya lebih dulu."
Jantung Karin melompat. Tunggu. Dia tahu?! Dia tahu aku sengaja?!
Karin menoleh, memasang wajah polos. "Aku cuma suka bau parfumnya, Kak. Wangi kayak permen stroberi."
Arlan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat langka dan sangat berbahaya. Ia menepuk puncak kepala Karin dengan lembut. "Clara, siapkan mobil. Aku dan Nyonya Dirgantara akan makan siang di luar hari ini. Pastikan jadwal soreku kosong."
"Siap, Pak Arlan," jawab Clara, menatap Karin dengan tatapan yang kini sepenuhnya berbeda. Tidak ada lagi rasa meremehkan. Hanya ada rasa takut dan kagum yang bercampur aduk.
Saat Arlan menggandeng tangan Karin keluar dari ruangan, Karin menatap punggung suaminya dengan hati yang berdebar kencang. Sistem, aku menyerah. CEO dingin ini bukan cuma jago bisnis, dia juga jago baca pikiran. Aku butuh strategi baru, atau aku butuh pelindung wajah!
***
Perjalanan menuju restoran di dalam mobil Maybach yang sunyi seharusnya menjadi momen relaksasi, tapi bagi Karin, itu adalah ujian ketahanan mental. Arlan duduk di sebelahnya, menatap lurus ke depan, tapi jari-jarinya yang panjang sesekali mengetuk paha dengan irama yang tidak beraturan. Itu tanda dia sedang memikirkan sesuatu.
"Kak Arlan, kita mau makan di mana?" tanya Karin, mencoba memecah keheningan. "Kalau ke restoran yang piringnya kecil-kecil dan porsinya sedikit, aku nggak mau ya. Nanti aku pingsan di jalan, terus ditabrak ojek."
Arlan menoleh, tatapan dingin di matanya sedikit melunak. "Kita akan makan di L'Éclipse. Restoran Prancis bintang tiga. Porsinya memang kecil, tapi kalau kau masih lapar, kita bisa mampir ke warung bakso di jalan pulang."
Karin terbelalak. Hah? CEO dingin mau ngajak aku makan bakso di pinggir jalan setelah makan di restoran bintang tiga?! Plotnya makin hancur! Di novel, Arlan paling benci makanan pinggir jalan karena alasan higienitas!
"Janji ya, Kak? Nanti nggak boleh bilang perut Kakak sakit karena kuman jalanan!" tunjuk Karin.
"Janji," jawab Arlan, dan sudut bibirnya naik sedikit.
***
L'Éclipse adalah definisi dari kemewahan yang menyilaukan. Lampu remang-remang, musik klasik yang mengalun pelan, dan pelayan yang berjalan seolah kaki mereka tidak menapak tanah. Karin duduk di meja VIP, menatap menu yang tidak ada harganya karena restoran ini menggunakan sistem omakase atau harga tetap yang sudah diurus oleh manajemen.
"Kak Arlan," bisik Karin, menatap pelayan yang membawa sepiring kecil berisi satu helai daun dan satu tetes saus. "Ini makanan apa? Kok kayak hiasan kuburan? Jangan-jangan ini makanan untuk semut."
Arlan tertawa kecil, sebuah suara yang membuat beberapa tamu di meja sebelah menoleh. "Makan saja, Karin. Itu microgreens dengan reduction balsamic."
Karin baru saja akan menyuap daun itu ketika sebuah bayangan jatuh di atas meja mereka.
"Oh, Arlan. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun dengan gaun merah menyala dan makeup yang terlalu tebal berdiri di sana.
Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya yang terlihat gugup. Karin langsung mengenali wanita itu dari memorinya. Sylvia, istri dari CEO perusahaan pesaing yang sering mencoba menjatuhkan Arlan. Dalam novel, Sylvia adalah wanita yang sangat snob dan pernah menyebarkan rumor bahwa Karin asli gila.
Ayo.. adegan menarik apa lagi yang akan aku lihat..
lanjut kn thor💪