NovelToon NovelToon
Mendadak Menikah

Mendadak Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Billa Hamkah

Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.

Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.

Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Liburan Versi Anak Kos

##

Reyhan pemuda 19 tahun yang baru lulus SMA satu tahun yang lalu, merasa hari ini hidupnya terlalu sial. Malam-malam, dia sedang berjalan sendiri dengan perut lapar, mau membeli makanan sudah tidak ada penjual. Maksudnya, penjual yang tempat berlangganan dia berhutang sudah tutup, sisanya yang buka hanya penjual yang harus membayar kontan. Mana sanggup Reyhan!

Apesnya lagi, motor kesayangannya yang sudah legend itu malah mogok dan harus menginap di bengkel Bima. Alhasil, malam ini dia harus pulang kerja berjalan kaki. Mana ini sudah tengah malam, kalau ada yang menculik dia bagaimana? Reyhan walau miskin, tapi cukup percaya diri dengan wajah tampannya. Ini aset paling berharga dibanding uang bukan?

Hari ini memang jadwal kerjanya kebagian sip malam sampai jam 11, setelah itu beres-beres sampai jam 12. Reyhan bekerja sebagai karyawan minimarket dengan gaji mengandalkan UMR Jakarta,

yang hanya bisa pas-pasan untuk bayar kontrakan, makan dan bayar hutang untuk berhutang lagi.

Memang tidak jauh, jarak tempat kerjanya dari tempat kos, tapi jika berjalan kaki lumayan bisa sampai setengah jam. Bisa membuat betisnya sebesar gajah.

"Lelah banget! Mana lapar lagi!"

Rey melirik magicom, tidak ada nasi satu butir pun soalnya tadi pagi sudah dia jilat-jilat, eh lupakan.

Sebenarnya, memang dia lupa memasak nasi tadi pagi, jadi mana mungkin magicom bisa memasak sendiri? Seperti ini, hidup sebagai bujangan yang hidup pas-pasan di Jakarta. Tapi, kehidupan orangtuanya juga sama pas-pasan, hidup di rumah kecil warisan orangtua mereka alias kakek-nenek Reyhan dengan jumlah kamar ada dua. Sementara, semua anak ada 4 orang termasuk dirinya Reyhan, 3 anak lelaki dan 1 anak perempuan. Jadi, terpaksa para anak lelaki harus tidur di ruang tamu karena memang tidak ada kamar.

Makanya setelah lulus SMA, Reyhan setelah bekerja memutuskan untuk tinggal di kosan. Hitung-hitung meringankan beban keluarga, sekaligus bisa membantu keuangan mereka walau tidak banyak.

Kisah hidupnya sudah cocok dijadikan dokumenter gak, sih?

"Kalau gini, rasanya mau nikah biar ada yang urus."

Tiba-tiba Reyhan menggeleng, kalau menikah mau dikasih makan apa istri dan anaknya nanti, soalnya untuk makan sendiri saja sudah pas-pasan. Mau diajak tinggal di kosan satu petak, eh dua petak dengan kamar mandi. Baru sebulan, mungkin dia sudah ditinggal cerai. Lebih parahnya, sehari menjadi istrinya sudah langsung kabur.

Kadang-kadang, wajah tampannya memang tidak berguna kalau sudah menyangkut isi perut dan isi dompet.

*

"Rey, besok ikut kan, ke rumah nenek Bima?"

Lelaki yang menjadi objek pertanyaan itu seketika membuang rokoknya yang memang sudah tinggal puntung, mukanya sudah cemong hitam penuh dengan oli. "Yang penting gratis, gue mah gas berangkat."

"Sialan anjir! Gratisan mulu!" Dion yang sedang berjongkok di depan motor yang sedang dirakit melempar obeng ke arah Reyhan, lelaki yang tadi berwajah cemong.

"Anjir!" Reyhan malah tertawa. "Buat makan aja gue susah, apalagi buat liburan!"

"Sama, sih." Dion malah tertawa keras, membuat satu orang temannya yang lain menatap mereka malas.

"Lagian, sama-sama miskin malah saling meledek," celetuk Bima yang sudah berdiri pergi masuk ke dalam rumah yang kebetulan ada di samping bengkel.

"Mau marah sama si Bima, tapi iya juga," ujar Reyhan yang langsung diangguki oleh Dion.

Sore ini, Reyhan menghabiskan waktunya di bengkel temannya yaitu Bima. Bukan kerja sih, karena ini juga termasuk bengkel kecil. Dia cuman sedang nongkrong, sekalian membetulkan motornya. Kebetulan, sekolah dia memang jurusan STM bersama ke dua temannya ini. Sayang, mereka sama-sama tidak bisa melanjutkan ke jenjang kuliah karena terhalang masalah biaya. Tapi nasib Bima lebih beruntung karena orangtuanya mau memberinya modal untuk membuka bengkel kecil-kecilan yang menjadi tempat nongkrong untuk mereka bertiga.

Impian Reyhan suatu hari bisa mempunyai bengkel serta melanjutkan kuliah. Aminkan pemirsa!

Besok memang waktu libur kerjanya tepat pada hari Jumat, sekalian dia mau bablas membuat surat sakit sampai hari Minggu demi ikut liburan ke Bandung, tempat neneknya Bima. Dion sendiri baru saja dipecat dari pekerjaannya di rumah makan, karena katanya tidak sengaja memecahkan selusin piring.

Jadi, ini sudah bisa dipastikan liburan nekat ala anak kosan yang hanya modal menumpang.

Besoknya, Reyhan sudah bersiap-siap menaiki mobil keluarga milik Bima. Bukan mobil sejenis sedan, BMW dan mobil mewah lainnya, tapi ini mobil dengan bak terbuka. Mereka bertiga sudah jelas duduk di bak terbuka, sedang di depan ada bapaknya Bima dan om-nya Bima yang sama-sama merantau.

Sebenarnya, mereka tidak semata-mata hanya liburan tapi di sana ada sepupunya Bima yang akan menikah, semua anggota keluarga Bima ada di sana termasuk ibunya yang sudah ke sana seminggu yang lalu. Kebetulan, dua orang anak kosan itu juga sedang membutuhkan liburan, tapi terhalang biaya jadi sekalian menumpang gratis di sini tidak tahu diri.

"Di sana banyak cewek cantik, kan? Gue denger, Bandung itu surganya cewek manis dan polos," celetuk Dion tiba-tiba di tengah perjalanan, yang dimana mereka sedang pusing antara kepanasan dan mabuk perjalanan.

"Berisik, gue sunat!" makin Reyhan sudah pusing, sepertinya dia memang sudah mabuk perjalanan. "Ini masih jauh gak, Bim?"

Bima melirik Reyhan, langsung tertawa. "Kenapa woi, mabuk lo? Setengah jam lagi sampai, tenang aja."

"Jangan percaya si Bima, tadi juga bilang setengah jam lagi tapi gak sampai-sampai!" sungut Dion yang kali ini langsung diangguki Reyhan.

"Jangan temenin dia, suka bohong!" timpal Reyhan, menatap Bima kesal.

Bima yang melihat kelakuan kocak dua temannya, langsung tertawa. "Serius nih, setengah jam lagi ini sampai."

"Awas kalau gak jujur Mas, aku sudah gak kuat lagi," balas Dion menatap galak Bima. "Iya kan, Dinda?" Meminta persetujuan Reyhan.

"Geli anjir!" Reyhan malah melempari Dion dengan ember yang kebetulan memang sudah ada di sana.

"Sialan!"

Reyhan memilih memejamkan mata, sepertinya cowok itu sudah sangat mual. Terlihat dari tangannya yang terus mengusap perut. Sedang, Bima sama sekali tidak mual karena perjalanan ini sering dia lakukan. Beda dengan Dion yang sekarang malah sudah memegang sebuah mangkok. Siap-siap jika ada yang mau ke luar.

Selain mereka bertiga, isi bak mobil ini juga dipenuhi oleh barang-barang rumah tangga untuk diberikan ke keluarga Bima di Bandung. Katanya, karena barang-barang ini harganya murah jadi sekalian membeli banyak untuk dijadikan sebagai oleh-oleh.

Kedatangan mereka tidak disambut meriah, tidak ada iring-iringan musik, tidak ada jamuan makanan, yang ada mereka langsung disuruh menurunkan barang-barang dari mobil. Ini seperti mereka sedang nyambi menjadi tukang kuli.

"Beib, pijitin pundak gue dong! Pada sakit semua, nih." Dion menyodorkan bahu ke arah Reyhan yang langsung ditatap jijik.

"Sana, pake mobil aja. Lo baringan di bawah, dijamin langsung sembuh." Reyhan mendorong kasar bahu Dion. "Akhirnya, mereka ingat juga kita ini tamu, bukan tukang kuli."

"Haha gila, baru datang udah langsung disuruh angkat-angkat barang. Ini anak muda sini pada kemana sih, anjir?"

Dion masih kesal karena setelah dua jam lamanya, mereka baru bisa beristirahat.

"Woi, pada makan dulu, ayo!" seru Bima yang baru saja keluar dari dalam rumah. Seruan Bima, membuat mata ke dua sahabat miskin itu berbinar.

"Bayar gak, nih?" tanya Dion iseng, tapi dia sudah berjalan ikut masuk menyusul Bima.

"Buat lo khusus bayar seporsi gocap. Iya gak, Bim?" Reyhan meminta persetujuan Bima yang tentu saja langsung diangguki oleh lelaki itu.

"Iya anjir, baru aja gue mau ngomong gitu!"

"Sialan! Ogah, ngutang sekalian gue kalau gitu. Ketemu tapi langsung lunas." Dion cengengesan.

Mereka bertiga hanya tertawa. Memang, mereka bertiga ini selalu menertawakan hal-hal receh, bahkan saat ada katak loncat, daun berguguran, genteng bocor saja mereka bisa tertawa. Paling parah, bahkan saat saling bertatapan saja mereka langsung bisa ngakak. Memang sereceh itu pertemanan mereka.

Malamnya, Reyhan sedang duduk di gazebo kecil di depan rumah nenek Bima, menikmati langit pedesaan yang indah. Sedang kedua temannya, masih sedang asyik bermain kartu dengan para saudara yang lain. Reyhan sudah malas bermain kartu karena sedari tadi dia tidak pernah menang. Wajahnya tadi sudah cemong penuh dengan arang. Ini dia sudah mencuci muka, makanya sudah ganteng lagi.

"A, ini kopi silahkan diminum!" Anin, salah satu saudara Bima menyimpan secangkir kopi di depannya. Dia juga sudah ikut duduk di samping Reyhan. "Boleh kan A, Anin duduk sini?"

Reyhan mengangguk. "Iya, boleh. Terimakasih kopinya, sudah repot-repot."

Anin tersenyum, memandang Reyhan berbinar. "Gak repot kok A, Anin malah senang. Tiap hari buatkan kopi juga, Anin mau."

Reyhan tersenyum simpul, meneguk kopi yang Anin buat. Reyhan peka, jika Anin tertarik pada dirinya. Sejak pertama mereka datang, gadis itu selalu berusaha mendekati Reyhan. Anin cantik, Reyhan akui itu tapi mana mungkin kan, dia harus berpacaran dengan anak SMP.

"Anin, sedang apa kamu di sana? Masih kecil udah genit!" teriak Ara,  kakak kandung dari Anin berjalan menghampiri mereka dengan tatapan galak.

"Duh A, Anin pergi dulu. Takut, soalnya teteh galak," pamit Anin dengan secepat kilat sudah berlari, tanpa sempat Reyhan membalas.

"Anak itu!" Ara sudah berada didekat Reyhan dengan napas yang ngos-ngosan, tapi sayang Anin sudah keburu kabur. "Boleh ikut duduk, A?"

Lagi-lagi, Reyhan mengangguk. Belum ada sejam duduk di sini, sudah ada dua wanita yang menemani dia. "Iya, silahkan."

"Maafkan adik saya yah A, dia emang genit. Lain kali abaikan aja, jangan diladenin," ujar Ara memulai obrolan mereka. "Boleh tanya, A?"

Reyhan menoleh. "Iya, boleh aja. Asal jangan tanya soal matematika, soalnya aku gak bisa. Payah, kalau soal urusan hitung-hitungan kecuali menghitung duit baru jago."

Ara tertawa. "Bisa saja, A. Ngomong-ngomong, rumah Aa dekat sama A Bima?"

"Rumah sih enggak, tapi kosan iya," balas Reyhan, kemudian mengambil rokok. "Eh, ini saya boleh?"

Ara mengangguk. "Iya atuh A, boleh. Gak ada yang larang. Aa ngekos, yah? Berarti nanti kita bisa sering ketemu. Rencananya, aku bakal ikut ke Jakarta mau tinggal di rumah A Bima, mau kuliah."

"Wah iya dong, nanti kita bisa jalan bareng juga," goda Reyhan yang malah membuat Ara tersipu.

Reyhan melirik Ara, dia memang gadis cantik. Tahun ini gadis itu baru saja lulus SMA. Sebenarnya, kabar ini sudah Reyhan dengar dari Bima tadi sore untuk mengingatkan mereka nanti, jika di Jakarta jangan menggoda sepupunya. Dia sekarang tidak sedang menggodanya, tapi gadis itu sendiri yang datang mendekat yang mancing-mancing mau digoda. Siapa tahu ini memang takdir, jika mereka memang berjodoh. Ara cantik, jadi Reyhan tidak akan menolak.

Hampir tengah malam, mereka terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk tidur karena memang sudah malam dan Reyhan juga sudah tidak tahan srledari tadi sudah banyak menjadi donor darah. Berbicara dengan Ara, Reyhan merasa mereka nyambung. Selalu ada topik menarik yang mereka bahas.

"Ada yang curi start duluan, nih!" sindir Dion yang sedang tiduran di kasur, tepat saat Reyhan baru saja masuk kamar. Mereka bertiga memang tidur satu kamar, bahkan satu ranjang.

"Apaan sih, gak jelas." Reyhan malas meladeni Dion. Dia melepaskan kaos, kemudian ikut berbaring. Reyhan memang tidak bisa jika tidur harus memakai kaos.

"Ngapain aja lo sama Ara? Gak macam-macam, kan?" tanya Bima sewot, menatap Reyhan tajam.

"Ayo jujur!" Kali ini Dion ikut menatap Reyhan penuh selidik. Pasalnya, Ara itu gadis pertama yang menjadi incarannya saat baru datang tadi.

"Ampun Bos, kalau mau macam-macam juga gak di depan rumah kali. Kalau punya niat buruk, udah gue bawa ke kebun sana," jawab Reyhan membela diri.

"Iya juga, sih," balas Dion. "Tapi gue tetep gak terima yah, lo deketin Ara. Lo tahu kan, gue udah incar dia dari aw--!"

Bima sudah menggeplak kepala Dion, saat akan kan marah,dia buru-buru menutup mulut karena merasa keceplosan. "Bercanda, woi!"

"Jangan macam-macam!" ancam Bima menatap tajam Dion. Lalu, dia balik menatap Reyhan tajam. "Lo juga!"

"Gue cuman ngobrol santai, Bro. Santai aja, udah ah ... gue ngantuk." Reyhan sudah mendorong kedua temannya, supaya jatah tidur dia banyak.

"Geser, woi!" Dion sudah kembali menggeser Reyhan, tapi sayang tidak mempan. "Ini gue udah mentok tembok!"

"Grok ... grok ... grok ...." Reyhan berpura-pura mendengkur.

"Si Bangke ini, mau gue tendang?" Dion sangat kesal karena pertahanan tubuh Reyhan sangat kuat.

"Lo tendang dia, gue ikut jatuh, Bangke!" Bima sudah ikut emosi. "Tidur sana, berisik!"

"Grok ... grok ... grok ...." Reyhan dan Bima secara bersamaan pura-pura mendengkur.

"Sialan, lo berdua!"

**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!