NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 13: berani

*Jam 8:42 malam. Kost Karawaci.*

Hujan kecil ngetuk jendela. Indry baru selesai makan bubur ikan sama Jus Alpukat yang dikirim Carel lewat gojek. Ogah udah tidur duluan, ngantuk abis nonton anime. Kost jadi sepi. Sepi yang nggak nyesek, tapi bikin hati denger degup sendiri.

Indry buka WA. Nggak ada notif penting. Laporan BPJS udah kelar. Ventolin ada di laci. Maag adem.

Tiba-tiba layar nyala.

Zaki: “Dry, lagi apa?”

Jam 8:43 malam.

Indry ketawa kecil. Selalu gitu. Zaki muncul pas kost sepi. Kayak tau timing.

Indry balas pelan: “Baru makan. Kamu?”

Zaki: “Baru abis nyusun shuttlecock.”

Indry: “Alhamdulillah. Rezeki.”

Zaki: “Iya. Rezeki.puji Tuhan.”

keduanya senyum.... lihat lagi balasan tadi, baca. satu kali, dua kali, tiga kali. senyum lagi.

Obrolan kecil. Tapi jalan. Nggak berhenti di 2 baris.

Zaki: “gimana adik adik kamu?si Ogah, masih doyan martabak coklat? ”

Indry: “Masih. si Ogah Katanya mau nabung buat beli laptop. Biar bisa coding.”

Zaki: “Keren. Anaknya punya tujuan.”

Indry: “Iya. Untung ada kamu yang sering kirim martabak. Jadi dia semangat.”

Zaki kirim stiker ketawa.

Indry balas stiker ketawa juga.

Mereka ngobrol tentang Ogah, tentang Mauba yang lagi heboh karena tugas kampus, tentang Carel yang ngomel-ngomel karena Indry slalu telat makan, tentang Paul yang sekarang kerja di kantor Pemerintah, calon camat nampaknya, Ujar Zaki.

Zaki cerita tentang kerjaannya, lagi banyak pesanan bahan baku jamu, Minyak kelapa, dan Orderan Shuttlecok.

Nggak ada kata romantis. Nggak ada “aku kangen”. Tapi Indry nggak sadar udah 27 menit ngetik.

Jam 9:10 malam.

Zaki: “Kamu ngetik panjang ya Dry. Biasanya cuma ‘iya’ ‘udah’ ‘sip’.”

Indry: “Kamu juga. Biasanya cuma ‘hati-hati ya’.”

Zaki: “Hari ini pengen ngobrol lama.”

Indry diem 3 detik. Jantung aneh.

Zaki: “Boleh telepon?”

Indry tarik napas. 15 tahun dia jaga jarak. 15 tahun dia bilang “nggak perlu”. Sekarang? Tangannya gemetar pas pencet “boleh”.

Jam 9:12 malam. Panggilan masuk.

Indry geser jawab.

“Haloo…” suaranya pelan, takut kebesaran.

Zaki: “Haloo Dry… suara kamu capek ya?”

Indry ketawa kecil. “Kamu juga. Suara kayak habis angkat kuali gede”

Zaki ketawa. “Iya. Tadi ngangkat kuali gede, dapat Minyak 20 kiloan. Lengan masih panas.”

Mereka ngobrol. Bener-bener ngobrol. Nggak ada yang maksa. Nggak ada yang canggung.

Zaki cerita soal Bu Warti yang gula darahnya udah stabil, tapi masih suka nyuruh Zaki makan.

Indry cerita soal Meta yang heboh dapat kerjaan baru di klinik gigi PIK.

Zaki tanya Mauba beneran deket sama anak Pak Ustadz?

Indry jawab iya. Mauba bilang Dara baik. Ngerti batas. Nggak maksa pindah agama.

Zaki bilang, “Bagus. Kalau emang jodoh, Tuhan buka jalan. Kalau bukan, Dia tutup. Kita nggak bisa maksa.”

Kalimat itu. Kalimat itu yang bikin Indry diem 4 detik.

Zaki sadar. “Eh maaf… kok jadi ngomong berat ya.”

Indry: “Nggak… bagus Zak. Jujur.”

Mereka ngobrol 20 menit. Soal kerjaan. Soal ventolin. Soal maag. Soal Ogah yang mimpi jadi programmer. Soal Indry yang capek jadi kepala keluarga tapi nggak pernah nyesel.

Zaki nggak bilang “aku sayang kamu”. Zaki bilang, “Kamu hebat Dry. 15 tahun jaga adik-adik sendiri. Aku salut.”

Indry diem. Mata basah.

Zaki: “Dry… kamu masih di telepon kan?”

Indry: “Masih.”

Zaki: “Boleh video call?”

Indry tarik napas panjang. Jantung kayak mau loncat.

Zaki: “Kalau nggak mau nggak apa-apa. Aku ngerti.”

Indry: “Boleh… tapi jangan ketawa liat muka gue ya. Kusut.”

Zaki ketawa pelan. “Dari dulu juga kusut kalau baru bangun.”

Jam 9:34 malam. Indry geser tombol video.

Layar nyala.

Zaki masih di dapur. Apron masih nempel, kaos kusut, rambut berantakan kena uap wajan. Tapi matanya tenang. Hangat.

Indry di kamar kos. Rambut acak, daster krem, muka lelah tapi senyum. Lampu tidur biru buat wajah indry yang berantakan jadi keliatan ayu.

Mereka nggak ngomong 5 detik. Cuma saling lihat. Kayak ngecek: “Ini beneran kamu?”

Zaki duluan pecah. “Gemukan dikit ya kamu.”

Indry lempar bantal ke kamera. “Kamu juga! Perut martabak keluar!”

Mereka ketawa. Ketawa yang 15 tahun ditahan. Ketawa yang bikin Ogah kebangun dan ngintip dari balik pintu.

“WOY KAK! VC SAMA KAK ZAKI?! KAK KETAWA! KAK JARANG KETAWA GINI!”

Indry buru-buru nutup kamera. “OGAH! BALIK TIDUR!”

Zaki ketawa di layar. “Ogah gede ya Dry. Suaranya udah berat.”

Mereka lanjut VC. 23 menit total.

Zaki tunjukin wajan. Indry tunjukin kamar kos yang sepi karena Meta udah pindah.

Zaki tanya, “Meta beneran pindah?”

Indry angguk. “Iya. Dapat kerjaan baru di klinik gigi PIK. Gaji naik 2x. Dia heboh banget. Dus barangnya dari kemarin numpuk.”

Zaki: “Bagus. Dia berhak senang. Dia sahabat yang jaga kamu selama ini.”

Indry: “Iya Zak. Gue nggak tau gimana hidup tanpa Meta.”

Di tengah obrolan, Carel WA marah-marah: “KAK! JANGAN SAMPAI KEBABLASAN! KAK BERHAK DAPAT YANG LEBIH!”

Paul kirim stiker doa.

Mauba kirim: “KAK, AKU SENANG LIHAT KAK SENYUM.”

Indry baca semua tapi nggak balas. Dia fokus ke layar. Fokus ke Zaki yang nunjukin tangan kena minyak panas.

Zaki: “Kemarin ketetes minyak. Nggak papa. Kecil.”

Indry: “Pakai salep Zak. Jangan dibiarin.”

Zaki: “Siap dokter Indry.”

Mereka ketawa lagi.

Indry: “Zaki… kamu berani ya.”

Zaki: “Berani apa Dry?”

Indry: “Berani minta video call. Berani ngomong panjang. Berani… perhatian lebih.”

Zaki diem 2 detik. “Kalau nggak sekarang, kapan lagi Dry. Umur nggak nunggu. Dan aku nggak mau nyesel.”

Indry diem. Nggak marah. Nggak kaget. Dia tau, Zaki emang nggak pernah main-main. Dari 15 tahun lalu.

Jam 9:55 malam. Indry buru-buru matiin VC.

“Udah Zak. Besok kerja.”

Zaki: “Iya Dry. Tidur ya. Jangan lupa ventolin.”

Indry: “Iya. Kamu juga. Jangan lupa salep.”

Zaki: “Siap.”

Layar mati.

Indry duduk di kasur. Dada hangat. Tangan masih gemetar.

Meta udah pindah kost. Kost jadi sepi. Tapi nggak sepi-sepi banget. Ada suara Zaki yang masih tinggal di kepala.

 

*2 hari kemudian. Jam 6 sore. Kost Karawaci.*

Indry pulang kerja. Capek. Tapi ada yang beda. Ada semangat kecil.

HP getar. Mauba.

Mauba: “Kak… aku mau ngomong.”

Indry: “Ngomong apa?”

Mauba: “Aku… aku jadian sama Dara.”

Indry duduk di kasur. Dara. Anak Pak Ustadz dekat kampus. Yang waktu itu Mauba bilang “hampir jadian”.

Indry: “Kamu yakin Maub?”

Mauba: “Yakin Kak. Dia baik. Dia ngerti aku Katolik. Dia bilang, kalau emang jodoh, Tuhan yang buka jalan. Kalau bukan, Dia yang tutup.”

Indry diem. 15 tahun lalu, dia juga pernah ada di posisi Mauba. Beda iman. Beda jalan. Takut bikin keluarga kecewa.

Indry: “Kamu bahagia?”

Mauba: “Bahagia Kak. Dia nggak maksa aku pindah. Dia cuma minta aku jaga imanku. Dan aku minta dia jaga imannya.”

Indry senyum. “Jaga baik-baik ya Maub. Kakak nggak larang. Kakak cuma minta… hati-hati. Doa banyak.”

Mauba: “Makasih Kak. Kakak juga ya… sama Kak Zaki.”

Indry nggak balas. Dia matiin HP.

Di luar, hujan kecil. Di hati, ada lega. Ada takut. Ada doa.

 

*Malamnya. Jam 11:03 malam.*

Indry belum tidur. Meta udah pindah. Kost sepi.

HP getar. Zaki.

Zaki: “Tidur?”

Indry: “Belum. Baru selesai doa.”

Zaki: “Aku juga. Baru selesai cuci wajan.”

Indry: “Mauba jadian sama Dara.”

Zaki: “Aku denger. Bagus Dry. Asal mereka jaga batas.”

Indry: “Iya Zak. Aku juga harus jaga batas.”

Zaki: “Iya Dry. Kita jaga batas. Tapi jaga batas bukan berarti mundur.”

Indry diem.

Zaki: “Aku nggak janji apa-apa sekarang. Aku cuma janji… aku akan berani jaga kamu pelan-pelan. Kalau Tuhan izinkan.”

Indry nggak bisa jawab. Cuma kirim emoji hati.

Zaki kirim emoji hati juga.

Selesai. Nggak ada kata panjang. Tapi cukup.

 

*Besoknya. Jam 9 pagi. Kost Karawaci.*

Ogah teriak dari depan. “KAK! ADA PAKET!”

Indry buka pintu. Kurir kasih dus besar. Pengirim: Zaki Zt. Tegal.

Ogah heboh. “MARTABAK KAK! MARTABAK!”

Indry buka. Isinya: 2 kotak martabak coklat, 1 toples ventolin baru.

Di atasnya ada nota tulisan tangan Zaki:

“Buat jaga kamu. Jaga iman. Jaga batas. -Z”

Ogah langsung serbu martabak.

Indry pegang nota itu lama. Nggak nangis. Tapi dada hangat.

Zaki nggak maksa. Zaki ngerti batas. Zaki berani nunjukin perhatian tanpa nyebrang.

Malamnya Zaki VC lagi.

Zaki: “Suka martabaknya?”

Indry: “Suka Zak. Ogah abis 1 kotak sendiri.”

Zaki ketawa. “Bagus. Biar dia semangat coding.”

Indry: “Meta kirim foto kost baru. Bagus Zak. Dekat klinik. Nggak perlu naik bus 2 jam.”

Zaki: “Syukur. Dia berhak senang.”

Mereka ngobrol 15 menit. Nggak romantis. Nggak baper. Cuma tanya kabar.

Tapi Indry nggak bisa tidur habis itu. Dia ulang baca chat Zaki dari 2 hari lalu. Dia ulang denger suara Zaki di kepala.

 

*Malam berikutnya. Jam 12:15 malam.*

Grup WA “Keluarga AndreBetari” meledak.

Meta yang udah pindah kost kirim voice note panjang:

“BREAKING NEWS! KAK INDRY VC 23 MENIT SAMA ZAKI! MAUBA JADIAN SAMA DARA! GUE PINDAH KOST! DUNIA KITA BERUBAH BESTY!”

Carel: “KAK! JANGAN BURU-BURU! KAK BERHAK DAPAT YANG LEBIH!”

Paul: “KAK, IMAN KAK JAGA YA! DARA BAIK, TAPI BATAS JANGAN DILEWAT!”

Mauba: “KAK, KAK JUGA HARUS BAHAGIA!”

Ogah: “KAK ZAKI MARTABAK LAGI YA KAK!”

Indry baca semua. Nggak balas. Dia matiin HP.

Dia pejam mata.

Di Karawaci hujan kecil.

Di Tegal hujan kecil.

Dua orang. Dua kota.

Satu chat panjang. Satu telepon 18 menit. Satu video call 23 menit.

Satu keberanian yang pelan-pelan muncul.

Zaki berani jaga.

Indry berani terima jaga itu.

Tapi tetap jaga batas.

Aku kangen, Zak.

Tapi Tuhan tau.

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!