NovelToon NovelToon
Grandmaster Yang Terlupakan

Grandmaster Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Sistem
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kain Lap di Pagar & Amarah yang Tak Bisa Dibendung

"Dan masih ada lagi, Guru."

Suara Yao Linger mengecil, namun kata-katanya jatuh di aula itu seperti batu ke dalam kolam yang tenang—mengirim riak ke setiap sudut ruangan.

"Artefak Jubah Cepat milik Kakak Senior Wufeng... juga dipakai sebagai kain lap untuk menyeka debu dan kotoran dari plakat dan tiang pintu."

BRAK.

Meja kedua hancur di bawah kepalan Ning Xuanwu. Serpihan batu melayang ke seluruh penjuru aula. Tidak ada satu pun tetua atau murid yang berani bergerak—bahkan bernapas pun mereka lakukan dengan sangat hati-hati.

Ning Xuanwu berdiri dengan seluruh tubuh gemetar. Bukan gemetar takut—melainkan gemetar menahan sesuatu yang sudah terlalu besar untuk ditampung dalam satu dada manusia.

Dua artefak terbesar Sekte Xuanwu. Benda-benda yang dijaga seperti nyawa, yang hanya dikeluarkan dalam keadaan paling darurat, yang bahkan para tetua senior pun tidak sembarangan menyentuhnya—kini bernasib sama dengan jenazah kedua murid kesayangannya.

Sampah. Rongsokan. Barang tidak berguna.

"Kejam." Suaranya keluar parau, lebih menyerupai raungan hewan luka daripada ucapan manusia. "Terlalu kejam. Jika mereka bersalah, hukumlah mereka—itu adalah hak seorang yang kuat. Tapi setelah gugur, mengapa harus dipermalukan sejauh ini?!"

Yao Linger menunduk dalam-dalam, matanya memerah. "Guru... aku yakin dia tahu persis dari mana asal barang-barang itu. Dia sengaja membiarkan semuanya terlihat jelas. Jika aku tidak menyamar rapat-rapat saat itu, aku khawatir aku pun tidak akan bisa kembali berdiri di sini sekarang." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah. "Orang itu... seolah sengaja memancing kita turun gunung. Ingin membunuh kita semua sekaligus."

Kalimat itu menyulut api baru di dalam dada Ning Xuanwu.

Wajahnya berubah merah padam. Aura pembunuhannya meluap keluar seperti banjir yang menjebol bendungan—menekan udara di seluruh ruangan hingga beberapa murid muda terhuyung ke belakang tanpa sadar.

"Kalau begitu, mari kita penuhi keinginannya." Suaranya kini tenang dengan cara yang jauh lebih berbahaya dari teriakannya tadi. "Semua ahli dan tetua sekte—bersiaplah. Kita turun gunung bersama. Aku akan datang sendiri, membalaskan dendam Wuchen dan Wufeng, dan mengambil kembali apa yang menjadi milik kita."

Rombongan Sekte Xuanwu bergerak turun gunung seperti awan badai yang berjalan—gelap, berat, dan penuh kilat yang belum meledak.

Mereka tiba di Kota Yunzhou menjelang siang, bersembunyi di balik bangunan-bangunan di ujung gang, tidak jauh dari sasana bela diri kecil yang menjadi tujuan mereka. Dari jarak itu, mereka bisa melihat langsung ke halaman depan.

Yao Linger menarik lengan gurunya dengan pelan. "Guru, jangan terburu-buru. Datang dengan kekuatan sebesar ini bisa jadi jebakan yang sudah disiapkan. Kakak Senior kita yang membawa artefak terbaik sekte pun musnah tanpa sempat berteriak. Kita harus—"

"Seberapa kuat dia sebenarnya?" Ning Xuanwu memotong, matanya tidak beralih dari sasana di kejauhan. "Apakah dia lawan yang seimbang bagiku?"

Yao Linger terdiam sejenak. Ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab—bukan karena ia tidak tahu, melainkan karena jawabannya tidak akan menyenangkan untuk didengar.

"Guru... aku sama sekali tidak bisa melihat kedalaman kekuatannya." Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Saat aku melihatnya dari dekat, dia tampak seperti manusia biasa—tidak ada sedikit pun qi yang memancar dari tubuhnya. Namun kemampuan melenyapkan Wuchen dan Wufeng, serta memperlakukan artefak kita seolah itu barang tidak bernilai... itu membuktikan bahwa kekuatannya berada di tingkat yang sama sekali berbeda dari kita."

Hening sejenak di antara mereka.

Ning Xuanwu teringat Lu Tianhe musuh bebuyutannya yang mengalahkannya habis-habisan hanya dengan sebuah pisau dapur. Jika pembuat pisau itu sendiri yang turun tangan langsung, seberapa dalam jurang yang memisahkan mereka?

Namun rasa malu dan dendam adalah racun yang lebih cepat bekerja dari akal sehat.

Ia mengambil keputusan tengah: tidak menyerbu langsung, melainkan mengirim seorang pengintai untuk melihat lebih dekat. Mengumpulkan informasi terakhir sebelum bergerak.

Di halaman sasana bela diri, suasananya tidak bisa lebih kontras dari ketegangan yang menyelimuti gang di kejauhan.

Lin Qian berbaring di kursi bambu dengan satu kaki terangkat, menikmati kehangatan matahari pagi dengan ekspresi seseorang yang tidak memiliki satu pun masalah di dunia ini.

"Murid," panggilnya tanpa membuka mata, "kerjamu dua hari ini bagus sekali. Rumah jadi bersih."

Han Yu yang sedang menyapu halaman menoleh dengan wajah berseri. "Terima kasih, Guru."

"Oh ya....." Lin Qian akhirnya membuka satu mata, "kain lap yang kau pakai tadi, jangan dibuang. Masih cukup bagus. Gantung di depan pintu supaya kering, nanti bisa dipakai lagi."

"Baik, Guru."

"Dan cuaca sedang cerah begini—" ia menutup matanya lagi, "—turunkan juga kedelapan belas lukisan tua di ruang depan. Jemur di halaman supaya tidak lembap. Hati-hati waktu menurunkannya, jangan sampai ada yang rusak."

"Siap, Guru."

Han Yu menurut dengan patuh. Satu per satu, delapan belas lukisan senjata kuno itu diturunkan dari dinding dan disandarkan rapi di halaman, terkena sinar matahari yang hangat. Setelah itu, ia mengambil kain lap yang tadi dipakai mengepel—yang penampilannya sudah compang-camping dan bernoda abu—lalu menggantungnya menjuntai di pagar depan pintu agar cepat kering.

Angin bertiup pelan.

Kain itu berayun-ayun, kusut dan kotor, dengan cara yang sama persis seperti kain lap bekas yang tidak memiliki nilai apa pun di dunia ini.

Di balik sudut gang, sepasang mata Ning Xuanwu terbelalak lebar.

Ia mengenalinya dalam sekejap,bahkan dari jarak sejauh itu, ia bisa merasakan sisa resonansi qi yang masih menempel di serat-serat kain tersebut.

Artefak Jubah Cepat.

Tergantung di pagar. Berayun ditiup angin. Kotor. Kusut. Diperlakukan seperti kain pel bekas yang menunggu giliran digunakan kembali.

"Itu..." Suaranya bergetar dengan cara yang belum pernah didengar oleh murid-muridnya. "Itu Artefak Jubah Cepat..."

Yao Linger menutup matanya sejenak. Ia sudah menduga ini akan terjadi.

Getaran di suara Ning Xuanwu berubah—dari gemetar menjadi raungan yang menggelegar memenuhi seluruh gang, membuat penduduk-penduduk kota yang kebetulan lewat berlarian kocar-kacir.

"Sangat tidak sopan! Penghinaan terbesar!" Tangannya mencengkeram gagang pedang hingga logamnya berderit. "Dia sengaja memamerkan ini tepat di depan mataku! Dia tahu kita di sini!"

Semua pertimbangan, semua rencana kehati-hatian, semua peringatan Yao Linger,semuanya lenyap seketika, tersapu oleh gelombang amarah yang sudah terlalu lama ditahan.

Ning Xuanwu menghentakkan kakinya ke tanah. Retakan menjalar di batu jalanan di bawahnya. Aura pembunuhan meluap keluar darinya seperti kabut hitam yang menelan cahaya matahari di sekitarnya.

"Dasar bajingan!" Suaranya menggelegar, cukup untuk membuat jendela-jendela di sepanjang gang bergetar. "Kali ini aku pastikan kau mati di tanganku sendiri!"

Langkahnya menerjang ke depan—menuju sasana bela diri kecil yang berdiri tenang di ujung gang, seolah tidak peduli dengan badai yang sedang bergerak menuju pintunya.

1
Azkiya Faiha
oke...
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ditunggu update terbaru nya thor 😀😀👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...lanjut Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣kenapa sang ahli alkemis sampe belepotan kotoran🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣musim kawin
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣dirampok sampe telanjang
Hadi Hadi
up to pdf 😍😍
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hadi Hadi
😍😍😍👍
Hadi Hadi
lanjut 💪💪
Hadi Hadi
sikat 💪💪💪
Hadi Hadi
up up up 👍👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣jurus pamungkas pura2 mati🤣🤣🤣
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣cuma lewat saja🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
wahahahahaha...mantap Thor
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
🤣🤣🤣senjata makan tuan 🤣🤣
Doanta Charo
astaga baru ini baca novel kultivasi ngakak abisss🤣🤣🤣🤣p
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
penyesalan memang datang dibelakang 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha... kejutan demi kejutan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!