NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Gerbang Kota Kegelapan

Tiga hari berlalu dengan perjalanan yang melelahkan namun penuh keberhasilan. Berkat pengetahuan mendalam Karin dan pasukan Elang Bebas tentang setiap sudut wilayah musuh, konvoi Garuda berhasil melewati jalur-jalur tersembunyi, menghindari penyergapan besar, dan menembus blokade-blokade jalan yang dijaga ketat. Mereka bergerak seperti bayangan di antara tebing dan lembah, tidak terdeteksi oleh radar atau patroli musuh.

Dan kini, di ujung perjalanan itu, mereka akhirnya sampai.

Dari puncak bukit batu yang tinggi, Raka dan seluruh pasukannya menatap ke bawah, menampakkan pemandangan yang membuat napas mereka tertahan dan hati mereka berdebar kencang.

Di bawah sana, di dalam sebuah kawah gunung berapi raksasa yang luas dan dalam, terbentanglah Kota Kegelapan.

Itu bukan sekadar kota atau markas militer biasa. Itu adalah benteng raksasa yang dibangun dari besi, beton, dan batu hitam, menempati seluruh dasar kawah yang dikelilingi dinding tebing vertikal setinggi ratusan meter. Di tengah kota itu menjulang sebuah menara raksasa, tinggi menjulang hingga hampir setinggi bibir kawah, terbuat dari logam gelap yang berkilauan suram, dan di puncaknya memancarkan cahaya ungu pekat yang menyilaukan, seolah menyerap semua cahaya matahari di sekitarnya.

Di sekeliling kota, di lereng-lereng dinding kawah, terpasang ribuan meriam pertahanan, peluncur roket, dan senjata laser yang mengarah ke segala penjuru. Di landasan-landasan datar, puluhan pesawat tempur dan helikopter siap terbang kapan saja. Dan di jalan-jalan lebar di dalam sana, terlihat ribuan kendaraan lapis baja berbaris rapi, serta lautan pasukan berseragam hitam yang jumlahnya tak terhitung banyaknya.

"Ini... ini luar biasa..." bisik Bara dengan suara gemetar, matanya terbelalak melihat skala kekuatan musuh yang jauh melebihi imajinasi terliarnya. "Ini bukan lagi sekadar organisasi kriminal atau kelompok pemberontak. Ini adalah negara militer yang utuh. Mereka punya kekuatan senjata yang cukup untuk menguasai seluruh benua ini sendirian."

Jenderal Agus berdiri di samping Raka, wajahnya pucat dan penuh emosi campur aduk. Ia menatap menara tinggi di tengah sana dengan pandangan yang penuh kenangan pahit.

"Menara itu... itu adalah Pusat Komando Matahari Hitam. Dulu, dua puluh tahun lalu, kami bertiga—aku, Dirgantara, dan Aditya—membangun pondasi menara ini sebagai pusat penelitian energi untuk perdamaian. Kami bermimpi menciptakan sumber energi tak terbatas yang bisa menyejahterakan semua orang. Tapi Aditya mengubah segalanya. Dia mengubah mimpi itu menjadi mimpi buruk. Dia mengubah tempat ini menjadi sarang iblis."

Agus menoleh ke Raka, matanya berkaca-kaca.

"Dan di puncak menara itulah dia berada, Nak. Di sana dia duduk di atas takhta besinya, menganggap dirinya dewa. Di sanalah dia merencanakan segalanya. Dan di sanalah dia menyimpan sisa penelitiannya... rencananya untuk menggunakan Sumber Unggul agar menjadi makhluk abadi."

Karin yang berdiri di sisi lain, menunjuk ke arah gerbang utama yang terletak di celah sempit di dinding kawah, satu-satunya jalan masuk kendaraan ke dalam kota itu. Gerbang itu terbuat dari lempengan besi setebal belasan meter, tingginya puluhan meter, kokoh dan tak tertembus. Di depannya terbentang parit dalam berisi cairan hitam yang mendidih dan beracun, dijaga oleh dua menara pertahanan raksasa yang dilengkapi senjata pemusnah massal.

"Gerbang itu disebut Pintu Kiamat," ucap Karin dengan nada serius. "Selama lima belas tahun ini, kami mencoba menyerang dan menghancurkannya berkali-kali. Kami gunakan bahan peledak terbesar, kami serang diam-diam, kami coba segala cara... tapi gerbang itu tidak bergeming sedikit pun. Bahkan rudal nuklir pun mungkin akan memantul darinya. Dan satu hal lagi... gerbang itu tidak bisa dibuka dari luar. Hanya ada satu cara masuk: kita harus memanjat dinding kawah yang curam dan licin itu, melewati ribuan sensor dan menara senjata, lalu turun ke dalam secara diam-diam untuk membuka gerbang dari dalam."

Reza maju selangkah, menatap dinding tebing yang hampir vertikal itu dengan senyum menantang.

"Memanjat tebing? Melewati penjagaan? Itu pekerjaan kami. Pasukan Elit dan pasukan Elang Bebas sudah terbiasa bergerak di tempat sulit. Berikan kami waktu satu malam, dan kami akan membukakan jalan itu untuk kalian."

Namun Raka menggeleng pelan. Ia menatap gerbang raksasa itu, menatap menara di kejauhan, dan merasakan getaran halus yang sama seperti yang ia rasakan saat dekat dengan Sumber Unggul, namun kali ini getarannya gelap, dingin, dan mengerikan.

"Tidak," kata Raka tegas. "Kalau kita mencoba menyusup, dia akan tahu. Aditya bukan orang bodoh. Dia adalah penemu, ahli strategi, dan orang yang paling mengerti cara berpikir Ayahku... dan cara berpikirku, karena darah kami sama. Dia sudah menunggu kami datang. Dia sudah tahu kami ada di sini sekarang. Penyusupan hanya akan membawa kami ke dalam jebakan maut yang sudah disiapkannya."

Raka mengangkat kepalanya, matanya bersinar tajam dan penuh keyakinan.

"Dia ingin kita datang. Dia ingin melihat kami. Dia ingin berhadapan muka dengan kami, terutama denganku. Dia ingin memamerkan kekuasaannya, ingin membuktikan bahwa dia lebih hebat dari Ayahku, ingin memaksaku menyerah dan menyerahkan Sumber Unggul padanya."

Raka menunjuk ke arah gerbang raksasa itu.

"Kalau begitu... kita akan memberinya apa yang dia inginkan. Kita tidak akan bersembunyi. Kita tidak akan menyusup. Kita akan datang kepadanya... dengan kepala tegak, dengan bendera kami berkibar, dan dengan kekuatan penuh kami. Kita akan mengetuk pintu gerbangnya... sampai hancur berkeping-keping."

Bara terkejut, matanya membelalak.

"Raka... kau gila? Kau dengar kan apa yang Karin bilang? Gerbang itu tidak bisa ditembus! Dan bahkan kalau kita bisa menghancurkannya, ribuan senjata di dinding itu akan menghancurkan kita jadi debu saat kita mendekat!"

"Aku tahu," jawab Raka tenang. "Tapi ada satu senjata yang mereka tidak punya. Satu kekuatan yang tidak bisa dilawan oleh besi, beton, atau teknologi apa pun."

Raka menatap peti besi besar yang dijaga di belakang barisan, peti yang berisi kristal biru itu.

"Kekuatan kebenaran. Kekuatan perlindungan. Dan kekuatan warisan yang ditakuti oleh iblis sekalipun."

Ia berbalik menghadap seluruh pasukannya yang berkumpul di bukit itu, ribuan prajurit Garuda dan Elang Bebas yang menatapnya penuh harap.

"KAWAN-KAWAN! SAUDARA-SEPERJUANGANKU! DI BAWAH KITA ADA SARANG KEJAHATAN YANG SUDAH MENYAKITI KITA SEMUA SELAMA LIMA BELAS TAHUN INI! DI DALAM SANA BERADA ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEGALA PENDERITAAN, KEMATIAN, DAN KEHANCURAN YANG KITA LIHAT! DIA MENGANGGAP DIRINYA PENGUASA DUNIA! DIA MENGANGGAP KITA SEBAGAI SERANGGA YANG BISA DIPATUKNYA KAPAN SAJA!"

Suara Raka bergema keras, didengar oleh semua orang.

"TAPI DIA LUPA! DIA LUPA BAHWA KITA ADALAH GARUDA DAN ELANG! KITA ADALAH MAKHLUK YANG TERBANG DI ATAS AWAN! KITA ADALAH MAKHLUK YANG TIDAK TAKUT PADA API ATAU KETINGGIAN! DAN HARI INI... KITA AKAN MEMBUAT DIA MENYESAL KARENA PERNAH DILAHIRKAN KE DUNIA INI! HARI INI... KITA AKAN MEMBUKA GERBANG NERAKA ITU DENGAN TANGAN KITA SENDIRI!"

"SIAPKAN FORMASI SERANGAN TOTAL! BAWA SUMBER UNGGUL KE POSISI PALING DEPAN! KITA AKAN BERJALAN LURUS MENUJU PINTU KIAMAT ITU! DAN KETIKA MEREKA MENEMBAK... KITA AKAN BALAS DENGAN KEKUATAN YANG AKAN MENGGUNCANG DUNIA!"

Suara sorak sorai menggelegar bukit itu, bergema turun ke lembah, menantang kekuatan gelap di bawah sana. Semangat mereka tidak lagi dihalangi oleh rasa takut akan jumlah musuh atau kekuatan senjata. Mereka hanya punya satu tujuan: Mengakhiri ini semua.

Konvoi panjang itu pun bergerak turun dari bukit, melintasi jalan berkelok yang menuju ke dasar kawah, langsung menuju gerbang raksasa itu. Di barisan paling depan, kendaraan komando Raka berjalan diikuti kendaraan berisi Sumber Unggul, dijaga ketat oleh Reza, Dedi, dan pasukan elit. Di belakang mereka, seluruh kekuatan tempur Garuda dan Elang Bebas bergerak maju sebagai satu kesatuan pasukan pembebasan yang perkasa.

Saat mereka semakin mendekat, alarm bahaya berbunyi nyaring di seluruh Kota Kegelapan. Dari menara-menara pertahanan di dinding kawah, ribuan laras senjata berputar dan mengarah ke bawah, mengunci sasaran pada pasukan Raka yang berjalan terbuka tanpa perlindungan apa pun.

Di balik Gerbang Kiamat, di ruang kendali utama, Jenderal Kegelapan berdiri di depan layar monitor raksasa, menonton pasukan Raka yang berjalan mendekat dengan wajah bingung dan tak percaya.

"Mereka gila?" geramnya rendah. "Mereka berjalan di jalan terbuka, tanpa perlindungan, tanpa penyamaran, berjalan lurus ke arah ribuan senjata kita? Apa yang direncanakan anak itu?"

Tiba-tiba, suara berat dan dingin terdengar dari belakangnya, dari kursi besar yang duduk di bayangan ruangan itu.

"Mereka tidak gila, Kegelapan..."

Jenderal Kegelapan seketika membungkuk hormat, keringat dingin membasahi punggungnya.

"Yang Mulia Aditya..."

Sosok itu melangkah maju keluar dari bayangan. Dia adalah Sang Penguasa. Pakaiannya jubah hitam panjang yang dihiasi benang emas, wajahnya masih tampan namun keras dan dingin, matanya berkilauan ungu gelap, dan di sekelilingnya melayang energi gelap yang tebal dan mencekam. Dia terlihat persis seperti Dirgantara, namun dengan aura yang berkebalikan sepenuhnya: di mana Dirgantara memancarkan kehangatan dan kebaikan, Aditya memancarkan dingin dan keserakahan.

"Dia tidak menyusup karena dia ingin aku melihatnya," ucap Aditya sambil tersenyum miring, menatap layar dengan pandangan penuh rasa bangga dan haus darah. "Dia persis seperti ayahnya. Bodoh dan sombong karena merasa benar. Dia berpikir kekuatan hatinya bisa mengalahkan kekuatan teknologi dan kekuatan mutlak. Bagus... ini persis yang aku inginkan. Bawa dia masuk. Biarkan dia melihat kemegahanku. Biarkan dia melihat betapa kecil dan tidak berartinya kebenaran di hadapan kekuatan mutlak."

Aditya mengangkat tangan kanannya, memberi perintah.

"Tahan tembakan. Jangan serang mereka sampai mereka berada tepat di depan gerbang. Buka lebar-lebar Pintu Kiamat itu. Aku ingin menyambut keponakanku sendiri... dengan tangan terbuka."

Di luar sana, Raka dan pasukannya berhenti tepat seratus meter di depan gerbang besi raksasa itu. Senjata-senjata di dinding masih mengarah ke mereka, tapi tidak ada yang menembak. Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh kawah itu.

Lalu, terdengar suara dentuman besi yang berat dan mengerikan. KRAK... KRAK...

Gerbang raksasa itu perlahan terbuka. Dua lempengan besi setebal itu bergeser ke samping, membuka jalan masuk yang gelap dan menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan mereka hidup-hidup. Dari dalam kegelapan gerbang itu, cahaya ungu redup memancar keluar, membawa bau besi, minyak, dan kematian.

Raka turun dari kendaraannya. Ia berjalan maju sendirian, melewati barisan pasukannya, berjalan mendekati mulut gerbang yang terbuka itu. Di belakangnya, Jenderal Agus, Karin, Bara, dan semua komandan menahan napas, siap bertindak apa saja kalau ada bahaya muncul.

Saat Raka berhenti tepat di ambang pintu gerbang, suara bergema dari dalam, diperkuat oleh pengeras suara raksasa yang terpasang di mana-mana, mengisi seluruh ruang kawah itu. Suara itu berat, berwibawa, dan sangat familiar—suara yang sangat mirip dengan suara ayahnya, namun penuh racun dan keangkuhan.

"Selamat datang... Raka Pratama. Anak dari sahabatku tersayang. Pewaris satu-satunya kebodohan dan kesia-siaan itu."

Dari balik kegelapan di ujung jalan masuk yang panjang itu, sosok Aditya muncul, berdiri di atas sebuah panggung tinggi, dikelilingi oleh ratusan pengawal elit bersenjata paling canggih. Ia tersenyum lebar, menatap Raka dengan pandangan yang bercampur rasa ingin tahu, rasa hormat yang terdistorsi, dan kebencian yang mendalam.

"Aku sudah menunggumu lama sekali, Nak. Lima belas tahun aku menunggu momen ini. Momen di mana aku bisa berhadapan muka dengan darah terakhir dari Dirgantara. Momen di mana aku bisa menyelesaikan apa yang harus diselesaikan lima belas tahun lalu."

Raka tidak mundur selangkah pun. Ia menatap lurus ke mata Aditya, matanya tajam dan penuh kebencian yang dingin.

"Kau bukan sahabat Ayahku. Kau adalah pengkhianat terbesar yang pernah ada. Kau yang membunuhnya. Kau yang menghancurkan hidup kami. Kau yang membuat dunia ini penuh penderitaan."

Aditya tertawa keras, suaranya bergema mengerikan.

"Membunuhnya? Aku tidak membunuhnya, Nak! Aku membebaskannya! Aku membebaskannya dari belenggu moral dan kebodohan yang dia sebut 'kebaikan' itu! Dia terlalu lemah! Dia terlalu peduli pada orang lain, pada aturan, pada hal-hal yang tidak nyata! Sementara aku... aku melihat kebenaran yang sesungguhnya: Di dunia ini, hanya ada yang kuat dan yang lemah. Yang kuat berkuasa, yang lemah binasa. Dan aku... aku memilih menjadi yang terkuat!"

Aditya menunjuk ke arah menara raksasa di belakangnya, yang cahayanya makin terang dan berdenyut kencang.

"Aku sudah menemukan rahasia alam semesta, Raka! Aku sudah mengerti cara kerja energi! Dan dengan bantuan Sumber Unggul yang kau bawa itu... aku akan menyempurnakan penelitianku. Aku akan meleburkan diriku dengan energi murni itu. Aku akan menjadi makhluk yang tidak bisa mati, tidak bisa dilukai, tidak bisa dikalahkan! Aku akan menjadi dewa yang mengatur nasib seluruh umat manusia! Dan kau... kau akan menjadi bagian dari sejarahku. Kau akan menjadi pengingat terakhir betapa lemahnya kebaikan dibandingkan kekuatan mutlak."

Raka mengangkat tangannya, dan di belakangnya, peti besi berisi kristal itu dibuka oleh pasukan elit. Cahaya biru cemerlang memancar keluar, beradu dengan cahaya ungu gelap dari menara Aditya. Dua kekuatan besar itu bertemu dan saling tolak di udara, menciptakan angin kencang yang membelah jalan di antara mereka.

"Kau salah, Aditya," jawab Raka dingin dan tegas. "Kau tidak mengerti apa-apa tentang kekuatan. Kau pikir kekuatan adalah untuk menguasai dan menindas? Kau pikir kekuatan adalah untuk menjadi dewa di atas penderitaan orang lain? Kau salah besar. Kekuatan sejati... adalah kekuatan untuk melindungi. Kekuatan sejati... adalah kekuatan untuk mengorbankan diri demi orang lain. Dan itulah kekuatan yang kau tidak punya, dan tidak akan pernah kau punya."

Raka mengepal tangannya, cahaya biru makin menyala terang, menerangi seluruh kawasan yang gelap itu.

"Ayahku mati karena dia memilih melindungi dunia darimu. Mayor Seno mati karena dia memilih melindungi kami. Ribuan orang mati karena mereka memilih kebenaran. Dan kau... kau hidup dalam kemewahan dan kekuasaan ini... tapi kau mati di dalam. Kau tidak punya teman, kau tidak punya kepercayaan, kau tidak punya cinta. Kau hanya punya ketakutan... ketakutan bahwa suatu hari nanti, kebenaran akan datang menuntutmu."

Raka mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memberi isyarat perang terakhir.

"DAN HARI ITU ADALAH HARI INI!"

"GARUDA! SERANG! HANCURKAN SEMUANYA!"

Terik perang meledak dari ribuan mulut di belakang Raka. Pasukan Garuda dan Elang Bebas menyerbu masuk melewati gerbang raksasa itu, menerobos masuk ke dalam jantung Kota Kegelapan, berhadapan langsung dengan pasukan elit Kelompok Mata Hitam yang jumlahnya berlipat ganda.

Pertempuran terakhir, pertempuran penentuan nasib dunia, akhirnya dimulai. Di jalanan kota yang dibangun di atas kawah purba itu, di antara gedung-gedung besi dan senjata pemusnah massal, dua kekuatan besar bertarung habis-habisan: Kebenaran melawan Kejahatan, Warisan melawan Pengkhianatan, dan Raka Pratama melawan Aditya, Sang Penguasa Dunia.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!