Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Tahu dan Menerima
Saskia berdiri di depan kandangnya yang sudah direnovasi seadanya. Dinding bambu yang dulu reyot sudah diganti dengan papan kayu baru. Atap genting yang retak sudah ditambal. Lantai tanah sudah dikeraskan dengan campuran pasir dan kapur. Palung pakan sudah dibuat dari bak plastik besar, lebih higienis daripada palung kayu lama yang sudah lapuk dimakan jamur.
Tidak mewah. Jauh dari standar feedlot modern. Tapi cukup untuk menyambut tamu-tamu istimewa.
Truk kontainer putih itu berhenti tepat di depan pagar. Logo PT Hardjono Agribisnis terpampang di sisi kontainer, huruf H besar dengan aksen emas. Sopir turun dari kabin, membawa clipboard. Di belakangnya, dua pekerja kandang yang dikirim Daniel langsung melompat dari kursi penumpang.
"Pengiriman lima ekor Wagyu Fullblood Australia," kata sopir itu, memeriksa dokumen di clipboard-nya. "Atas nama Mbak Saskia Utami."
"Saya sendiri."
Saskia menandatangani dokumen pengiriman. Jemarinya sedikit gemetar, bukan karena gugup, tapi karena adrenalin yang sudah membanjiri pembuluh darahnya sejak subuh tadi. Ini momen yang sudah ia tunggu selama dua minggu. Momen yang membuat semua kerja keras, semua mimisan, semua pingsan, terasa sepadan.
Meskipun ada satu harga yang masih terasa ngilu di dadanya.
Si Belang.
Blind test dua hari lalu berjalan sempurna. Chef Tanaka memuji marbling dagingnya. Chef Kusuma langsung menawarkan kontrak untuk Hotel Tugu. Daniel Hardjono, untuk pertama kalinya, menatapnya dengan sesuatu yang bukan sinis. Tapi kesempurnaan itu punya harga: Si Belang sekarang sudah tidak ada.
Dagingnya sudah didistribusikan ke dapur hotel dan laboratorium uji coba. Saskia sendiri yang mengawasi prosesnya, memastikan sapi itu diperlakukan dengan standar tertinggi sampai detik terakhir. Tapi tetap saja, ketika ia kembali ke kandang malam harinya dan melihat sudut tempat Si Belang biasa berdiri sekarang kosong, ada sesuatu yang perih di dalam dadanya.
"Ini bagian dari pekerjaan," bisiknya pada dirinya sendiri pagi ini, sebelum truk kontainer datang. "Ini bagian dari siklus. Kau dokter hewan. Kau tahu ini."
Tapi tahu dan menerima adalah dua hal yang berbeda.
"Mbak? Mbak Saskia?"
Suara sopir truk membuyarkan lamunannya. Saskia menggeleng pelan, menepis kenangan tentang sapi lokal jantan yang dulu ia lindungi dari sapu lidi Bibi Laras.
"Lanjutkan."
Pintu kontainer dibuka.
Warga desa mulai berdatangan. Dari satu dua orang yang kebetulan lewat, jadi lima, jadi sepuluh, jadi dua puluh. Mereka berdiri di sepanjang pagar, mata mereka melebar, mulut mereka setengah terbuka. Belum pernah ada truk kontainer sebesar ini masuk ke desa mereka. Belum pernah ada yang membawa sapi dengan cara seperti ini.
"Apa itu, Mbak?" tanya seorang ibu tua dari balik pagar.
"Wagyu, Bu."
"Wah-yu? Sapi apa itu?"
"Sapi premium. Dagingnya untuk restoran mahal dan hotel bintang lima."
Ibu itu mengerutkan keningnya. Jelas ia tidak mengerti. Tapi ia tetap menonton, sama seperti dua puluh warga lainnya yang mulai memadati pagar.
Satu per satu, sapi-sapi itu turun dari kontainer melalui ramp khusus.
Lima ekor. Semuanya betina. Japanese Black Fullblood, bukan persilangan. Warna bulu hitam legam dengan sedikit aksen putih di bagian bawah perut. Postur tubuh kompak, padat, dengan bahu lebar dan kaki yang kokoh. Mata mereka besar dan tenang, khas sapi Wagyu yang sudah terbiasa dengan penanganan manusia.
Saskia memeriksa masing-masing dengan teliti begitu keempat kaki mereka menapak tanah. Matanya bergerak cepat, menilai postur kaki, sudut pinggul, panjang ekor, kondisi bulu, kebersihan mata dan hidung. Jemarinya meraba punggung masing-masing sapi, merasakan kontur otot di bawah kulit.
"Semuanya dalam kondisi prima," gumamnya.
Daniel Hardjono tidak main-main dengan kualitas.
Tapi saat ia memeriksa sapi keempat, jemarinya berhenti di bagian paha belakang. Ada benjolan kecil di bawah kulit, seukuran kacang tanah. Tidak terlihat dari luar, hanya bisa dirasakan dengan perabaan.
"Injeksi," bisiknya.
Sopir truk menoleh. "Apa, Mbak?"
"Tidak apa-apa. Lanjutkan."
Saskia mencatat dalam kepalanya. Bekas suntikan. Mungkin vaksin. Mungkin vitamin. Tapi ia akan memeriksanya lebih teliti nanti. Ia tidak akan mengambil risiko setelah apa yang terjadi dengan sapi PO betina dulu.
"Masukkan ke kandang belakang," perintahnya pada dua pekerja kandang. "Yang sudah saya siapkan khusus. Jeraminya baru. Palung pakannya sudah diisi. Air minumnya sudah saya campur dengan elektrolit untuk mengurangi stres perjalanan."
"Elektrolit?" tanya salah satu pekerja.
"Gula, garam, baking soda. Campuran sederhana. Tapi efektif untuk rehidrasi."
Pekerja itu menatapnya dengan ekspresi antara heran dan tidak percaya, lalu mengangguk dan mulai menggiring sapi-sapi itu ke kandang belakang.
Di antara kerumunan warga, Saskia melihat dua wajah yang tidak asing.
Bibi Laras dan Paman Harto.
Mereka berdiri di belakang kerumunan, tidak mendekat. Tapi mata mereka... mata Bibi Laras berbinar-binar dengan cara yang membuat Saskia menegang. Binar yang sama yang ia lihat dulu, ketika Bibi Laras masuk ke kandangnya dan melihat hasil panen yang siap diambil. Binar yang sama ketika ia tahu ada sesuatu yang bisa dikuras.
Bibi Laras tidak tahu apa itu Wagyu. Tapi ia tahu sapi-sapi ini berbeda. Ia tahu sapi-sapi ini mahal. Ia tahu sapi-sapi ini adalah uang berjalan di atas empat kaki.
"Saskia!"
Suara itu memecah pikirannya. Ia menoleh.
Seorang bapak setengah baya berkaos oblong dan celana pendek mendekatinya. Wajahnya tidak asing. Pak RT. Orang yang sama yang dulu diam saja ketika Bibi Laras menguras hasil panennya.
"Ini sapi apa, Saskia? Mahal sekali pasti ya?"
"Wagyu, Pak."
"Wah, hebat sekali. Dulu cuma punya sapi sakit-sakitan, sekarang bisa beli sapi impor." Pak RT tersenyum, tapi senyumnya tidak sepenuhnya tulus. Matanya menatap sapi-sapi Wagyu dengan cara yang mirip Bibi Laras. "Pinjam uang dari mana?"
Saskia menatapnya. "Bukan pinjam. Kemitraan."
"Kemitraan sama siapa?"
"PT Hardjono Agribisnis."
Nama itu membuat beberapa warga berbisik-bisik. Hardjono. Perusahaan raksasa. Semua orang di Malang tahu nama itu. Bahkan warga desa yang tidak pernah membaca koran sekalipun tahu siapa keluarga Hardjono.
Pak RT mengangguk-angguk, matanya masih menatap sapi-sapi Wagyu yang sedang digiring ke kandang belakang. "Bagus, bagus. Nanti kalau sudah sukses, jangan lupa sama tetangga ya, Saskia."
Saskia tidak menjawab. Ia ingat persis siapa yang diam saja waktu Bibi Laras mengambil berasnya. Ia ingat siapa yang ikut tertawa waktu ia menarik tiga sapi afkir dari Pasar Dampit. Ia ingat siapa yang menyebarkan gosip bahwa ia sudah gila.
"Permisi, Pak. Saya harus urus sapi-sapi ini."
Ia berbalik dan berjalan menuju kandang belakang. Tapi sebelum ia masuk, matanya menangkap sesuatu di sudut kerumunan.
Seorang laki-laki.
Bukan warga desa. Terlalu rapi untuk ukuran desa. Kemeja kotak-kotak yang dimasukkan ke dalam celana jeans. Rambut disisir rapi. Tidak ada lumpur di sepatunya. Tidak ada debu di celananya. Usianya sekitar tiga puluhan, dengan kacamata hitam yang menutupi matanya.
Dan di tangannya, sebuah ponsel. Mengarah ke Saskia. Merekam.
Laki-laki itu tidak seperti warga lain yang merekam karena kagum atau penasaran. Posturnya terlalu tenang. Gerakannya terlalu terlatih. Ia merekam dengan sudut yang stabil, panning perlahan mengikuti pergerakan sapi-sapi Wagyu, lalu beralih ke wajah Saskia, lalu ke kandang belakang, lalu ke Bibi Laras dan Paman Harto yang masih berdiri di belakang kerumunan.
Saskia menghentikan langkahnya. Matanya menatap lurus ke arah laki-laki itu.
Laki-laki itu sadar sedang diperhatikan. Ia menurunkan ponselnya perlahan, memasukkannya ke saku celana, lalu berbalik dan berjalan pergi. Bukan berjalan seperti warga yang buru-buru pulang karena ada urusan. Tapi berjalan seperti seseorang yang sudah mendapatkan apa yang ia cari.
"Siapa itu?" tanya Saskia pada salah satu pekerja kandang.
Pekerja itu menoleh, mengikuti arah pandangan Saskia. "Siapa, Mbak?"
"Yang pakai kemeja kotak-kotak. Bawa ponsel. Barusan pergi ke arah jalan raya."
Pekerja itu menggeleng, wajahnya kosong. "Tidak kenal, Mbak. Mungkin wartawan? Atau orangnya Pak Daniel?"
Wartawan. Mungkin. Tapi wartawan biasanya datang dengan kartu pers dan memperkenalkan diri. Mereka tidak menyelinap di kerumunan, merekam diam-diam, lalu pergi begitu ketahuan. Orangnya Daniel? Mungkin juga. Tapi Daniel tidak menyebutkan akan mengirim orang untuk mengawasi pengiriman.
Saskia menatap ke arah di mana laki-laki itu menghilang. Jalur setapak menuju jalan raya. Tidak ada yang spesial. Hanya pohon pisang dan semak-semak. Tapi sesuatu di perutnya terasa tidak enak. Naluri yang sama yang dulu membantunya mendeteksi sapi yang akan mengamuk sebelum orang lain menyadarinya.
"Mbak! Sapi-sapinya sudah di kandang! Mau dikasih pakan sekarang?"
Suara pekerja kandang membuyarkan pikirannya. Saskia menggeleng, menepis perasaan tidak enak itu. Mungkin ia terlalu paranoid. Setelah semua yang terjadi dengan Bibi Laras dan Paman Harto, ia melihat ancaman di setiap sudut. Mungkin laki-laki itu cuma warga desa sebelah yang penasaran.
Tapi saat ia berjalan menuju kandang belakang, melewati sapi-sapi Wagyu yang mulai tenang di kandang baru mereka, ia tidak bisa menghilangkan bayangan lensa ponsel itu dari kepalanya. Lensa yang merekam segalanya: sapi-sapi Wagyu, kandangnya, dan yang paling penting, dirinya sendiri.
Di sudut kandang yang kosong, tempat di mana Si Belang dulu berdiri setiap pagi menunggu kedatangannya, sekarang hanya ada palung kosong dan jerami yang masih bersih. Saskia berhenti sejenak, menatap tempat itu.
"Akhirnya aku bisa dapat penggantimu," bisiknya. "Tapi kau tetap yang pertama."