Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Antara Nyawa dan Kehormatan
Waktu seolah berhenti berdetak di ruang tengah yang remang-remang itu. Hanya suara napas yang memburu dan detak jantung yang berdegup kencang yang terdengar jelas. Di ujung sana, Isabella memegang erat tubuh Aulia dari belakang, bilah pisau tajamnya menempel tepat di leher halus wanita itu, cukup dekat untuk melukai hanya dengan satu gerakan kecil saja.
Wajah Alex membeku, namun amarahnya tidak surut sedikit pun ia hanya menahannya, mengendalikannya dengan kendali besi yang sudah terlatih selama bertahun-tahun di dunia bawah tanah. Matanya tidak lepas menatap mata Isabella, memancarkan ancaman yang terasa lebih tajam daripada senjata apa pun.
“Lepaskan dia,” suara Alex terdengar rendah, berat, dan menusuk tulang, tidak meninggalkan ruang untuk tawar-menawar. “Kau tahu sifatku, Isabella. Semakin kau menyakiti dia, semakin parah akhir yang akan kau terima. Tidak ada tempat di dunia ini yang bisa menyembunyikanmu jika dia terluka sedikit pun.”
Isabella tertawa nyaring, namun tawanya terdengar pecah dan dipenuhi rasa panik yang tersembunyi. Ia menekan sedikit gagang pisaunya, membuat Aulia menahan napas sejenak. “Kau pikir aku takut lagi, Alex? Semuanya sudah terungkap! Jika aku mati, aku ingin memastikan kau juga menderita selamanya. Lihatlah dia… gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kita. Dia adalah titik lemah terbesarmu, dan aku akan menghancurkannya tepat di depan matamu!”
Aulia merasakan dinginnya logam pisau itu, tapi ia tidak membiarkan rasa takut menguasai pikirannya sepenuhnya. Ia mengangkat matanya menatap Alex, dan di balik tatapannya, tergambar ketenangan yang luar biasa ia ingin menyampaikan satu pesan: Jangan khawatirkan aku, lakukan apa yang harus kau lakukan.
Namun bagi Alex, pesan itu mustahil untuk dipatuhi. Selama setahun terakhir, sejak ia membelinya dengan harga satu miliar rupiah, wanita ini perlahan berubah dari sekadar barang milik menjadi satu-satunya alasan mengapa ia masih ingin mempertahankan sisi kemanusiaannya. Membiarkannya terluka adalah hal terakhir yang akan ia izinkan terjadi.
“Baiklah,” kata Alex tiba-tiba, membuat kedua wanita itu terkejut. Ia perlahan mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, menunjukkan bahwa ia tidak membawa niat menyerang dalam waktu dekat. “Aku akan mendengarkan syaratmu. Katakan apa yang kau inginkan. Uang? Bagian dari bisnis? Atau tempat untuk melarikan diri? Sebutkan saja.”
Mata Isabella berbinar penuh kemenangan. Ia tahu ia sudah berada di posisi teratas, setidaknya untuk saat ini. “Aku ingin semuanya! Jaringan bisnis, aset, kekuasaan yang kau miliki semuanya akan beralih kepadaku. Dan kau akan mengaku kepada dunia bahwa kau gagal dan menyerah sepenuhnya. Lalu, kau dan gadis ini akan pergi meninggalkan kota ini selamanya dan tidak pernah kembali menginjakkan kaki di sini lagi!”
Permintaan itu terdengar mustahil, namun Alex hanya mengangguk perlahan seolah sedang mempertimbangkannya. Di dalam hatinya, ia sedang menghitung jarak, mengamati posisi pengawal Isabella yang berdiri di samping pintu, dan mencari celah sekecil apa pun untuk bertindak tanpa membahayakan Aulia.
“Kau benar-benar serakah, Isabella,” gumam Alex, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum dingin yang membuat merinding. “Tapi satu hal yang harus kau ingat: kekuasaan yang didapatkan dengan cara mencuri dan mengkhianati tidak akan pernah bertahan lama. Kau bisa mengambil harta bendaku, tapi kau tidak akan pernah bisa mengambil rasa hormat atau ketakutan yang dimiliki orang-orang terhadapku. Tanpa itu, kerajaan yang kau rebut akan runtuh dalam sekejap.”
“Cukup dengan omongan kosong!” bentak Isabella kesal. “Segera berikan perintah pada anak buahmu untuk mundur dan serahkan semua dokumen kepemilikan! Jika tidak, darahnya akan mengalir di lantai ini sekarang juga!”
Saat ketegangan mencapai puncaknya, tanpa disadari Isabella, Aulia mulai melakukan gerakan kecil namun cerdik. Sebagai mahasiswa desainer yang terbiasa mengamati detail dan ruang, ia memperhatikan posisi tubuh Isabella yang sedikit tidak seimbang saat terlalu fokus mengancam Alex. Perlahan, ia menggeser berat badannya ke satu sisi, sedikit menekan bahunya ke arah lengan Isabella yang memegang pisau.
Di saat yang sama, Alex melihat celah itu. Ia memberi isyarat samar dengan kedipan mata yang hanya bisa ditangkap oleh Aulia. Itu adalah tanda yang sudah mereka sepakati secara tidak sadar selama beberapa bulan terakhir tanda bahwa ia percaya padanya dan siap bertindak.
“Baiklah, aku akan memberikannya padamu,” kata Alex sambil mengulurkan tangan ke arah saku jasnya, seolah hendak mengambil dokumen atau kunci penting. Namun saat tangannya bergerak, ia tiba-tiba melempar sebuah benda kecil yang terbuat dari logam ke lantai tepat di kaki Isabella.
Brak!
Benda itu memantul dan mengeluarkan suara keras, disertai kilatan cahaya putih menyilaukan yang memancar sebentar. Itu adalah granat kejut kecil yang selalu dibawa Alex sebagai perlengkapan darurat.
Seketika, indra pendengaran dan penglihatan Isabella terganggu. Refleksnya langsung terhenti, dan cengkeramannya pada Aulia sedikit mengendur karena rasa kaget dan sakit di telinga.
“Ini kesempatannya!” teriak Alex.
Aulia langsung bereaksi secepat kilat. Ia menekan siku tangannya ke perut Isabella sekuat tenaga, lalu memutar tubuhnya hingga terlepas dari rengkuhan wanita itu. Pisau yang tadinya menempel di lehernya terlepas dan jatuh ke lantai dengan suara berdentang.
Begitu Aulia aman melangkah mundur, Alex melesat bagaikan kilat. Dalam dua langkah saja ia sudah berada di depan Isabella. Ia menangkap pergelangan tangan wanita itu sebelum sempat mengambil senjata cadangan, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi keretakan tulang yang menyakitkan. Isabella berteriak kesakitan dan jatuh berlutut di lantai.
“Tidak… tidak mungkin…” erang Isabella sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
Pengawal-pengawal yang dibawanya segera bergerak menyerang, namun Alex tidak sendirian. Rio dan pasukan intinya yang baru saja tiba melesat masuk dari pintu belakang, memblokir jalan keluar dan mengelilingi ruangan itu dalam hitungan detik. Pertarungan singkat namun sengit terjadi, namun karena kalah jumlah dan persiapan, pasukan Isabella tumbang satu per satu tanpa perlawanan yang berarti.
Alex berdiri tegak di depan Isabella, napasnya teratur meski baru saja bergerak cepat. Ia menatap wanita yang pernah ia anggap sebagai mitra setia itu dengan pandangan penuh kekecewaan dan kebencian.
“Kau tahu mengapa Ramon gagal, dan sekarang kau juga akan gagal?” tanya Alex dengan nada datar namun menusuk. “Karena kalian berdua mengira kelemahanku adalah Aulia. Padahal justru kehadirannya yang membuatku menjadi lebih kuat, bukan lemah. Dia menjadi alasan mengapa aku tidak sembarangan bertindak, tapi juga alasan mengapa aku tidak akan pernah berhenti melindungi apa yang menjadi milikku.”
Ia menoleh sebentar untuk memastikan Aulia dalam keadaan selamat. Saat tatapan mereka bertemu, ekspresi keras Alex seketika melunak. Ia melangkah mendekat, mengangkat tangan untuk memeriksa leher Aulia yang tergores sedikit oleh ujung pisau, matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam.
“Kau terluka,” bisik Alex, suaranya berubah lembut suara yang hanya didengar oleh Aulia saja.
Aulia menggeleng pelan, lalu menyentuh lengan Alex dengan lembut, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu. “Hanya luka kecil. Aku aman, Alex. Terima kasih sudah datang tepat waktu.”
Melihat kedekatan itu, rasa cemburu yang selama ini membakar hati Isabella meledak lagi meski dalam keadaan terjepit. Ia memandang mereka dengan tatapan penuh kebencian. “Kau tidak tahu apa yang kau miliki, Alex! Dia tidak mengerti dunia tempat kau hidup! Suatu hari nanti dia akan takut melihat sisi aslimu yang kejam! Dia akan membencimu, dan saat itu kau akan kembali padaku!”
Alex memutar badannya kembali menghadap Isabella, tatapannya kembali berubah dingin dan tajam. “Jangan pernah meragukan ikatan kami. Dia sudah melihat sisi tergelapku, namun dia tetap memilih tinggal. Kau tidak akan pernah mengerti perasaan itu, karena hatimu hanya dipenuhi rasa iri dan keinginan untuk menguasai.”
Ia memberi isyarat pada dua orang anak buahnya. “Bawa dia ke ruang tahanan bawah tanah. Jangan lukai dia sampai aku memutuskan nasibnya, tapi pastikan dia tidak bisa bergerak atau berkomunikasi dengan siapa pun. Kita punya banyak hal untuk dibahas, termasuk semua bukti kerjasamanya dengan Ramon dan jaringan lain yang terlibat.”
Saat Isabella digiring keluar sambil terus memaki dan mengancam, suasana di dalam vila perlahan kembali tenang. Lampu-lampu akhirnya menyala kembali setelah dipasang oleh petugas teknis. Rio mendekat dengan laporan terbaru.
“Bos, Ramon sudah diamankan dan dikunci di tempat aman. Semua dokumen transaksi gelap dan komunikasi antara Ramon dan Isabella sudah kami temukan di ponsel dan kantor mereka. Tapi ada satu hal yang perlu kau ketahui,” kata Rio dengan wajah serius.
Alex mengerutkan kening, tangannya tetap memegang lembut bahu Aulia seolah takut ia akan hilang jika dilepaskan. “Apa itu?”
“Dari catatan yang kami baca, mereka tidak berdua saja. Ada pihak ketiga yang mendanai operasi ini seseorang yang identitasnya disamarkan, namun memiliki kekuasaan lebih besar dan jangkauan yang lebih luas. Mereka menyebutnya hanya sebagai ‘Tuan Bayangan’.”
Mendengar itu, rahang Alex mengeras kembali. Ia tahu bahwa perang ini belum usai. Menyingkirkan Ramon dan Isabella hanyalah memotong cabang, namun akarnya masih tertanam kuat di tempat yang belum diketahui.
Sementara itu, Aulia yang mendengar percakapan itu merasakan beban berat di pundak Alex. Ia menatap wajah pria itu, melihat kelelahan yang tersembunyi di balik tatapan tegasnya. Ia tahu betapa rumit dan berbahayanya dunia tempat Alex berpijak, namun ia juga sadar bahwa ia sudah memilih untuk melangkah masuk ke dalamnya.
Malam itu, setelah situasi terkendali, mereka berdua duduk di teras belakang vila yang sepi, ditemani suara jangkrik dan angin malam yang sejuk. Alex membawa obat dan dengan lembut mengoleskan salep pada luka kecil di leher Aulia. Gerakannya sangat hati-hati, penuh perhatian yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
“Maafkan aku,” kata Alex tiba-tiba, suaranya rendah. “Aku berjanji akan membuat tempat ini aman untukmu, tapi nyatanya bahaya selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Mungkin Isabella benar membawamu masuk ke dalam hidupku adalah kesalahan yang membuatmu terus terancam.”
Aulia segera mengangkat tangannya, memegang wajah Alex dan memaksanya menatap matanya. Tatapannya tegas dan tulus.
“Jangan bicara begitu, Alex. Aku sudah memutuskan untuk tinggal bersamamu sejak lama. Duniamu mungkin keras dan penuh bahaya, tapi itu bukan alasan untuk memisahkan kita. Aku tidak butuh kehidupan yang aman dan membosankan tanpa kau. Aku butuh kau apa pun kondisinya, apa pun masa lalumu.”
Kata-kata itu menembus langsung ke hati Alex. Ia menarik tubuh Aulia masuk ke dalam pelukan erat, membenamkan wajahnya di bahu wanita itu, merasa untuk pertama kalinya dalam hidupnya ada tempat di mana ia bisa melepaskan seluruh topeng kekerasan dan kekuasaannya.
Namun kedamaian itu hanya berlangsung sebentar. Ponsel Alex bergetar di saku jasnya. Ia mengangkatnya, membaca pesan masuk yang baru saja diterima. Wajahnya yang tadinya tenang perlahan berubah menjadi tegang dan gelap.
Pesan itu tidak memiliki nama pengirim, hanya sebuah kalimat pendek yang membuat darahnya mendidih:
“Selamat atas kemenangan kecilmu, Alex. Tapi ingat, permainan ini baru saja dimulai. Gadis cantikmu itu masih punya banyak rahasia yang bahkan dia sendiri tidak sadari. Dan rahasia itu akan menjadi kunci kehancuranmu selanjutnya.”
Alex mengepalkan genggamannya hingga layar ponsel itu terasa ingin hancur di tangannya.