NovelToon NovelToon
Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Kembalinya Yang Mulia Petir Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Zhao Fei yang dijuluki Yang Mulia Petir Abadi, tewas ditikam murid kesayangannya sendiri setelah 10.000 tahun berkuasa di Alam Dewa.

Namun ternyata hukum karma memberinya kesempatan kedua. Rohnya dikirim ke dunia bawah, masuk ke tubuh seorang pemuda sampah dari keluarga miskin yang tidak punya bakat, tidak punya harga diri, dan tidak ada wanita yang mau menikahinya.

Kekuatan petirnya lenyap. Akar spiritualnya tertidur dan dirinya harus memulai semuanya dari nol.

Tapi dendam seorang dewa tidak pernah padam. Janji pada pemilik tubuh asli pun juga tidak akan diingkari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Keraguan

Zhao Fei berdiri tegak di hadapan meja kayu jati yang jelas-jelas terlihat mahal. Aroma dupa samar menjadi teman pendamping yang menekan dada. Sementara Tetua Utama Sekte menatapnya dengan tatapan tajam namun sabar, menunggu jawaban atas tawaran yang baru saja dilontarkan.

Perjodohan dengan Liu Xue, cucu kesayangan tetua, atau juga bisa disebut seorang jenius kultivasi yang kecantikannya telah menjadi buah bibir di seluruh sekte.

Bagi pemuda biasa, ini adalah tiket emas menuju puncak kekuasaan. Namun bagi Zhao Fei, jiwa tua yang terperangkap dalam tubuh muda rapuh, tawaran itu justru terasa seperti jebakan laba-laba yang indah. Dulu saat dirinya masih bergelar Yang Mulia Petir Abadi di Alam Dewa, pernikahan hanyalah alat politik. Ikatan darah digunakan untuk mengikat aliansi, bukan cinta. Tapi kini terasa berbeda lantaran dirinya tidak memiliki apa-apa. Tidak ada kekuatan, tidak ada status, hanya utang nyawa pada pemilik asli tubuh ini.

“Kau tidak perlu khawatir soal mahar atau status,” ucap Tetua, menghalau lamunan Zhao Fei dengan nada berat, nan berwibawa. “Itu semua akan kami urus. Yang kau butuhkan saat ini hanyalah ketulusan hati.”

Zhao Fei mendengarkan, namun pikirannya bekerja cepat. Ia butuh waktu karena fondasinya belum kokoh. Ibunya sedang sekarat. Dendam pada Li Tianming, murid pengkhianatnya, masih membara di dadanya. Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan rumah tangga ketika ia sendiri masih berjuang untuk bertahan hidup?

Namun, bayangan pemilik tubuh ini muncul di benaknya. Pemuda malang yang mati sendirian di hutan, kedinginan dan kelaparan, tanpa pernah merasakan hangatnya pelukan seorang wanita selain ibunya. Pemuda yang bermimpi sederhana, memiliki keluarga, dicintai, dan dihargai.

Aku sudah berjanji padanya, batin Zhao Fei. Aku akan menjalani sebagaian dari kehidupanmu dengan layak.

Bibirnya terbuka sedikit. Kata “iya” hampir saja meluncur keluar. Rasa iba pada nasib pemuda itu mendorongnya untuk menerima kenyamanan yang ditawarkan. Tapi logika dingin sang Dewa Petir segera menariknya kembali. Menerima sekarang berarti bergantung sepenuhnya pada belas kasihan orang lain. Itu kelemahan, dan kelemahan adalah kematian bagi seorang kultivator.

Lantas Zhao Fei menutup mulutnya, menarik napas dalam, lalu menatap tetua itu dengan tenang.

“Beri aku waktu untuk berpikir, Tetua,” katanya tanpa menunjukkan keraguan, selain kepastian yang tertunda.

Alis Tetua pun terangkat. Ekspresi heran jelas terlihat di wajah tua itu. “Kau tidak tertarik pada cucuku? Ketahuilah, putra-putra dari klan besar rela menempuh ribuan mil hanya untuk mendapatkan sekilas pandang darinya.”

“Wajar jika banyak laki-laki tertarik pada Senior Liu Xue,” jawab Zhao Fei. “Dia adalah bunga terindah di taman sekte ini. Namun aku mohon maaf, karena fokusku saat ini hanyalah satu hal. Ibuku sedang sakit parah, dan aku tidak bisa membagi perhatianku sebelum beliau sembuh. Setelah itu, barulah aku bisa mempertimbangkan masa depanku dengan kepala yang dingin.”

Tetua itu mengetuk-ngetuk permukaan meja, seolah menimbang bobot kata-kata Zhao Fei sebelum mengurut jenggot panjangnya. Tatapannya berubah dari keheranan menjadi pengertian. Seorang anak yang mendahulukan bakti pada orang tua adalah tanda karakter yang mulia.

“Hmm,” gumam Tetua sebelum menghela napas panjang. “Baiklah. Kau boleh berpikir. Berbakti pada orang tua adalah dasar dari segala dao. Pulanglah. Semoga ibumu lekas sembuh dan pertimbangkan tawaranku dengan matang setelah urusan keluargamu beres.”

Zhao Fei membungkuk hormat, sudut bajunya berbisik saat bergerak. “Terima kasih, Tetua.”

Ia pun berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan ruang audiensi yang pengap itu.

Akan tetapi baru sampai di luar pintu, sebuah telinga menempel erat pada celah kayu. Dengan wajah merah padam dan keringat dingin di dahi, Xiaopang berusaha menangkap setiap suku kata. Saat gagang pintu berputar, dia loncat mundur, pura-pura sedang memeriksa tekstur dinding dengan ekspresi sok serius.

Pintu terbuka disusul Zhao Fei keluar, matanya langsung menusuk ke arah teman kurusnya itu.

Xiaopang menelan ludah, wajahnya pucat pasi. “Kau gila!” bisiknya, bergetar hebat. “Kau menolak tawaran Tetua untuk dijodohkan dengan Senior Liu Xue? Orang-orang di sekte ini akan mencabik-cabikmu jika mereka tahu!”

Zhao Fei tidak menjawab tuduhan itu, alih-alih dia justru mencondongkan tubuhnya, menatap Xiaopang dengan intensitas yang membuat bulu kuduk temannya itu berdiri.

“Kau menguping pembicaraan tetua?” tanya Zhao Fei setajam pisau.

Xiaopang tersadar dari kepanikannya. Dia mengelus dadanya yang berdebar kencang. “A-aku hanya khawatir! Jantungku hampir copot melihat tingkahmu!”

“Kau cari mati,” geram Zhao Fei, meski tidak ada amarah nyata di sana.

Mereka mulai berjalan menjauh dari paviliun utama saat angin sore menerpa wajah mereka, membawa kesejukan yang dibutuhkan setelah ketegangan di dalam.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Zhao Fei sambil melirik kaki temannya yang sedikit pincang.

Xiaopang mengusap pantatnya dengan meringis. “Masih sakit. Rasanya seperti dipukul kayu. Tapi tidak patah, kurasa.” Dia menoleh pada Zhao Fei. “Kau sendiri?”

“Hanya lecet saja. Tidak masalah.”

Xiaopang menghela napas lega, lalu rasa ingin tahunya kembali meletup. “Tapi serius, kenapa kau tolak? Liu Xue itu cantik, pintar, dan kaya. Apa kurangnya coba?”

“Aku belum siap,” sela Zhao Fei sambil memperkuat ikat rambutnya.

“Belum siap bagaimana?”

“Belum siap untuk apa pun.”

Xiaopang menggelengkan kepala, memandang Zhao Fei seperti melihat makhluk asing. “Kau memang aneh, Zhao Fei. Sejak kau kembali dari misi, kepalamu seperti diisi batu.”

Sambil berjalan, Xiaopang menurunkan suaranya, wajahnya menjadi serius. “Ngomong-ngomong, hati-hati dengan Li Wei. Dia bukan murid biasa. Ayahnya adalah anggota dewan sekte, dan dia adalah donatur besar sekte ini. Itulah sebabnya para guru memejamkan mata melihat kelakuannya. Melawannya sama saja menggiling batu dengan telur.”

Zhao Fei tetap diam saja, memasang wajahnya datar seperti papan kayu. “Orang sombong selalu punya alasan di balik kesombongannya. Itu hal biasa.”

Xiaopang tertegun, lalu tertawa kecil. “Kau benar juga. Dasar filsuf kampung.”

Beberapa langkah kemudian, Zhao Fei berhenti. “Aku akan pulang ke rumah besok pagi.”

“Apa? Aku ikut!” seru Xiaopang antusias.

“Tidak.”

“Kenapa?” protes Xiaopang, wajahnya cemberut.

“Karena kau punya utang tugas di sini,” kata Zhao Fei. “Penanggung jawab bilang ada dua tugas membersihkan kandang yang sudah seminggu kau tunda. Selesaikan dulu.”

Xiaopang terbelalak. “Itu... itu karena aku sibuk mengkhawatirkanmu!”

Zhao Fei hanya menatapnya. Tatapan serius yang membuat Xiaopang kehilangan akal.

“Baiklah, baiklah!” Xiaopang mengangkat tangan, menyerah. “Akan aku kerjakan.”

Rumah Klan Zhao tampak lebih suram dari biasanya. Atapnya bocor di beberapa titik, dan dinding bambunya mulai lapuk dimakan rayap. Zhao Fei masuk ke kamar kecil di ujung lorong, tempat ibunya terbaring.

Dan di sanalah Ming Lianhua terbaring lemah, selimut tipis menutupi tubuhnya yang kurus kering. Sedangkan wajahnya pucat, namun matanya kembali hidup saat melihat putra bungsunya masuk.

“Nak... kau kembali,” bisiknya, serak seperti daun kering yang diinjak.

Tanpa basa-basi Zhao Fei duduk di tepi ranjang kayu. Kemudian dari saku bajunya, ia mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan berwarna keemasan. Aroma herbal yang menyegarkan langsung memenuhi ruangan sempit itu.

“Minumlah ini, Ibu. Ini obat dari Tabib Wen,” kata Zhao Fei selembut yang dia bisa agar sang ibu tidak mencurigai jika putra aslinya sebenarnya sudah lama pergi.

Ming Lianhua mencoba duduk, namun tenaganya terlalu lemah. Alhasil Zhao Fei dengan sigap menopang punggung ibunya, membantu wanita itu bersandar pada bantal, sebelum ia membuka sumbat botol.

Cairan itu berkilau di bawah cahaya remang-remang. Harapan. Itu yang terkandung di dalamnya.

Namun masalah datang di waktu genting saat pintu kamar terbanting terbuka. Hembusan angin masuk, menggoyangkan nyala lampu minyak.

Zhao Kun masuk dengan langkah berat, diikuti oleh Zhao Jie dan kedua istri mereka. Keempatnya berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya dari luar, menciptakan bayangan panjang yang menakutkan.

“Apa yang sedang kau lakukan?!” bentak Zhao Kun, menggelegar di ruangan sempit itu.

Zhao Fei tidak menoleh karena tatapannya tetap tertuju pada botol di tangannya. “Menyuruh Ibunya minum obat.”

“Obat apa itu?” Istri Zhao Kun melangkah maju, hidungnya berkerut jijik. “Dari mana kau mendapatkannya? Jangan-jangan racun?”

“Dari Tabib Wen,” jawab Zhao Fei berusaha tenang.

Zhao Jie langsung tertawa sinis. “Tabib Wen? Orang gila di gunung itu? Kau pikir dia mau mengobati keluarga miskin seperti kita tanpa bayaran mahal?”

“Ibu, jangan minum itu!” timpal istri Zhao Kun, suaranya manis namun berbisa. “Dia mungkin ingin mempercepat kematian Ibu agar warisan rumah ini cepat jatuh ke tangan adik iparku yang bodoh.”

“Sudahlah,” kata Zhao Kun, meski matanya sendiri menatap botol itu dengan nafsu serakah.

Ming Lianhua batuk sebelum berkata setegas yang dia mampu. “Biarkan dia... Aku percaya pada Fei...”

“Ibu terlalu naif!” bentak Zhao Jie, melangkah mendekati ranjang. “Dia sudah berubah! Mungkin kerasukan roh jahat di hutan terlarang!”

Kesabaran Zhao Fei menipis, namun ia tetap mengendalikan emosinya. Ia hendak mengangkat botol ke bibir ibunya, namun Zhao Kun bergerak lebih cepat. Tangan kasar kakaknya itu meraih pergelangan tangan Zhao Fei, menariknya kuat.

“Lepaskan!” desis Zhao Fei.

“Biar kami lihat isinya dulu, bodoh!” geram Zhao Kun.

Perebutan singkat terjadi. Botol kaca itu terlepas dari genggaman mereka berdua, berputar di udara sebelum menghantam lantai kayu.

Suara pecahan kaca terdengar nyaring. Cairan keemasan itu memancar keluar, mengalir deras di antara celah-celah papan lantai, meresap ke dalam tanah basah di kolong rumah. Hilang. Sia-sia.

Hanya tersisa beberapa tetes di dasar botol yang retak.

1
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
maaf Thor numpang komen,seorang dewa begitu mudahnya tewas di tikam tanpa ada penjelasan pake pusaka apa...supaya ada alasan logis koq bisa tewas begitu saja 🙏🙏🙏🙏
DanaBrekker: Terimakasih atas masukannya. ikuti terus perjalanan Zhao Fei ya... biar nanti ketemu alasannya 😄👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!