"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Pengawal Bayangan di Parkiran
****
Ruangan OSIS mendadak terasa begitu sempit dan mencekam bagi gue. Tatapan Devan yang mengunci dari balik meja kerjanya terasa seperti tali jerat yang siap mencekik leher gue kapan saja. Pilihan yang dia berikan bukanlah pilihan, melainkan sebuah pemerasan emosional yang rapi.
Gue menatap draf surat rekomendasi pemecatan Saka di atas meja Devan. Kertas putih itu seolah berubah menjadi batu besar yang siap menghancurkan masa depan sahabat masa kecil gue. Gue tahu betul watak Saka. Dia berandal, dia ugal-ugalan, tapi dia tidak pernah memukul orang tanpa alasan. Dan jika dia sampai dikeluarkan dari SMA Tunas Bangsa dengan catatan kriminal seperti ini, tidak akan ada sekolah lain di kota ini yang sudi menerimanya.
"Gimana, Mikaela?" suara Devan kembali memecah keheningan, mengalun begitu lembut namun sarat akan intimidasi yang mutlak. "Pulpen ini udah siap. Semua keputusan tentang masa depan Saka sekarang ada di tangan kamu."
Gue memejamkan mata erat-erat, membiarkan setitik air mata terakhir jatuh membasahi pipi gue yang dingin karena AC. Ego gue runtuh total. Demi masa depan Saka, demi ketenangan orang tua gue yang saat ini mungkin sedang cemas di ruang kepala sekolah, gue terpaksa menurunkan harga diri gue sedalam-dalamnya.
"Oke," kata gue lirih, nyaris berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan. "Gue terima syarat lo, Dev. Gue bakal jauhin Saka, gue bakal pindah tempat duduk, dan... gue bakal jadi pacar lo. Tapi gue mohon, robek kertas itu sekarang di depan gue."
Senyuman kemenangan yang begitu cerah langsung terukir di wajah Devan. Dia bangkit dari kursi kebesarannya, berjalan mendekati gue tanpa melepaskan pandangannya. Dengan satu gerakan santai, Devan merobek kertas materai itu menjadi dua bagian, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah di sudut ruangan.
"Pilihan yang cerdas, sayang," bisik Devan, tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut gue yang basah ke belakang telinga. Sentuhannya membuat tubuh gue refleks merinding ngeri. "Mulai hari ini, kamu aman dalam perlindungan aku. Yuk, aku antar kamu ke depan. Supir aku sudah menunggu."
Gue tidak membalas. Dengan tubuh yang terasa lemas dan hati yang kosong, gue membiarkan Devan merangkul pundak gue posesif, membawa gue keluar dari ruang OSIS menuju area parkiran depan sekolah.
Hujan gerimis masih menyelimuti SMA Tunas Bangsa sore itu. Begitu kami sampai di lobi utama, sebuah mobil sedan mewah hitam milik keluarga Devan sudah terparkir rapi dengan mesin yang menyala halus. Di sana juga terlihat orang tua gue baru saja keluar dari gedung administrasi setelah urusannya selesai diselesaikan sepihak oleh pengaruh keluarga Devan. Orang tua gue sempat menatap kami dengan pandangan lega sekaligus bingung, sebelum akhirnya pamit untuk pulang duluan menggunakan taksi karena mengira gue aman bersama Devan.
"Kamu masuk duluan ke mobil, Mik. Aku mau ambil payung dulu di loker bawah," kata Devan lembut, menepuk pundak gue sebelum berbalik kembali ke dalam gedung sekolah.
Gue berdiri sendirian di bawah kanopi lobi, menatap rintik hujan yang jatuh membasahi aspal parkiran. Rasanya baru kemarin gue tertawa lepas bersama Saka dan Devan di koridor ini, tanpa ada sekat, tanpa ada obsesi beracun seperti sekarang.
*Vrooammm... Vroooammm...*
Suara raungan mesin motor gede yang sangat familiar tiba-tiba memecah suara rintik hujan. Gue tersentak, langsung mengarahkan pandangan ke arah gerbang masuk sekolah.
Dari balik kabut hujan, motor sport hitam bermesin besar melesat masuk ke area parkiran dengan kecepatan tinggi. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam yang basah kuyup, tanpa menggunakan helm. Rambut hitamnya yang acak-acakan menempel di dahi, dan matanya merah menyala menatap lurus ke arah gue.
Saka. Dia kembali.
Saka mengerem motornya secara mendadak tepat di depan lobi, menciptakan suara decitan ban yang nyaring di atas aspal basah. Dia langsung turun dari motor, mengabaikan standar motornya hingga kendaraan mahal itu ambruk begitu saja di atas aspal. Dengan langkah lebar yang agresif, Saka merangsek maju menembus hujan, menghampiri gue yang berdiri gemetar di lobi.
"Mika!" bentak Saka, suaranya parau bercampur dengan deru napasnya yang memburu. Dia langsung mencengkeram kedua bahu gue dengan erat, menatap gue dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan cemas. "Lo gak apa-apa, kan?! Si bajingan itu gak ngapa-ngapain lo di dalam, kan?!"
"Saka... lo ngapain balik lagi, sih?!" tangis gue kembali pecah. Gue mencoba mendorong dadanya yang basah kuyup karena air hujan. "Gue bilang lo pergi, Sak! Kenapa lo nekat banget balik ke sini?! Lo mau bener-bener dihancurkan sama Devan?!"
"Gue gak peduli, Mika! Gue gak peduli sama ancaman pecundangnya!" teriak Saka frustrasi, mencengkeram pergelangan tangan kanan gue. Namun, gerakannya mendadak terhenti ketika matanya menangkap sesuatu yang berkilau di leher gue.
Sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian berbentuk hati. Kalung pemberian Devan yang terpaksa gue pakai kembali atas perintahnya di ruang OSIS tadi.
Saka membelalakkan mata, menatap kalung itu seolah-olah benda itu adalah sebuah hinaan terbesar bagi dirinya. "Ini... ini kalung dari dia, kan? Kenapa lo pakai benda sialan ini, Mik?! Lo menerima dia?!"
"Saka, lepasin! Ini demi lo—"
"Lepasin tangan lo dari pacar gue, Saka Aditya."
Sebuah suara dingin yang sangat tenang memotong ucapan gue dari arah belakang. Devan berjalan keluar dari lobi dengan sebuah payung hitam besar di tangannya. Wajahnya begitu datar, namun aura permusuhan yang dia pancarkan terasa begitu pekat hingga membuat atmosfer parkiran sore itu semakin mencekam.
Saka menoleh lambat, menatap Devan dengan seringai sinis yang penuh dengan amarah yang meledak-ledak. "Pacar lo? Lo bilang apa barusan, Ketos bangsat?!"
Devan melangkah maju dengan santai, menempatkan payung hitamnya di atas kepala gue agar gue tidak terkena cipratan air hujan, lalu dengan sengaja menarik pinggang gue agar merapat ke tubuhnya di depan mata Saka.
"Mikaela sekarang resmi jadi pacar aku. Kami baru saja meresmikan hubungan kami di ruang OSIS tadi," kata Devan dengan senyuman kemenangan yang begitu provokatif di sudut bibirnya yang diplester. "Jadi, aku minta kamu tahu diri. Mulai hari ini, aku adalah pengawal Mika. Jangan pernah berani menampakkan wajah kriminal kamu lagi di depan pacar aku, atau aku gak akan segan-segan mengirim kamu ke kantor polisi, bukan lagi ke ruang BK."
Mendengar kata "pacar aku" dan melihat tangan Devan yang bertengger di pinggang gue, pertahanan mental Saka runtuh total. Matanya bergetar hebat, menatap gue dengan pandangan penuh rasa kecewa, terluka, dan dikhianati yang teramat dalam.
"Mik... jadi ini alasan lo mengusir gue tadi?" suara Saka mendadak merendah, bergetar menahan rasa sakit di dadanya. "Lo... lo beneran milih si ular ini daripada gue yang selama ini selalu ada buat lo?"
Gue cuma bisa menundukkan kepala, menangis tanpa suara di dalam dekapan Devan. Gue gak sanggup menatap mata Saka. Gue harus melakukan sandiwara ini, gue harus menjadi antagonis di mata Saka agar dia bisa membenci gue dan menjauh dari lingkaran berbahaya Devan.
"Maaf, Sak..." bisik gue di tengah isak tangis, kalimat yang sengaja gue rancang untuk mematahkan hatinya seketika. "Gue... gue emang lebih milih Devan. Tolong pergilah."
Saka melangkah mundur, genggaman tangannya di pergelangan tangan gue terlepas sepenuhnya. Dia tertawa getir di bawah guyuran hujan yang semakin deras, membiarkan air hujan menyamarkan air mata yang ikut jatuh dari sudut matanya. Dia menatap gue untuk terakhir kalinya dengan tatapan dingin yang belum pernah gue lihat seumur hidup, sebelum akhirnya berbalik, menegakkan motornya yang ambruk, dan melesat pergi meninggalkan parkiran sekolah bagai badai yang menyisakan kehancuran.
Gue merosot berlutut di lantai lobi yang dingin, menangis sejadi-jadinya melihat bayangan motor Saka menghilang di balik gerbang. Di atas kepala gue, Devan tetap berdiri tegak memegang payung, menatap kepergian Saka dengan senyuman puas sang pemenang sejati. Perang babak pertama telah selesai, dan Devan berhasil mengunci gue di dalam sangkar tak kasat mata miliknya sebagai bayangan pengawal yang posesif.
### **Pesan Penulis (Author's Note)**
> **Sumpah, bab ini bener-bener mengiris hati banget!** Mika terpaksa berbohong dan mengaku sebagai pacar Devan demi menyelamatkan masa depan Saka dari pemecatan. Tapi di sisi lain, Saka ngerasa bener-bener dikhianati dan patah hati setengah mati karena mengira Mika lebih memilih si Ketos manipulatif itu. Pengorbanan Mika yang berujung salah paham ini bener-bener bikin nyesek, kan?
> Sekarang Saka udah pergi dengan hati yang hancur dan dipenuhi rasa benci, sedangkan Devan berhasil mengklaim Mika sebagai miliknya secara utuh di sekolah. Kira-kira apa ya yang bakal dilakukan Devan setelah berhasil mengunci status pacaran ini di kelas besok pagi?
> Jangan lupa ya buat para pembaca setia **@ujang_Bonang**, setelah baca bab yang menguras air mata ini, langsung klik tombol **Like**, berikan **Vote** yang banyak, dan ramaikan kolom **Komentar**: Siapa nih yang ikut nangis pas bagian Saka patah hati? Dukung terus novel **RED FLAG** ya! Sampai jumpa di Bab 7 ! *Keep reading and stay strong!*
>