NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Bijak di Bawah Lampu Jalan

Waktu: Sabtu malam, 21 Mei 2011, pukul 19.30 WIB.

Lokasi: Bangku panjang di bawah lampu jalan tua, di pinggir alun-alun kota, tidak jauh dari warnet langganan mereka. Udara malam itu cukup sejuk, berhembus angin lembut yang membawa aroma rumput yang baru saja dipotong. Langit bersih, berbintang banyak, dan suasana sekitar cukup sepi, hanya terdengar suara jangkrik dan langkah kaki orang yang berjalan santai pulang dari pasar malam.

Setelah kembali dari Kejuaraan Provinsi dan menjalani minggu-minggu latihan yang sangat intens, Dika merasa waktunya sudah tepat untuk membicarakan satu hal yang paling berat sekaligus paling penting di benaknya. Sejak angka kekayaan mereka berdua—terutama nilai Bitcoin yang terus melonjak tajam dari hari ke hari—semakin membesar, Dika sering kali terbangun di malam hari dengan satu kekhawatiran besar: Uang bisa merusak persahabatan.

Dika tahu betul, baik dari pengalaman hidup masa lalunya maupun dari ingatan berita-berita di masa depan, bahwa banyak persahabatan sejati, kemitraan hebat, dan ikatan keluarga yang hancur lebur hanya karena masalah harta. Aset yang awalnya kecil, yang dianggap sepele, tiba-tiba menjadi bernilai triliunan, dan di situlah bermulanya kecurigaan, rasa tidak adil, kecemburuan, dan perselisihan yang tidak ada habisnya.

Saat itu, nilai tukar Bitcoin sudah menyentuh angka sekitar $14 USD per koin, atau setara dengan sekitar Rp 125.000 Rupiah per satu koin. Naik drastis dari harga awal mereka membeli di angka ratusan rupiah. Kepemilikan gabungan mereka dari uang saku sekolah dulu berjumlah sekitar 112,5 Bitcoin. Nilainya saat ini sudah mencapai hampir Rp 14 Miliar Rupiah! Dan Dika tahu, ini baru permulaan. Setahun lagi harganya akan ratusan kali lipat lebih mahal lagi. Angka itu terlalu besar untuk dipegang bersama oleh dua orang, meskipun mereka bersahabat karib.

Dika tidak mau, di masa depan, saat koin-koin itu bernilai harga istana dan perusahaan, dia dan Rio menjadi musuh hanya karena masalah siapa punya berapa, siapa yang mengelola, atau siapa yang merasa dirinya lebih berhak. Rio adalah sahabat pertamanya, orang yang paling setia mendukungnya, orang yang bersedia ikut miskin dan susah bersamanya. Bagi Dika, persahabatan itu jauh lebih mahal harganya daripada semua Bitcoin di dunia ini. Uang bisa dicari, bisa berlipat ganda, tapi sahabat sejati yang tulus seperti Rio sulit ditemukan kembali.

Itulah sebabnya malam ini Dika mengajak Rio duduk berdua di tempat favorit mereka, tempat di mana mereka dulu sering duduk mengeluh tidak punya uang jajan, tempat di mana rencana besar pertama kali dicetuskan.

Rio duduk di sebelahnya, mengayun-ayunkan kakinya sambil memakan gorengan yang dia beli di jalan tadi. Wajahnya cerah, masih penuh semangat setelah kemenangan besar tim mereka di kejuaraan kemarin.

"Ada apa sih, Dik? Kok ngajak ke sini, malem-malem begini. Ada rahasia negara baru lagi nih? Apa mau kasih tahu aku berapa harta kita sekarang? Jujur aku udah penasaran banget lho, kalau dihitung-hitung, kayaknya uang kita udah bisa buat beli satu kecamatan deh," kata Rio tertawa lebar, sambil menyodorkan gorengan ke mulutnya.

Dika tersenyum tipis, tapi matanya serius sekali. Dia menatap lurus ke arah lampu jalan yang berkedip-kedip pelan di atas kepala mereka, lalu menarik napas panjang sebelum mulai bicara.

"Rio... kamu ingat nggak? Waktu kita pertama kali ke warnet, waktu kita kumpulin uang receh lima puluh ribu rupiah hasil nggak jajan berbulan-bulan, terus kita beli koin itu? Kita janji bakal simpan bareng-bareng, kita janji bakal jadi orang kaya bareng-bareng."

Rio mengangguk cepat. "Ingat banget dong! Itu momen paling keren seumur hidupku. Waktu itu kita dapat 112,5 koin kan? Kita simpan bareng di satu dompet, kata sandinya kita tulis dua salinan, satu di aku satu di kamu. Sampai sekarang aman banget tuh, tersimpan rapi di kotak pensilku."

Dika menoleh, menatap mata sahabatnya itu lekat-lekat.

"Nah, itu yang mau aku bicarakan malam ini, Rio. Soal 112,5 koin itu. Dan soal semua rencana kita ke depan."

Wajah Rio perlahan berubah menjadi serius. Dia menaruh sisa gorengannya di kertas pembungkus, duduk tegak, dan menatap Dika balik. Dia tahu, kalau Dika bicara dengan nada seperti ini, pasti masalahnya sangat besar dan penting.

"Apa maksudmu, Dik? Ada masalah sama koinnya? Hilang? Dicuri orang?" tanya Rio panik sedikit.

Dika menggeleng pelan. "Bukan, justru sebaliknya. Masalahnya adalah... nilainya makin hari makin besar, Rio. Dan aku tahu persis, nilainya bakal jadi luar biasa gila nanti di masa depan. Aku pernah bilang sama kamu, kan? Nanti satu koin aja bisa jadi ratusan juta, bahkan miliaran rupiah."

Rio menelan ludah, matanya membelalak. "Iya... aku ingat. Dulu aku kira kamu cuma berandai-andai, tapi sekarang lihat perkembangannya... kok rasanya bisa bener ya? Kalau satu koin aja miliaran, berarti 112 koin itu... ya Allah..."

"Setara kekayaan konglomerat, Rio. Setara kekayaan orang terkaya di negara ini," potong Dika tegas. "Dan di situlah masalahnya. Rio, aku kenal kita berdua. Aku tahu hatimu bersih, aku tahu niatmu baik, aku tahu kamu orang paling jujur yang aku kenal. Tapi... aku juga tahu bagaimana dunia bekerja. Aku tahu bagaimana uang yang terlalu besar bisa mengubah pandangan orang. Bukan cuma kamu atau aku, tapi orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, mungkin pikiran kita sendiri nanti."

Dika berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan sahabatnya itu. Dia tidak mau Rio merasa dicurigai atau dianggap tidak jujur.

"Rio, bayangkan lima atau sepuluh tahun lagi. Uang itu nilainya ribuan kali lipat dari sekarang. Kita punya satu dompet bareng. Nanti kalau ada keputusan mau dijual berapa, mau dipakai buat apa, mau diinvestasikan ke mana... pasti ada perbedaan pendapat. Kamu mungkin mau pakai buat bangun rumah, aku mungkin mau pakai buat bisnis sepak bola. Kamu mungkin mau simpan terus, aku mungkin mau jual sebagian. Kalau selisihnya cuma seribu atau satu juta, kita bisa ketawa dan saling mengalah. Tapi kalau selisihnya miliaran rupiah? Rio... perbedaan pendapat soal uang sebanyak itu bisa jadi pertengkaran besar. Bisa bikin kita saling curiga, saling merasa dirugikan, saling merasa yang satu lebih berhak daripada yang lain."

Rio terdiam. Dia mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Dia menundukkan kepalanya, memainkan jari-jarinya yang berlumuran minyak gorengan.

"Kamu... kamu takut kita jadi berantem gara-gara uang ini, Dik?" tanya Rio pelan, suaranya sedikit bergetar.

Dika langsung merangkul bahu Rio dengan erat, wajahnya penuh ketulusan dan kasih sayang persahabatan yang mendalam.

"Bukan aku yang takut, Rio. Aku tidak pernah ragu sama kamu. Aku percaya kamu sama seperti aku percaya diri sendiri. Tapi aku tahu sejarah. Aku tahu banyak sahabat sejati yang hancur cuma karena hal ini. Aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Bagiku, Rio... kamu jauh lebih berharga daripada semua uang di dunia ini. Aku rela kehilangan semua koin itu, semua kekayaan itu, asal aku nggak kehilangan kamu sebagai sahabatku. Aku nggak mau ada satu hal pun, sekecil apa pun, yang bisa jadi pemicu keretakan hubungan kita nanti. Aku mau kita tua nanti tetap bisa duduk di bangku kayak gini, tertawa bareng, cerita masa muda, tanpa ada rasa pahit atau dendam sedikit pun di hati."

Mata Rio mulai berkaca-kaca. Dia mengangguk pelan, mengerti sepenuhnya kebijaksanaan di balik kekhawatiran sahabatnya itu. Rio sadar, Dika berpikir jauh ke depan, berpikir untuk melindungi persahabatan mereka, bukan karena dia ingin menguasai uang itu sendirian.

"Terus... apa rencanamu, Dik? Kita gimana?" tanya Rio.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!