JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI
Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.
Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.
Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.
Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.
"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."
Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menggoda
Nayara menarik kembali tangannya yang menggantung di udara. Kerutan samar di dahinya memperjelas rasa bingung sekaligus dongkol yang mendadak muncul akibat perubahan atmosfer yang begitu drastis.
"Apa maksud dari tatapanmu itu?" tanya Nayara dengan nada ketus, mencoba menutupi debar jantungnya yang belum sepenuhnya stabil. "Kau baru saja bangun dari koma, dan hal pertama yang kau lakukan adalah menatapku seolah-olah aku ini seonggok sampah yang mengganggu pemandanganmu?"
Dante tidak langsung menjawab. Pria itu menggerakkan jemarinya perlahan, lalu dengan sisa tenaga yang dia miliki, dia menggeser sedikit masker oksigen yang menutupi mulutnya ke bawah dagu. Napasnya masih terasa berat, namun kilat jenaka sekaligus sinis terpancar dari sepasang mata elangnya.
"Aku tidak sedang menatap sampah," sahut Dante, suaranya terdengar sangat parau, kering, dan serak. "Aku hanya sedang melihat wajahmu."
Nayara mendengus, melipat kedua tangannya di depan dada dengan defensif. "Lalu? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
"Tidak ada," jawab Dante, sudut bibirnya sedikit berkedut di balik rasa sakit yang mendera punggungnya. "Aku hanya heran. Apa kau baru saja menangisi diriku, Kucing Liar?"
Pertanyaan yang meluncur begitu tenang dari bilah bibir Dante seketika membuat tubuh Nayara kaku. Gadis itu tertegun selama beberapa detik, matanya mengerjap panik karena merasa tertangkap basah. Namun, dengan cepat dia membuang muka ke arah lain.
"M-Menangisimu? Hah! Jangan bermimpi!" sanggah Nayara dengan suara yang mendadak naik satu oktav. Tangan kanannya bergerak refleks, menggosok ujung hidungnya beberapa kali—sebuah kebiasaan lama yang selalu dia lakukan setiap kali dia sedang berbohong secara insting.
Dante yang menyadari gestur kecil itu tentu saja tidak langsung percaya. Dia justru memicingkan matanya, menatap Nayara dengan tatapan yang seolah bisa menembus isi kepala gadis itu.
"Kau menggosok hidungmu, Naya, "bisik Dante dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Kau tahu, kan? Kau adalah pembohong yang paling buruk di dunia ini."
"Aku tidak bohong!" elak Nayara cepat, kini dia kembali menatap Dante dengan tatapan galak, mencoba membangun benteng pertahanannya yang sempat runtuh. "Untuk apa pula aku menangisi pria bajingan dan kejam sepertimu? Asal kau tahu saja, ya, kalau bukan karena kau sudah pasang badan dan membuat punggungmu bolong demi melindungiku, aku bahkan tidak akan sudi duduk di samping ranjangmu ini! Aku hanya... aku hanya merasa bersalah karena kau terluka gara-gara aku. Itu saja! Tidak lebih!"
Dante terkekeh lirih. Suara tawanya yang tertahan itu malah memicu rasa nyeri di belikatnya, membuat pria itu sempat memejamkan mata sejenak sambil meringis.
"Sialan... tertawa saja rasanya mau mati," umpat Dante pelan, memegangi dadanya.
"Makanya jangan banyak bicara dan jangan menyebalkan!" semprot Nayara, meski guratan khawatir di wajah pucatnya tidak bisa disembunyikan saat melihat Dante kesakitan. "Sudahlah, lebih baik kau kembali tidur dan istirahat. Aku sudah mau keluar, aku sama sekali tidak betah berada di rumah sakit ini. Baunya aneh dan hawanya membuatku pusing."
Mendengar keluhan ketus itu, Dante justru kembali membuka matanya. Rasa sakit di tubuhnya seolah sedikit teralihkan oleh kepuasan tersendiri setiap kali berhasil memojokkan gadis di depannya ini.
"Kau tidak betah di rumah sakit?" tanya Dante, memajukan sedikit dagunya dengan tatapan menggoda yang membuat bulu kuduk Nayara meremang. "Atau kau sebenarnya tidak betah karena di sini kau tidak bisa memelukku lagi, hm?"
Wajah Nayara yang semula pucat pasi seketika berubah merah padam dalam hitungan detik. "A-Apa?! Kau bicara apa, hah?!"
"Kenapa? Kau amnesia?" cibir Dante, suaranya yang serak terdengar semakin menyebalkan di telinga Nayara. "Ingatanku sangat bagus, Kucing Liar. Berbeda sekali denganmu, waktu kita di hotel tempo hari. Kau tidur di pahaku dengan sangat nyenyak, bahkan kedua tanganmu memeluk pinggangku dengan begitu erat sampai aku tidak bisa bergerak semalaman. Sekarang setelah di rumah sakit, kau mendadak jual mahal?"
"DANTE MORETTI!!! TUTUP MULUTMU!!!" jerit Nayara histeris, wajahnya benar-benar terasa panas seperti terbakar akibat rasa malu yang luar biasa bercampur dengan kekesalan yang memuncak. Dia menghentakkan kakinya ke lantai dengan geram. "Itu... itu kan karena aku sedang ketakutan karena suara petir! Dan kau sendiri yang menarikku! Jangan memutarbalikkan fakta, dasar mafia mesum!"
Dante tidak membalas makian itu dengan kemarahan. Dia justru membiarkan kepalanya kembali bersandar pada bantal empuk rumah sakit, menikmati ekspresi panik dan salah tingkah Nayara yang menurutnya jauh lebih menghibur daripada laporan bisnis mana pun.
"Aku tidak memutarbalikkan fakta, Naya. Aku hanya menyampaikan apa yang dirasakan oleh pahaku malam itu," sahut Dante dengan nada santai, membiarkan masker oksigennya tetap menggantung di dagu.
"Kau... kau benar-benar menyebalkan! Baru saja bangun dari koma tapi mulutmu sudah bisa mengeluarkan racun!" bentak Nayara, napasnya memburu menahan malu dan amarah yang bergejolak di dadanya. Dia benar-benar tidak tahan lagi berada di ruangan yang sama dengan pria ini jika ujung-ujungnya dia hanya akan dijadikan bahan lelucon.
Dengan langkah kasar, Nayara berbalik menuju pintu kamar ICU. "Terserah kau saja! Aku mau pergi sekarang!"
"Kau mau ke mana? Lorenzo menyuruhmu tetap di sini," panggil Dante, nadanya sedikit berubah serius namun tetap terdengar berkuasa.
"Aku mau melihat kondisi Lucas! Dia jauh lebih baik dan lebih manusiawi daripada tuannya yang berengsek ini!" seru Nayara tanpa menoleh lagi.
Brak!
Nayara membanting pintu kamar ICU VVIP itu dengan sangat keras, hingga suaranya menggema di sepanjang koridor rumah sakit yang sepi.
Di dalam kamar, keheningan kembali melanda. Dante menatap pintu kayu yang baru saja tertutup rapat itu selama beberapa saat. Perlahan, tanpa disadarinya sendiri, sebuah senyuman tipis—sangat tipis namun tulus—terukir di sudut bibir tegas sang Don Mafia. Rasa hangat yang asing mendadak menyusup ke dalam hatinya yang selama ini sedingin es, meruntuhkan sedikit demi sedikit dinding pembatas yang sengaja dia bangun untuk rencana balas dendamnya.