NovelToon NovelToon
Titik Tertinggi Mencintai

Titik Tertinggi Mencintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Frustrasi

Dinding-dinding kaca penthouse mewah itu terasa seperti jeruji besi yang tak kasat mata bagi Kinan. Sepanjang perjalanan pulang dari kantor cabang siang tadi, bersandar di kursi belakang mobil kemudinya, Kinan hanya bisa menatap kosong ke luar jendela. Ingatannya terus tertuju pada kejadian di dalam lift. Sentuhan tangan halus Neya di dadanya, aroma parfum vanila yang sempat merayap masuk ke indra penciumannya, dan bagaimana wanita itu menatapnya dengan pandangan asing yang polos—semuanya berkumpul menjadi satu, menghantam pertahanan warasnya hingga hancur berantakan.

Begitu melangkah masuk melewati pintu depan rumahnya malam itu, atmosfer sunyi langsung menyambutnya. Papa dan Mamanya benar-benar telah memangkas habis seluruh ruang geraknya. Semua akses informasi pribadinya diawasi ketat, rekening bisnisnya dipantau, bahkan beberapa orang kepercayaannya telah dipindahkan sepihak agar Kinan tidak memiliki celah sedikit pun untuk melacak keberadaan Neya lagi. Kinan benar-benar dikunci dalam sangkar emas, terputus total dari dunia luar yang melibatkan masa lalunya.

Begitu melangkah masuk melewati pintu depan rumahnya malam itu, atmosfer sunyi langsung menyambutnya. Papa dan Mamanya benar-benar telah memangkas habis seluruh ruang geraknya. Semua akses informasi pribadinya diawasi ketat, rekening bisnisnya dipantau, bahkan beberapa orang kepercayaannya telah dipindahkan sepihak agar Kinan tidak memiliki celah sedikit pun untuk melacak keberadaan Neya lagi. Kinan benar-benar dikunci dalam sangkar emas, terputus total dari dunia luar yang melibatkan masa lalunya.

Kinan berjalan melewati lorong rumah dengan langkah berat, melepaskan cengkeraman dasinya yang terasa mencekik. Ia merasa sangat terasing di rumahnya sendiri. Langkah kakinya membawa tubuh yang lelah mental itu menuju kamar utama. Di balik pintu kayu ek yang tebal itu, satu-satunya pelarian dari rasa sesak yang menghantam dadanya telah menunggu.

Ketika pintu terbuka, jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Matanya langsung tertuju pada Sherly yang sedang duduk di tepi ranjang. Wanita itu mengenakan gaun malam satin tipis berwarna merah marun. Senyum manis langsung terkembang di bibir cantik Sherly begitu melihat suaminya pulang.

"Kamu sudah pulang, Sayang? Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Sherly lembut, suaranya terdengar begitu tulus dan penuh pengabdian.

Kinan tidak menjawab. Ia bahkan tidak membalas senyuman itu. Sorot mata Kinan tampak gelap, kosong, namun menyimpan riak badai yang siap meledak. Pergolakan batinnya akibat pertemuan singkat dengan Neya tadi siang mendadak menjelma menjadi gairah liar yang menuntut pelampiasan. Kinan frustrasi karena dia tahu dia tidak bisa meraih Neya, dan rasa frustrasi itu kini membakar seluruh akal sehatnya.

Kinan berjalan mendekat tanpa suara. Sebelum Sherly sempat berdiri, Kinan sudah mencengkeram kedua bahu wanita itu, mendorongnya pelan hingga terbaring di atas kasur sutra.

Kinan...?" bisik Sherly terkejut, namun ada rona bahagia yang polos di pipinya. Ia mengira tatapan intens Kinan adalah bentuk cinta dan damba yang mendalam untuknya.

Kinan tidak memberikan ruang bagi Sherly untuk berbicara. Ia langsung menunduk, mengunci bibir Sherly dengan pagutan yang kasar, menuntut, dan penuh dengan emosi yang tertahan. Di dalam kepalanya yang kacau, Kinan tahu tindakan ini salah. Separuh jiwanya berteriak menolak, merasa tidak tega karena Sherly sebenarnya tidak bersalah dalam pusaran takdir ini. Sherly hanyalah wanita yang dinikahkan dengannya demi bisnis. Namun, desakan jantan dan rasa sakit yang bergemuruh di dadanya membuat Kinan mengabaikan hati nuraninya. Malam itu, ia kembali memperlakukan Sherly murni sebagai pelampiasan hasrat biologisnya.

Pergulatan intim itu terjadi dalam ritme yang cepat dan mendominasi. Kinan bergerak tanpa kelembutan seorang suami yang sedang memadu kasih. Setiap sentuhannya tegas, menuntut kepatuhan mutlak dari tubuh seksi di bawah kungkungannya. Suara desahan halus dan rintihan nikmat yang lolos dari bibir Sherly justru semakin memicu Kinan untuk menenggelamkan diri lebih dalam ke dalam pelepasan hasrat yang egois, menggunakan tubuh Sherly untuk melupakan rasa sakitnya sejenak.

Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dijadikan alat pelampiasan. Karena bagi Sherly, setiap sentuhan kasar, napas yang memburu, dan intensitas gila yang Kinan berikan di atas ranjang adalah bukti bahwa suaminya sangat menginginkannya secara fisik. Sherly dengan tulus membalas setiap dekapan Kinan, mencengkeram punggung kokoh suaminya dengan rasa cinta yang murni, merasa sangat dicintai dan dibutuhkan, tanpa pernah tahu bahwa di balik mata Kinan yang terpejam erat saat memeluknya, pria itu sedang membayangkan wanita lain.

Beberapa saat setelah badai gairah itu mereda, keheningan yang mencekam kembali menguasai kamar tidur mereka.

Kinan langsung bangkit, memakai jubah mandinya tanpa berbalik, lalu melangkah menuju balkon kamar. Ia meninggalkan Sherly sendirian di atas ranjang yang berantakan.

Di bawah temaram lampu balkon, Kinan mencengkeram railing besi dengan tangan gemetar. Dadanya naik-turun tidak teratur, dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat kepada Sherly, sekaligus rasa rindu yang menyiksa kepada Neya. Maafkan aku, Sherly... batin Kinan getir, menyesali ketidakberdayaannya sendiri yang telah menjadi monster di atas ranjang demi menenangkan jiwanya yang sakit.

Sementara itu, di dalam kamar, Sherly perlahan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Ia menatap punggung tegap Kinan di balkon melalui sekat kaca dengan senyuman kecil yang sarat akan kebahagiaan. Tubuhnya terasa lelah, namun hatinya penuh. Ia merasa pernikahan ini berjalan dengan sangat sempurna.

Sherly baru saja hendak bangkit dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ketika tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang terdengar lambat namun sangat tegas dari arah luar.

Dahi Sherly berkerut kecil. Di jam mendekati tengah malam seperti ini, ketukan itu terasa sangat tidak biasa. Dengan tergesa-gesa, ia memakai jubah tidurnya, merapikan letak pakaiannya sekilas, lalu berjalan mendekat untuk membuka pintu kamar utama.

Begitu daun pintu kayu ek itu terbuka, sosok Mama Kinan sudah berdiri di sana. Wanita paruh baya itu tampil dengan keanggunan yang luar biasa tajam—meski hanya mengenakan jubah tidur sutra premium berenda, tatapan matanya begitu dingin, mengintimidasi, dan sama sekali tidak mencerminkan kehangatan seorang ibu.

"Mama?" sela Sherly, agak terkejut sekaligus gugup.

Mama Kinan tidak membalas sapaan menantunya. Langkah kakinya justru langsung menerobos masuk ke dalam kamar privat putra dan menantunya tanpa permisi, mengedarkan pandangan matanya yang tajam ke arah ranjang sutra yang tampak sangat berantakan. Tatapannya begitu klinis, seolah sedang memeriksa sebuah ruang laboratorium.

"Di mana Kinan?" tanya Mama Kinan, suaranya terdengar datar namun sarat akan tuntutan.

Sherly menelan ludah, refleks menunjuk ke arah balkon kaca luar menggunakan jemarinya yang agak bergetar. "Kinan sedang di balkon, Ma. Baru saja selesai... membersihkan diri."

Mama Kinan membalikkan tubuhnya, menatap Sherly dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sepasang matanya menyipit angkuh, mengabaikan fakta bahwa menantunya tampak kelelahan setelah melayani suaminya. Sikapnya benar-benar menunjukkan bahwa keluarga besar kusuma tidak memiliki rasa empati sedikit pun terhadap perasaan ataupun hak privat orang lain. Bagi mereka, Sherly tidak lebih dari sekadar instrumen bisnis baru.

"Bagaimana? Apakah kamu sudah menunjukkan tanda-tanda hamil?" tanya Mama Kinan blak-blakan, tanpa basa-basi ataupun rasa canggung sedikit pun.

Wajah Sherly seketika memerah karena malu sekaligus tertekan. "Kami... kami baru menikah beberapa hari, Ma. Belum ada tanda-tanda khusus."

Mendengar jawaban itu, Mama Kinan mendengus tipis, sebuah ekspresi ketidakpuasan yang sangat kentara. Wanita itu melangkah mendekati Sherly, lalu mencengkeram dagu menantunya dengan jari-jarinya yang terawat rapi, memaksa Sherly untuk menatap lurus ke matanya yang sekejam iblis.

"Jangan terlalu pasif, Sherly," ucap Mama Kinan dengan nada suara yang sengaja direnndahkan namun menusuk ulu hati. "Keluarga Mahendra memberikanmu pada kami agar kamu segera melahirkan penerus takhta kusuma Corp. Jika Kinan bersikap dingin atau lelah pulang kantor, kamulah yang harus bergerak aktif. Pelajari cara menjadi wanita yang liar di atas ranjang, kuasai hasrat suamimu agar rahimmu itu segera terisi. Jangan membuat Mama menunggu terlalu lama."

Kata-kata kasar yang dibungkus dengan nada elegan itu membuat dada Sherly terasa sangat sesak. Air matanya hampir saja luruh. Mama Kinan sama sekali tidak tahu, dan tidak mau tahu, bagaimana perjuangan batin Sherly yang selama ini selalu mencoba tersenyum, menahan setiap kelelahan dan intensitas menuntut yang Kinan berikan setiap malam demi menyenangkan suaminya.

Namun, yang jauh lebih membuat situasi ini terasa ironis dan menjengkelkan adalah, baik Mama Kinan maupun Sherly sama sekali tidak menyadari sebuah fakta krusial: Kinan telah merancang semuanya dengan sangat matang sejak awal. Pria itu sengaja mematikan potensi kehamilan tersebut lewat tindakan medis terselubung sebelum pernikahan terjadi, memastikan bahwa rahim Sherly tidak akan pernah bisa melahirkan keturunan yang diinginkan oleh dinasti berdarah dingin ini.

Mama Kinan melepaskan cengkeramannya dari dagu Sherly dengan gerakan meremehkan, lalu berbalik pergi meninggalkan kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, menutup pintu dengan dentuman pelan yang meninggalkan keheningan mencekam.

Sherly terduduk lemas di tepi ranjang, bahunya bergetar menahan tangis yang akhirnya pecah tanpa suara. Ia menatap ke arah pintu mandi yang sunyi, lalu beralih menatap ponsel milik Kinan yang tergeletak di atas meja rias dekat posisinya duduk. Layar ponsel itu mendadak menyala sekejap, menampilkan sebuah notifikasi email masuk yang tersaring otomatis dari sistem kantor.

Sambil menghapus sisa air matanya, rasa ingin tahu membawa langkah kaki Sherly mendekat ke meja rias. Layar ponsel itu tidak terkunci sepenuhnya. Sherly menunduk, dan sepasang matanya membaca baris pratinjau (preview) email yang baru saja masuk dari divisi kreatif cabang perusahaan rekanan mereka:

“Laporan Re-Desain Ruang Eksekutif Wijaya Corp. Penanggung Jawab Lapangan: Asisten Kreatif — Neya Wijaya.”

Sherly mengernyitkan dahinya dalam-dalam di tengah isak tangisnya yang mereda. "Neya...?" gumam Sherly lirih. Nama itu terasa sangat asing, namun entah kenapa langsung memberikan debaran aneh yang tidak nyaman di dalam dadanya, tanpa ia ketahui bahwa nama wanita itulah yang memegang seluruh kunci dari penderitaan batin suaminya selama ini.

1
Unicha
apa sebenarnya yang sedang direncanakan Neya?
Unicha
apa yang akan dilakukan sherly setelah membaca pesan itu ?
Unicha
madu ? apakah haris sudah menikah sebelumnya? atau siapa wanita yang mengaku menjadi madu Neya itu ?
Unicha
apakah perlahan Kinan akan mencintai Sherly dan melupakan neya ?
sakura
...
Unicha
Kenapa Imelda menangis ,apa yang Imelda sembunyikan?
Unicha
Siapakah laki laki yang menjadi suami neya itu ? ,apakah neya benar sudah menikah ?
lalu Kinan ?
Unicha
Apakah Kinan dan neya benar benar akan berakhir?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!