NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Lima — Tentang Varian Kanihu

Selamat membaca cerita baruku semuanya, semoga suka ya...

Sebelum langkah mereka jauh, Jay menyuruh Niki untuk segera menutup kembali pintu rahasia itu.

Lorong itu semakin dalam, semakin gelap—hingga cahaya terakhir dari ruangan atasan benar-benar hilang di belakang mereka. Udara terasa lebih dingin, lembap, dan sesekali terdengar suara tetesan air dari pipa tua yang entah masih berfungsi atau tidak.

Langkah Jay melambat ketika lorong itu bercabang dua.

Di depan mereka ada persimpangan, kiri dan kanan.

Di dinding, tergantung plang kecil yang nyaris terlewatkan dalam gelap. Jay menyorotnya dengan senter kecil dari tas Arsya.

KIRI – RUANGAN ←  —  → KANAN – KELUAR

“Keluar atau ruangan?” bisik Jay pelan.

Niki menyipitkan mata ke arah kiri. “Kalau penasaran… kita lihat dulu ke ruangan. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa kita pakai. Baru kita keluar?” sarannya, nada suaranya setengah penasaran, setengah waspada.

Jay terlihat mempertimbangkan.

Namun tanpa mereka sadari, Arsya memutar bola matanya pelan dalam gelap.

“Tujuan kita keluar dari gedung ini, kan?” ucapnya lirih tapi tegas. “Semakin lama kita di sini, semakin besar kemungkinan mereka mencium keberadaan kita.”

Hening sejenak.

“Tapi kalau dipikir-pikir…” Jay menarik kakinya perlahan dari lantai, memastikan tak ada mekanisme jebakan yang aktif. “Kita juga perlu tahu sesuatu. Siapa tahu di ruangan itu ada informasi penting. Dari yang kita lihat tadi… Kanihu paling banyak ada di lantai gedung ini. Mereka keluar-masuk seperti ini tempat awal mereka.”

Nada suaranya tak lagi sekadar penasaran—melainkan penuh pertimbangan.

Niki mengangguk pelan. “Iya. Pergerakan mereka terlalu teratur. Seolah-olah mereka menjaga sesuatu.”

Arsya terdiam.

Kalimat itu tidak terdengar seperti dugaan spontan.

Ia menangkap sesuatu—sebuah kesadaran yang seolah sudah ada sejak tadi. Tatapannya menyipit dalam gelap. “Apa kalian mengetahui sesuatu?”

Senter kecil di tangan Jay memantulkan cahaya tipis di wajah mereka bertiga. Untuk sesaat, lorong itu terasa lebih sempit. Jay dan Niki saling bertukar pandang singkat, terlalu singkat bagi orang lain. Tapi cukup bagi Arsya untuk menyadarinya.

“Kalian tahu sesuatu, ya?” ulang Arsya, kali ini lebih tegas.

Niki mengangguk pelan, sorot matanya serius. “Kami tahu sedikit. Makanya kami sungguh penasaran.” Arsya menatap mereka bergantian. “Gedung ini… bekerja sama dengan kampus kalian?”

Jay menggeleng tipis. “Bukan sekadar bekerja sama.” Jay akhirnya berbicara, suaranya lebih rendah. “Sebelum kekacauan ini menyebar, kampus kami sempat membahas proyek rahasia pemerintah. Tentang vaksin yang dikembangkan cepat… terlalu cepat.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih berat.

“Gedung ini yang membuat vaksin itu tersebar.”

Kalimat itu menggantung di lorong yang gelap.

Arsya menegang.

Gadis itu menahan nafasnya. Dadanya terasa sesak seketika. Potongan-potongan kejadian di kepalanya mulai tersusun—pengumuman pemerintah yang mendadak, vaksinasi massal yang dipercepat, lalu kekacauan yang muncul tanpa penjelasan jelas.

Dan kini… mereka berdiri di tempat yang mungkin menjadi titik awal semuanya.

Ia akhirnya mengerti, mengapa Jay dan Niki memilih ruangan itu bukan sekedar rasa penasaran. Melainkan tentang jawaban. Kemungkinan disana ada beberapa jawaban yang belum terjawab oleh semua keadaan yang kacau.

Arsya mengangkat wajahnya, menatap ke arah plang kiri bertuliskan RUANGAN.

“Ya sudah kalau begitu…” katanya pelan, namun mantap. “Ayo kita ke sana.”

Keputusan itu membuat Jay dan Niki saling berpandangan, lalu mengangguk. Ada semangat baru di mata mereka—bukan karena ingin tahu semata, tetapi karena mungkin… mereka sedang melangkah lebih dekat pada kebenaran.

Formasi berubah, tujuan sebelum keluar adalah mencari sesuatu di dalam ruangan yang tidak diketahui apa isinya. Jay tetap di depan kemudian Arsya tetap di tengah. Dan Niki tetap berjaga di belakang dengan tongkat golf ditangan kanannya.

Mereka melangkah ke kiri. Menuju ruangan yang mungkin menyimpan rahasia terbesar dari lahirnya Kanihu. Dan mungkin juga… alasan mengapa dunia mereka hancur.

Setiba di depan pintu ruangan itu, mereka berhenti.

Pintu kaca membentang di hadapan mereka—bening, utuh, tanpa retakan. Tidak ada bekas cakaran. Tidak ada noda darah. Tidak ada jejak kaki yang baru saja berlalu.

Sunyi.

Seolah ruangan ini telah terpisah dari kekacauan dunia luar.

Jay mendekat perlahan, mengintip dari balik kaca. “Di sini terlihat rapi sekali…” ujarnya pelan, tatapannya menyapu bagian dalam.

Meja-meja tertata. Kursi masih berada pada tempatnya. Lemari arsip tertutup rapat. Bahkan beberapa map masih tersusun lurus seolah baru dirapikan.

Arsya menyipitkan mata. “Seperti sudah ditinggal berbulan-bulan sebelum Kanihu datang,” lanjutnya lirih.

Ia memperhatikan permukaan meja di dekat kaca. Tanpa perlu menyentuhnya, terlihat jelas lapisan debu tebal menutupi hampir seluruh permukaan. Bukan debu tipis karena beberapa hari tak dibersihkan—melainkan debu yang mengendap lama.

Sangat lama.

Niki menggeser pintu kaca itu perlahan.

Tak terkunci.

Engselnya bergerak tanpa suara, seakan memang jarang disentuh siapa pun. Udara dari dalam ruangan terasa berbeda—pengap, statis, seperti waktu yang berhenti di dalamnya.

Jay melangkah masuk lebih dulu.

Sampai semuanya sudah masuk kedalam dengan Niki yang menutup pintu dengan sangat pelan. Mereka langsung melangkah cepat mendekati rak tinggi berisi berkas-berkas yang mungkin penting.

Arsya berdiri di dekat meja utama, jemarinya menyibakkan lapisan debu tebal hingga tampak sebuah map berwarna gelap tersembunyi di bawahnya. Di sudut map itu tertera cap resmi—setengah pudar, namun masih terbaca.

Tangannya gemetar tipis saat ia membukanya.

“Hey… lihat ini,” bisiknya.

Jay dan Niki segera mendekat, berdiri di kanan-kiri Arsya. Debu beterbangan halus ketika lembaran pertama dibuka.

Suara Arsya terdengar pelan, hampir seperti membaca rahasia terlarang. “Varian Kanihu.” Ia menelan ludahnya sebelum melanjutkan.

“Kani…hu ada tiga varian: Liar, Senyap, dan Alpha.”

Niki langsung menegang. “Tiga?”

Arsya mengangguk, matanya bergerak cepat menyusuri tulisan-tulisan ilmiah di kertas itu. “Varian Liar—agresif, insting berburu tinggi, kehilangan kendali emosi. Biasanya menyerang secara brutal dan terbuka.”

Jay dan Niki saling berpandangan. Itu yang sering mereka lihat di jalanan.

Arsya membalik halaman berikutnya.

“Varian Senyap—kemampuan adaptasi tinggi. Pergerakan tenang. Mampu meniru kebiasaan manusia untuk mendekati mangsa. Tingkat kecerdasan lebih stabil.”

Niki mengepalkan tongkat golfnya. “Yang lehernya bergerak patah-patah tapi tetap terlihat… normal?”

“Sepertinya,” jawab Jay pelan.

Arsya berhenti sejenak sebelum membaca bagian terakhir. Tangannya sedikit mengencang di sudut map. “Varian Alpha.”

Hening.

“Alpha adalah Kanihu pemimpin… manusia yang sadar akan perubahannya.” Jantung Arsya terasa berdegup lebih keras.

“Ia mampu berpikir rasional, mengatur strategi, bahkan mengendalikan varian lain melalui… feromon dan suara frekuensi rendah.” Jay mengangkat wajahnya perlahan. “Jadi mereka bukan cuma monster.”

“Tidak,” bisik Arsya. “Mereka punya pemimpin.”

Niki menunjuk satu kalimat di bawah paragraf terakhir. “Tingkat keberhasilan eksperimen: 12% bertahan dalam kesadaran penuh.”

Eksperimen.

Kata itu terasa seperti tamparan.

Berarti… Alpha bukan kecelakaan. Melainkan hasil yang diinginkan.

V. Varian yang Terkonfirmasi

KAN I H U – ALPHA

Subjek dengan stabilitas kognitif tinggi.

Sangat berbahaya.

Direkomendasikan eliminasi cepat.

KAN I H U – LIAR

Subjek tanpa kendali.

Digunakan sebagai indikator wabah area.

KAN I H U – SENYAP

Subjek dengan kemampuan infiltrasi ekstrem.

Tingkat kehilangan personel tertinggi.

Niki menatap jejak samar di lantai itu dengan napas tertahan. “Ini…?” suaranya merendah. “Berarti yang tadi diam memperhatikan itu adalah Alpha?”

Terima kasih sudah membaca, kita lanjut nanti jam 16.00 sore ya..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!