Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Gaun Sutra dan Sumpah di Atas Karang
Tiga minggu telah berlalu sejak bara api melahap habis kertas kontrak di ruang kerja berlantai enam puluh itu. Sejak hari itu, dinamika kehidupan Nadin Kirana berubah menuju arah yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia bukan lagi rahasia yang disembunyikan di balik dinding penthouse. Gilang Mahendra dengan sengaja dan sangat terbuka menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Nadin adalah calon istrinya.
Pengumuman pernikahan sang manusia es dari Mahendra Corp menjadi berita utama di seluruh media bisnis dan portal berita eksklusif. Tidak ada konferensi pers, tidak ada wawancara. Gilang hanya menyebarkan satu baris pernyataan resmi melalui departemen hubungan masyarakat perusahaannya, menyatakan bahwa dia akan menikahi Nona Nadin Kirana pada akhir bulan. Efek dari pengumuman singkat itu sungguh luar biasa. Nilai saham Mahendra Corp melonjak naik, sementara para pesaing bisnis menelan ludah dengan cemas, menyadari bahwa Gilang kini memiliki seorang ratu yang sama cerdas dan mematikannya di sisinya.
Pagi ini, penthouse mewah itu terasa lebih sibuk dari biasanya. Nadin berdiri di tengah ruang ganti pakaian yang luar biasa luas. Di sekelilingnya, tiga orang wanita yang merupakan asisten dari butik gaun pengantin paling eksklusif di Paris sedang sibuk menyiapkan gaun yang dipesan khusus oleh Gilang.
Dimas berdiri di ambang pintu ruang ganti, mengawasi setiap pergerakan para asisten butik itu dengan mata elangnya. Asisten setia itu telah menerima instruksi mutlak dari Gilang bahwa tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun hari ini.
"Nona Kirana, gaunnya sudah siap," ucap kepala desainer, seorang wanita paruh baya bernama Madame Siska. Nadanya sangat sopan dan penuh kehati-hatian. "Apakah Anda ingin mencobanya sekarang?"
Nadin mengangguk pelan. Dia melepaskan jubah mandi berbahan sutra yang dipakainya, membiarkan tubuhnya hanya berbalut pakaian dalam berwarna putih. Kulitnya yang bersih kini bersih dari memar, namun di bagian perpotongan leher dan bahunya, masih terdapat tanda kemerahan tipis yang sengaja Gilang tinggalkan tadi malam. Nadin tidak berusaha menutupinya. Dia melangkah maju dan membiarkan para asisten itu membantunya mengenakan gaun tersebut.
Gaun pengantin itu adalah sebuah mahakarya. Gilang sendiri yang memilih desainnya, dan pria itu memiliki selera yang sangat posesif. Gaun itu tidak memiliki potongan leher yang rendah atau bagian punggung yang terbuka lebar. Sebaliknya, gaun itu menutupi tubuh Nadin dengan sangat rapat dari leher hingga ke mata kaki, menggunakan bahan sutra Prancis terbaik yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Bagian lengan panjangnya terbuat dari brokat transparan yang disulam dengan benang perak dan ratusan kristal swarovski berukuran kecil.
Meskipun gaun itu sangat tertutup, potongan kain sutra yang menempel pas di badan justru membuat siluet tubuh Nadin terlihat luar biasa anggun, berkuasa, dan sangat menggoda dengan cara yang elegan. Gaun itu meneriakkan satu pesan yang sangat jelas bahwa kecantikan wanita ini adalah area terlarang bagi siapa pun yang melihatnya.
Saat Nadin sedang menatap pantulan dirinya di cermin tinggi, suara langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat.
Gilang Mahendra melangkah masuk ke dalam ruang ganti. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Dia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Wajahnya yang tampan terlihat sedikit lelah, namun rasa lelah itu seketika menguap tak tersisa begitu mata hitamnya mengunci sosok Nadin dalam balutan gaun putih tersebut.
Suhu di dalam ruangan itu mendadak terasa berubah. Ketegangan yang kental dan penuh gairah langsung memenuhi udara. Gilang mengangkat tangan kanannya, memberikan isyarat tanpa suara kepada Madame Siska dan para asistennya.
"Keluar. Semuanya," perintah Gilang dengan suara bariton yang rendah.
Madame Siska dan ketiga asistennya segera menundukkan kepala. Mereka tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, mereka sudah mengemasi barang-barang mereka dan bergegas keluar dari ruang ganti. Dimas ikut melangkah keluar dan menutup pintu ganda ruangan itu dari luar, meninggalkan Gilang dan Nadin hanya berdua.
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Nadin menahan napasnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat dia melihat Gilang melangkah perlahan mendekatinya melalui pantulan cermin.
Gilang berhenti tepat di belakang Nadin. Tubuh besar pria itu menjulang di belakangnya, menciptakan kontras yang sangat indah antara kemeja hitam Gilang dan gaun putih bersih yang dipakai Nadin. Gilang tidak segera menyentuhnya. Pria itu hanya menatap pantulan Nadin di cermin, matanya menyapu setiap inci gaun tersebut dengan tatapan lapar yang sangat posesif.
"Kau terlihat sangat sempurna," bisik Gilang, suaranya terdengar serak dan berat. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menempelkan dada bidangnya ke punggung Nadin.
Hawa panas dari tubuh Gilang menembus lapisan sutra gaun tersebut, memberikan sensasi hangat yang membuat bulu kuduk Nadin meremang. Tangan Gilang terulur, menyentuh pinggang Nadin, lalu bergerak perlahan menyusuri lekuk tubuh wanita itu hingga ke atas perutnya. Sentuhan pria itu penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut.
"Saya menyukai pilihan desain Anda, Gilang," ucap Nadin pelan. Dia menyandarkan kepalanya ke dada Gilang, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan kokoh pria itu. "Gaun ini membuat saya merasa seperti memakai baju zirah."
Gilang mendengus pelan, sebuah tawa yang sangat maskulin keluar dari bibirnya. Pria itu menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Nadin. Ujung hidung Gilang menyapu kulit leher Nadin yang tidak tertutup kain brokat, menghirup aroma wangi alami tubuh wanita itu dalam-dalam.
"Ini memang baju zirahmu, Nadin," geram Gilang di dekat telinga wanita itu. Jari-jari pria itu memberikan tekanan yang sedikit lebih kuat di pinggang Nadin. "Aku tidak akan membiarkan ada satu inci pun kulitmu yang menjadi tontonan para tamu undangan. Kau akan berdiri di sampingku sebagai ratuku, dan mereka hanya diizinkan untuk menunduk hormat, bukan untuk menikmati keindahanmu. Keindahanmu di balik gaun ini hanya akan menjadi milikku."
Mendengar kata-kata yang sangat egois dan menggelapkan hati itu, Nadin hanya bisa tersenyum tipis. Obsesi Gilang adalah sebuah jurang yang tidak memiliki dasar, dan Nadin telah menjatuhkan dirinya secara sukarela ke dalam jurang tersebut. Nadin memutar tubuhnya perlahan di dalam pelukan Gilang, menghadap langsung ke arah pria itu.
Nadin mengangkat kedua tangannya, melingkarkannya di leher Gilang. Mata bulat Nadin menatap lurus ke dalam mata hitam kelam pria itu. "Saya tidak pernah berniat menunjukkan keindahan saya pada siapa pun selain Anda, Gilang."
Jawaban itu adalah pemicu yang menghancurkan sisa pertahanan Gilang siang itu. Pria itu menunduk dan meraup bibir Nadin dengan ciuman yang memabukkan, kasar, dan penuh tuntutan. Nadin membalas ciuman itu dengan sama liarnya, mengabaikan gaun sutra mahalnya yang mungkin akan menjadi kusut. Di dalam ruang ganti yang sunyi itu, mereka kembali menegaskan ikatan gila yang telah menyatukan mereka, sebuah ikatan yang jauh lebih kuat dari selembar kertas kontrak mana pun.
Tiga hari kemudian, hari yang dijanjikan itu tiba.
Gilang tidak menyewa gedung hotel mewah di tengah kota Jakarta. Pria itu menolak untuk membiarkan pernikahannya menjadi sirkus bagi para media dan paparazi. Sebagai gantinya, Gilang membawa Nadin, Arya, Dimas, dan segelintir tamu undangan yang sangat terbatas menggunakan tiga buah helikopter pribadi menuju sebuah pulau terpencil di perairan Laut Jawa. Pulau itu adalah aset pribadi Gilang yang belum pernah diekspos ke publik.
Setibanya di pulau tersebut, Nadin dibuat terpukau oleh keindahan arsitektur yang tersaji di depan matanya. Sebuah vila mewah bergaya kontemporer berdiri kokoh di atas tebing karang yang berbatasan langsung dengan lautan lepas. Struktur bangunan itu didominasi oleh beton ekspos, kayu ulin, dan dinding kaca raksasa yang memberikan kesan maskulin namun sangat menyatu dengan alam. Sebagai seorang arsitek, Nadin tahu bahwa bangunan ini dibangun dengan perhitungan struktural yang luar biasa rumit.
"Anda yang mendesain semua ini?" tanya Nadin dengan nada kagum saat Gilang menuntunnya masuk ke dalam ruang utama vila.
"Aku mempekerjakan arsitek terbaik dari Eropa lima tahun yang lalu," jawab Gilang santai. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya dan menatap hamparan laut biru di luar sana. "Aku membeli pulau ini sebagai tempat persembunyianku. Tidak ada yang tahu letak pulau ini selain aku, Dimas, dan para penjaga keamanan yang sudah aku seleksi dengan ketat. Dan mulai hari ini, pulau ini akan menjadi tempat perlindungan utamamu juga."
Menjelang senja, upacara pernikahan itu dilaksanakan di sebuah teras kayu luar ruangan yang menjorok tepat ke arah lautan. Suara ombak yang menghantam karang di bawah sana menjadi musik pengiring alami. Langit berubah warna menjadi perpaduan jingga keemasan dan merah darah, menciptakan latar belakang yang sangat dramatis dan memukau.
Jumlah tamu yang hadir tidak lebih dari dua puluh orang. Mereka adalah para petinggi hukum, notaris kepercayaan Gilang, dan beberapa rekan bisnis yang berada di bawah kendali mutlak Mahendra Corp. Tidak ada dekorasi bunga yang berlebihan atau pernak-pernik pernikahan yang klise. Hanya ada sebuah altar sederhana yang terbuat dari kayu hitam, dihiasi oleh beberapa lilin besar yang menyala tertiup angin laut.
Nadin berjalan menuju altar dengan didampingi oleh Arya. Adiknya itu terlihat sangat gagah mengenakan setelan jas hitam kecil. Arya tersenyum lebar, langkah kakinya sudah kembali kuat setelah proses pemulihan selama beberapa bulan terakhir. Kehadiran Arya di sisinya memberikan kekuatan yang luar biasa bagi Nadin.
Di ujung altar sana, Gilang Mahendra berdiri menunggu.
Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam yang sangat pas di badannya, dengan kemeja putih dan tanpa dasi. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Wajah tampannya memancarkan aura seorang raja yang siap menyambut mahkotanya. Mata hitam Gilang tidak pernah lepas sedetik pun dari sosok Nadin yang berjalan mendekat. Tatapan itu terasa seperti gravitasi yang menarik seluruh kesadaran Nadin untuk hanya berpusat padanya.
Arya menyerahkan tangan Nadin kepada Gilang dengan sopan. Gilang menerima tangan Nadin, menggenggamnya dengan sangat erat dan hangat. Pria itu tidak mengucapkan terima kasih kepada Arya, dia hanya memberikan anggukan singkat yang penuh wibawa.
Seorang petugas pencatatan sipil berdiri di hadapan mereka, membacakan dokumen legalitas dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup berhadapan langsung dengan sang manusia es. Namun, baik Nadin maupun Gilang sama sekali tidak memperhatikan petugas tersebut. Dunia di sekitar mereka seakan mengabur, menyisakan hanya mereka berdua dan deburan ombak di bawah tebing karang.
Tiba saatnya bagi mereka untuk mengucapkan sumpah. Tidak ada teks sumpah pernikahan yang romantis atau puitis. Gilang telah menolak semua draf yang disiapkan oleh pengacaranya. Pria itu lebih suka menggunakan aturannya sendiri.
Gilang menatap lurus ke dalam mata Nadin. Jari-jari pria itu mengusap punggung tangan Nadin dengan gerakan pelan yang sangat mengintimidasi namun memabukkan.
"Nadin Kirana," ucap Gilang, suara baritonnya mengalahkan suara angin laut. Setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah sebuah pernyataan kekuasaan. "Di hadapan lautan ini, aku mengklaim dirimu sebagai istriku. Kau adalah nyawaku, ratuku, dan milikku satu-satunya. Mulai detik ini, tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang bisa menyentuhmu tanpa seijinku. Siapa pun yang berani mencoba memisahkan kita, atau mencoba membuatmu menangis, akan berhadapan dengan kematian di tanganku. Kau akan berdiri di sampingku hari ini, esok, dan sampai napas terakhirku berhenti."
Sumpah itu sangat kelam, brutal, dan egois. Itu bukanlah janji untuk saling membahagiakan, melainkan janji perlindungan berdarah dan kepemilikan abadi. Namun bagi Nadin, sumpah itulah yang paling indah yang pernah dia dengar. Sumpah itu adalah jaminan bahwa dia tidak akan pernah lagi merasa sendirian atau ketakutan di dunia yang kejam ini.
Gilang menyematkan sebuah cincin berlian murni yang desainnya sangat unik ke jari manis Nadin, mendampingi cincin emas putih yang sudah ada di sana.
Kini giliran Nadin. Wanita itu menarik napas panjang. Dia menatap wajah pria yang dulu sangat dia benci, pria yang telah menghancurkan dan membangun kembali hidupnya dalam waktu yang bersamaan.
"Gilang Mahendra," balas Nadin dengan suara yang tidak kalah tegas dan jernih. Mata bulatnya memancarkan keyakinan mutlak. "Saya menerima klaim Anda. Saya menyerahkan kebebasan saya, kesetiaan saya, dan hidup saya ke dalam tangan Anda. Saya akan menjadi perisai dan pedang Anda. Ke mana pun kegelapan Anda melangkah, saya akan berdiri di sana tanpa keraguan. Saya adalah milik Anda, selamanya."
Nadin menyematkan cincin emas putih polos ke jari manis Gilang. Tangan pria itu terasa sangat kokoh dan hangat.
Begitu cincin itu terpasang, Gilang tidak menunggu petugas pencatatan sipil untuk memberikan instruksi selanjutnya. Pria itu langsung menarik pinggang Nadin, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, dan meraup bibir Nadin dengan ciuman yang sangat dalam dan posesif.
Ciuman itu menjadi puncak dari seluruh perjalanan mereka. Angin laut yang kencang menerbangkan ujung gaun sutra Nadin, menciptakan pemandangan yang luar biasa dramatis di atas tebing karang tersebut. Para tamu undangan hanya bisa terdiam menahan napas, tidak ada yang berani bertepuk tangan sebelum sang penguasa melepaskan ciumannya.
Malam harinya, setelah acara makan malam singkat yang terasa sangat kaku bagi para tamu, Gilang langsung mengusir semua orang dari pulau tersebut. Helikopter-helikopter itu kembali mengudara menuju Jakarta, membawa serta Arya dan Dimas, menyisakan hanya Gilang dan Nadin di pulau terpencil tersebut.
Vila mewah itu kini menjadi kerajaan pribadi mereka.
Di dalam kamar utama yang sangat luas, dengan dinding kaca yang terbuka menghadap lautan malam yang gelap, suara deburan ombak menjadi satu-satunya melodi yang menemani mereka. Hanya ada penerangan dari lampu tidur berwarna kuning temaram.
Gilang berdiri di depan Nadin. Pria itu sudah melepaskan jas dan kemejanya. Otot-otot dadanya yang keras dan dihiasi oleh beberapa bekas luka lama terlihat sangat maskulin. Gilang menatap Nadin yang masih berdiri dalam balutan gaun pengantin sutranya.
Tangan besar Gilang bergerak menuju ritsleting panjang di punggung gaun Nadin. Pria itu menurunkannya dengan sangat lambat. Suara ritsleting yang terbuka terdengar sangat nyaring memecah kesunyian kamar.
Setiap sentimeter kain yang terbuka, Gilang akan memberikan kecupan panas di atas kulit punggung Nadin yang terekspos. Sentuhan bibir pria itu terasa seperti sengatan api yang membakar sisa-sisa kewarasan Nadin. Wanita itu memejamkan mata, membiarkan tubuhnya melengkung secara insting untuk mencari kehangatan pria tersebut.
Gaun sutra seharga ratusan juta itu akhirnya merosot jatuh ke lantai kayu, menumpuk di sekitar pergelangan kaki Nadin. Udara dingin malam menyentuh kulitnya, namun segera diusir oleh pelukan hangat Gilang dari belakang.
"Malam ini, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi utang, dan tidak ada lagi musuh," bisik Gilang dengan napas terengah di ceruk leher Nadin. Tangan pria itu menyusuri lekuk tubuh istrinya dengan penuh pemujaan sekaligus tuntutan. "Malam ini, aku hanya ingin kau mengingat satu hal. Bahwa kau terikat padaku bukan karena paksaan, melainkan karena kau tidak akan bisa hidup tanpaku."
"Aku tahu, Gilang," desah Nadin, memutar tubuhnya untuk menghadapi pria itu. Dia menangkup wajah tampan Gilang dengan kedua tangannya, mengusap rahang keras pria itu dengan ibu jarinya. "Dan Anda juga tidak akan bisa hidup tanpa saya."
Mendengar tantangan manja itu, Gilang menggeram rendah. Pria itu mengangkat tubuh Nadin, membawanya menuju ranjang raksasa di tengah ruangan, dan merebahkannya di sana.
Malam itu, diiringi oleh suara ombak yang menghantam karang dengan ganas, penyatuan mereka terjadi dengan intensitas yang jauh melebihi malam-malam sebelumnya. Gilang memuja setiap inci tubuh Nadin, membisikkan kata-kata kepemilikan yang mengikat jiwa, dan memastikan bahwa wanita ini benar-benar tidak akan pernah bisa melupakan sentuhannya.
Di bawah langit malam yang dipenuhi bintang, di pulau terpencil yang tidak tersentuh oleh dunia luar, Nadin Kirana akhirnya menemukan kebebasan sejatinya di dalam sangkar yang paling kuat yang pernah dibangun oleh iblis yang kini menjadi suaminya. Sebuah akhir yang kelam, brutal, namun dipenuhi oleh obsesi cinta yang tidak akan pernah padam oleh waktu.