NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Nikahmuda
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.

Bayangan di Balik Senyum

Pagi itu, untuk pertama kalinya Aluna menginjakkan kaki di kantor pusat Wijaya Group sebagai istri resmi sang CEO.

Gedung tinggi berlapis kaca itu menjulang angkuh di tengah pusat bisnis kota. Jika dua hari lalu ia datang sebagai wanita yang terdesak keadaan, hari ini ia datang sebagai Nyonya Wijaya—sorotan media dan bahan bisik-bisik karyawan.

Mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan pintu utama. Begitu pintu terbuka, kilatan kamera langsung menyambut.

Arkan turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan padanya.

Tanpa ragu, Aluna menyambutnya.

Kali ini genggaman itu terasa lebih mantap. Bukan hanya sandiwara, tapi juga perlindungan.

“Tatap lurus. Jangan terlalu banyak tersenyum,” bisik Arkan pelan tanpa menoleh padanya. “Percaya diri, tapi tidak arogan.”

Aluna mengangguk kecil.

Langkah mereka serasi memasuki lobi. Karyawan yang sedang berlalu-lalang spontan menunduk hormat.

“Selamat pagi, Pak Arkan.”

“Selamat pagi, Nyonya.”

Suara itu terdengar bersahutan.

Aluna berusaha menjaga ekspresi tetap tenang meski jantungnya berdebar cepat. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan penasaran mengikutinya hingga ke lift eksekutif.

Begitu pintu lift tertutup dan suasana menjadi sunyi, ia menghembuskan napas panjang.

“Menegangkan,” gumamnya.

Arkan menatapnya sekilas.

“Kau melakukannya dengan baik.”

Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat hatinya menghangat.

Lift berhenti di lantai tertinggi.

Begitu pintu terbuka, seorang wanita muda dengan setelan rapi sudah menunggu.

“Selamat pagi, Pak. Nyonya. Saya Rena, sekretaris pribadi Pak Arkan.”

Tatapannya sopan, tapi Aluna bisa merasakan rasa ingin tahu di balik senyum profesional itu.

“Mulai hari ini, Nyonya akan memiliki ruangan sendiri di sisi timur lantai ini,” lanjut Rena.

“Ruangan?” Aluna menoleh pada Arkan.

“Sebagai istriku, kau tidak mungkin duduk tanpa peran,” jawabnya singkat. “Anggap saja ini tempatmu belajar.”

Belajar.

Ia menyukai kata itu.

Ruangannya tidak sebesar milik Arkan, tapi tetap elegan. Dinding kaca menghadap kota, sofa abu-abu lembut di sudut ruangan, meja kerja minimalis, dan rak buku kosong yang siap diisi.

“Jika Nyonya membutuhkan dokumen perusahaan atau laporan tahunan, saya bisa menyiapkannya,” kata Rena.

“Terima kasih.”

Setelah Rena keluar, Aluna berdiri sendiri di tengah ruangan.

Ia menyentuh permukaan meja kayu itu pelan.

Semua ini terasa seperti mimpi.

Namun mimpi sering kali rapuh.

Beberapa jam kemudian, Arkan mengajaknya menghadiri rapat direksi.

“Duduk saja dan dengarkan,” ucapnya sebelum masuk ruang rapat.

Pintu besar terbuka.

Beberapa pria dan wanita paruh baya duduk mengelilingi meja panjang. Tatapan mereka serempak beralih ke Aluna.

Salah satu pria berkacamata menipiskan bibir.

“Pak Arkan, apakah ini rapat keluarga atau rapat bisnis?”

Nada sindiran itu jelas.

Arkan tetap tenang. “Ini rapat bisnis. Dan istri saya berhak mengetahui kondisi perusahaan.”

Pria itu mendengus pelan, namun tak berkata lagi.

Aluna duduk di kursi di samping Arkan, mencoba menyimak diskusi tentang proyek properti baru di kawasan pesisir.

Istilah-istilah teknis terdengar asing, namun ia berusaha memahami.

Sesekali Arkan menjelaskan singkat di sela rapat dengan suara rendah khusus untuknya.

Sikap itu tidak luput dari perhatian para direksi.

Ketika rapat hampir selesai, pria berkacamata tadi kembali berbicara.

“Pak Arkan, dengan segala hormat, kami berharap keputusan perusahaan tetap objektif. Jangan sampai faktor emosional memengaruhi arah investasi.”

Kali ini suasana benar-benar hening.

Sindiran itu lebih tajam.

Arkan menatapnya dingin.

“Keputusan saya selalu berdasarkan data. Jika Anda meragukannya, silakan ajukan bukti, bukan asumsi.”

Tatapan mereka saling menantang.

Aluna bisa merasakan ketegangan itu.

Rapat berakhir tanpa kesimpulan bulat.

Begitu keluar ruangan, Aluna akhirnya berbicara.

“Mereka tidak menyukaiku.”

Arkan berjalan tanpa memperlambat langkah.

“Mereka tidak menyukai siapa pun yang berpotensi memengaruhiku.”

“Kamu tidak keberatan aku ikut rapat tadi?”

Arkan berhenti mendadak.

Ia menatapnya dalam-dalam.

“Jika aku keberatan, kau tidak akan berada di sana.”

Jawaban itu tegas.

Dan jujur.

Siang itu, Aluna memutuskan untuk berkeliling lantai kantor bersama Rena.

Beberapa karyawan menyapanya dengan canggung. Beberapa terlihat tulus. Beberapa lainnya jelas menilai.

Namun ada satu hal yang membuatnya berhenti.

Di sudut pantry lantai eksekutif, ia mendengar dua wanita berbisik.

“Katanya dia cuma gadis biasa.”

“Pasti ada sesuatu di balik pernikahan ini.”

“Cemalia lebih pantas jadi istri Pak Arkan.”

Aluna berdiri terpaku beberapa detik.

Ia tahu gosip tak terhindarkan. Tapi mendengarnya langsung tetap menyakitkan.

Ia menarik napas panjang dan masuk ke pantry.

Kedua wanita itu langsung terdiam pucat.

“Selamat siang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.

Aluna tersenyum tipis.

“Selamat siang. Kopinya terlihat enak. Boleh saya mencoba?”

Mereka mengangguk gugup.

Aluna mengambil cangkir dan menuangkan kopi sendiri.

“Saya tahu kalian penasaran,” ucapnya tenang tanpa menatap mereka. “Tapi saya di sini bukan untuk mengambil apa pun dari siapa pun.”

Kedua wanita itu hanya terdiam.

“Saya harap kita bisa bekerja dengan nyaman bersama.”

Ia lalu keluar tanpa menunggu jawaban.

Jantungnya berdebar.

Namun setidaknya, ia tidak lari.

Sore menjelang, Rena masuk ke ruangan Aluna dengan wajah cemas.

“Nyonya… ada berita yang beredar.”

“Berita apa?”

Rena menyerahkan tablet.

Di layar terpampang artikel dari sebuah media gosip.

“Istri Baru CEO Wijaya, Penghancur Pertunangan Lama?”

Foto Arkan dan Cemalia saat masih bertunangan ditampilkan berdampingan dengan foto pernikahan Aluna.

Isi artikel itu menyiratkan bahwa Aluna adalah pihak ketiga yang menyebabkan hubungan lama mereka kandas.

Tangan Aluna mendingin.

“Itu tidak benar…”

Rena menunduk. “Media ini terkenal sering menyebarkan rumor.”

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka tanpa diketuk.

Arkan masuk dengan wajah keras.

“Kau sudah lihat?” tanyanya.

Aluna mengangguk pelan.

“Ini ulah siapa?” suaranya bergetar.

Arkan meletakkan ponselnya di meja dengan gerakan tajam.

“Orang yang merasa kehilangan sesuatu.”

Nama Cemalia tak perlu disebut.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Aluna.

Arkan menatapnya.

“Pertama, klarifikasi resmi dari tim humas. Kedua, tuntutan hukum jika perlu.”

Ia melangkah mendekat.

“Yang lebih penting, kau tidak boleh terlihat terganggu.”

“Aku manusia,” jawab Aluna lirih.

Untuk pertama kalinya, Arkan terlihat ragu.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat tangannya… dan dengan lembut menyentuh bahu Aluna.

Sentuhan itu tidak formal.

Tidak untuk kamera.

Hanya untuknya.

“Aku tahu,” katanya pelan. “Tapi jika kita menunjukkan celah, mereka akan masuk lebih dalam.”

Aluna menatapnya.

“Apa kamu percaya padaku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Arkan tidak menjawab langsung.

Namun tatapannya mengeras, seolah menegaskan sesuatu.

“Aku tidak akan menikahimu jika aku tidak percaya.”

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup untuk membuat dadanya terasa hangat.

Malam itu, mereka pulang lebih awal.

Di depan rumah, wartawan sudah menunggu, membawa salinan artikel gosip itu.

“Nyonya! Apa benar Anda merebut Pak Arkan dari tunangan lamanya?”

Pertanyaan itu seperti pisau.

Arkan berhenti dan menatap para wartawan dengan tajam.

“Istri saya tidak merebut siapa pun,” ucapnya tegas. “Hubungan saya sebelumnya sudah berakhir jauh sebelum saya mengenalnya.”

Kilatan kamera semakin banyak.

Ia kemudian meraih tangan Aluna dan menggenggamnya lebih erat dari biasanya.

“Dan saya tidak menyesali keputusan saya.”

Kata-kata itu membuat suasana hening sesaat.

Di dalam mobil, Aluna menatap lurus ke depan.

“Kamu tidak perlu mengatakan itu,” bisiknya.

Arkan menoleh.

“Itu kebenaran.”

Jantungnya kembali bergetar.

Namun badai belum berhenti.

Malam itu, saat Aluna hendak masuk ke kamarnya, ia melihat sebuah amplop tergeletak di depan pintu.

Tanpa nama pengirim.

Ia membungkuk dan mengambilnya.

Di dalamnya terdapat beberapa foto.

Foto Arkan dan Cemalia di masa lalu—tertawa, berpelukan, tampak sangat bahagia.

Di belakang salah satu foto, tertulis dengan tinta merah:

“Kamu hanya sementara.”

Tangan Aluna gemetar.

Air matanya hampir jatuh, namun ia menahannya.

Pintu kamar di seberang lorong terbuka.

Arkan keluar dan melihatnya berdiri terpaku.

“Ada apa?”

Aluna terdiam beberapa detik sebelum menyerahkan foto-foto itu.

Wajah Arkan mengeras.

Ia tidak terlihat terkejut.

Hanya marah.

“Aku akan mencari tahu siapa yang mengirim ini.”

“Tidak perlu,” bisik Aluna.

Arkan menatapnya.

“Apa maksudmu?”

Aluna mengangkat wajahnya.

“Jika aku menyerah hanya karena foto masa lalumu, berarti aku memang tidak pantas berdiri di sini.”

Kalimat itu membuat Arkan terdiam.

Ia tidak menduga Aluna akan menjawab seperti itu.

“Kamu punya masa lalu,” lanjutnya pelan. “Dan aku tidak berhak menghapusnya.”

Hening panjang tercipta.

Lalu Arkan melangkah mendekat.

Sangat dekat.

Tangannya terangkat perlahan… seolah ingin menyentuh wajah Aluna.

Namun ia berhenti tepat sebelum menyentuhnya.

“Jangan terlalu kuat,” ucapnya rendah. “Dunia ini kejam pada orang seperti kita.”

“Kita?” ulang Aluna pelan.

Arkan tidak menjawab.

Namun untuk pertama kalinya, jarak di antara mereka terasa berbeda.

Bukan sekadar dua orang dalam kontrak.

Melainkan dua orang yang mulai berdiri di sisi yang sama.

Di luar rumah besar itu, angin malam bertiup lebih kencang.

Dan di suatu tempat, seseorang tersenyum puas melihat benih keraguan mulai ditebar.

Permainan baru saja dimulai.

Dan kali ini, bukan hanya reputasi yang dipertaruhkan.

Tapi hati

1
Veline
Semangat Author untuk Karya nya 🔥🔥💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!