Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Saat ini, Sasa berdiri di parkiran di depan kendaraannya. Wita, yang berdiri bersampingan, berbicara saat sebuah kendaraan terhenti di depan mereka, "Aku dulu ya, Mba," ucapnya.
"Iya," jawab Sasa sambil menganggukkan kepalanya.
Wita lalu membuka pintu mobil itu dan masuk. Tak lama setelah pintu tertutup, kendaraan itu pun melaju pergi.
Sasa berdiri menatap kepergian mobil Wita. Lalu, dia melangkah menuju kendaraan yang terparkir, membuka pintu, dan berlalu masuk.
Di dalam mobil, dengan kaca depan mengarah ke coffee shop, Sasa masih duduk sambil melihat ke depan. dia mengambil telepon genggam yang berada di tas kecilnya.
Saat telepon genggam dinyalakan, Sasa menghela napas. dia berbicara pelan, "Sepi banget. Gimana ya buat nyari pasangan? Aku pengen banget kalau Laras punya papa," bisiknya pelan.
"Apa aku nyari pacar online saja? Hehe," ucapnya pelan dengan wajah tersenyum.
"Aku jadi kepikiran dengan perasaan Laras, seandainya dia tahu kalau selama ini dia adalah anak angkat yang aku adopsi," gumamnya dengan raut wajah bingung.
Sasa menghela napas. dia mematikan telepon genggamnya, lalu menyalakan dan memundurkan kendaraannya. Kini, dia pun pergi untuk pulang ke rumah.
***
Di sisi lain, di dalam coffee shop, Laras dan Arif masih duduk menikmati kopi hangat dan makanan ringan yang mereka pesan.
Arif terus tersenyum memperhatikan Laras, karena bisa memandang seorang wanita cantik yang sudah menjadi pacarnya. Tiba-tiba, telepon genggamnya berbunyi.
Arif mengambil dan melihat telepon genggamnya. Terlihat panggilan masuk dari papanya.
Laras langsung bertanya, "Siapa, Sayang?"
"Papa menelepon," jawab Arif, merasa ragu untuk mengangkat panggilan telepon itu.
"Kenapa enggak diangkat? Tahu saja Papa kamu menelepon karna lagi penting," tanya Laras.
"yaudah Sebentar ya, Sayang," Arif lalu mengangkat panggilan telepon dari Pak Wiguna.
Telepon genggam itu pun tersambung. Arif langsung berbicara dengan papanya lewat telepon genggamnya.
"Halo, Pa," ucap Arif dengan tatapan tertuju ke Laras.
"Kamu di rumah, Rif?" suara papanya dari telepon genggam.
"Aku lagi di luar, Pa. Memang kenapa?"
"Kamu, lagi apa di luar? Ini Papa lagi di jalan, rumah jangan dulu dikunci."
"enggak di kunci, Pa, aku lagi..." ucap Arif terhenti. dia menatap Laras dan merasa bingung harus berbicara apa.
Laras yang menatap Arif, kini mendengarkan pembicaraannya.
"Arif?" suara dari telepon genggamnya.
"Iya, aku lagi jalan sama p-pacar. udah dulu ya, Pa," Arif lalu mengalihkan telepon genggam dari telinganya. Kemudian, ia menutup panggilan telepon itu.
"Kok langsung ditutup, Rif?" tanya Laras.
"Enggak, sih, cuma takut saja. Papa lagi di jalan soalnya," Arif tersenyum sambil memasukkan telepon genggam ke dalam sakunya.
"Eum, begitu ya," Laras mencoba untuk percaya. Ia lalu kembali berbicara, "Aku pengen ketemu sama Papa sama Mama kamu, pengen kenal lebih dekat," ucapnya.
Arif menatap lekat. "Nanti ya, Sayang, kita ketemu sama Papa aku. Oh iya, Sayang, habis ini aku antar kamu pulang ya,"
"Kamu tidur sendirian enggak apa-apa, kan?" tanya Laras, menghela napas, lalu kembali berbicara, "Tadinya aku mau menginap lagi di rumah kamu, menemani kamu lagi, tahu?" ucapnya.
"enggak usah, Sayang, nanti malam Papa aku pulang, jadi aku di rumah tidak sendirian."
"Oh, begitu, bagus deh."
"Kamu mau aku antar sekarang atau bagaimana?" ucap Arif terhenti karena telepon genggamnya kembali berbunyi.
"Nanti saja, Sayang," jawab Laras sambil menatap Arif yang mengambil telepon genggamnya.
"Sebentar, Sayang," ucap Arif menatap telepon genggamnya.
"Kenapa?"
"Felix menelepon," jawab Arif. dia pun lalu mengangkat panggilan telepon itu. Arif langsung menggerakkan telepon genggamnya ke telinga sambil berbicara,
"Ada apa, Bre?" ucap Arif.
"Lo di mana, Rif? Temui gue ya sekarang, ini penting banget," suara Felix dari telepon genggam itu.
"Penting bagaimana? Tapi gue lagi sama pacar gue, di coffee shop," ucap Arif. Ia merasa bingung.
"Cepat saja ke sini, gue share lokasinya, ini penting banget," Felix dari telepon genggam itu terdengar begitu serius.
"Oke, oke. Share lokasi, gue ke sana," jawab Arif. dia pun mematikan telepon genggamnya.
Arif menghela napas kasar lalu berbicara, "Sayang, kamu ikut ya, kayaknya lagi ada masalah sama Felix," ucapnya.
"Iya, Sayang," jawab Laras.
Arif dan Laras pun kini berdiri bersama, lalu mereka melangkah keluar dari *coffee shop*.
Sampai di parkiran, langkah Arif terhenti saat mendengar sebuah notifikasi dari telepon genggamnya. dia mengeluarkan dan melihat telepon genggamnya.
Dari telepon genggam itu, Felix mengirim lokasi. Arif langsung melihat lokasi GPS yang dikirim Felix.
"enggak jauh dari sini, tapi kok Felix ada di taman?" gumam Arif menatap peta dari telepon genggam itu.
Laras yang berdiri di samping Arif memperhatikan wajah Arif. Lalu, Laras bertanya, "Kenapa, Sayang?" ucapnya.
"Heran saja, Felix ada di taman. Ya sudah, ayo kita masuk," Arif lalu menarik pintu mobilnya. dia pun masuk ke dalam kendaraannya.
Setelah Laras masuk ke dalam mobil, Arif menyalakan kendaraannya, lalu melaju pergi.
***
Di taman, Felix berdiri menatap ke arah Gea yang sedang berhadapan dengan Kaizen.
Kaizen tersenyum sambil berbicara, "Bilang saja kalau ga berani," ucapnya.
"Lo pikir gue takut sama Lo?" Gea dengan Wajahnya tersenyum sinis.
"Oke, tepat jam 20.30, kita mulai. Tapi jika Lo kalah, mobil Lo jadi milik gue," Kaizen tersenyum sinis menatap tajam ke Gea.
Felix menatap telepon genggamnya, lalu melangkah mendekat ke samping Gea. "Gue ikut. Kalau Lo kalah, gue bakar mobil lo," ucap Felix.
"Wih, menantang! Lo berdua tidak mungkin menang," ucap Kaizen, menatap Felix, lalu mengalihkan tatapannya ke satu teman yang berada di sampingnya. "Ky, suruh Baban ke sini," ucap Kaizen menatap Kiky.
"Siap," jawab Kiky. Lalu, dia mengambil telepon genggam di sakunya sambil melangkah menjauh.
Dari arah jalan, terlihat kendaraan Arif terhenti di belakang kendaraan Felix, yang terparkir di pinggir jalan.
Tak lama, Arif turun dari mobilnya bersama Laras. Lalu, mereka melangkah mendekat ke samping Felix.
"Mau apa nih?" tanya Arif sambil terhenti menatap Felix.
"Dia menantang," ucap Gea menatap Arif.
Arif mengalihkan tatapannya ke Kaizen. Tatapan Arif begitu tajam, tangannya terkepal. Lalu, Arif melangkah mendekat sambil berteriak, "Lo yang membunuh Abdul sama Ryuken, kan?" Arif dengan kesal langsung memukul Kaizen.
Bug!
Kaizen mundur beberapa langkah. Tatapannya tajam sambil berbicara, "Lo mau kaya mereka?" ucapnya dengan sinis.
"Ah, bangsat Lo!" Arif melangkah, namun Felix menariknya.
"Sudah, Rif, tenangkan dulu," ucap Felix.
"Lepaskan, gue ingin balas, apa yang dia lakukan," Arif dengan kesal menatap Felix.
"Jadi kalian berteman? Gue tantang kalian. Kalau kalian kalah, mobil kalian jadi milik gue, dan dia jadi milik gue," ucapnya sambil menunjuk ke Laras.
Jantung Laras berdebar keras. doa menatap Arif, Felix, dan Gea. Arif berteriak, "Jadi Lo menantang gue? Lo berani juga mau mengambil pacar gue?" Arif berkata dengan tegas.
"Lo takut?" ucap Kaizen menatap Arif, lalu melangkah pergi.
"Gue enggak takut sama Lo," Arif menatap kepergiannya.
"Tenangkan dulu. Lo enggak bisa main hajar ajah. Kaizen Kaizen ga sendirian. Kita ikuti saja tantangannya. Kalau dia kalah, kita bakar mobil di depannya," ucap Felix.
"Oke," jawab Arif lalu menghela napas kasarnya.