Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemilau gelap dunia Satanisme
Dua tahun telah berlalu sejak malam kelam di rumah keluarga Hardianto. Laura yang dulu gemetar saat memegang jarum perak, kini telah menjelma menjadi sosok yang sangat berbeda. Ia bukan lagi gadis desa yang lugu, melainkan "Pusaka Hitam" yang paling berharga bagi organisasi.
Nama Laura—atau kini lebih dikenal dengan nama inisiasi rahasianya—menjadi buah bibir di kalangan elit Satanik lintas kota. Ia telah melampaui masa traumanya dan memilih untuk menenggelamkan diri sepenuhnya ke dalam ambisi kegelapan.
Laura bergerak seperti bayangan yang anggun namun mematikan. Bersama tim kecil yang sering dipimpinnya sendiri, ia melakukan penyusupan ke berbagai lapisan masyarakat kelas atas. Mereka sering memesan penthouse di hotel-hotel mewah.
Di balik pintu yang terkunci rapat dan kedap suara, mereka mengubah kemewahan itu menjadi altar pemujaan. Tanpa jejak, tanpa kecurigaan pihak berwajib, mereka melakukan inisiasi bagi para pengusaha dan pejabat yang ingin menukar jiwa mereka dengan kekuasaan.
Jadwal Laura sangat padat dengan pertemuan-pertemuan rahasia di luar kota. Dari jamuan makan malam formal di Jakarta hingga ritual bulan mati di pegunungan terpencil, Laura hadir sebagai representasi kekuatan Satanisme yang menyesatkan.
Satanisme tidak hanya menjanjikan kekuatan gaib, tetapi juga kenikmatan duniawi sebagai imbalan atas kesetiaan Laura.
Laura kini menempati sebuah rumah yang terbilang mewah di zamannya. Ia diberikan mobil mewah berwarna hitam legam yang selalu siap mengantarnya ke mana pun, lengkap dengan sopir yang juga merupakan anggota organisasi.
Pakaiannya selalu memiliki sentuhan warna gelap yang misterius. Perhiasannya bukan lagi sekadar pajangan, melainkan jimat-jimat kuno yang dibungkus dengan emas.
Bahkan Elena, yang dulu sering merendahkannya, kini harus berpikir dua kali sebelum menegurnya. Laura memiliki otoritas untuk memerintah anggota junior, dan tatapan matanya kini mampu membuat orang lain berlutut tanpa perlu sepatah kata pun.
Meskipun ia menikmati semua fasilitas ini, ada satu hal yang tetap tidak berubah: statusnya sebagai Calon Pengantin Iblis. Semua pencapaian dan misi yang ia lakukan sebenarnya adalah bagian dari proses "pematangan" dirinya sebelum ritual agung yang sesungguhnya.
Di balik kesenangannya, pendar emas di nadinya telah sepenuhnya berubah menjadi warna hitam pekat yang berdenyut dengan energi kuno. Laura telah menjadi predator yang sempurna, yang memenangkan jiwa-jiwa baru untuk tuannya sambil tetap menyembunyikan sisi kemanusiaannya jauh di dasar jiwanya yang paling gelap.
Dua tahun lebih telah menempa Laura menjadi sosok yang dingin, anggun, dan tak tersentuh. Rumah baru yang menghadap cakrawala kota menjadi saksi bisu transformasi itu.
Pagi ini, udara di dalam ruangan terasa berat oleh aroma parfum oud yang mahal bercampur dupa cendana hitam.
Laura berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan jeans hitam pekat dengan t shirt bersimbol iblis yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya yang dulu sering terurai kini disanggul rapi, menyisakan leher jenjang yang dihiasi kalung obsidian kuno—simbol kedudukannya sebagai delegasi utama dalam Konferensi Satanik Asia.
Tangannya yang lentik mengenakan sarung tangan kulit tipis, menutupi pendar gelap di nadinya yang kini berdenyut seirama dengan ambisi organisasi.
Laura Menatap pantulannya sendiri dengan mata yang tajam dan tak berekspresi. "Semuanya sudah siap?"
Marco melangkah keluar dari bayang-bayang di sudut ruangan. Penampilannya tidak banyak berubah, tetap dengan setelan hitam formal dan aura yang mengintimidasi. Namun, jika seseorang memperhatikan lebih dekat, sorot matanya saat menatap punggung Laura menyimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada belati yang ia sembunyikan di balik jasnya: sebuah kerinduan yang membatu.
Selama dua tahun ini, Marco telah menjadi bayangan Laura. Ia adalah pedang yang menghabisi siapa pun yang menghalangi jalan Laura, dan tameng yang menerima setiap ancaman sebelum menyentuh gadis itu. Namun, ia juga harus menjadi penjara bagi perasaannya sendiri. Di dunia mereka, mencintai sang "Pengantin" adalah dosa yang hukumannya lebih buruk daripada kematian.
Marco mendekat untuk membantu Laura membawa beberapa barang miliknya.
"Kau akan menjadi pusat perhatian di bandung nanti, Laura. Banyak pimpinan dari cabang Asia yang ingin melihat langsung siapa 'Anak Setan Emas' yang selama ini dibicarakan."
Laura Berbalik, mata mereka bertemu sejenak—sebuah kontak mata yang terlalu lama untuk sekadar hubungan atasan dan pengawal. "Dan kau akan tetap berada di belakangku, bukan? Seperti biasanya."
Marco Suaranya sedikit serak namun tetap tegas.
"Selalu. Sampai napas terakhirku, atau sampai kau tidak lagi membutuhkannya."
Laura melangkah menuju pintu keluar, suara langkah sepatunya bergema di lantai marmer yang sunyi. Marco mengikuti satu langkah di belakang, tangannya selalu siaga di dekat se, matanya terus memindai setiap sudut ruangan dengan waspada.
"Kau semakin bersinar dalam kegelapan ini, Laura. Dan semakin kau bersinar, semakin jauh kau dari jangkauanku. Aku lebih baik mati sebagai pelindungmu daripada hidup melihatmu benar-benar menjadi milik 'Dia'."
Batin Marco.
Mobil Laura pun melaju menuju bandara kota. Sebuah misi besar di level Asia menanti, di mana Laura akan menunjukkan pada dunia bahwa kegelapan telah menemukan ratu barunya.
Siang itu, Bandara kota diselimuti kabut tipis dan kebisingan mesin pesawat yang menderu. Laura berdiri di area keberangkatan nampak kontras dengan kerumunan orang di sekitarnya. Mantel hitam panjang yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin dari landasan. Wajahnya yang kini tampak lebih dewasa dan dingin tersembunyi di balik kacamata hitam besar, namun otoritas yang ia pancarkan tidak bisa disembunyikan.
Kali ini, instruksi dari Pimpinan sangat spesifik: Laura harus berangkat seorang diri ke Jakarta. Tidak ada tim, tidak ada pengawalan mencolok. Sesampainya di sana, ia akan dijemput oleh seorang pria bernama Steven. salah satu petinggi Satanisme di kota itu yang akan menjadi pemandunya dalam misi rahasia kali ini.
Marco berdiri tepat di belakang Laura, kaku seperti patung, namun matanya yang tajam terus memindai sekeliling dengan kegelisahan yang sulit ia tutupi. Tangannya yang besar berkali-kali mengepal di samping tubuhnya.
"Steven bukan orang yang bisa dipercaya sepenuhnya, Laura. Dia licin seperti ular. Aku tidak suka kau pergi ke sarangnya tanpa aku di sampingmu."
Ucap Marco dengan suara rendah,hampir tertutup deru pesawat.
Laura berbalik pelan, menatap Marco dari balik kacamata.
"Ini perintah langsung, Marco. Kau tahu kita tidak punya pilihan. Aku sudah bukan gadis kecil yang perlu kau tuntun tangannya lagi."
Meskipun kata-kata Laura terdengar tajam, ada sedikit getaran di ujung suaranya yang hanya bisa ditangkap oleh telinga Marco yang terlatih.
Saat pengumuman keberangkatan pesawat itu terdengar, Laura menghela napas panjang.
"Jaga dirimu. Jika dalam dua jam aku tidak menerima kode aman darimu, aku akan berangkat ke Jakarta dengan atau tanpa izin Pimpinan."
Kata Marco dengan wajah sendu.
Laura tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang hanya ia tunjukkan pada Marco "Jangan lakukan hal bodoh, Marco. Aku akan kembali."
Laura mulai melangkah meninggalkan Marco. Sepatunya berdentang di atas lantai beton saat ia berjalan menuju tangga pesawat jet kecil yang sudah menunggu di landasan
Marco tetap berdiri di sana, di balik garis pembatas, menolak untuk beranjak satu inci pun. Ia menatap sosok punggung Laura yang semakin menjauh. Ada rasa was-was yang merayap di dadanya—sebuah firasat buruk yang ia tekan sekuat tenaga.
Saat Laura mulai menaiki satu per satu anak tangga pesawat, ia sempat berhenti sejenak di pintu kabin. Ia tidak menoleh, namun ia tahu Marco masih ada di sana, mengawasinya seperti malaikat maut yang setia.
"Jakarta adalah hutan rimba para satanis yang berbeda, Laura. Dan Steven adalah pemburu yang haus darah. Bagaimana bisa aku membiarkanmu berjalan ke sana sendirian sementara hatiku masih tertinggal di tanganmu?"
Pintu pesawat perlahan tertutup. Mesin mulai menderu lebih keras, dan pesawat itu perlahan bergerak menuju runway. Marco tetap berdiri mematung di sana, menatap pesawat itu hingga menghilang ditelan awan kelabu, memendam kesedihan dan rasa cemas yang tak sanggup ia sampaikan dengan kata-kata.