NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Tuan Muda

Menjadi Istri Tuan Muda

Status: tamat
Genre:Obsesi / Romantis / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Di balik hiruk-pikuk kehidupan modern, setiap manusia menyimpan rahasia gelap yang mereka simpan sendiri. Kota yang tampak gemerlap di siang hari menyembunyikan luka, pengkhianatan, dan pilihan-pilihan sulit yang mengubah arah hidup seseorang.

Ini kisa tentang Naya, yang menerima pengkhianatan dari tunangan dan adik tirinya. Tentang Naya yang terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria paling berkuasa di negaranya. Dan tentang Naya yang ternyata tidak punya siapa-siapa, selain lapisan rumit labirin hidup yang membuatnya berjuang memecahkan teka-teki, lalu dengan tanpa pilihan memilih percaya pada suaminya.

*

Cerita ini hanyalah karangan penulis, kesamaan nama tokoh dan latar hanyalah fiksi belaka untuk kebutuhan tulisan dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala terang.

Naya berdiri terpaku di depan pintu itu, kedua tangannya saling menggenggam erat hingga jemarinya memucat. Nafasnya masih tidak teratur, matanya terus menatap pintu yang tertutup rapat, dengan begitu ia bisa memastikan Lucio baik-baik saja di dalam sana.

Beberapa saat kemudian, lututnya melemah. Naya perlahan duduk di kursi tunggu, membungkuk dengan wajah tertunduk.

Sementara itu, Mario berdiri tak jauh darinya. Biasanya pria itu terlihat tenang dan kaku, namun malam ini wajahnya jelas menyiratkan kekhawatiran.

“Dia akan baik-baik saja, kan?” tanya Naya lirih, menatap linglung ke lantai.

Mario terdiam sejenak sebelum menjawab. “Tuan Lucio kuat, Nona. Dia sudah melalui banyak hal yang lebih buruk dari ini.”

Naya mengangkat wajahnya perlahan, matanya merah dan sembab. “Banyak hal?”

Mario mengangguk pelan. Ia kemudian duduk di kursi seberang Naya, menatap lurus ke depan sebelum akhirnya mulai bicara.

“Sejak muda, Tuan tidak pernah hidup dengan mudah. Altarex memiliki banyak musuh, dan hidup sebagai salah satu penerus, dia memiliki banyak tekanan. Tapi dia selalu bertahan. Sendirian.”

“Dia nggak pernah cerita apapun padaku,” gumam Naya pelan.

“Itu karena Nona sibuk melarikan diri, Nona ketakutan setiap kali berada di dekatnya.” Mario tersenyum tipis untuk pertama kalinya pada Naya. “Tuan hanya berusaha melindungi Nona, dia mencintai Nona.”

“Ci–cinta?” Naya mengangkat wajahnya, mengerjapkan matanya karena ia pikir telah mendengar sesuatu yang salah.

“Ya, Tuan Lucio mencinta anda Nona. Dia tidak akan mempertaruhkan semuanya jika bukan karena cinta.”

“Tapi kenapa dia pernah mengatakannya? Lagipula sikapnya tidak menunjukkan kalau dia mencintaiku, maksudku dia tidak pernah mencoba lebih dekat denganku. Kamu mungkin salah, Lucio melindungiku karena aku anak dari sahabat ibunya.”

“Setelah Tuan sadar, Nona akan tahu kebenarannya.”

Mario tersenyum tipis, lalu menambahkan. “Tuan bukan tipe orang yang berbagi beban, Nona. Dia lebih suka menyelesaikan semuanya sendiri termasuk melindungi orang yang dia anggap penting.”

Naya terdiam. Ingatannya kembali pada momen di halaman rumah tadi saat Lucio tanpa ragu melindunginya.

“Dia selalu seperti itu?”

“Ya,” jawab Mario singkat. “Bahkan sejak sebelum menikah dengan Nona.”

Naya menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan yang tiba-tiba terasa penuh dan rumit.

“Tapi aku yakin dia tidak mencintaiku.” Kata Naya.

Mario menghela nafas pelan. “Saya sudah cukup lama bersama Tuan. Dan saya belum pernah melihatnya melakukan sesuatu sejauh ini, hanya karena sebuah janji.”

Naya terdiam.

“Dia menjemput Nona sendiri. Dia marah saat Nona terluka. Dan malam ini…” Mario menatap pintu ruang operasi. “…dia rela terkena peluru untuk Nona.”

Cukup lama Naya terdiam. Informasi ini memang agak mengejutkan untuknya.

Tiga jam berlalu terasa seperti tiga tahun. Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam.

Naya yang sejak tadi duduk dengan gelisah langsung berdiri. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga hampir menyakitkan. Mario juga segera bangkit, menatap pintu dengan wajah cemas.

Pintu terbuka.

Seorang dokter keluar dengan langkah pelan, wajahnya serius.

Naya langsung menghampiri dan bertanya penuh harap. “Dokter, bagaimana keadaan suami saya?”

Dokter itu terdiam sejenak, menatap Naya dengan sorot mata penuh empati.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin,” ucapnya pelan.

“Apa maksudnya?” Naya menggeleng cepat. “Tidak, tidak mungkin. Lukanya cuma di bahu, kan? Dia…dia masih bisa diselamatkan, pasti bisa.”

“Dokter, peluru itu tidak mengenai titik fatal.” kata Mario hampir meledakkan kemarahan.

Dokter menghela nafas dalam.

“Benar, luka tembak yang mengenai bahu bukanlah penyebab utama.” Ia menjeda, lalu melanjutkan. “Ada luka lain yang tidak kami ketahui sebelumnya.”

Naya mengerutkan. “Luka lain?”

Ia yakin saat Lucio datang, dia masih baik-baik saja dan tidak tampak seperti seseorang yang sedang terluka.

Dokter mengangguk. “Kami menemukan luka tembak di bagian dada yang ternyata sudah mengenai organ vital, tepatnya di area jantung. Luka itu tidak ditangani dengan benar sebelumnya, dan kondisinya sudah sangat parah.”

“Tidak,” ia berbisik pelan, matanya membelalak. “Tidak mungkin… dia baik-baik saja tadi…”

“Tubuhnya sudah dalam kondisi lemah sejak awal,” lanjut dokter. “Luka di bahu memicu pendarahan tambahan dan membuat kondisinya semakin kritis. Jantungnya tidak mampu bertahan.”

Kalimat terakhir itu seperti memutus semua harapan yang tersisa.

“Kami mohon maaf, kami tidak bisa menyelamatkan Tuan Lucio.”

Hening.

Naya hanya berdiri diam, tidak bergerak, tidak bereaksi. Seolah otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar.

“Tidak!!!” akhirnya suara itu keluar, lirih dan pecah. “Tidak! kamu bohong, aku tahu kamu bohong.”

Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah.

“Dia janji,” air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Dia bilang dia tidak akan menyakitiku, dia bilang dia akan baik-baik saja…”

Mario menunduk, kedua tangannya mengepal kuat. Sama terpukulnya dengan Naya.

“Nona…”

Namun Naya sudah tidak mendengar apapun. Perasaan itu datang terlambat, datang ketika ia menyadari bahwa pemiliknya sudah pergi.

Lucio,

Pergi.

Dia benar-benar pergi padahal pernikahan mereka masih sebentar, Naya belum sempat menanyakan tentang perasaan Lucio, dan Naya belum sempat berterima kasih padanya.

...***...

1
saptonah dppkad
Naya yg bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!