NovelToon NovelToon
Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Hamil Tujuh Bulan, Aku Tinggal Bersama Kakak Iparku

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.

Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.

Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.

Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.

Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.

Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.

Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…

Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Awal kehidupan baru

Rasa sakit itu datang tanpa permisi.

Ishani terbangun dengan napas tertahan. Tangannya refleks menekan perutnya. Sudah lebih dari satu jam, Ishani merasakan sakit. Ia melirik celah di pintu kamarnya. Terlihat Langit sedang terlelap. 

“Hhhh… Hhhh…,” Ishani mengatur napasnya tiap rasa sakit itu datang. 

Sebelumnya, Bu Rina sudah memberitahu cara membedakan kontraksi palsu dan kontraksi betulan. Karena itu, saat rasa sakit itu datang, Ishani tidak mau membangunkan Langit. Ishani menunggu sampai yakin dulu. 

Sekarang, jarak kontraksi semakin dekat. Dan, rasa sakitnya semakin menghujam. Bukan lagi tarikan pelan, melainkan hentakan yang membuat Ishani menjerit sebelum menarik napas. Tubuhnya melipat, keringat dingin membasahi pelipis.

“Kak Langit!” suaranya pecah. 

Telinga Langit langsung menangkap teriakan Ishani. Ia langsung melompat, bergegas membuka pintu, berjongkok di samping Ishani. 

Lengannya menopang punggung Ishani yang gemetar. “Aku di sini,” katanya cepat. “Kontraksi?”

Ishani mengangguk, menggigit bibirnya. 

“Jaraknya?” tanya Langit, terkendali. Padahal kepanikan menyerang.

“Sudah di bawah 10 menit,” Ishani meremas lengan Langit. 

“Oke, kita ke rumah sakit. Tetap atur napasmu,” Langit menggendong Ishani ke dalam mobil. 

Kemudian, ia berlari masuk kembali. Tangannya gemetar ketika mengangkat tas perlengkapan bayi. Tas yang sudah ia siapkan sejak dua minggu lalu.

Sesaat, ia berdiri diam, satu tangannya menempel ke tembok. Ia mengatur napasnya sendiri. 

“Kak Langit…” teriakan Ishani nyaring dari dalam mobil.

“Iya, Shani. Aku datang.”

Ketika Langit menutup pintu, kontraksi datang bertubi-tubi. Tidak memberi jeda. 

Dalam perjalanan, Ishani menangis tanpa suara. Air mata mengalir deras, bercampur napas yang terputus-putus. 

“Aku nggak kuat, Kak,” bisiknya. “Aku nggak bisa.”

Langit mengemudi dengan satu tangan, rahangnya mengeras.Tangan lainnya mengenggam tangan Ishani. 

“Kamu sudah sejauh ini,” ucapnya. “Jangan menyerah, sekarang.”

Di rumah sakit, semuanya bergerak cepat. Lampu-lampu melintas di atas kepala Ishani, saat ia didorong masuk. 

“Pembukaan delapan.”

“Detaknya turun.”

“Kita percepat sekarang.”

“Panggil dokter.”

Suara perawat dan Bidan bersahutan. Jantung Ishani berdegup liar. 

Tiga puluh menit berlalu,

Ishani menggeliat di ranjang persalinan, napasnya tersenggal, matanya berkeliling.

“Kak Langit…,”  suaranya parau, hampir tak terdengar. 

Kontraksi berikutnya, menghantam lebih keras. Ishani menjerit, jemarinya mencengkram seprei sampai buku jarinya memutih. 

“Kak Langit!” panggilnya lagi. Lebih keras. Lebih panik.

Ishani menoleh ke kanan. Kosong. Ke kiri. Tidak ada sosok Langit. 

Dadanya sesak. Tangisnya pecah. 

“Kak Langit, jangan pergi,” katanya terisak. “Aku takut…”

Perawat mencoba menenangkannya. “Ibu fokus napas, ya. Pendampingnya sedang dipanggil.”

Tapi, Ishani tidak mendengar. Kali ini, ia benar-benar ditinggalkan sendiri. Tidak ada Langit. 

“Mas Biru…” nama itu lolos keluar. 

Mata Ishani terpejam. Rasa sakitnya sudah tidak tertahankan. Napasnya sudah setengah.

“Shani.”

Satu suara yang sangat dikenalnya.

Mata Ishani sontak terbuka. 

Langit berdiri di sampingnya. Masker menutupi setengah wajahnya. Tapi, mata itu, Ishani sangat mengenal mata itu. 

“Aku di sini,” ucapnya tegas. “Aku nggak akan ke mana-mana.”

Tangis Ishani pecah seketika. Tangannya terulur, gemetar. 

Langit segera menggenggamnya. Hangat.

“Kak Langit, jangan tinggalin aku,” Ishani berbisik di sela tangisnya. 

Langit mengangguk. 

Kontraksi datang lagi. Ishani berteriak, tapi kali ini tidak sendiri. Jemarinya mencengkram tangan Langit. 

“Atur napasmu, Shani,” Langit mengusap keringat di keningnya. 

Langit menghitung. Pelan. Teratur. 

“Sekarang, Bu! Dorong!” Suara dr. Didi terdengar tegas. 

Kontraksi terakhir datang. Tubuhnya menegang, napasnya tercekat. 

“Aku nggak sanggup…,” jerit Ishani, terus menangis. 

Langit mengenggam tangannya lebih erat. “Shani, lihat aku. Lihat mataku,” katanya. Suaranya bergetar tapi kokoh. 

“Mas Biru…,” Ishani melihat ada bayangan Biru di mata Langit. 

Langit mengangguk. “Satu kali lagi. Demi bayimu… dan demi Biru.”

Ishani memejamkan mata, mengumpulkan sisa tenaga, dan mendorong sekuat yang ia bisa. 

Teriakan Ishani pecah. Lalu, hening.

Satu detik. Dua detik. Lalu… suara tangis kecil pecah memenuhi ruangan.

Ishani tersentak, “Itu bayiku?” 

“Iya,” jawab dr. Didi tersenyum, “Bayi laki-laki, sehat.”

Tangis Ishani berubah menjadi tawa. Tubuhnya lemas, tapi hatinya bahagia sampai terasa sakit. 

Langit menutup wajahnya, bahunya berguncang. Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menahan air mata yang akhirnya jatuh. Tanpa malu.

Bayu itu dibersihkan cepat, lalu diletakkan di dada Ishani. 

“Hai Sayang…” bisik Ishani. “Ibu di sini.”

Langit mundur, menjauh. Memberikan ruang pada ibu dan bayinya. 

“Makasih,” lirihnya. Entah pada Ishani, pada bayi itu, atau pada Biru yang sudah tidak ada. 

Perlahan ruangan bersalin itu mulai hening. 

Tangis bayi mereda. Ishani masih memeluk tubuh mungil itu di dadanya. Matanya sembab, tapi bibirnya menyunggingkan senyum kebahagiaan.

Langit berdiri agak jauh. Dadanya masih naik turun. Pandangannya masih tertambat pada bayi itu. Anak Biru. Amanah yang sekarang berada di hadapannya. Nyata. 

Dokter memberi isyarat. “Silakan, Pak.”

Langit menatap Ishani. Meminta izin. 

Ishani mengangguk. 

Langit menelan ludah. Langkahnya pelan saat mendekat. Tangannya gemetar ketika pertama kalinya memegang bayi itu.

Dada Langit terasa sesak. Ia mendekatkan mulut ke telinga sebelah kanan bayi itu. Suaranya lirih, bergetar. Bukan karena ragu, tapi menahan tangis. 

Langit mulai mengumandangkan adzan. Pada setiap kalimat, Langit membuat jeda, seolah sedang mengirimkan pesan pada Biru. 

Suaranya lirih, bergetar. Bukan karena ragu. Tapi karena ini pertama kalinya ia menyambut anak Biru ke dunia.

Ishani menutup mata. Air matanya jatuh lagi. Ia mendengar suara Langit, tapi entah mengapa, suara itu bergema menjadi suara Biru. 

Di akhir kalimat, air mata Langit jatuh ke pipi bayi itu. Langit cepat-cepat mengusapnya. 

“Selamat datang. Kamu tidak akan sendirian.”

**********

Beberapa jam kemudian.

Ruang perawatan terasa lebih sunyi.

Bayi itu terlelap di sisi Ishani. Dibedong rapi, dadanya naik turun dengan napas teratur. 

Ishani menatapnya lama hingga dadanya terasa penuh. “Dia sangat mirip Mas Biru,” bisiknya tanpa sadar. 

Langit berdiri di samping ranjang. Tangannya bertumpu di sandaran kursi. Tubuhnya sedikit condong ke depan. 

Ia tidak langsung menjawab.

Pandangannya tetap pada bayi itu. “Iya,” katanya akhirnya pelan. “Matanya.”

Ishani tersenyum. Ia mengulurkan jari menyentuh pipi mungil bayinya. 

“Terima kasih, Kak,” ucap Ishani tiba-tiba.

Langit menoleh, “Untuk apa?” 

“Karena tetap di sini,” jawab Ishani lirih. “Meskipun aku sempat menolak.”

Langit terdiam. Dadanya menghangat dan sesak bersamaan.

“Aku cuma melakukan yang seharusnya,” akhirnya bersuara.

Pintu terbuka.

Bu Maura masuk pertama. Langkahnya tertahan saat melihat bayi itu. Tangannya menutup mulut. Air matanya jatuh tanpa aba-aba. 

“Ya Allah,” suaranya bergetar. “Biru…”

Satu per satu anggota keluarga besar menyusul. Pakde Handoko, Bude Anita, Bude Retno, Bi Yani, Ilham, dan kerabat lain. Ruangan yang tadinya sunyi, dipenuhi Isak, doa dan senyum.

Langit melangkah mundur. Ia berdiri di belakang.

Bu Maura mendekat ke ranjang. “Ganteng sekali. Persis Biru.”

Ishani mengangguk. Ia menoleh pada Langit. Air matanya jatuh pelan. “Mas Biru pasti bahagia.”

Hening sejenak. Nama itu sudah tidak terlalu menyakitkan tapi masih belum sembuh. 

Langit menatap bayi itu dari kejauhan.

Anak Biru. Amanah yang kini ada di tangannya. Ini bukan akhir dari kehilangan. Tapi awal dari kehidupan baru.

1
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
langit cuma ga pede aja, bukan benci sama permintaan tolong si biru. yakin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
yang penting kacamata yaudalah maaaa ... 😭 maaf reflek ingat meme itu
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
laki2 pujaan, bertanggungjawab atas milik sahabatnya. kelak akan menjadi bapak tiri yang sayangnya bukan kepalang. aamiin
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
semoga tekad ini akan berjalan sebagaimana yang terniatkan 👍
༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
karena ishani sadar diri. langit hanya saudara suaminya, tapi bukan siapa-siapa baginya
Mentariz
Biru pasti udah tenang di sana, langit pasti akan jaga kamu dan bayimu, ishani
Mentariz
Biru udah punya firasat sejak awal 😭
PrettyDuck
semoga menjadi lebih baik
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
PrettyDuck
apa ini berarti ishani setuju nikah sama langit??
PrettyDuck
Biru udah punya ketakutan ini dari awal 🥲
Filan
Nanti juga Langit akan dipandang sebagai Langit yang mengisi hati Ishani. Bukan pengganti Biru.
Semangat!
Filan
Itu toh alasannya?
Miu Nuha.
hidup terus dijalanin ish, Allah sudh atur semuany untuk kamu. semangat ya, masih banyk yg sayang sama kamu ❤
Miu Nuha.
bener, hiks 🤧
Miu Nuha.
baru kabar hamil aja udh bilang gitu, emang udh dapet tanda ya kalo bakal pergi 😫
Three Flowers
nyesek membayangkan perasaan Ishani... tapi apa daya, takdir berkata lain. mungkin jodohnya dengan biru memang sudah selesai, dan kemungkinan langit lah jodoh ishani berikutnya
Three Flowers
waduh... laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik? yakin deh langit yang bucin duluan 😄
@dadan_kusuma89
Ishani, sesuatu yang mendesak terkadang tak perlu butuh banyak berpikir, tapi yang dibutuhkan adalah tindakan segera.
@dadan_kusuma89
Ingat, Ishani! semua demi kebaikan kamu dan janin dalam kandunganmu. Siap nggak siap, harus dipaksa.
@dadan_kusuma89
Ishani, langkah yang diputuskan Langit insya Allah sudah tepat. Kau tak perlu banyak mikir, ikuti saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!